Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Alice memejamkan mata.

Jantungku berdebar-debar tidak keruan saat Jasper mengendap-endap ke tempat Alice berdiri.

Jasper menerjang, lenyap. Tiba-tiba saja ia sudah berada di kanan Alice. Kelihatannya Alice tidak bergerak sama sekali.

Jasper berputar dan menerjang Alice lagi, kali ini mendarat dalam posisi membungkuk di belakangnya seperti pertama tadi; sementara itu, Alice berdiri tersenyumsenyum dengan mata tertutup.

Kali ini aku memandangi Alice lebih saksama.

Ternyata ia bergerak – aku tidak melihatnya tadi, karena perhatianku lebih tertuju kepada serangan Jasper. Ia maju sedikit tepat ketika Jasper melayang menuju tempat ia berdiri sebelumnya. Alice melangkah lagi, sementara tangan Jasper yang menggapainya meraih udara kosong di tempat pinggangnya tadi berada.

Jasper merangsek maju, dan Alice mulai bergerak lebih cepat. Ia menari-nari – berputar, berpusar, dan meliukliukkan tubuh. Jasper bagaikan patnernya, menerjang, mengulurkan tangan berusaha mengimbangi gerakangerakannya yang anggun, tak pernah menyentuhnya, seolah-olah setiap gerakan dikoreografi dengan baik. Akhirnya, Alice tertawa. Tahu-tahu ia sudah bergelayutan di punggung Jasper, bibirnya menempel di leher.

“Kena kau,” tukasnya, lalu mengecup leher Jasper.

Jasper terkekeh, menggeleng-gelengkan kepala. “Kau ini benar-benar monster kecil mengerikan.”

Serigala-serigala itu menggeram lagi. Kali ini nadanya kecut.

“Ada bagusnya juga mereka belajar respek kepada kita,” gumam Edward, geli. Lalu ia berbicara lebih keras, “Giliranku.”

Edward meremas tanganku sebelum melepasnya.

Alice datang dan berdiri di sampingku. “Keren kan, tadi?” tanyanya dengan nada menang.

“Sangat,” aku sependapat, tak mengalihkan pandangan sedikit pun dari Edward saat ia meluncur tanpa suara mendekati Jasper, gerakannya lentur dan waspada seperti kucing hutan.

“Aku mengawasimu, Bella,” bisik Alice tiba-tiba, suaranya melengking sangat rendah hingga aku nyaris tak bisa mendengar, meskipun bibirnya berada dekat di telingaku.

Aku melirik wajah Alice sekilas, kemudian kembali memandang Edward. Edward menatap Jasper saksama, sudah semakin matang,” ancam Alice dengan gumaman rendah yang sama. “Tak ada gunanya membahayakan dirimu sendiri. Kaupikir mereka berdua bakal menyerah kalau kau mati. Mereka akan tetap bertarung, kami semua akan tetap bertarung. Kau tidak bisa mengubah apa pun, jadi bersikap manislah, oke?” keduanya pura-pura saling memukul semakin memperkecil jarak.

ketika Edward Ekspresi Alice penuh celaan.

“Aku akan memperingatkan Edward jika rencanamu

Aku meringis, mencoba mengabaikannya.

“Aku mengawasimu,” ulangnya.

Sekarang Edward sudah dekat sekali dengan Jasper, dan pertarungan ini lebih seimbang daripada dua pertarungan lainnya. Jasper berpengalaman selama satu abad, dan sebisa mungkin ia berusaha hanya mengandalkan insting, tapi pikirannya selalu membuat maksudnya diketahui sedetik sebelum ia bertindak. Edward sedikit lebih cepat, tapi gerakan yang digunakan Jasper tidak familier baginya. Mereka saling menyerang berkali-kali, tak ada yang bisa merebut posisi di atas angin, geraman insting terus-menerus meledak. Sulit menontonnya, tapi lebih sulit lagi mengabaikannya. Mereka bergerak kelewat cepat hingga aku tidak benar-benar mengerti apa yang mereka lakukan. Sesekali mata-mata tajam para serigala membetot perhatianku. Aku punya firasat serigala-serigala itu mendapat lebih banyak pelajaran dalam hal ini dibandingkan aku – mungkin lebih dari yang seharusnya.

Akhirnya, Carlisle berdeham-deham.

Jasper tertawa, Lalu mundur selangkah. Edward menegakkan tubuh dan nyengir padanya.

“Kembali bekerja,” Jasper mengizinkan. “Anggap saja seri.”

