Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Selamat, Miss Stanley.” gumamnya saat Jess menerima ijazahnya.

“Selamat, Miss Swan.” gumamnya. seraya menjejalkan ijazah ke tanganku yang sehat.

“Trims,” gumamku.

Dan selesailah sudah.

Aku berdiri di sebelah Jessica bersama para wisudawan lain. Sekeliling mata Jess merah, dan ia berkali-kali menyeka wajahnya dengan lengan toga. Sedetik kemudian baru aku paham ia menangis.

Mr. Greene mengatakan sesuatu yang tidak terdengar olehku, dan semua orang di sekelilingku bersorak-sorai dan berteriak. Topi-topi kuning berjatuhan di sekitarku. Kulepas juga topiku, terlambat, dan hanya membiarkannya jatuh ke tanah.

“Oh, Bella!” pekik Jess di tengah suara orang-orang mengobrol yang mendadak terdengar. “Tidak percaya rasanya kita sudah tamat SMA.”

“Aku tidak percaya semua sudah berakhir,” gumamku.

Jessica memeluk leherku. “Janji ya, kita akan terus saling berhubungan.”

Aku balas memeluknya, merasa sedikit canggung karena

mengelak mengiyakan permintaannya. “Aku sangat senang bisa mengenalmu, Jessica. Masa dua tahun yang sungguh indah.”

“Ya, memang.” desahnya, dan terisak. Kemudian ia melepas pelukannya. “Lauren!” pekiknya, melambai-lambai di atas kepalanya dan berjalan menembus kerumunan toga kuning. Para keluarga mulai membaur, membuat kami semakin terdesak.

Aku melihat Angela dan Ben, tapi mereka dikelilingi keluarga mereka. Nanti saja aku menyelamati mereka.

Aku menjulurkan leher panjang-panjang, mencari Alice.

“Selamat,” bisik Edward di telingaku, kedua lengannya memeluk pinggangku. Suaranya pelan; ia tidak ingin buruburu melihatku sampai di titik penting ini.

“Eh, trims.”

“Kelihatannya kau masih gugup,” Edward mengamati.

“Memang masih.”

“Apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Pesta nanti malam?

Tidak akan seburuk yang kaukira.”

“Mungkin kau benar.”

“Kau mencari siapa?”

Ketahuan juga ternyata. “Alice – di mana dia?”

“Begitu mendapatkan ijazahnya, dia langsung kabur.”

Nada suaranya berubah. Aku mendongak dan melihat Edward memandang ke pintu belakang gimnasium dengan ekspresi bingung. dan aku langsung mengambil keputusan saat itu juga, keputusan yang semestinya harus kupikirkan baik-baik, tapi jarang kulakukan.

“Kau mengkhawatirkan Alice?” tanyaku.

“Eh…,” Edward tidak mau menjawab.

“Omong-omong, apa yang sedang dia pikirkan? Untuk mencegahmu membaca pikirannya, maksudku.”

Mata Edward berkelebat ke wajahku, dan menyipit curiga. “Saat ini dia sedang menerjemahkan Himne Perang Republik ke dalam bahasa Arab. Kalau sudah selesai nanti, dia akan beralih ke bahasa sandi Korea.”

Aku tertawa gugup. “Kurasa itu akan membuat otaknya cukup sibuk.”

“Kau tahu apa yang dia sembunyikan dariku,” tuduh Edward.

“Tentu saja,” Aku menyunggingkan senyum lemah. “Justru akulah yang menyebabkannya.”

Edward menunggu, bingung.

Aku memandang berkeliling. Charlie pasti sedang berusaha menembus kerumunan untuk mencapai kami.

“Aku tahu bagaimana Alice,” aku buru-buru berbisik, “mungkin dia berusaha menyembunyikan masalah ini darimu sampai setelah pesta nanti. Tapi karena aku sendiri tidak keberatan pestanya dibatalkan, well, bagaimanapun, jangan langsung panik, oke? Selalu lebih baik kalau kita tahu sebanyak mungkin yang bisa kita ketahui. Itu pasti bisa membantu, entah bagaimana caranya.”

“Apa sih yang kaubicarakan?”

Kulihat kepala Charlie di tengah lautan kepala lain saat ia mencariku. Lalu tatapannya tertumbuk padaku dan ia melambaikan tangan.

“Pokoknya tetaplah tenang, oke?”

Edward mengangguk sekali, mulutnya terkatup membentuk garis yang muram.

