Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kalian bertengkar lagi?”

“Tidak ada yang bertengkar. Urus saja urusan Dad sendiri.”

“Kau memang urusanku.”

Aku memutar bola mataku. “Ayo kita makan.”

The Lodge sarat pengunjung. Tempat itu, menurut pendapatku, kemahalan dan norak, tapi hanya itu satusatunya tempat di kota yang paling mirip restoran resmi, jadi selalu populer menjadi ajang berbagai acara. Dengan muram kupandangi pajangan kepala rusa sementara Charlie melahap iga panggang dan mengobrol dengan orangtua Tyler Crowley di meja sebelah. Suasananya berisik, semua yang datang ke sana baru saja kembali dari acara kelulusan, dan sebagian besar mengobrol dengan sesama pengunjung di seberang lorong atau meja sebelah seperti Charlie.

Aku duduk membelakangi jendela depan, berusaha melawan godaan untuk menoleh dan mencari-cari sepasang mata yang bisa kurasakan tertuju padaku sekarang. Aku tahu aku takkan melihat apa-apa. Sama pastinya dengan aku tahu ia tak mungkin membiarkan aku sendirian tanpa diawasi, bahkan sedetik sekalipun. Tidak setelah ini.

Makan malam berjalan lambat. Charlie, yang sibuk bersosialisasi, makan terlalu pelan. Kucuil-cuil burgerku, menjejalkan potongan demi potongan ke serbet saat aku yakin Charlie sedang tidak melihat. Sepertinya waktu berjalan sangat lama, tapi waktu aku melihat jam,yang kulakukan lebih sering daripada yang perlu kulakukan,jarum jamnya ternyata belum bergerak terlalu jauh.

Akhirnya Charlie selesai mendapat kembalian dan meletakkan tip di meja. Aku berdiri.

“Buru-buru, ya?” tanyanya.

“Aku ingin membantu Alice mempersiapkan segala sesuatunya,” jawabku.

“Oke.” Charlie berpaling sebentar untuk berpamitan kepada semua orang. Aku keluar dan menunggu di samping mobil polisi.

Aku bersandar di pintu depan, menunggu Charlie selesai berpamitan dengan teman-temannya. Sudah hampir gelap di lapangan parkir, awan-awan sangat tebal, hingga tidak ketahuan lagi apakah matahari sudah terbenam atau belum.

Udara terasa pengap. seperti hendak turun hujan.

Sesuatu bergerak dalam keremangan bayang-bayang.

Seruan tertahanku berubah jadi embusan napas lega ketika kulihat Edward muncul dari keremangan.

Tanpa mengatakan apa-apa, ia mendekapku erat-erat di dadanya. Tangannya yang dingin meraih daguku, lalu menengadahkan wajahku supaya ia bisa menempelkan bibirnya yang keras ke bibirku. Bisa kurasakan ketegangan di dagunya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku begitu ia membiarkanku menarik napas.

“Tidak begitu baik,” gumamnya. “Tapi aku harus bisa menguasai diri. Maaf kalau aku tadi tidak bisa menahan emosi.”

“Salahku. Seharusnya aku menunda memberitahumu.”

“Tidak,” sergah Edward. “Ini hal penting yang perlu kuketahui. Sulit dipercaya aku justru tidak melihatnya!”

“Kau kan sedang banyak pikiran.”

“Dan kau tidak?”

Tiba-tiba Edward menciumku lagi, tidak membiarkanku menjawab. Ia melepaskan diri sedetik kemudian. “Sebentar lagi Charlie keluar.”

”Aku akan memintanya mengantarku ke rumahmu.” “Aku akan mengikutimu ke sana.” “Itu tidak perlu,” aku mencoba berkata, tapi Edward

sudah keburu lenyap. “Bella?” Charlie memanggil dari ambang pintu restoran,

menyipitkan mata, berusaha melihat dalam gelap.

“Aku di sini.”

Charlie melenggang ke mobil, menggerutu pelan,

mengomeli ketidaksabaranku.

“Nah, apa yang kaurasakan sekarang?” tanya Charlie padaku saat mobil melaju di jalan tol menuju utara. “Ini

hari yang sangat bersejarah bagimu.”

“Aku merasa baik-baik saja,” dustaku.

Charlie tertawa, tahu aku bohong. “Khawatir soal pesta

itu?” tebaknya.

“Yeah,” dustaku lagi.

Kali ini Charlie percaya saja. “Kau memang tidak pernah

suka pesta.”

“Keturunan siapa, ya?” gumamku.

Charlie terkekeh. “Well, kau kelihatan sangat cantik.

Seandainya saja terpikir olehku untuk membelikanmu sesuatu. Maaf, ya.”

