Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Nama kakek buyut Jacob membuatku kaget.

“Kami menyangka keturunan werewolf berhenti di Ephraim,” gumam Edward; kedengarannya dia seperti berbicara pada diri sendiri sekarang. “Bahwa penyimpangan genetik yang mengakibatkan transmutasi itu sudah hilang…” Edward berhenti bicara dan memandangiku dengan tatapan menuduh. “Kesialanmu tampaknya semakin hari semakin menjadi-jadi. Sadarkah kau bahwa kecenderunganmu menarik segala sesuatu yang mematikan ternyata cukup kuat untuk memulihkan segerombolan anjing mutan dari ancaman kepunahan. Kalau saja kita bisa membotolkan kesialanmu, kita akan memiliki senjata pemusnah massal di tangan kita.”

Kuabaikan ejekan itu, perhatianku tergugah oleh asumsi yang dilontarkan Edward – apakah dia serius? “Tapi bukan aku yang memunculkan mereka. Masa kau tidak tahu?”

“Tahu apa?”

“Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesialanku. Werewolf muncul lagi karena vampir juga muncul kembali.”

Edward menatapku, tubuhnya tak bergerak karena kaget.

“Kata Jacob, keberadaan keluargamu di sini menggerakkan semuanya. Kukira kau sudah tahu…”

Matanya menyipit. “Jadi, begitukah menurut mereka?”

“Edward, lihat saja fakta-faktanya. Tujuh puluh tahun lalu, kalian datang ke sini, dan para werewolf muncul. Sekarang kalian kembali, dan para werewolf itu muncul lagi. Apakah menurutmu itu hanya kebetulan?”

Edward mengerjapkan mata dan tatapannya melunak.

“Carlisle pasti tertarik pada teori itu.”

“Teori,” dengusku.

Edward terdiam sesaat, memandang ke luar jendela, ke hujan yang menderas: dalam bayanganku ia sedang memikirkan fakta bahwa kehadiran keluarganya mengubah penduduk lokal menjadi anjing-anjing raksasa.

“Menarik, tapi tidak terlalu relevan,” gumamnya setelah beberapa saat, “Situasinya tetap sama.”

Aku bisa menerjemahkan maksudnya dengan cukup mudah: tetap tidak boleh berteman dengan werewolf.

Aku tahu aku harus bersabar menghadapi Edward. Bukan karena ia tidak bisa diajak bicara dengan pikiran jernih, tapi karena ia tidak mengerti. Ia tidak tahu betapa besar utang budiku pada Jacob Black – lebih dari hidupku, dan mungkin kewarasanku juga.

Aku tidak suka membicarakan masa-masa sulit itu dengan siapa pun, terutama Edward. Kepergiannya waktu itu dimaksudkan untuk menyelamatkanku, berusaha menyelamatkan jiwaku. Aku tidak menganggapnya bertanggung jawab atas semua hal tolol yang kulakukan selama ia tidak ada, atau kepedihan yang kuderita.

Tapi Edward merasa dirinya bertanggung jawab.

Jadi aku harus bisa menjelaskan maksudku dengan sangat hati-hati.

Aku berdiri dan berjalan mengitari meja. Edward membentangkan kedua lengannya menyambutku dan aku duduk di pangkuannya, meringkuk dalam pelukannya yang sedingin batu. Kupandangi tangannya sementara aku bicara.

“Kumohon, dengarkan aku sebentar. Ini jauh lebih penting daripada sekadar keinginan bertemu teman lama. Jacob sedang menderita,” Suaraku bergetar mengucapkan kata itu. “Aku tidak bisa tidak berusaha menolongnya – aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja sekarang, saat dia membutuhkan aku. Hanya karena dia tidak selalu menjadi manusia. Well, dia mendampingiku saat aku sendirian… sedang dalam kondisi yang tidak layak disebut sebagai manusia. Kau tidak tahu bagaimana keadaannya waktu itu … Aku ragu. Lengan Edward yang memelukku mengejang kaku, tinjunya mengepal, otot-ototnya menyembul. “Seandainya Jacob tidak membantuku, entah apa yang akan kautemukan waktu kau kembali. Aku berutang banyak padanya, Edward.”

Aku mendongak, menatap wajahnya waswas. Kedua mata Edward terpejam, dagunya tegang.

“Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena meninggalkanmu,” bisiknya. “Tidak seandainya aku hidup sampai seratus ribu tahun sekalipun.”

