Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Tidak, pasti bukan kebebasan pribadi yang membuatku merasa ringan hari ini. Akhir tahun ajaran tidak memberiku kegembiraan seperti yang tampaknya dirasakan muridmurid lain. Sebenarnya, aku justru gugup hingga nyaris mual setiap kali memikirkannya. Aku berusaha tidak memikirkannya.

Tapi memang sulit menghindari topik yang hadir di mana-mana seperti kelulusan.

“Sudah mengirim pemberitahuan, belum?” tanya Angela begitu Edward dan aku duduk di meja kami. Rambut cokelat terangnya yang biasanya selalu tergerai halus diikat ke belakang membentuk ekor kuda serampangan, dan ada, sedikit sorot panik terpancar di matanya.

Alice dan Ben juga sudah duduk di sana, mengapit Angela. Ben asyik membaca komik, kacamatanya melorot di hidungnya yang tirus. Alice mengamati dengan saksama busanaku yang terdiri atas paduan membosankan jins dan T-shirt, caranya memandang membuatku jengah. Mungkin ia berniat memermak penampilanku lagi. Aku mendesah. Sikap cuekku terhadap penampilan bagaikan duri dalam daging bagi Alice. Seandainya kuizinkan, ia pasti dengan senang hati akan mendandaniku setiap hari – bahkan mungkin beberapa kali sehari – seakan-akan aku boneka kertas tiga dimensi yang ukurannya sebesar manusia,

“Belum,” kataku, menjawab pertanyaan Angela. “Tak ada gunanya juga. Renee sudah tahu kapan aku lulus. Siapa lagi yang perlu kuberitahu?” .

“Kau sendiri bagaimana, Alice?”

Alice tersenyum. “Sudah beres semuanya.”

“Beruntung benar kau,” Angela mendesah. “Ibuku punya banyak sekali sepupu dan dia berharap aku mengirim pemberitahuan ke mereka semua, dengan tulisan tangan, lagi. Bisa-bisa tanganku kapalan. Aku tak bisa menundanundanya lagi. Ngeri rasanya membayangkan diriku melakukannya.”

“Aku bisa membantumu,” aku menawarkan diri. “Kalau kau tidak keberatan dengan tulisan tanganku yang jelek.”

Charlie pasti senang. Dari sudut mata kulihat Edward tersenyum. Ia pasti juga senang – aku memenuhi syarat yang diajukan Charlie tanpa melibatkan werewolf.

Angela terlihat lega. “Baik sekali kau. Aku akan datang ke rumahmu kapan saja kau mau.”

“Sebenarnya, aku lebih suka akulah yang pergi ke rumahmu, kalau kau tidak keberatan – aku sudah muak dengan rumahku. Charlie mencabut hukumanku semalam.” Aku tersenyum lebar saat menyampaikan kabar baik itu.

“Benarkah?” tanya Angela, kilat kegembiraan terpancar dari mata cokelatnya yang selalu tenang. “Katamu waktu itu, kau bakal dihukum seumur hidup.”

“Aku juga sama kagetnya denganmu. Tadinya aku yakin paling tidak aku harus selesai SMA dulu baru Charlie membebaskanmu.”

“Well, baguslah kalau begitu, Bella! Kira harus pergi untuk merayakannya.”

“Kau tidak tahu betapa indah kedengarannya usulanmu itu.”

“Kita mau melakukan apa?” tanya Alice sambil merenung, wajahnya berseri-seri memikirkan berbagai kemungkinan. Ide-ide Alice biasanya agak terlalu berlebihan bagiku, dan aku bisa melihat hal itu di matanya sekarang – kecenderungan melakukan sesuatu secara berlebihan.

“Apa pun yang kaupikirkan, Alice, rasa-rasanya aku tidak sebebas itu.”

“Bebas ya bebas, kan?” desak Alice.

“Aku yakin masih ada batasan yang harus kutaati – dalam batas-batas wilayah Amerika Serikat, misalnya.”

Angela dan Ben tertawa, tapi Alice meringis, tampaknya benar-benar kecewa.

“Jadi kita mau ke mana nanti malam?” tanyanya gigih.

“Tidak ke mana-mana. Begini, bagaimana kalau kita tunggu dulu beberapa hari, untuk memastikan ayahku tidak bercanda. lagi pula, ini kan malam sekolah.”

“Kita rayakan akhir minggu ini kalau begitu.” Mustahil bisa mengekang antusiasme Alice.

