Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Tidak. Aku hanya gugup. Pergilah.”

Kudengar langkah-langkah kaki Charlie yang berat menuruni tangga.

“Aku pergi dulu, ya,” bisik Alice.

“Kenapa?”

“Sebentar lagi Edward datang. Kalau dia mendengar tentang hal ini…”

“Pergi, pergi!” desakku langsung. Edward pasti bakalan langsung panik kalau tahu. Aku takkan bisa menyembunyikan masalah ini terlalu lama darinya, tapi mungkin upacara kelulusan bukan saat yang tepat untuk reaksinya.

“Pakailah,” perintah Alice sambil bergegas keluar jendela.

Aku melaksanakan perintahnya, berpakaian dengan sikap linglung.

Awalnya aku berencana menata rambutku dengan tatanan indah, tapi karena sudah tak sempat lagi, aku membiarkannya tergerai membosankan seperti biasa. Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tak sempat lagi mematut diri di cermin. jadi tidak tahu bagaimana penampilanku mengenakan sweter dan rok pemberian Alice. Aku menyampirkan toga polyester kuning jelek di lenganku dan bergegas menuruni tangga.

“Kau cantik.” puji Charlie, belum-belum suaranya sudah tersendat menahan haru. “Baju baru, ya?”

“Yeah,” gumamku, berusaha berkonsentrasi. “Pemberian Alice. Trims.”

Edward datang hanya beberapa menit setelah Alice pergi, Tak cukup waktu untuk memasang ekspresi tenang di wajahku. Tapi berhubung kami akan naik mobil patroli bersama Charlie, ia tidak sempat bertanya ada masalah apa.

Minggu lalu Charlie ngotot begitu tahu aku bermaksud pergi dengan Edward ke acara wisuda. Dan aku mengerti maksudnya,orang tua seharusnya mendapat hak utama untuk datang ke acara wisuda. Aku mengalah dengan lapang dada, dan Edward dengan riang menyarankan kami pergi bersama. Berhubung Carlisle dan Esme tidak keberatan. Charlie tak bisa menemukan alasan kuat untuk menolak; dengan berat hati ia terpaksa setuju. Dan sekarang Edward duduk di jok belakang mobil polisi ayahku, di balik pemisah yang terbuat dari fiberglass, dengan ekspresi geli – mungkin karena ayahku juga menunjukkan ekspresi geli, disertai cengiran lebar setiap kali matanya diam-diam melirik Edward di kaca spion. Yang hampir pasti berarti Charlie membayangkan hal-hal yang akan membuatnya bertengkar denganku kalau ia menyuarakan pikirannya.

“Kau baik-baik saja?” bisik Edward waktu ia membantuku turun dari jok depan di lapangan parkir sekolah.

“Gugup,” jawabku, dan itu benar.

“Kau cantik sekali,” pujinya.

Sepertinya Edward ingin mengatakan sesuatu yang lain, tapi Charlie, kentara sekali dari sikapnya, menyelinap di antara kami dan merangkul bahuku.

“Kau senang?” tanyanya.

“Tidak juga,” aku mengakui.

“Bella, ini hari besar. Kau lulus SMA. Sekarang kau masuk ke dunia sesungguhnya. Kuliah. Hidup mandiri… Kau bukan gadis kecilku lagi,” Charlie tersendat di akhir kalimat.

“Dad,” erangku. “Kumohon, jangan cengeng.”

“Siapa yang cengeng?” geram Charlie. “Nah, kenapa kau tidak senang?”

“Aku tidak tahu, Dad. Mungkin belum terasa atau bagaimana.”

“Bagus juga Alice menyelenggarakan pesta. Kau membutuhkan sesuatu yang bisa membuatmu gembira.”

“Tentu. Aku memang butuh pesta.”

Charlie tertawa mendengar nadaku dan meremas bahuku. Edward mendongak ke awan-awan, wajahnya seperti berpikir.

Ayahku harus meninggalkan kami di pintu belakang gimnasium dan mengitari gedung menuju pintu masuk utama bersama para orangtua lain.

Suasana hiruk-pikuk saat Mr. Cope dari Bagian Tata Usaha dan Mr. Vamer, guru Matematika, berusaha mengatur semua orang berbaris secara alfabetis.

“Kau ke depan, Mr, Cullen,” bentak Mr. Vamer kepada Edward.

“Hai, Bella!”

Aku mendongak dan melihat Jessica Stanley melambai padaku dari bagian belakang barisan dengan senyum lebar menghiasi wajah.

