Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Kau benar-benar nekat.”

Tiba-tiba Jacob berubah serius. Ia meraih daguku dan memeganginya kuat-kuat sehingga aku tak bisa memalingkan wajah dari tatapan matanya yang tajam.

“Sampai jantungmu berhenti berdetak, Bella.” katanya. “Aku akan terus berada di sini, berjuang. Jangan lupa bahwa kau punya pilihan.”

“Aku tidak ingin punya pilihan,” tukasku, berusaha menyentakkan daguku tapi sia-sia. “Dan detak jantungku sudah tinggal menghitung hari, Jacob. Waktunya sudah hampir habis.”

Mata Jacob menyipit. “Berarti semakin kuat alasanku untuk berjuang – berjuang lebih keras lagi sekarang, mumpung aku masih bisa,” bisiknya.

“T…,” aku hendak protes, tapi terlambat.

Bibirnya melumat bibirku, menghentikan protesku. ia menciumku dengan marah, kasar, satu tangan mencengkeram kuat-kuat tengkukku, membuatku tak bisa melepaskan diri. Sekuat tenaga kudorong dadanya, tapi Jacob sepertinya bahkan tidak menyadarinya. Meski ia sedang marah bibirnya tetap terasa lembut, hangat, dan asing di bibirku.

Aku berusaha mendorongnya jauh-jauh, tapi lagi-lagi gagal. Tapi sepertinya kali ini ia menyadarinya, dan itu membuatnya semakin bersemangat. Bibirnya memaksa bibirku membuka, dan bisa kurasakan embusan napasnya yang panas di dalam mulutku.

Atas dasar naluri, kubiarkan kedua tanganku terkulai dan berhenti bereaksi. Kubuka mata dan tidak melawan, tidak merasa… hanya menunggunya berhenti.

Berhasil. Amarah Jacob sepertinya menguap, dan ia menarik bibirnya untuk menatapku. Ia menempelkan lagi bibirnya dengan lembut ke bibirku, satu kali, dua kali… tiga kali. Aku berlagak seperti patung dan menunggu.

Akhirnya Jacob melepaskan wajahku dan mencondongkan tubuhnya ke belakang.

“Sudah selesai?” tanyaku, suaraku tanpa ekspresi.

“Sudah,” desahnya. Senyumnya terkuak, matanya terpejam.

Kutarik lenganku ke belakang, kemudian mengayunkannya ke depan, meninju mulut Jacob dengan sekuat tenaga.

Terdengar suara berderak.

“Aduh! ADUH!” jeritku, melompat-lompat kesakitan sambil mendekap tinjuku di dada. Tulangku patah, aku bisa merasakannya.

Jacob memandangiku dengan syok. “Kau tidak apa-apa?”

“Tidak, brengsek! Kau membuat tulangku patah!’

“Bella, kau sendiri yang membuat tulangmu patah. Sekarang, berhenti menandak-nandak dan biar kuperiksa.”

“Jangan sentuh aku! Aku mau pulang sekarang juga!”

“Kuambil mobilku dulu,” kata Jacob kalem. Ia bahkan tidak mengusap-usap dagu seperti di film-film. Menyedihkan.

“Tidak, trims.”‘ desisku. “Lebih baik aku jalan kaki saja.”Aku berbalik menuju jalan. Hanya beberapa kilometer ke perbatasan. Begitu aku menjauh dari Jacob, Alice pasti akan melihatku. Ia akan mengirim seseorang untuk menjemputku.

“Setidaknya izinkan aku mengantarmu pulang,” desak Jacob. Sungguh tak bisa dipercaya, berani benar ia memeluk pinggangku.

Dengan marah aku menyentakkan diri darinya.

“Baiklah!” geramku. “Lakukan saja! Aku tak sabar ingin melihat apa yang akan dilakukan Edward padamu! Mudahmudahan saja dia mematahkan lehermu, dasar ANJING tolol tukang paksa menyebalkan!”

Jacob memutar bola matanya. Ia mengantarku ke kursi penumpang dan membantuku naik. Ketika naik ke balik kemudi, ia bersiul-siul.

“Memangnya kau tidak kesakitan sama sekali?” tanyaku, marah dan kesal.

“Bercanda, ya? Kalau saja kau tadi tidak menjerit, aku mungkin tidak bakal tahu kau berusaha meninjuku. Aku memang tidak terbuat dari batu, tapi aku juga tidak selembek itu.”

“Aku benci padamu, Jacob Black.”

“Itu bagus. Benci adalah emosi yang menggelora.”

“Soal emosi sih gampang,” gerutuku pelan. “Pembunuhan, kejahatan emosional terburuk.”

“Oh, ayolah,”sergah Jacob, sikapnya tetap riang dan kelihatannya ia bahkan akan mulai bersiul-siul lagi. “Itu tadi pasti lebih asyik daripada berciuman dengan batu.”

