Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Jangan kira aku akan melupakannya,” gerutuku.

Aku tidak sadar kami mengarah ke mana sampai kami berada di jalan menuju rumahku.

“Mengapa kau membawaku ke sini?” tuntutku.

Jacob menatapku hampa. “Lho, katamu tadi kau mau pulang.”

“Ugh. Kurasa kau tidak bisa mengantarku ke rumah Edward, ya?” Aku mengertakkan gigi dengan gemas.

Kepedihan membuat wajahnya terpilin, dan bisa kulihat perkataanku tadi menohoknya lebih daripada apa pun yang pernah kukatakan.

“Ini rumahmu, Bella.” ujarnya pelan.

“Memang, tapi memangnya ada dokter yang tinggal di sini!” tanyaku mengacungkan tanganku lagi.

“Oh,” Jacob berpikir sebentar. “Aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Atau Charlie bisa mengantarmu?”

“Aku tidak mau ke rumah sakit. Memalukan dan tidak perlu.”

Jacob membiarkan mesin Rabbit tetap menyala sesampainya di depan rumah, menimbang-nimbang dengan ekspresi tidak yakin. Mobil patroli Charlie terparkir di halaman garasi.

Aku mendesah. “Pulanglah, Jacob.”

Aku turun dari mobil dengan canggung, berjalan menuju rumah. Mesin mobil di belakangku dimatikan, dan aku jengkel sekali mendapati Jacob lagi-lagi berada di sebelahku.

“Apa yang akan kaulakukan?” tanyanya.

“Aku akan mengompres tanganku dengan es batu, kemudian menelepon Edward dan memintanya datang untuk mengantarku ke Carlisle supaya dia bisa mengobati tanganku. Lalu, kalau kau masih di sini, aku akan pergi mencari linggis.”

Jacob diam saja. Ia membukakan pintu depan dan memeganginya untukku.

Kami berjalan sambil berdiam diri melewati ruang depan tempat Charlie berbaring di sofa.

“Hai, anak-anak.” sapanya, duduk sambil mencondongkan tubuh. “Senang melihatmu di sini, Jake.”

“Hai, Charlie.” sahut Jacob dengan nada biasa-biasa saja, berhenti sebentar. Aku terus melangkah marah ke dapur.

“Kenapa dia?” tanya Charlie.

“Dia merasa tangannya patah,” aku mendengar Jacob menjelaskan kepada Charlie. Aku langsung menuju kulkas dan mengeluarkan wadah es batu.

“Kok bisa?” Sebagai ayah, menurutku seharusnya Charlie lebih menunjukkan sikap prihatin ketimbang geli.

Jacob tertawa. “Dia memukulku tadi.”

Charlie ikut-ikutan tertawa. Aku cemberut sambil menghantamkan wadah es batu ke pinggir bak cuci. Es batu berjatuhan nyaring ke bak cuci, dan aku meraup segenggam dengan tanganku yang sehat dan membungkusnya dengan lap piring yang kuambil dari konter.

“Kenapa dia memukulmu?”

“Karena aku menciumnya,” jawab Jacob, sama sekali tidak malu.

“Hebat juga kau, Nak.” Charlie malah menyelamati dia.

Aku mengertakkan gigi dan meraih telepon. Kuhubungi nomor ponsel Edward.

“Bella?” Edward langsung menjawab pada deringan pertama. Kedengarannya ia lebih dari lega, ia girang sekali. Terdengar olehku derum Volvo di latar belakang; ia sudah di mobil, baguslah kalau begitu. “Ponselmu ketinggalan… Maaf Jacob mengantarmu pulang?”

“Ya,” gerutuku. “Bisakah kau datang dan menjemputku, please?”

“Aku segera datang,” ujarnya langsung. “Ada apa?”

“Aku ingin Carlisle memeriksa tanganku. Kurasa ada yang patah.”

Suasana di ruang depan kini sunyi senyap, dan aku bertanya-tanya dalam hati, kapan Jacob bakal kabur. Aku menyunggingkan senyum muram membayangkan kegelisahannya.

“Apa yang terjadi?” tuntut Edward, suaranya berubah datar.

“Aku meninju Jacob,” aku mengakui.

“Bagus,” ucap Edward muram. “Walaupun, aku prihatin kau cedera.”

Aku langsung tertawa, karena Edward terdengar sama senangnya seperti Charlie tadi.

“Kalau saja aku bisa melukai dia.” Aku mendesah frustrasi. “Dia bahkan tidak merasa sakit sama sekali.”

“Bisa kuatur,” Edward menawarkan diri.

“Aku memang sudah berharap kau akan berkata begitu.”

Edward terdiam sejenak. “Aneh sekali kaubilang begitu,” katanya mulai merasa khawatir. “Memangnya apa yang dia lakukan?”