“Tentu,” sahutku, berharap membuatnya puas. Aku tahu aku takkan melakukan sesuatu yang terlalu berlebihan; lebih aman pelan-pelan saja menghadapi Charlie. Memberinya kesempatan melihat bahwa aku bisa dipercaya dan matang dulu sebelum minta izin melakukan apa-apa.

Angela dan Alice mulai asyik mengobrolkan berbagai pilihan; Ben ikut nimbrung, menyingkirkan komiknya. Perhatianku teralih. Kaget juga aku menyadari topik mengenai kebebasanku mendadak tak terasa memuaskan lagi seperti beberapa saat yang lalu. Sementara mereka masih asyik membicarakan hal-hal yang bisa dilakukan di Port Angeles atau mungkin Hoquiam, aku mulai merasa tidak puas.

Tidak butuh waktu lama untuk menentukan dari mana kegelisahanku ini berasal.

Sejak mengucapkan selamat berpisah dengan Jacob Black di hutan dekat rumahku, aku dihantui bayangan menyedihkan yang terus-menerus mengusik pikiranku. Bayangan itu muncul dalam interval teratur, seperti alarm menjengkelkan yang diatur untuk berbunyi setiap setengah jam sekali, memenuhi kepalaku dengan bayangan wajah Jacob yang mengernyit pedih. Itu kenangan terakhirku tentang dia.

Saat visi yang mengganggu itu muncul lagi, aku tahu benar kenapa aku merasa tidak puas dengan kebebasanku. Karena kebebasan itu belum sempurna.

Tentu, aku bebas ke mana pun aku mau – kecuali ke La Push; bebas melakukan apa pun yang kuinginkan – kecuali bertemu Jacob. Aku cemberut memandangi meja. Seharusnya ada jalan tengah yang memuaskan semua pihak.

“Alice? Alice!”

Suara Angela menyentakkanku dari lamunan. Ia melambai-lambaikan tangan di depan wajah Alice yang menerawang kosong. Aku mengenali ekspresi Alice itu – ekspresi yang otomatis mengirimkan sengatan panik ke sekujur tubuhku. Tatapannya yang kosong menandakan ia melihat sesuatu yang sangat berbeda dari pemandangan normal berupa aula tempat makan siang seperti yang ada di sekitar kami ini, tapi sesuatu itu sama nyatanya dengan segala sesuatu di sekeliling kami. Akan ada sesuatu, sesuatu akan terjadi sebentar lagi. Kurasakan darah menyusut dari wajahku.

Lalu Edward tertawa, nadanya sangat natural dan rileks.

Angela dan Ben berpaling padanya, tapi mataku tetap tertuju kepada Alice. Tiba-tiba Alice terlonjak, seperti ada yang menendang kakinya di bawah meja.

“Memangnya sekarang sudah waktunya tidur siang, Alice?” goda Edward.

Alice kembali menjadi dirinya. “Maaf kurasa aku melamun tadi.”

“Lebih enak melamun daripada menghadapi dua jam pelajaran lagi,” sergah Ben.

Alice kembali mengobrol dengan semangat lebih berapiapi dibandingkan sebelumnya – agak terlalu berlebihan. Sekali aku sempat melihatnya bersitatap dengan Edward, hanya sedetik, kemudian ia berpaling lagi kepada Angela sebelum ada yang sempat memerhatikan. Edward lebih banyak diam, tangannya memainkan seberkas rambutku.

Dengan gelisah aku menunggu kesempatan untuk bisa bertanya kepada Edward tentang penglihatan yang didapat Alice tadi, tapi siang berlalu dengan cepat tanpa satu menit pun kesempatan untuk berduaan.

Bagiku itu aneh, hampir seperti disengaja. Sehabis makan siang Edward sengaja berjalan lambat-lambat mengiringi langkah Ben, mengobrol tentang tugas yang aku tahu sudah selesai ia kerjakan. Ialu selalu ada orang lain di antara pergantian kelas, padahal biasanya kami punya waktu berduaan selama beberapa menit. Ketika bel terakhir berbunyi, Edward tahu-tahu mengajak Mike Newton mengobrol, berjalan bersamanya menuju lapangan parkir. Aku membuntuti di belakang, membiarkan Edward menarikku.

Aku mendengarkan, bingung, sementara Mike menjawab pertanyaan-pertanyaan Edward yang diajukan dengan nada bersahabat. Rupanya mobil Mike sedang bermasalah.

“…padahal aku baru saja mengganti akinya,” Mike berkata. Matanya bolak-balik memandang Edward waswas. Tercengang, sama seperti aku.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.