Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Edward berjalan anggun menerobos kerumunan, kelihatannya sama sekali tidak menyentuh tubuh-tubuh yang berdiri berdekatan, begitu cepatnya ia lenyap sampaisampai aku tak sempat bertanya kenapa ia pergi. Kupandangi ia dengan mata menyipit sementara Jessica berteriak-teriak penuh semangat meningkahi suara musik. menggayuti sikuku, tidak sadar perhatianku sedang di tempat lain.

Kulihat Edward mencapai bayang-bayang gelap di sebelah pintu dapur. Di sana lampu hanya bersinar temaram. Ia membungkuk di atas seseorang, tapi aku tak bisa melihat orangnya, tertutup kepala-kepala di antara kami.

Aku berjinjit, menjulurkan leher panjang-panjang. Saat itulah lampu yang merah menyapu punggungnya dan terpantul di manik-manik yang menghiasi baju Alice. Meski lampu itu hanya menyentuh wajahnya setengah detik, itu sudah cukup.

“Permisi sebentar, Jess.” gumamku, menarik lenganku dari cengkeramannya. Tanpa menunggu aku langsung pergi, bahkan tanpa melihat apakah aku melukai perasaannya dengan kepergianku yang mendadak itu.

Aku merunduk, menerobos kerumunan, terdorongdorong sedikit. Beberapa orang kini berjoget. Aku bergegas menuju pintu dapur.

Edward sudah pergi, tapi Alice masih di sana, di kegelapan, wajahnya kosong – wajah tanpa ekspresi seperti yang kerap terlihat di wajah orang yang baru saja menyaksikan kecelakaan mengerikan. Satu tangannya mencengkeram ambang pintu, seolah-olah ia harus berpegangan.

“Apa, Alice, apa? Apa yang kau lihat?” Kedua tanganku mencengkeram dada – memohon-mohon.

Alice tidak menatapku, matanya menerawang jauh. Aku mengikuti arah pandangnya dan melihatnya bertatapan mata dengan Edward di seberang ruangan. Wajah Edward kosong bagai batu. Ia berbalik dan lenyap dalam bayangbayang di bawah tangga.

Saat itulah bel pintu berdering, berjam-jam setelah deringan terakhir, dan Alice menengadah dengan ekspresi bingung yang dengan cepat berubah jadi jijik.

“Siapa yang mengundang werewolf?” omelnya padaku.

Aku merengut. “Aku.”

Kupikir aku sudah membatalkan undangan itu – bagaimanapun juga aku tidak menyangka Jacob bakal nekat datang ke sini.

“Well, urus mereka sendiri kalau begitu. Aku harus bicara dengan Carlisle.”

“Tidak, Alice. tunggu!” Aku berusaha meraih lengannya, tapi Alice sudah keburu lenyap dan tanganku hanya menggapai udara kosong.

“Brengsek!” gerutuku.

Aku tahu pasti sekaranglah saatnya. Alice sudah melihat apa yang dinanti-nantikan olehnya, dan jujur saja. rasanya aku tak kuat menahan ketegangan dan membukakan pintu lebih dulu. lagi-lagi bel pintu berdering, lama dan panjang, seolah-olah ada orang memencet tombol bel dan tidak melepaskannya. Aku membelakangi pintu dengan penuh tekad, lalu mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan yang gelap, mencari Alice.

Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku mulai beranjak menaiki tangga.

“Hai, Bella!”

Suara Jacob yang berat berkumandang saat musik berhenti sejenak, dan, meski tidak ingin, wajahku otomatis terangkat begitu mendengar namaku dipanggil.

Aku mengernyitkan wajah.

Tidak hanya satu werewolf, melainkan tiga. Jacob masuk sendiri, diapit Quil dan Embry di kiri-kanannya. Keduanya tampak sangat tegang, mata mereka berkelebat mengitari ruangan seperti memasuki ruang bawah tanah berhantu. Tangan Embry yang gemetar masih memegangi pintu, tubuhnya miring agak ke belakang, siap lari.

Jacob melambai padaku, lebih tenang dibanding kedua temannya yang lain, meskipun hidungnya mengernyit jijik. Aku balas melambai – lambaian perpisahan – dan berbalik mencari Alice. Aku memaksakan diri menyelinap di antara punggung Conner dan Lauren.

Ia muncul entah dari mana, tangannya mendarat di bahuku dan menarikku kembali ke keremangan dekat dapur. Aku mengelak dan melepaskan diri dari cengkeramannya, tapi pemuda itu menyambar pergelangan tanganku yang sehat dan menyentakku dari kerumunan.

“Sambutan yang ramah,” komentarnya.

Aku menarik tanganku dan menatapnya cemberut “Untuk apa kau ke sini?”

“Kau yang mengundangku, ingat?”