Semua mendapat giliran, Carlisle, kemudian Rosalie, Esme, dan Emmett lagi. Aku menyipitkan mata, berusaha melihat dari sela-sela bulu mataku, meringis ketika Jasper menyerang Esme. Itu pertarungan tersulit untuk ditonton. Kemudian Jasper memperlambat gerakannya, meskipun tetap tidak cukup lambat bagiku untuk memahami gerakangerakannya, dan memberi lebih banyak instruksi.

“Kalian mengertikan maksudku melakukan ini?” Jasper sesekali bertanya. “Ya, persis seperti itu,” ia membesarkan hati. “Konsentrasi pada sisi-sisi. Jangan lupa di mana target mereka berada. Terus bergerak.”

Edward selalu fokus, menonton sekaligus mendengarkan apa yang tak bisa dilihat yang lain-lain.

Semakin sulit bagiku untuk mengikuti jalannya latihan saat kelopak mataku mulai berat. Belakangan ini aku memang jarang tidur nyenyak, dan sekarang sudah hampir 24 jam sejak aku terakhir tidur. Aku bersandar pada Edward, dan membiarkan mataku terpejam.

“Sebentar lagi kita selesai,” bisik Edward.

Jasper membenarkan, menoleh kepada para serigala itu untuk pertama kali, ekspresinya kembali terlihat tidak nyaman.

“Kami akan melakukan ini lagi besok. Silakan bila ingin mengobservasi lagi.”

“Baik,” jawab Edward dalam suara Sam yang dingin. “Kami pasti datang.”

Kemudian Edward mendesah, menepuk-nepuk lenganku, lalu meninggalkan aku. Ia berpaling kepada keluarganya.

“Kawanan serigala berpendapat, akan sangat membantu bila mereka bisa mengenal bau kita masing-masing, sehingga mereka tidak melakukan kesalahan nantinya. Kalau kita bisa berdiri diam tak bergerak, itu akan lebih mudah bagi mereka.”

“Tentu boleh,” Carlisle menjawab pertanyaan Sam. “Apa pun yang kalian butuhkan.”

Terdengar geraman rendah dan parau dari kawanan serigala saat mereka berdiri.

Mataku kembali membelalak, kelelahan pun enyah terlupakan.

Malam yang hitam pekat mulai memudar, matahari menerangi awan-awan, walaupun belum muncul di batas cakrawala, jauh di seberang pegunungan sana. Ketika serigala-serigala itu mendekat, mendadak bentuk mereka terlihat jelas… juga warna bulunya.

Sam memimpin di depan, tentu saja. Sangat besar, hitam pekat seperti tengah malam. bagaikan monster yang muncul dari mimpi burukku – secara harfiah. Setelah pertama kali melihat Sam dan yang lain-lain di padang rumput, mereka muncul dalam mimpi burukku lebih dari sekali.

Sekarang setelah bisa melihat mereka semua, mencocokkan wujud raksasa mereka dengan setiap pasang mata, kelihatannya jumlah mereka lebih dari sepuluh. Sungguh kawanan yang sangat besar.

Dari sudut mata kulihat Edward memerhatikanku, dengan hati-hati menilai reaksiku.

Sam mendekati Carlisle di tempatnya berdiri di bagian depan, kawanan yang besar itu membuntuti tepat di belakang ekornya. Jasper mengejang, tapi Emmett, yang berdiri di sebelah Carlisle pada sisi yang lain, menyeringai dan rileks.

Sam mengendus Carlisle, sepertinya sedikit meringis saat melakukannya. Lalu ia mendekati Jasper.

Mataku menyusuri serigala-serigala lain yang berbaris dengan sikap waspada. Aku yakin tahu mana serigala yang baru. Ada serigala berbulu abu-abu terang yang tubuhnya jauh lebih kecil dibandingkan yang lain, bulu tengkuknya berdiri dengan sikap tidak suka. Ada lagi serigala lain, bulunya berwarna cokelat padang pasir, terkesan garang dan canggung dibandingkan yang lain-lain. Erangan pelan mengguncang tubuh serigala coklat padang pasir itu saat Sam maju dan meninggalkannya terisolasi di antara Carlisle dan Jasper.

Pandangan mataku tertumbuk pada serigala tepat di belakang Sam. Bulunya cokelat kemerahan dan lebih panjang daripada yang lain-lain – gondrong. Tubuhnya nyaris setinggi Sam, terbesar kedua di kawanannya. Gaya berjalannya kasual, bahasa tubuhnya memancarkan sikap tidak peduli sementara yang lain-lain kentara sekali menganggap ini siksaan.

Serigala besar berbulu cokelat kemerahan itu merasa aku memperhatikannya, dan ia mendongak menatapku dengan mata hitam yang sangat kukenal.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.