“Dia menciumku,” geramku.

Yang terdengar di ujung sana hanya suara mesin meraung semakin cepat.

Di ruang sebelah Charlie bicara lagi. “Mungkin sebaiknya kau pergi, Jake,” ia menyarankan.

“Kurasa aku akan tetap di sini, kalau Anda tidak keberatan.”

“Tanggung sendiri akibatnya,” gerutu Charlie.

“Anjing itu masih di sana?” Edward akhirnya kembali bersuara.

“Masih.”

“Sebentar lagi aku sampai,” katanya galak, dan telepon pun terputus.

Saat aku meletakkan gagang telepon, tersenyum, kudengar suara mobil Edward ngebut melintasi jalan. Rem diinjak keras-keras agar mobil berhenti tepat di depan rumah. Aku beranjak membukakan pintu.

“Bagaimana tanganmu?” tanya Charlie waktu aku lewat, ia tampak jengah. Jacob nongkrong di sebelahnya di sofa, terlihat sangat santai.

Kusingkirkan bungkusan es batu dari tanganku untuk menunjukkan kondisinya. “Bengkak.”

“Mungkin sebaiknya kau menyerang orang yang seukuran denganmu,” Charlie mengusulkan.

“Mungkin.” sahutku sependapat. Aku berjalan terus untuk membukakan pintu. Edward sudah menunggu.

“Biar kulihat.” gumamnya.

Edward memeriksa tanganku dengan lembut sangat berhati-hati hingga aku tidak merasa sakit sama sekali. Kedua tangannya hampir sama dinginnya dengan es, dan terasa menyejukkan di kulitku.

“Kurasa dugaanmu benar soal tangan yang patah,” katanya. “Aku bangga padamu. Kau pasti mengerahkan segenap tenagamu untuk melakukannya.”

“Sebanyak yang kumiliki.” Aku mendesah. “Meskipun masih kurang, ternyata.”

Edward mengecup tanganku lembut.”Aku akan merawatnya,” janjinya. Kemudian ia berseru, “Jacob,” suaranya tetap tenang dan datar.

“Sudah, sudah,” Charlie mengingatkan.

Aku mendengar Charlie bangkit dari sofa. Jacob lebih dulu sampai di ujung koridor, langkahnya juga nyaris tak terdengar, tapi Charlie menyusul tak jauh di belakangnya. Ekspresi Jacob waspada dan bersemangat.

“Aku tidak mau ada perkelahian, mengerti?” Charlie hanya memandangi Edward saat bicara. “Kalau perlu, aku bisa memakai lencanaku.”

“Itu tidak perlu,” kata Edward dengan nada kaku.

“Kenapa kau tidak menangkapku saja, Dad?” aku mengusulkan. “Kan aku yang melakukan pemukulan.”

Charlie mengangkat alis. “Kau mau mengajukan tuntutan, Jake?”

“Tidak,” Jacob nyengir. “Aku rela kok ditinju asal bisa menciumnya.”

Edward meringis.

“Dad, Dad menyimpan pemukul bisbol kan di kamar? Aku ingin meminjamnya sebentar.”

Charlie menatapku tajam. “Cukup, Bella.”

“Ayo kita pergi supaya Carlisle bisa memeriksa tanganmu sebelum kau telanjur masuk penjara,” kata Edward, ia merangkul bahuku dan menarikku ke pintu.

“Baiklah,” sahutku, bersandar padanya. Aku sudah tidak terlalu marah lagi. karena sekarang aku sudah bersama Edward. Aku merasa terhibur, dan tanganku tidak begitu sakit lagi.

Kami sedang berjalan menyusuri trotoar waktu kudengar Charlie berbisik dengan nada cemas di belakangku.

“Apa-apaan kau!” Sudah gila, ya?”

“Sebentar saja, Charlie,” sahut Jacob.”Jangan khawatir, sebentar lagi aku kembali.”

Aku menoleh dan kulihat Jacob mengikuti kami, berhenti sebentar untuk menutup pintu di depan wajah Charlie yang kaget dan resah.

Awalnya Edward tidak menggubris Jacob, ia terus menuntunku ke mobilnya. Ia membantuku naik menutup pintu,kemudian berbalik menghadap Jacob di trotoar.

Aku mencondongkan badan dengan cemas lewat jendela yang terbuka. Aku bisa melihat Charlie di dalam rumah, mengintip dari sela-sela tirai ruang depan.

Pembawaan Jacob biasa-biasa saja, kedua lengannya terlipat di dada, tapi otot-otot dagunya mengeras.

Edward berbicara dengan suara sangat tenang dan lembut, tapi itu malah membuat kata-katanya terdengar lebih mengancam. “Aku tidak akan membunuhmu sekarang, karena itu akan membuat Bella sedih.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.