Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Edward mulai menggumamkan lagu ninaboboku, tapi sekali ini lagu itu tidak berhasil menenangkan perasaanku.

Orang-orang – well, vampir dan werewolf maksudnya, tapi tetap saja – orang-orang yang kusayangi terancam terluka. Terluka karena aku. lagi. Kalau saja kesialanku sedikit lebih terfokus. Rasanya aku kepingin berteriak sekeras-kerasnya ke langit yang kosong: Akulah yang kauinginkan – di sini! Hanya aku!

Aku berusaha memikirkan bagaimana aku bisa melakukan hal itu – memaksa kesialanku terfokus pada diriku saja. Jelas tidak mudah. Aku harus menunggu, menanti kesempatan…

Aku tak kunjung tidur. Menit demi menit berlalu cepat, dan yang mengejutkan, aku masih tetap tegang dan

waspada waktu Edward menarik tubuhku dan mendudukkanku.

“Kau yakin tak mau menunggu saja di sini dan tidur?”

Kutatap ia dengan masam.

Edward mendesah, lalu meraupku dalam dekapannya sebelum terjun dari jendela kamarku.

Ia berlari menembus hutan yang gelap dan sunyi, aku bertengger di punggungnya. Bahkan saat ia berlari bisa kurasakan semangatnya meluap-luap. Edward berlari seperti biasa jika kami hanya berdua, hanya untuk bersenang-senang, sekadar untuk merasakan tiupan angin di rambutnya. Saat keadaan masih tenang, hal-hal semacam itulah yang bisa membuatku bahagia.

Sesampainya di padang terbuka yang luas, keluarganya sudah menunggu, mengobrol santai, rileks. Sesekali terdengar tawa Emmett yang bergema di ruang terbuka yang luas itu. Edward menurunkanku dan kami berjalan bergandengan tangan menghampiri mereka.

Karena suasana yang gelap gulita sebab bulan tersembunyi di balik awan, butuh semenit untuk menyadari ternyata kami berada di lapangan bisbol. Tempat yang sama di mana, lebih setahun yang lalu. malam pertamaku yang menyenangkan bersama keluarga Cullen terusik oleh datangnya James dan kawanannya. Aneh rasanya berada di sini lagi – seolah-olah pertemuan ini belum terasa lengkap sampai James, Laurent, dan Victoria datang dan bergabung dengan kami. Tapi James dan Laurent takkan pernah kembali. Pola itu tidak akan berulang. Mungkin semua pola lain pun sudah lenyap.

Ya, ada orang yang telah menghancurkan pola mereka. Mungkinkah keluarga Volturi merupakan pihak-pihak yang feksibel dalam persamaan ini?

Aku meragukannya.

Di mataku Victoria selalu terkesan bagaikan kekuatan alam yang tak bisa dihindari – seperti angin topan yang bergerak dalam garis lurus sepanjang tepi pantai – tak bisa dihindari, tak tergoyahkan, tapi. bisa diramalkan. Mungkin salah membatasinya seperti itu. Victoria pasti mampu beradaptasi.

“Tahukah kau apa yang kupikirkan?” tanyaku kepada Edward.

Edward tertawa. “Tidak.”

Hampir saja aku tersenyum.

“Apa yang kaupikirkan?”

“Kupikir, semua itu pasti saling berhubungan. Bukan hanya dua,tapi ketiga-tiganya.”

“Aku tidak mengerti.”

“Tiga hal buruk terjadi sejak kau kembali.” Aku mengacungkan tiga jariku. “Para vampir baru di Seattle. Penyusup di kamarku. Dan, pertama-tama Victoria datang mencariku.”

Mata Edward menyipit memikirkannya. “‘Kenapa begitu menurutmu?”

“Karena aku sependapat dengan Jasper, keluarga Volturi mencintai aturan-aturan mereka. Dan kalau mereka yang melakukannya, pasti hasilnya lebih baik.” Dan aku pasti sudah mati kalau mereka memang ingin aku mati. aku menambahkan dalam hati. “Ingat waktu kau melacak. keberadaan Victoria tahun lalu?”

“Ya.” Kening Edward berkerut. ”aku tidak begitu berhasil.”

“Kata Alice, kau berada di Texas. Kau mengikutinya ke sana?”

Alis Edward bertaut. “Ya. Hmm…”

“Betul kan – bisa jadi dia mendapat ilham di sana. Tapi karena dia tidak tahu harus bagaimana, para vampir baru itu jadi lepas kendali.”

