Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

 

17. SEKUTU

“BELLA?”

Suara lembut Edward terdengar dari belakangku. Aku berbalik dan melihatnya berlari lincah menuruni undakan teras, rambutnya berantakan karena berlari. Ia langsung memelukku, sama seperti yang dilakukannya di lapangan parkir tadi, dan menciumku lagi.

Ciuman ini. membuatku takut. Terlalu banyak ketegangan dan kegelisahan yang kurasakan dari caranya melumat bibirku, seakan-akan Edward takut kami tak punya banyak waktu lagi bersama-sama.

Aku tak boleh membiarkan diriku berpikir seperti itu. Tidak kalau aku harus bersikap sebagaimana layaknya

manusia normal beberapa jam ke depan. Aku melepaskan diri darinya.

“Mari segera kita akhiri pesta konyol ini,” gumamku, tak sanggup menatap matanya.

Edward merengkuh wajahku dengan dua tangan, menunggu sampai aku mendongak.

“Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada dirimu.”

Kusentuh bibirnya dengan jari-jari tanganku yang sehat. “Aku tidak terlalu mengkhawatirkan diriku kok.”

“Kenapa aku tidak terlalu kaget mendengarnya, ya?”

Edward menggerutu sendiri. Ia menarik napas dalamdalam, kemudian tersenyum kecil. “Siap berpesta?” tanyanya.

Aku mengerang.

Edward memegangi pintu untukku, lengannya tetap memeluk pinggangku. Sejenak aku berdiri membeku di sana, lalu menggelengkan kepala lambat-lambat.

“Tak bisa dipercaya.”

Edward mengangkat bahu. “Begitulah Alice.”

Bagian dalam rumah keluarga Cullen telah diubah menjadi kelab malam – bukan seperti kelab malam yang sering dijumpai di kehidupan nyata, hanya di TV.

“Edward!” seru Alice dari sebelah pengeras suara berukuran raksasa. ”Aku membutuhkan saranmu.” Ia melambaikan tangan ke arah tumpukan CD. ”Apakah sebaiknya kita beri mereka lagu-lagu yang familier dan menghibur Atau” – ia melambaikan tangan ke tumpukan lain –” mendidik selera musik mereka?”

“Yang menghibur saja,” Edward merekomendasikan. “Kuda hanya mau dituntun ke air.”

Alice mengangguk serius, dan mulai melemparkan CDCD musik yang “mendidik” itu ke dalam kotak. Kuperhatikan ia sudah mengganti bajunya dengan tank top berhias manik-manik dipadu celana kulit merah. Kulitnya yang telanjang bereaksi ganjil di bawah lampu-lampu merah dan ungu yang berkedip-kedip.

“Sepertinya dandananku kurang heboh.”

“Dandananmu sempurna,” bantah Edward tak sependapat.

“Kau lumayan,” Alice mengoreksi.

“Trims.” Aku mendesah. “Menurutmu, mereka bakal datang. tidak?” Siapa pun bisa mendengar nada berharap dalam suaraku. Alice mengernyit padaku.

“Semua akan datang,” jawab Edward. “Mereka semua sudah tak sabar lagi ingin melihat bagian dalam rumah keluarga Cullen yang terpencil dan misterius.”

“Wow, keren,” erangku.

Ternyata aku tak perlu membantu. Aku ragu – bahkan nanti setelah aku tidak lagi butuh tidur dan bisa bergerak jauh lebih cepat – aku akan bisa menandingi kesigapan Alice dalam mengurus segala sesuatu.

Edward menolak melepaskanku meskipun hanya sedetik, menyeretku ke sana kemari sementara ia mencari Jasper dan Carlisle untuk menceritakan tentang teoriku. Aku mendengarkan sambil berdiam diri dengan perasaan ngeri saat mereka mendiskusikan serangan terhadap pasukan vampir di Seattle. Kentara sekali Jasper tidak senang dengan perbandingan jumlah yang ada, tapi mereka tak bisa menghubungi siapa pun kecuali keluarga Tanya yang tidak bersedia membantu. Tidak seperti Edward, Jasper tidak berusaha menyembunyikan perasaan putus asanya. Kentara sekali ia tidak suka berjudi dengan taruhan sedemikian tinggi.

Aku tak sanggup ditinggal sendiri, menunggu. dan berharap mereka kembali Aku tak sanggup. Bisa-bisa aku gila.

Bel pintu berdering.