“Jangan konyol, Dad

“Itu tidak konyol. Aku merasa tidak selalu melakukan hal yang seharusnya kulakukan untukmu.”

“Itu konyol. Dad hebat kok. Ayah terbaik di dunia. Dan…” Tak mudah berbicara hati ke hati dengan Charlie, tapi akhirnya aku bisa juga, setelah lebih dulu berdehamdeham. “Dan aku sangat senang pindah dan tinggal bersamamu, Dad. Itu ide terbaik yang pernah terpikir olehku. Jadi jangan khawatir – Dad hanya sedang mengalami pesimisme pascawisuda.”

Charlie mendengus. “Mungkin. Tapi aku yakin pernah gagal di sana-sini beberapa kali. Maksudku, lihat saja tanganmu!”

Aku menunduk, memandangi kedua tanganku dengan pandangan kosong. Tangan kiriku disandang penyangga yang aku sendiri jarang menyadarinya. Buku jariku yang retak tidak begitu sakit lagi.

“Tak pernah terpikir olehku untuk mengajarimu cara meninju orang. Tapi ternyata aku salah.”

“Lho, kupikir Dad memihak Jacob?”

“Tak peduli aku memihak siapa, kalau ada yang menciummu tanpa izin, kau harus bisa menegaskan perasaanmu tanpa mencederai dirimu sendiri. Kau pasti tidak memasukkan ibu jari ke kepalan tangan, ya?”

“Tidak. Dad. Baik sekali Dad sampai berpikir begitu, walaupun itu pikiran aneh, tapi kurasa, diajari pun percuma. Kepala Jacob benar-benar keras.”

Charlie tertawa. “Lain kali, kalau mau meninju di perut.”

“Lain kali?” tanyaku tidak percaya.

“Sudahlah, jangan terlalu keras padanya. Dia masih muda.”

“Dia menjengkelkan.”

“Dia tetap temanmu.”

”Aku tahu,” Aku mendesah. ”Aku tidak benar-benar tahu apa yang sebaiknya kulakukan dalam hal ini, Dad.”

Charlie mengangguk lambat-lambat. “Yeah. Tidak selamanya hal yang tepat itu bisa diketahui dengan jelas. Terkadang hal yang tepat untuk seseorang justru tidak tepat bagi orang lain. Jadi… silakan memikirkannya sendiri.”

“Trims,” gumamku garing.

Lagi-lagi Charlie tertawa, tapi sejurus kemudian keningnya berkerut. “Kalau pesta ini jadi terlalu liar…” ia mulai mewanti-wanti.

“Jangan khawatir, Dad. Carlisle dan Esme ada di sana untuk mengawasi. Aku yakin Dad juga boleh datang. kalau mau.”

Charlie meringis sambil menyipitkan mata, berusaha melihat menembus kegelapan di luar kaca depan. Charlie juga tidak suka pesta, sama seperti aku.

“Di mana ya belokannya?” tanya Charlie. “Seharusnya mereka memangkas pepohonan dan semak di sekitar jalan masuk – mustahil menemukannya gelap-gelap begini.”

“Sehabis tikungan berikutnya, kalau tidak salah.” Aku mengerucutkan bibir. “Dad benar – mustahil menemukannya. Kata Alice, dia sudah mencantumkan peta di undangannya. Meski begitu, mungkin semua orang bakal tersesat.” Aku sedikit senang membayangkan hal itu.

“Mungkin,” sahut Charlie saat jalan menikung ke timur. “Atau mungkin juga tidak.”

Kegelapan yang hitam pekat mendadak sirna di depan, tepat di jalan masuk menuju rumah keluarga Cullen. Seseorang melilitkan ribuan lampu kecil berkelap-kelip di pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan, jadi mustahil terlewatkan.

“Alice,” ucapku masam.

“Wow,” Charlie terkagum-kagum saat kami berbelok memasuki jalan masuk. Bukan hanya dua pohon di ujung jalan yang dihiasi lampu. Setiap kira-kira dua puluh meter, sebuah “mercusuar” menyala membimbing para tamu menuju rumah putih besar. Sepanjang jalan – sejauh hampir lima kilometer.

“Kalau melakukan sesuatu Alice tidak setengahsetengah, ya?” gumam Charlie takjub.

“Yakin Dad tidak mau masuk?”

“Yakin sekali. Selamat bersenang-senang, Nak.”

“Terima kasih banyak, Dad.”

Charlie tertawa-tawa sendiri waktu aku turun dan menutup pintu. Aku mengawasinya pergi sambil terus senyam-senyum. Sambil mendesah aku bergegas menaiki tangga, menabahkan hati untuk menghadapi pestaku.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.