“Jangankan lebih, mendekati saja tidak,” tukasku dingin.

Jacob mengerucutkan bibir. “Ah, kau hanya mengadaada.”

“Aku tidak mengada-ada.”

Sepertinya perkataanku bahkan tidak membuatnya terusik sedikit pun, tapi sejurus kemudian wajah Jacob berubah cerah. “Itu karena kau marah. Aku memang tidak berpengalaman dalam urusan ini, tapi kurasa tadi itu sudah sangat luar biasa.”

“Ugh,” erangku.

“Kau akan memikirkannya malam ini. Saat dia mengira kau sudah tidur, kau akan memikirkan pilihan-pilihan yang kau miliki.”

“Kalau aku memikirkanmu malam ini, itu karena aku bermimpi buruk.”

Jacob memperlambat laju mobilnya hingga merayap, memalingkan wajah kepadaku dengan mata gelapnya yang membelalak lebar dan bersungguh-sungguh “Coba pikirkan, Bella.” desaknya, suaranya lembut dan bernada penuh semangat. “Kau tidak perlu mengubah apa-apa untukku. Kau tahu Charlie pasti senang kalau kau memilihku. Aku bisa melindungimu sama baiknya dengan vampirmu, mungkin bahkan lebih baik. Dan aku akan membuatmu bahagia, Bella. Ada begitu banyak yang bisa kuberikan padamu yang tidak bisa dia berikan. Aku berani bertaruh dia bahkan tak bisa menciummu seperti tadi, karena dia takut melukaimu. Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah menyakitimu, Bella.”

Kuacungkan tanganku yang cedera.

Jacob mendesah. “Itu bukan salahku. Seharusnya kau tahu itu sebelum memukulku.”

“Jacob, tidak mungkin aku bisa bahagia tanpa dia.”

“Kau belum pernah mencobanya,” sanggah Jacob. “Waktu dia pergi dulu, kau menghabiskan seluruh energimu untuk memikirkannya terus. Kau bisa bahagia kalau saja mau melepasnya. Kau bisa bahagia bersamaku.”

“Aku tidak ingin bahagia bersama orang lain kecuali dia,” aku bersikeras.

“Kau tidak akan pernah bisa merasa yakin pada dirinya, seperti kau bisa yakin pada diriku. Dia pernah meninggalkanmu dulu, jadi dia bisa melakukannya lagi.”

“Tidak.. itu tidak benar,” sergahku dari sela-sela rahang yang terkatup rapat. Pedihnya kenangan itu menyayat hatiku seperti cambuk. Membuatku ingin balas menyakiti Jacob. “Kau dulu juga pernah meninggalkanku.” aku mengingatkannya dengan nada dingin, ingatanku melayang ke minggu-minggu saat Jacob bersembunyi dariku, katakata yang diucapkannya di hutan di samping rumahnya…

“Itu tidak benar,” bantah Jacob. “Kata mereka, aku tidak boleh memberitahumu, bahwa tidak aman bagimu kalau kita bersama. Tapi aku tidak pernah meninggalkanmu, tidak pernah! Aku dulu selalu berlari mengitari rumahmu pada malam hari – seperti yang kulakukan sekarang. Hanya untuk memastikan kau baik-baik saja.”

Aku takkan membiarkan Jacob membuatku merasa kasihan padanya sekarang.

“Antar aku pulang. Tanganku sakit.”

Jacob mendesah, dan mulai memacu mobilnya dalam kecepatan normal, memandangi jalan.

“Pikirkanlah dulu, Bella.”

“Tidak,” tolakku keras kepala.

“Kau akan memikirkannya. Malam ini. Dan aku akan memikirkanmu sementara kau memikirkanku.”

“Seperti kataku tadi, mimpi buruk.”

Jacob nyengir. “Kau membalas ciumanku.”

Aku terkesiap, tanpa berpikir mengepalkan tinjuku lagi, mendesis ketika tanganku yang patah bereaksi.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

“Tidak.”

“Kurasa aku bisa membedakannya.”

“Jelas tidak bisa, itu tadi bukan membalas ciumanmu, tapi berusaha supaya kau berhenti menciumku, dasar idiot.”

Jacob tertawa,tawanya rendah dan serak. “Mengharukan. Hampir terlalu defensif, menurutku.”

Aku menarik napas dalam-dalam. Tidak ada gunanya berdebat dengannya; dia hanya akan memutarbalikkan semua ucapanku. Aku berkonsentrasi pada tanganku, berusaha meregangkan jari-jariku, memastikan bagian mana yang patah. Rasa sakit menusuk buku-buku jariku. Aku mengerang.

“Aku benar-benar minta maaf soal tanganmu,” kata Jacob, kedengarannya nyaris tulus. “Lain kali kalau mau memukulku, pakai tongkat bisbol atau linggis saja, oke.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.