Dalam sekejap suasana langsung berubah normal. Senyum hangat dan ramah menggantikan ketegangan di wajah Carlisle. Alice mengeraskan volume musik, dan dengan lincah meluncur menuju pintu.

Ternyata yang datang satu mobil Suburban penuh berisi teman-temanku, entah terlalu gugup atau terlalu terintimidasi untuk datang sendiri-sendiri. Jessica orang pertama yang muncul di pintu, disusul Mike di belakangnya. Lalu Tyler, Conner, Austin, Lee, Samantha… bahkan Lauren membuntut di belakang, matanya yang kritis berbinar-binar dengan perasaan ingin tahu. Mereka semua penasaran, dan langsung ternganga takjub melihat ruangan besar yang ditata menyerupai tempat nongkrong yang chic. Ruangan itu tidak kosong, seluruh anggota keluarga Cullen sudah siap di tempat masing-masing, siap berperan dalam sandiwara manusia mereka yang sempurna seperti biasa. Malam ini aku merasa seperti sedang berakting, sama seperti mereka.

Aku pergi untuk menyapa Jess dan Mike, berharap nada gugup dalam suaraku dianggap sebagai ekspresi kegirangan. Belum sempat beranjak untuk menyapa temanku yang lain, lagi-lagi bel pintu berdering. Kupersilakan Angela dan Ben masuk, membiarkan pintu terbuka lebar, karena melihat Eric dan Katie hendak menaiki undakan.

Aku tidak sempat lagi merasa panik. Aku harus mengobrol dengan semua orang, mencurahkan segenap konsentrasi untuk menjadi tuan rumah yang ceria. Meski sebenarnya ini pesta patungan antara Alice, Edward, dan aku., namun tak dapat disangkal akulah sasaran yang paling populer untuk diberi ucapan selamat dan terima kasih. Mungkin karena keluarga Cullen terlihat agak asing di bawah lampu-lampu pesta yang dipasang Alice. Mungkin karena lampu-lampu itu membuat ruangan menjadi remang-remang dan terkesan misterius. Bukan atmosfer yang bisa membuat kebanyakan manusia merasa rileks berdiri di sebelah orang seperti Emmett. Kulihat Emmett nyengir kepada Mike saat mereka bertemu di meja hidangan, kilauan lampu merah menerpa giginya, dan Mike langsung mundur selangkah.

Mungkin Alice sengaja melakukannya, memaksaku menjadi pusat perhatian posisi yang menurutnya seharusnya bisa lebih kunikmati. Ia tak bosan-bosan berusaha membuatku jadi manusia seperti yang dibayangkannya.

Jelas pesta ini sukses besar, walaupun para tamunya secara naluriah gelisah karena kehadiran keluarga Cullen – atau mungkin itu justru menjadi bumbu yang semakin menyemarakkan suasana pesta. Musiknya menular, lampulampunya nyaris menghipnotis. Menilik cepatnya makanan habis, hidangan pestanya pasti juga lezat. Sebentar saja ruangan sudah penuh, meski tidak sampai menyesakkan. Seluruh murid kelas senior sepertinya ada di sini, begitu juga sebagian besar murid junior. Tubuh-tubuh bergoyang mengikuti irama yang bergetar di bawah telapak kaki mereka, pestanya nyaris berubah menjadi ajang dansadansi.

Ternyata memang tidak sesulit yang kukira. Aku mengikuti teladan yang ditunjukkan Alice, berbaur dan mengobrol sebentar dengan semua orang. Sepertinya mereka cukup gampang disenangkan. Aku yakin pesta ini jauh lebih keren daripada pesta mana pun yang pernah diadakan di Forks. Alice nyaris mendengkur saking bangganya – tak seorang pun di sini yang bakal melupakan malam ini.

Aku sudah mengitari ruangan satu kali, dan sampai lagi di Jessica. Ia mengoceh penuh semangat, dan aku tidak perlu terlalu menyimak, karena besar kemungkinan ia tidak membutuhkan responsku. Edward berdiri di sebelahku – tetap menolak membiarkanku sendirian. Tangannya mesra memeluk pinggangku, sesekali mendekapku lebih erat, mungkin sebagai respons atas berbagai pikiran yang tak ingin kudengar.

Itu sebabnya aku langsung curiga waktu ia melepaskan pelukannya dari pinggangku dan beringsut menjauhiku.

“Jangan ke mana-mana,” bisiknya di telingaku. “Sebentar lagi aku kembali.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.