Edward menggeleng-gelengkan kepala. “Hanya Aro yang tahu persis bagaimana visi Alice bekerja.”

“Aro-lah yang paling tahu, tapi bukankah Tanya, Irina, serta teman-temanmu yang lain di Denali juga cukup tahu? Laurent tinggal bersama mereka cukup lama. Dan kalau dia ternyata masih berhubungan dengan Victoria hingga mau membantunya melakukan sesuatu, kenapa dia juga tidak menceritakan semua yang diketahuinya kepada Victoria?”

Kening Edward berkerut. “Tapi bukan Victoria yang masuk ke kamarmu.”

“Memangnya dia tidak bisa menciptakan teman-teman baru? Pikirkan baik-baik., Edward. Kalau memang Victoria yang melakukan hal ini di Seattle, berarti dia punya banyak teman baru. Dia yang menciptakan mereka.”

Edward menimbang-nimbang, dahinya berkerut penuh konsentrasi.

“Hmmm,” ujarnya akhirnya. “Mungkin saja. Aku masih menganggap keluarga Volturi-lah yang paling mungkin… Tapi sebagian teorimu cocok. Kepribadian Victoria. Teorimu sangat cocok dengan kepribadiannya. Sejak awal dia memang menunjukkan kemampuan luar biasa untuk mempertahankan diri – mungkin memang itu bakatnya.

Bagaimanapun, plot ini tidak membahayakan posisinya di mata kami, kalau dia hanya duduk berpangku tangan dan membiarkan para vampir baru berbuat onar di sini. Dan mungkin itu juga tidak terlalu membahayakan posisinya di mata keluarga Volturi. Mungkin dia berharap kita akan menang, pada akhirnya, meskipun tak mungkin tanpa korban dalam jumlah besar di pihak kita. Tapi tak seorang pun dari pasukan kecilnya yang akan selamat dan menjadi saksi terhadap keterlibatannya. Faktanya,” sambung Edward, memikirkannya secara mendetail, “kalaupun ada yang selamat, aku berani bertaruh dia berniat menghancurkan mereka… Hmm. Meskipun begitu, dia harus punya setidaknya satu teman yang sedikit lebih matang. Tak mungkin seorang vampir baru sanggup membiarkan ayahmu tetap hidup…”

Edward menerawang lama sekali, kemudian tiba-tiba tersenyum padaku, tergugah dari lamunannya. “Jelas mungkin. Meski begitu kita harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan sampai kita tahu pasti. Kau sangat cerdik hari ini,” imbuhnya. “Mengesankan.”

Aku mendesah. “Mungkin aku hanya bereaksi terhadap tempat ini. Lapangan ini membuatku merasa seolah-olah dia berada di dekat-dekat sini… seolah-olah dia melihatku sekarang.”

Otot-otot rahang Edward mengeras membayangkannya.

“Dia takkan pernah bisa menyentuhmu, Bella,” sergahnya. Meski begitu mata Edward tetap menyapu pepohonan yang gelap dengan saksama. Sementara mencari bayang-bayang mereka, ekspresi yang sangat aneh melintasi wajahnya. Bibirnya tertarik ke belakang dan matanya berkilat-kilat, memancarkan binar aneh – semacam harapan liar dan garang.

“Walaupun begitu, di lain pihak aku justru sangat ingin dia sedekat itu,” gumamnya. “Victoria, juga siapa pun yang berniat menyakitimu. Punya kesempatan mengakhiri semua ini sendirian. Menuntaskannya dengan tanganku sendiri kali ini.”

Aku bergidik mendengar kegeraman dalam suaranya, dan kuremas jemarinya kuat-kuat, berharap aku cukup kuat untuk menyatukan tangan kami seperti ini selamanya.

Kami sudah nyaris mencapai keluarganya, dan untuk pertama kali baru kusadari Alice tidak tampak seoptimis yang lain. Ia berdiri agak menjauh. mengawasi Jasper meregangkan kedua lengannya seperti orang melakukan pemanasan sebelum berolahraga, bibirnya sedikit mencebik.

“Alice kenapa?” bisikku.

Edward terkekeh, kembali menjadi dirinya. “Para werewolf sedang dalam perjalanan ke sini, jadi sekarang dia tidak bisa melihat apa yang akan terjadi. Dia merasa tidak nyaman, buta seperti itu.”

Alice, walaupun berdiri paling jauh dari kami, bisa mendengar suara Edward yang pelan. Ia mendongak dan menjulurkan lidahnya. Edward tertawa lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.