Kuletakkan tanganku di wajahnya yang dingin dan menunggu sampai Edward mendesah dan membuka mata.

“Kau hanya ingin melakukan yang benar. Dan itu pasti berhasil bila ditujukan pada orang lain yang tidak sesinting aku. lagi pula, kau ada di sini sekarang. Itu yang terpenting.”

“Seandainya aku tak pernah pergi, kau tidak akan merasa perlu mempertaruhkan hidupmu untuk menghibur anjing.”

Aku tersentak. Aku sudah terbiasa dengan Jacob dan semua caci makinya yang merendahkan – pengisap darah, lintah, parasit… Entah mengapa kedengarannya lebih kasar dalam suara Edward yang selembut beledu.

“Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan benar,” kata Edward, nadanya muram, “Ini akan terdengar keji, kurasa. Tapi dulu aku pernah nyaris kehilanganmu. Aku tahu bagaimana rasanya mengira itu telah terjadi… Aku tidak akan menolerir hal berbahaya apa pun lagi.”

“Kau harus memercayai aku dalam hal ini. Aku tidak akan kenapa-kenapa.”

Wajah Edward kembali sedih. “Please, Bella,” bisiknya.

Kutatap mata emasnya yang mendadak membara itu.

“Please, apa?”

“Please, demi aku. Please, berusahalah agar kau tetap aman. Aku akan melakukan apa saja yang kubisa, tapi aku akan sangat senang kalau mendapat sedikit bantuan darimu.”

“Akan kuusahakan,” gumamku.

“Tak tahukah kau betapa pentingnya kau bagiku? Kau tak punya bayangan sama sekali berapa aku sangat mencintaimu?” Edward menarikku lebih erat ke dadanya yang keras, menyurukkan kepalaku di bawah dagunya.

Kutempelkan bibirku ke lehernya yang sedingin salju. “Aku tahu betapa aku sangat mencintaimu,” jawabku.

“Kau membandingkan sebatang pohon kecil dengan seluruh isi hutan.”

Kuputar bola mataku, tapi Edward tak bisa melihat, “Mustahil.”

Edward mengecup ubun-ubunku dan mendesah.

“Tidak ada werewolf.”

“Aku tak bisa menerimanya. Aku harus menemui Jacob.”

“Kalau begitu aku harus menghentikanmu.”

Nadanya begitu yakin bahwa itu takkan jadi masalah. Aku yakin ia benar,

“Kita lihat saja nanti,” aku tetap menantang. “Dia tetap temanku.”

Aku bisa merasakan surat Jacob di sakuku, seakan-akan benda itu mendadak beratnya jadi dua puluh kilo. Katakatanya kembali terngiang dalam benakku, dan sepertinya ia sependapat dengan Edward – ini sesuatu yang tidak akan pernah terjadi di alam nyata.

Itu tidak mengubah keadaan. Maaf.

 

2. Menghindar

AKU merasa sangat ringan saat berjalan dari kelas Bahasa Spanyol menuju kafetaria, dan itu bukan hanya karena aku menggandeng tangan orang paling sempurna di seantero planet ini, meskipun jelas itu sebagian penyebabnya.

Mungkin karena tahu aku sudah selesai menjalani hukuman dan sekarang aku kembali bebas.

Atau mungkin sama sekali tak ada hubungannya denganku. Mungkin karena atmosfer kebebasan terasa begitu kuat di seantero sekolah. Tahun ajaran sebentar lagi berakhir, dan terutama bagi murid-murid kelas tiga, kegairahan sangar kuat terasa.

Kebebasan sudah begitu dekat hingga rasanya bisa disentuh, bisa dirasakan. Tanda-tandanya bertebaran di mana-mana. Poster-poster berjejalan di dinding kafetaria, dan tong-tong sampah terlihat seperti mengenakan rok warna-warni berkat tempelan brosur yang menutupi permukaannya: pemberitahuan untuk membeli buku tahunan, cincin angkatan, serta pengumuman: batas waktu pemesanan toga, topi, dan selempang; serta berbagai iklan yang dicetak di kertas berwarna neon meriah – murid-murid kelas dua berkampanye untuk jabatan ketua angkatan; iklan prom tahun ini yang dibuat menyerupai rangkaian mawar. Pesta dansa tahunan itu akan diselenggarakan akhir pekan mendatang, tapi aku sudah membuat Edward berjanji untuk tidak mengharapkanku menghadirinya. Toh aku sudah pernah merasakan pengalaman manusia yang satu itu.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.