Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Alice nyengir kepada Jacob, dan Jacob balas nyengir.

“Semua langsung menghilang, tentu saja,” kata Alice kepada Jacob dengan nada menang. “Tidak menguntungkan memang, tapi dengan berbagai pertimbangan, aku akan menerimanya.”

“Kita harus berkoordinasi,” kata Jacob. “Tidak mudah bagi kami. Meski begitu, ini lebih merupakan tugas kami ketimbang tugas kalian.”

“Aku tak setuju, tapi kami memang membutuhkan bantuan. Kami tidak akan pilih-pilih.”

“Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu,” aku menyela mereka.

Alice berjinjit, Jacob membungkuk ke arahnya, wajah mereka berbinar-binar penuh semangat, hidung mengernyit menahan bau satu sama lain. Keduanya menatapku tak sabar.

“Berkoordinasi!” ulangku, gigiku terkatup karena gemas.

“Kau tidak bermaksud menghalangi kami ikut, kan?”

tanya Jacob.

“Kau memang tidak boleh ikut!”

“Paranormalmu tidak menganggap begitu.”

“Alice – bilang tidak pada mereka!” desakku. “Bisa-bisa

mereka terbunuh!”

Jacob, Quil, dan Embry tertawa keras-keras.

“Bella,” kata Alice, suaranya menenangkan, membujuk,

“kalau sendiri-sendiri, kita semua bisa terbunuh. Tapi bersama-sama–“

“Itu tidak akan menjadi masalah,” Jacob menyelesaikan kalimatnya. lagi-lagi Quil tertawa.

“Berapa banyak?” tanya Quil penuh semangat.

“Tidak!” teriakku.

Alice bahkan tidak memandang ke arahku. “Berubahubah, 21 hari ini, tapi jumlahnya menurun.”

“Kenapa?” tanya Jacob, ingin tahu.

“Ceritanya panjang,” kata Alice, tiba-tiba memandang sekeliling ruangan. “Dan sekarang bukan tempat yang tepat untuk mendiskusikan ini.”

“Bagaimana kalau nanti malam?”

“Baiklah,” Jasper yang menjawab. “Kami memang sudah merencanakan… pertemuan strategis. Kalau kalian

ingin bertempur bersama kami, kalian membutuhkan beberapa instruksi.”

Wajah para serigala kontan menunjukkan sikap tidak puas begitu mendengar kalimat terakhir.

“Tidak?” erangku.

“Pasti bakal aneh.” kata Jasper dengan sikap merenung. “Aku tak pernah mempertimbangkan untuk bekerja sama. Ini pasti yang pertama kali.”

“Itu sudah jelas.” Jacob sependapat. Ia buru-buru ingin pergi sekarang. “Kami harus kembali untuk menemui Sam. Jam berapa?”

“Jam berapa yang terlalu malam untuk kalian?”

Ketiganya memutar bola mata masing-masing. “Jam berapa?” ulang Jacob.

“Jam tiga?”

“Di mana?”

“Kira-kira enam belas kilometer sebelah utara kantor jagawana Hutan Hoh. Datanglah dari arah barat, kalian pasti bisa mengikuti bau kami.”

“Kami akan datang.”

Mereka berbalik untuk pergi.

“Tunggu, Jake!” aku berseru memanggilnya. “Please! Jangan lakukan ini!”

Jacob berhenti, berbalik untuk nyengir padaku, sementara Quil dan Embry berjalan dengan sikap tidak sabar menuju pintu. “Jangan konyol, Bella. Kau memberiku hadiah yang jauh lebih bagus daripada hadiah yang kuberikan padamu.”

“Tidak!” aku berteriak lagi. Raungan gitar elektrik menenggelamkan teriakanku.

Jacob tidak menyahut; ia bergegas pergi menyusul temannya yang sudah lenyap. Aku hanya bisa memandang tak berdaya saat Jacob menghilang.

 

18. INSTRUKSI

“ITU tadi pasti pesta terlama sepanjang sejarah,” keluhku dalam perjalanan pulang.

Edward sepertinya setuju. “Sekarang toh sudah berakhir,” katanya, mengusap-usap lenganku dengan sikap menenangkan.

Karena sekarang akulah satu-satunya yang butuh ditenangkan. Edward sendiri baik-baik saja sekarang – seluruh anggota keluarga Cullen baik-baik saja.

Mereka semua sudah berusaha meyakinkanku; Alice menepuk-nepuk kepalaku waktu aku pergi tadi, memandangi Jasper dengan sikap penuh makna sampai gelombang damai melandaku. Esme mengecup keningku dan berjanji semua pasti beres, Emmett tertawa terbahakbahak dan bertanya kenapa hanya aku yang diizinkan berkelahi dengan werewolf… solusi yang diberikan Jacob membuat mereka semua rileks, hampir-hampir seperti euforia setelah berminggu-minggu terimpit stres. Keraguan telah digantikan dengan rasa percaya diri. Pesta tadi benarbenar diakhiri dengan suasana perayaan.