“Kalau hook kananku memang terlalu lemah bagimu, izinkan aku menerjemahkannya. itu berarti aku membatalkan undangan.”

“Jangan jahat begitu. Aku membawakan hadiah kelulusan untukmu lho.”

Aku bersedekap. Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan Jacob sekarang. Aku ingin tahu apa yang dilihat Alice, dan apa pendapat Edward dan Carlisle mengenainya. Aku menjulurkan leher panjang-panjang, melihat ke balik punggung Jacob, mencari-cari mereka.

“Kembalikan saja ke tokonya, Jake. Aku harus

melakukan sesuatu..

Jacob bergerak menutupi pandanganku, menuntut perhatianku.

“Aku tidak bisa mengembalikannya. Aku tidak membelinya di toko – aku membuatnya sendiri. Butuh waktu sangat lama pula.”

Lagi-lagi aku mencondongkan tubuh ke balik tubuhnya, tapi tak satu pun anggota keluarga Cullen yang tampak. Ke mana perginya mereka? Mataku menyapu seluruh penjuru ruangan yang gelap itu.

“Oh, ayolah. Bell. Jangan berlagak seolah-olah aku tidak di sini!”

“Aku bukannya berlagak.” Mereka tidak ada di manamana. “Dengar, Jake, saat ini aku sedang banyak pikiran.”

Jacob meletakkan tangannya di bawah daguku dan mendongakkan wajahku. “Boleh minta waktu beberapa detik saja tanpa terbagi-bagi, Miss Swan?”

Aku menyentakkan wajahku. “Jaga tanganmu baik-baik, Jacob,”desisku.

“Maaf!” seru Jacob. mengangkat kedua tangannya seperti menyerah. “Aku benar-benar minta maaf. Mengenai kejadian waktu itu juga, maksudku. Seharusnya aku tidak menciummu seperti itu. Itu salah. Kurasa.., well, kurasa aku menipu diri sendiri dengan mengira kau menginginkanku.”

“Menipu – gambaran yang tepat sekali!”

“Bersikaplah yang baik. Kau bisa menerima permintaan maafku, kau tahu.”

“Baiklah. Permintaan maaf diterima. Sekarang, permisi sebentar…”

“Oke,” gumam Jacob, dan nadanya sangat berbeda dari sebelumnya hingga aku berhenti mencari-cari Alice dan mengamati wajahnya. Jacob menunduk memandang lantai, menyembunyikan matanya. Bibir bawahnya sedikit mencebik.

“Ternyata kau lebih suka berkumpul dengan temanteman sejatimu,” tukasnya dengan nada kalah. “Aku mengerti.”

Aku mengerang. “Aduh, Jake, kau tahu itu tidak adil.”

“Memangnya aku tahu?”

“Seharusnya kau tahu.” Aku mencondongkan tubuh ke depan, menyipitkan mata, berusaha menatap matanya. Jacob mendongak, menghindari mataku.

“Jake?”

Ia tak mau melihatku.

“Hei, katanya kau membuatkan sesuatu untukku, benar?” tanyaku. “Atau itu hanya omong kosong? Mana hadiahku?” Upayaku berpura-pura antusias tampak sangat menyedihkan, tapi berhasil. Jacob memutar bola matanya dan kemudian nyengir padaku.

Aku tetap mempertahankan sikap pura-puraku yang menyedihkan, menyodorkan telapak tangan. “Aku menunggu lho.”

“Yang benar saja,” gerutu Jacob sarkastis. Tapi ia merogoh kantong belakang jinsnya dan mengeluarkan kantong kain rajutan berwarna-warni. Seutas tali kulit mengikat kantong itu.

Diletakkannya kantong itu di telapak tanganku.

“Hei, cantik sekali, Jake. Terima kasih!”

Jacob mendesah. “Hadiahnya di dalam, Bella.”

“Oh.”

Susah juga membuka ikatannya. lagi-lagi Jacob mendesah dan mengambil kantong itu dariku, membukanya dengan mudah dengan menarik tali yang tepat. Aku menyodorkan telapak tanganku, tapi Jacob membalikkan kantong itu dan mengguncangnya, mengeluarkan sesuatu yang berwarna keperakan ke tanganku. Logam beradu dengan logam, menimbulkan suara berdenting pelan.

“Bukan aku yang membuat gelangnya,” Jacob mengakui. “Hanya bandulnya.”

Pada rantai gelang perak itu terpasang sebuah pahatan mungil dari kayu. Aku mengamatinya lebih saksama. Sungguh menakjubkan betapa mendetailnya patung mungil itu – serigala miniatur itu terlihat seperti sungguhan. Bahkan bahannya terbuat dari kayu berwarna merahcokelat, serupa benar dengan warna kulit Jacob.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.