Edward menciumku sekilas, mendesah, dan bergabung dengan murid-murid lain yang nama keluarganya juga berawalan dengan huruf C. Alice tidak ada. Apa yang akan dia lakukan? Membolos dari acara wisuda? Sungguh bukan saat yang tepat bagiku untuk melontarkan dugaan tadi. Seharusnya aku menunggu sampai acara ini selesai.

“Sini, Bella!” Jessica memanggilku lagi.

Aku berjalan menyusuri barisan untuk berdiri di belakang Jessica, dalam hati agak heran kenapa ia tiba-tiba begitu ramah. Ketika aku sudah semakin dekat, kulihat Angela berdiri lima baris lebih ke belakang, mengamati Jessica dengan keingintahuan yang sama.

Jess sudah mengoceh sebelum aku bisa mendengar suaranya.

“..sungguh luar biasa. Maksudku, kayaknya kita baru saja bertemu, tapi tahu-tahu sekarang kita sama-sama diwisuda,” celotehnya. “Percaya nggak kalau ini sudah berakhir? Rasanya aku kepingin menjerit!”

“Aku juga,” gumamku.

“Ini benar-benar luar biasa. Ingatkah kau waktu kau pertama kali datang ke sini? Waktu itu kita langsung akrab. Pokoknya sejak pertama kali bertemu. Luar biasa. Dan sekarang aku akan ke Califomia dan kau ke Alaska. Wah, aku pasti kangen sekali padamu! Janji ya, kita harus kumpul-kumpul lagi kapan-kapan! Aku senang sekali kau akan bikin pesta. Sempurna. Karena. kita sudah lama nggak kumpul-kumpul.Sementara sebentar lagi kita akan berpisah..”

Jessica mengoceh terus, dan aku yakin sikapnya yang tiba-tiba ramah pasti dikarenakan nostalgia kelulusan dan perasaan gembira karena diundang ke pesta, padahal aku sama sekali tidak punya andil dalam hal itu. Aku berusaha keras menyimak celotehannya sambil mengenakan toga. Dan ternyata aku senang karena hubunganku dengan Jessica bisa berakhir dengan baik.

Karena ini adalah akhir, tak peduli apa pun yang dikatakan Eric, si lulusan terbaik, dalam kata sambutannya, yang mengatakan bahwa “commencement” selain memiliki arti secara penyerahan ijazah kepada para lulusan, juga berarti “awal” dan segala macam omong kosong lainnya.

Acara berjalan sangat cepat. Aku merasa seperti menekan tombol fast forward. Memangnya kita harus berjalan secepat itu? Kemudian Eric berpidato dengan sangat cepat saking gugupnya, kata-kata dan kalimat berkejaran hingga pidatonya tak bisa dimengerti lagi. Tahutahu Kepala Sekolah Greene sudah mulai memanggil namanama para wisudawan, antara satu dengan yang lain tanpa diselingi jeda yang cukup panjang; deretan depan gimnasium sampai terbirit-birit maju. Ms. Cope yang malang sampai kewalahan memberikan ijazah yang benar kepada Kepala Sekolah sesuai nama yang dipanggil.

Kulihat Alice, yang mendadak muncul, melenggang ke panggung untuk menerima ijazahnya, ekspresi penuh konsentrasi terpatri di wajahnya. Edward menyusul di belakang, ekspresinya bingung, tapi tidak kalut. Hanya mereka yang bisa mengenakan toga kuning jelek ini dan tetap tampil menawan.

Keduanya tampak menonjol di tengah kerumunan, kerupawanan dan keanggunan mereka seakan berasal dari dunia lain. Aku jadi heran sendiri bagaimana aku dulu bisa mengira mereka manusia biasa. Sepasang malaikat, lengkap dengan sayap, justru tidak akan terlihat mencolok.

Kudengar Mr. Greene memanggil namaku dan aku bangkit dari kursi, menunggu barisan di depanku bergerak. Terdengar sorakan di bagian belakang gimnasium, aku menoleh dan melihat Jacob menarik Charlie berdiri, keduanya bersorak-sorai memberi semangat. Aku bahkan sempat melihat puncak kepala Billy di sebelah siku Jake. Aku masih sempat menyunggingkan sesuatu yang menyerupai senyuman.

Mr. Greene selesai membacakan daftar nama, tapi terus menyodorkan ijazah dengan senyum malu sementara kami lewat di depannya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.