Dalam bisikan terburu-buru aku menjelaskan pikiranku padanya. “Menurutku selama ini kau salah bila mengira persoalan-persoalan yang kita hadapi berasal dari beberapa pihak. Menurutku justru semuanya berasal dari satu pihak… dan kurasa pelakunya sebenarnya mengincarku. Semua itu berhubungan, pasti. Hanya satu orang yang mencoba bermain-main dengan visi Alice. Orang tak dikenal yang masuk ke kamarku adalah ujian, untuk menguji apakah ada yang bisa menyelinap tanpa terlihat oleh pikiran Alice. Orang ini pastilah orang yang sama dengan yang selalu berubah pikiran, dan yang menciptakan para vampir baru, dan yang mencuri baju-bajuku,semuanya berhubungan. Bajuku diambil untuk mereka.”

Wajah Edward berubah putih pias hingga aku sulit menyelesaikan penjelasanku.

“Tapi tidak ada yang mengincar kalian, kau mengerti, kan? Itu bagus – Esme, Alice, dan Carlisle, berarti tidak ada yang berniat menyakiti mereka!”

Mata Edward membesar, membelalak panik, terpana, dan ngeri. Ia langsung tahu aku benar, sama halnya dengan Alice.

Kuletakkan tanganku di pipinya. “Tenang,” aku memohon.

“Bella!” seru Charlie, menerobos kerumunan keluargakeluarga yang berjejal di sekeliling kami.

“Selamat, Sayang!” Dia masih saja berteriak, padahal sudah berada tepat di samping telingaku. Dirangkulnya aku erat-erat, dengan licik menggeser Edward saat melakukannya.

“Trims,” gumamku, pikiranku tertuju pada ekspresi Edward. Ia masih belum bisa menguasai diri. Kedua tangannya separuh terulur ke arahku, seperti hendak menyambar dan membawaku kabur. Aku sedikit lebih bisa menguasai diri ketimbang dia, dan menurutku kabur rasanya tidak terlalu buruk.

“Jacob dan Billy harus buru-buru pulang, kau lihat tidak mereka datang tadi?” Tanya Charlie, mundur selangkah, tapi kedua tangannya tetap memegang bahuku. Ia berdiri memunggungi Edward, mungkin sengaja untuk membuatnya merasa tersisih, namun saat ini hal itu bukan masalah. Mulut Edward menganga lebar, matanya masih membelalak ketakutan.

“Yeah,” aku meyakinkan ayahku, berusaha tetap menyimak perkataannya. “Suara mereka kedengaran kok.”‘

“Baik betul mereka sampai mau repot-repot datang,” kata Charlie.

“He-eh.”

Oke, ternyata memberitahu Edward bukan ide bagus. Tindakan Alice mengaburkan pikirannya benar. Seharusnya aku menunggu sampai kami sendirian di suatu tempat, mungkin bersama anggota keluarganya yang lain. Dan tidak. ada benda-benda yang mudah pecah di sekitarnya – seperti jendela…mobil… bangunan sekolah. Wajah Edward memunculkan kembali semua perasaan takutku, bahkan lebih. Walaupun ekspresinya kini bukan lagi takut,tapi amarah meluap-luap yang mendadak. tampak jelas di wajahnya.

“Nah, sekarang kau mau makan malam di mana?” tanya Charlie. “Di mana saja boleh lho.”

“Aku kan bisa masak.”

“Jangan konyol. Bagaimana kalau kita makan di Lodge?” usul Charlie dengan senyum bersemangat.

Aku tidak begitu suka makan di restoran favorit Charlie, tapi saat ini apa bedanya? Aku toh tidak. bakal bisa makan.

“Baiklah, ke Lodge, keren.” sahutku.

Senyum Charlie semakin lebar, kemudian ia mendesah. Ia menoleh sedikit ke arah Edward, tanpa benar-benar menatapnya.

“Kau mau ikut juga, Edward?”

Kupandangi dia, mataku memohon. Edward mengubah

ekspresinya tepat sebelum Charlie menoleh untuk melihat kenapa Edward tidak. menjawab.

“Tidak, terima kasih,” jawab Edward kaku, wajahnya keras dan dingin.

“Kau punya rencana lain bersama orangtuamu?” tanya Charlie, nadanya agak tidak enak. Edward selalu lebih sopan meskipun Charlie sebenarnya tak pantas menerimanya. Kini sikapnya yang mendadak ketus mengagetkan Charlie.

“Ya. Permisi…” Edward tiba-tiba berbalik dan menghambur menerobos kerumunan yang mulai berkurang. Gerakannya agak terlalu cepat, terlalu kalut untuk mempertahankan pembawaannya yang biasanya sempurna.

“Aku salah omong, ya?” Tanya Charlie dengan ekspresi bersalah.

“Jangan khawatir, Dad,” aku meyakinkan dia. “Kurasa bukan Dad penyebabnya.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.