Tapi tidak bagiku.

Sudah cukup buruk–mengerikan–bahwa keluarga Cullen akan bertempur untukku. Sudah cukup mengerikan bagiku mengizinkan itu terjadi. Itu saja rasanya lebih daripada yang bisa kutanggung.

Apalagi sekarang ditambah Jacob. Saudara-saudaranya yang bodoh dan bersemangat itu, sebagian besar dari mereka bahkan lebih muda daripada aku. Mereka sama saja seperti anak-anak kecil bertubuh bongsor dan berotot besar,yang menganggap pertempuran ini sama mengasyikkannya dengan piknik di pantai. Aku tak boleh membahayakan mereka juga. Urat-urat sarafku tegang dan menonjol. Entah sampai kapan aku bisa menahan diri agar tidak menjerit keras-keras.

Aku berbisik, berusaha terdengar terap tenang. “Kau harus mengajakku malam ini.”

“Bella, kau sangat lelah.”

“Memangnya kaukira aku bisa tidur?”

Kening Edward berkerut. “Ini eksperimen. Aku tak yakin kami semua bisa… bekerja sama. Aku tidak mau kau terjebak di tengah-tengahnya.”

Mendengar alasan itu aku malah semakin ingin pergi. “Kalau kau tak mau mengajakku, akan kutelepon Jacob.”

Sorot mata Edward mengeras. Itu pukulan baginya, aku tahu. Tapi jangan harap aku mau ditinggal.

Ia tidak menjawab; kami sudah tiba di rumah Charlie sekarang. Lampu depan menyala.

“Sampai ketemu di atas,” gumamku.

Aku berjingkat-jingkat masuk lewat pintu depan. Charlie tertidur di ruang tamu, tubuhnya kelewat besar untuk ukuran sofa yang kecil mendengkur sangat keras hingga aku bisa saja menyalakan gergaji listrik dan ia tetap tak terbangun saking nyenyaknya.

Kuguncang bahunya keras-keras.

“Dad! Charlie!”

Charlie menggerutu. matanya tetap terpejam.

“Aku sudah pulang – bisa-bisa Dad sakit punggung kalau tidur seperti itu. Ayo, waktunya pindah.”

Setelah mengguncang-guncang tubuhnya lama sekali, akhirnya aku berhasil menyuruh Charlie pindah dari sofa tanpa pernah benar-benar membuka mata. Kubantu ia naik ke tempat tidur dan ia langsung ambruk di atas penutup tempat tidur, masih berpakaian lengkap, lalu langsung mendengkur lagi.

Ia takkan mencariku dalam waktu dekat.

Edward menunggu di kamar sementara aku mencuci muka dan mengganti bajuku dengan jins dan kemeja flanel. Ia mengawasiku dengan sikap tidak suka dari kursi goyang sementara aku menggantung baju pemberian Alice di lemari.

“Kemarilah,” kataku, meraih tangannya dan menariknya ke tempat tidurku.

Kudorong ia ke ranjang, lalu bergelung rapat-rapat di dadanya. Mungkin Edward benar dan aku memang kelewat letih hingga bakal ketiduran. Tapi aku takkan membiarkannya menyelinap pergi tanpa aku.

Edward menyelimutiku rapat-rapat, kemudian mendekapku erat-erat.

”Tenanglah.”

“Tentu.”

“Ini pasti berhasil, Bella. Aku bisa merasakannya.”

Aku mengatupkan gigiku rapat-rapat.

Edward masih memancarkan perasaan lega. Tidak ada orang, kecuali aku, yang peduli jika Jacob dan temantemannya terluka. Bahkan Jacob dan teman-temannya sendiri pun tak peduli. Apalagi mereka.

Edward tahu aku sudah nyaris tak bisa menahan emosi. “Dengar, Bella. Ini akan sangat mudah. Para vampir baru itu akan terkejut setengah mati. Mereka bahkan tidak tahu werewolf itu ada. Aku pernah melihat mereka beraksi berkelompok, seperti Jasper juga bisa mengingatnya. Aku benar-benar yakin teknik berburu para serigala itu akan membuat para vampir baru mati kutu. Dan dalam keadaan tercerai berai dan bingung, mereka bisa kami kalahkan dengan mudah. Jangan-jangan malah ada beberapa di antara kami yang tinggal duduk santai saja,” gurau Edward.

“Benar-benar mudah,” gumamku datar di dadanya.

“Sssttt,” Edward membelai-belai pipiku. “Kita lihat saja nanti. Sekarang jangan khawatir.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.