Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Karena, kalau entah bagaimana aku benar-benar seperti itu,seperti gambaran mengerikan tentang vampir baru sebagaimana digambarkan Jasper dalam benakku – mungkinkah aku bisa menjadi diriku,Dan seandainya yang kuinginkan hanya membunuh orang, bagaimana jadinya dengan hal-hal yang kuinginkan sekarang?

Edward sangat terobsesi agar aku tidak kehilangan satu pun pengalaman sebagai manusia. Biasanya keinginannya itu terkesan konyol. Tidak banyak pengalaman manusia yang kukhawatirkan bakal hilang. Selama aku bisa bersama Edward, apa lagi yang kuinginkan?

Kupandangi wajahnya sementara ia mengawasi Carlisle mengobati tanganku. Tak ada hal lain di dunia ini yang kuinginkan lebih daripada dia. Apakah itu, bisakah itu, berubah?

Adakah pengalaman manusia yang tidak ingin kulewatkan?

 

16. HARI YANG PENTING

“AKU tidak punya baju!'” aku mengeluh sendiri.

Setiap potong baju yang kumiliki bertebaran di tempat tidur; laci-laci dan lemariku kosong. Kupandangi ruangruang kosong itu, berharap bakal muncul baju bagus yang bisa kupakai.

Rok khaki-ku tersampir di punggung kursi goyang, menungguku menemukan padanan yang pas. Sesuatu yang akan membuatku terlihat cantik dan dewasa. Sesuatu yang menyatakan acara istimewa. Tapi aku tidak menemukan apa-apa.

Sebentar lagi aku harus berangkat, tapi aku masih mengenakan sweter lusuh favoritku. Kecuali aku bisa menemukan sesuatu yang lebih baik di sini,dan kemungkinannya sangat kecil,aku akan diwisuda dalam balutan sweter ini.

Kupelototi tumpukan baju di tempat tidur dengan wajah cemberut.

Yang paling membuatku jengkel, aku tahu persis apa yang akan kukenakan seandainya baju itu ada, blus merahku yang hilang dicuri. Kutinju dinding dengan tanganku yang sehat.

“Dasar vampir maling tolol menjengkelkan!” geramku.

“Memangnya apa yang kulakukan?” tuntut Alice.

Alice bersandar santai di sebelah jendela yang terbuka, seolah-olah sudah sejak tadi ia di sana.

“Tok, tok,” imbuhnya sambil nyengir.

“Susah ya, menungguku datang membukakan pintu?”

Alice melemparkan kotak putih pipih ke tempat tidur. “Aku kebetulan lewat. Kupikir, mungkin kau butuh sesuatu untuk dikenakan.”

Kutatap bungkusan besar yang teronggok di atas tumpukan pakaianku yang tidak memuaskan, dan meringis.

”Akuilah,” tukas Alice. “Aku ini penyelamat.”

“Kau memang penyelamat,” gumamku. “Trims.”

“Well, senang juga sekali-sekali bisa melakukan sesuatu dengan benar. Kau tidak tahu betapa menjengkelkannya masalah ini, kecolongan tidak bisa melihat hal-hal yang seharusnya bisa kulihat. Aku merasa sangat tidak berguna, Sangat… normal.” Alice meringis merasakan betapa ngerinya kata itu.

“Tak terbayangkan betapa tidak enaknya itu. Menjadi normal? Ugh.”

Alice tertawa. “Well, paling tidak ini bisa menggantikan bajumu yang hilang dicuri maling menyebalkan itu, sekarang aku tinggal memikirkan apa yang tidak bisa kulihat di Seattle.”

Ketika Alice mengucapkan kata-kata itu, menyatukan dua situasi dalam satu kalimat, saat itulah bola lampu bagai menyala di kepalaku. Sesuatu yang samar yang berhari-hari mengganggu ketenanganku, benang merah yang tak kunjung bisa kuketahui apa itu, tiba-tiba saja menjadi jelas. Kutatap Alice, wajahku membeku dengan entah ekspresi apa yang tadi terlintas.

“Kau tidak mau membukanya?” tanya Alice. Ia mendesah waktu aku tidak segera bergerak, lalu ia sendiri yang membuka tutup kotak itu. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, tapi aku tidak bisa mengumpulkan konsentrasiku. “Cantik, kan? Aku memilih warna biru, karena aku tahu Edward paling suka melihatmu memakai warna itu.”

Aku tidak mendengarkan.

“Berarti sama,” bisikku.

