Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“‘Hai, Edward,” sapa Emmett. “Hai, Bella. Dia membolehkanmu ikut latihan juga?”

Edward mengerang.”Please, Emmett, jangan buat dia berpikir yang tidak-tidak.”

“Kapan tamu-tamu kita datang?” tanya Carlisle kepada Edward.

Edward berkonsentrasi sebentar, kemudian mendesah. “Satu setengah menit lagi. Tapi aku terpaksa harus menerjemahkan perkataan mereka, Soalnya mereka tidak cukup percaya kepada kita hingga mau datang dalam wujud manusia.”

Carlisle mengangguk. “Ini sulit bagi mereka. Mereka mau datang saja aku sudah bersyukur.”

Kutatap Edward dengan mata terbelalak. “Mereka datang sebagai serigala?”

Edward mengangguk, berhati-hati melihat reaksiku. Aku menelan ludah satu kali, teringat dua kali kesempatan melihat Jacob dalam wujud serigala, pertama kali di padang rumput bersama Laurent, kedua kalinya di jalanan hutan ketika Paul marah padaku… keduanya kenangan yang diwarnai teror.

Kilatan aneh terpancar dari mata Edward, seolah-olah ada sesuatu yang baru terpikirkan olehnya, sesuatu yang sama sekali tidak menyenangkan. Ia cepat-cepat membuang muka, sebelum aku sempat melihat lebih banyak, lalu memandang Carlisle dan yang lain-lain.

“Bersiap-siaplah,mereka merahasiakan sesuatu dari kita.”

“Apa maksudmu?” tuntut Alice.

“Ssstt,” Edward mengingatkan, lalu memandang jauh ke kegelapan.

Lingkaran keluarga Cullen tiba-tiba melebar, dengan Jasper dan Emmett di bagian paling ujung. Dari cara Edward mencondongkan tubuh ke depan di sebelahku, kentara sekali ia berharap dirinya berdiri di samping mereka. Aku mempererat cengkeramanku di tangannya.

Aku menyipitkan mata ke arah hutan, tidak melihat apaapa.

“Astaga,” gumam Emmett pelan. “Pernahkah kau melihat yang seperti itu?” Esme dan Rosalie bertukar pandang dengan mata membelalak.

“Ada apa?” bisikku sepelan mungkin. “Aku tidak melihat apa-apa.”

“Anggota kawanan itu bertambah,” bisik Edward di telingaku.

Memangnya aku belum memberi tahu dia bahwa Quil sudah bergabung? Kujulurkan leherku panjang-panjang, berusaha melihat enam serigala di kegelapan. Akhirnya sesuatu yang berkilat-kilat terlihat dalam gelap – mata mereka, lebih tinggi daripada seharusnya. Aku sudah lupa betapa sangat tingginya serigala-serigala itu. Seperti kuda, tapi sangat berotot dan berbulu tebal – dengan gigi laksana pisau, tak mungkin luput dari pandangan.

Aku hanya bisa melihat mata mereka. Dan waktu aku menyapukan pandanganku, menjulurkan leher panjangpanjang untuk melihat lebih jelas lagi, terlintas dalam benakku ada lebih dari enam pasang mata menatap kami. Satu, dua, tiga… Dengan cepat aku menghitung jumlah pasangan mata itu dalam hati. Dua kali.

Ada sepuluh pasang mata.

“Menakjubkan,” gumam Edward nyaris tanpa suara.

Carlisle sengaja maju satu langkah. Gerakannya hatihati, dimaksudkan untuk meyakinkan.

“Selamat datang,” sapanya pada serigala-serigala yang tak tampak itu.

“Terima kasih,” Edward menjawab dengan nada datar yang aneh, dan aku pun langsung tersadar kata-kata itu berasal dari Sam. Aku menatap mata yang berkilat-kilat di tengah,sangat jangkung, yang tertinggi di antara mereka. Sama sekali tak terlihat sosok serigala hitam di malam yang gelap pekat itu.

Edward berbicara lagi dengan suara asing yang sama, menyuarakan kata-kata Sam. “Kami akan melihat dan mendengarkan, tapi tak lebih dari itu. Hanya itu yang bisa kami lakukan sebatas kemampuan kami mengendalikan diri.”

“Itu lebih dari cukup.” jawab Carlisle. “Putraku Jasper,” ia melambaikan tangan ke arah Jasper yang berdiri dengan sikap tegang dan siaga. “berpengalaman dalam bidang ini. Dia akan mengajari kami bagaimana mereka bertempur, bagaimana mereka bisa dikalahkan. Aku yakin kalian bisa mengaplikasikannya pada gaya berburu kalian sendiri.”

“Mereka berbeda dari kalian” Edward menyuarakan pertanyaan Sam.