“Apanya yang sama?” tuntut Alice. “Kau tidak punya gaun seperti ini. Ya ampun, kau kan hanya punya satu rok!”

“Bukan, Alice! Lupakan dulu soal gaun itu, dengarkan!”

“Kau tidak suka, ya?” Wajah Alice disaput perasaan kecewa.

“Dengar, Alice, masa kau tidak mengerti juga? Berarti sama! Orang yang membobol masuk dan mencuri barangku, serta para vampir baru di Seattle sana. Mereka bersama-sama!”

Pakaian itu terjatuh dari sela-sela jari Alice, suaranya mendadak tajam. “Kenapa kau mengira begitu?”

“Ingat apa yang dikatakan Edward. waktu itu? Mengenai seseorang yang memanfaatkan lubang-lubang dalam penglihatanmu sehingga kau tak bisa melihat para vampir baru itu? Kemudian ucapanmu sebelumnya, tentang pemilihan waktunya yang sangat pas, betapa si pencuri sangat berhati-hati untuk tidak melakukan kontak apa pun, seolah-olah dia tahu kau akan bisa melihatnya kalau dia menyentuh sesuatu. Menurutku kau benar, Alice, kurasa dia memang tahu. Kurasa dia memang sengaja memanfaatkan lubang-lubang itu. Dan seberapa besar kemungkinan ada dua orang berbeda yang cukup banyak tahu mengenai dirimu sehingga bukan hanya mereka bisa berbuat begitu, tapi juga memutuskan melakukannya pada saat bersamaan Tidak mungkin. Pelakunya pasti satu orang. Orang yang menciptakan pasukan ini adalah orang yang mencuri bauku.”

Alice tidak terbiasa dibuat kaget. Tubuhnya langsung membeku, dan ia tertegun lama sekali sehingga aku mulai menghitung-hitung dalam kepalaku sambil menunggu. Ia tidak bergerak dua menit penuh. Lalu matanya terfokus kembali padaku.

“Kau benar.” katanya terperangah. “Tentu saja kau benar. Dan waktu kau menjelaskannya seperti itu…”

“Ternyata dugaan Edward keliru,” bisikku. “Ternyata ini ujian… untuk melihat apakah ini berhasil. Bahwa dia bisa masuk dan keluar dengan aman selama dia tidak melakukan hal-hal yang harus kauawasi. Seperti mencoba membunuhku, misalnya…. Dan dia bukan mengambil barang-barangku untuk membuktikan dia sudah menemukanku. Dia mencuri bauku… supaya yang lain-lain bisa menemukan aku.”

Mata Alice membelalak lebar karena syok. Aku benar, dan kentara sekali ia juga tahu itu.

“Oh, tidak,” ujarnya tanpa suara.

Aku sudah tak lagi mengharapkan emosiku bereaksi secara masuk akal. Sementara otakku mencerna fakta bahwa ada orang yang menciptakan sepasukan vampir – pasukan yang dengan kejam sudah membunuh lusinan orang di Seattle – untuk tujuan kilat menghancurkan aku, aku justru merasa sangat lega.

Sebagian karena akhirnya aku berhasil menemukan jawaban atas perasaan tak enak yang terus mengusikku, bahwa ada hal penting yang luput dari perhatianku.

Tapi sebagian lagi justru berbeda sama sekali.

“Well,” bisikku, “sekarang semua boleh merasa lega. Ternyata tidak ada yang berniat menghabisi keluarga Cullen.”

“Kalau kaukira hal yang satu itu sudah berubah, kau salah besar,” sergah Alice dari sela-sela rahangnya yang terkatup rapat. Kalau ada orang yang mengincar salah satu dari kita, mereka harus melewati kita dulu untuk bisa mencapai yang satu itu.”

“Trims, Alice. Tapi setidaknya kita tahu apa yang sesungguhnya mereka incar. Itu pasti bisa membantu.”

“Mungkin.” gumamnya. Ia mulai berjalan mondarmandir di dalam kamarku.

Duk, duk – pintu kamarku digedor-gedor.

Aku terlonjak. Alice sepertinya tidak menyadari.

“Belum siap juga, ya? Bisa-bisa kita terlambat!” protes Charlie, kedengarannya gelisah. Seperti aku, Charlie juga kurang menyukai acara-acara resmi. Dalam kasusnya, persoalannya adalah karena harus berpakaian rapi.

“Hampir. Sebentar lagi,” jawabku parau.

Charlie terdiam sejenak. “Kau menangis, ya.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.