Carlisle mengangguk. “Mereka masih sangat baru-baru

beberapa bulan umurnya. Masih kanak-kanak., bisa dibilang begitu. Mereka tidak memiliki keahlian atau strategi, kekuatan semata. Malam ini jumlah mereka dua puluh. Sepuluh untuk kami, sepuluh untuk kalian – mestinya tidak sulit. Jumlahnya bisa berkurang. Para vampir baru ini berkelahi antar mereka sendiri.”

Terdengar suara geraman menjalar di barisan serigala yang samar-samar itu, geraman rendah yang entah bagaimana justru terdengar antusias.

“Kami bersedia menghadapi lebih daripada bagian kami, jika diperlukan,” Edward menerjemahkan, nadanya kini tak lagi terdengar tak acuh.

Carlisle tersenyum. “Kita lihat saja bagaimana jadinya nanti.”

“Kau tahu kapan mereka datang?”

“Mereka akan datang melintasi pegunungan empat hari lagi, siang hari. Saat mereka mendekat, Alice akan membantu kami mencegat mereka.”

“Terima kasih informasinya. Kami akan menonton.”

Dengan suara mendesah mata-mata itu merendah mendekati tanah, sepasang setiap kali.

Sejenak suasana sunyi senyap, kemudian Jasper maju selangkah ke ruang kosong di antara para vampir dan serigala. Tidak sulit bagiku melihatnya – kulit Jasper cemerlang dalam kegelapan, sama seperti mata serigala. Jasper melontarkan pandangan waswas ke arah Edward, yang mengangguk, kemudian Jasper berdiri memunggungi para serigala. Ia mendesah, kentara sekali merasa rikuh.

“Carlisle benar,” Jasper berbicara hanya kepada kami; sepertinya ia berusaha mengabaikan penonton di belakangnya. “Mereka berkelahi seperti kanak-kanak. Dua hal terpenting yang perlu kalian ingat adalah, pertama, jangan biarkan mereka memeluk kalian dan, kedua, jangan terang-terangan menunjukkan niat kalian untuk membunuh. Karena hanya untuk itulah mereka dipersiapkan. Selama kalian bisa mendekati mereka dari samping sambil terus bergerak, mereka akan sangat bingung hingga tidak bisa merespons secara efektif, Emmett?”

Dengan senyum lebar Emmett maju meninggalkan barisan.

Jasper mundur ke ujung utara dekat para musuh sekutu. Ia melambaikan tangan menyuruh Emmett maju.

“Oke, Emmett duluan. Dia contoh terbaik dari serangan vampir baru.”

Mata Emmett menyipit. “Akan kucoba untuk tidak mematahkan apa pun,” gerutunya.

Jasper nyengir. “Maksudku adalah, Emmett sangat mengandalkan kekuatan. Dia sangat terang-terangan dalam menyerang. Demikian pula para vampir baru, mereka tidak akan berusaha melakukannya dengan halus. Langsung serang saja, Emmett.”

Jasper mundur lagi beberapa langkah, tubuhnya mengejang.

“Oke, Emmetr-coba tangkap aku.”

Dan aku uk bisa melihat Jasper lagi – sosoknya hanya tinggal kelebatan samar saat Emmett menyerangnya bagai beruang, menyeringai sambil menggeram-geram. Emmett juga luar biasa cepat, tapi tidak seperti Jasper. Jasper seperti tak bertubuh, seperti hantu – setiap kali tangan Emmett yang besar meraihnya, jari-jari Emmett hanya mencengkeram udara kosong. Di sampingku Edward mencondongkan tubuh dengan sikap menyimak, matanya terpaku pada pertarungan itu. Lalu Emmett membeku.

Jasper menyergapnya dari belakang, giginya hanya dua setengah sentimeter dari lehernya.

Emmett memaki.

Terdengar geraman kagum dari serigala-serigala yang menonton.

“Lagi,” desak Emmett, senyumnya lenyap.

“Sekarang giliranku,” protes Edward. Jari-jariku mencengkeramnya tegang.

“Sebentar lagi,” Jasper menyeringai, mundur selangkah. “Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada Bella dulu.”

Aku menonton cemas saat Jasper melambaikan tangan kepada Alice, memintanya maju.

“Aku tahu kau mengkhawatirkan Alice,” Jasper menjelaskan padaku waktu Alice menandak-nandak lincah memasuki arena. “Aku ingin menunjukkan padamu mengapa itu tidak perlu.”

Walaupun aku tahu Jasper takkan pernah membiarkan Alice cedera, namun terap saja sulit melihat Jasper merunduk dan mengambil sikap siap menyerang. Alice berdiri tak bergerak, tampak semungil boneka di depan Emmett, tersenyum-senyum sendiri. Jasper bergerak maju, lalu merayap ke kiri Alice.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.