Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Kemudian, sedetik saja, aku melihat visi aneh yang sama tentang Edward dan aku duduk di ayunan teras, memakai baju dari dunia yang berbeda. Dunia tempat tidak ada orang yang akan merasa aneh melihatku mengenakan cincin kawinnya di jariku. Tempat yang lebih simpel, di mana cinta didefinisikan dengan cara-cara yang lebih sederhana. Satu tambah satu sama dengan dua…

Jacob mendengus dan berguling ke samping. Lengannya terkulai dari punggung sofa dan menindihku.

Astaga, berat sekali dia Dan panas. Baru beberapa detik saja, aku sudah kepanasan.

Aku berusaha menggeser tubuhku dari bawah lengannya tanpa membuatnya terbangun, tapi aku harus mendorongnya sedikit, dan ketika lengannya terjatuh dari tubuhku. matanya serta-merta terbuka. Ia melompat berdiri, memandang berkeliling dengan gugup.

“Apa? Apa?” tanyanya, linglung.

“Hanya aku, Jake, Maaf aku membangunkanmu.”

Jake menoleh dan menatapku, matanya mengerjap bingung.

“Bella!”

“Hei, tukang ngantuk.”

“Oh, astaga! Aku ketiduran ya tadi. Maaf ya! Berapa lama aku tidur?”

“Beberapa dengkuran. Sudah tak bisa kuhitung lagi.”

Jacob mengenyakkan bokongnya kembali ke sofa di sampingku. “Wow. Maafkan aku soal tadi, sungguh.”

Kutepuk-tepuk kepalanya, berusaha menghaluskan anakanak rambutnya yang awut-awutan. “Jangan merasa tidak enak. Aku justru senang kau bisa tidur sebentar.”

Jacob menguap dan meregangkan otot-otornya. “Payah benar aku akhir-akhir ini. Tidak heran Billy selalu pergi. Aku sangat membosankan.”

“Ah, itu tidak benar,” sanggahku.

“Ugh, ayo kita keluar. Aku perlu jalan-jalan sedikit, kalau tidak aku pasti bakal teler lagi.”

“Jacob, tidurlah lagi. Aku tidak apa-apa. Akan kutelepon Edward untuk datang menjemputku.” Kutepuk-tepuk semua sakuku sambil bicara, dan baru sadar semuanya kosong. “Brengsek, aku terpaksa pinjam teleponmu. Ponselku pasti ketinggalan di mobil.” Aku mulai beranjak untuk berdiri.

“‘Jangan!” sergah Jacob, menyambar tanganku. “Tidak, jangan ke mana-mana. Kau kan jarang bisa ke sini. Payah benar aku, menyia-nyiakannya begitu saja.”

Jacob menarikku turun dari sofa sambil bicara, kemudian membimbingku ke luar, merunduk saat melewati ambang pintu. Cuaca semakin sejuk sementara Jacob tidur tadi; sekarang hawa terasa menggigit padahal saat ini bukan musim dingin, pasti akan ada badai. Rasanya sekarang seperti bulan Februari, bukan Mei.

Hawa yang dingin menggigit sepertinya membuat Jacob lebih sigap. Ia berjalan mondar-mandir di depan rumah selama semenit, menyeretku bersamanya.

“Bodoh benar aku,” gerutunya pada diri sendiri.

“Ada apa, Jake. Kau kan hanya ketiduran tadi.” Aku mengangkat bahu.

“Padahal sebenarnya aku ingin mengobrol denganmu. Benar-benar keterlaluan.”

“Bicaralah sekarang,” bujukku.

Jacob menatap mataku sebentar, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke pepohonan. Pipinya tampak merona merah, tapi itu sulit dipastikan karena kulitnya yang gelap.

Mendadak aku ingat apa yang dikatakan Edward tadi waktu ia menurunkan aku, bahwa Jacob akan memberitahuku sendiri apa saja yang diteriakkannya dalam benaknya tadi. Aku mulai menggigit-gigit bibir.

“Begini.” kata Jacob. “Sebenarnya aku berniat melakukannya dengan cara sedikit berbeda.” Ia tertawa, dan kedengarannya seperti menertawakan diri sendiri. “Cara yang lebih halus,” imbuhnya. “Sebenarnya aku berniat menyusun kata-katanya dulu tapi” – ia memandang awan-awan, yang semakin meredup seiring berlalunya sore

– “aku tidak punya waktu lagi untuk menyusunnya.”

Jacob tertawa lagi, gugup. Kami masih berjalan mondarmandir dengan langkah pelan.

“Kau bicara apa sih,” desakku.

Jacob menghela napas dalam-dalam. “aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sebenarnya kau sudah tahu… tapi kupikir sebaiknya aku mengutarakannya secara terbuka. Sehingga tidak ada lagi keraguan dalam hal ini.”

Aku menjejakkan kakiku ke tanah, dan Jacob berhenti melangkah. Aku melepaskan tanganku dari gandengannya, lalu bersedekap. Mendadak aku yakin tidak ingin mengetahui pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.

Alis Jacob berkerut, matanya yang menjorok masuk bagai dinaungi bayangan. Bola matanya hitam pekat saat ia menatapku dengan pandangan tajam menusuk.

“Aku mencintaimu, Bella,” kata Jacob dengan nada mantap dan yakin. “Bella, aku mencintaimu. Dan aku ingin kau memilihku, bukan dia. Aku tahu kau tidak merasa seperti itu, tapi aku harus menyatakan ini padamu supaya kau tahu kau punya pilihan. Aku tidak mau ada salah komunikasi di antara kita.”

 

15. TARUHAN

KUPANDANGI Jacob berlama-lama, tak mampu mengatakan apa-apa.

Aku tidak tahu harus bilang apa. Sementara Jacob menatap ekspresi terperangahku, keseriusan lenyap dari wajahnya.

“Oke.” ujarnya, nyengir.”Hanya itu.”

“Jake – ” Rasanya ada sesuatu yang besar menyangkut di tenggorokanku. Aku berusaha menyingkirkannya.”Aku tidak bisa,maksudku aku tidak… aku harus pulang.”

Aku berbalik, tapi Jacob menyambar bahuku dan memutar tubuhku.

“Jangan,tunggu. Aku tahu itu, Bella. Tapi, dengar, jawablah pertanyaanku, oke? Apakah kau mau aku pergi dan tidak pernah bertemu lagi denganmu? Jujurlah.”

Sulit berkonsentrasi, jadi butuh satu menit untuk menjawabnya. “Tidak, bukan itu yang kuinginkan.” akhirnya aku mengakui.

Lagi-lagi Jacob nyengir. “Begitu.”

“Tapi aku menginginkanmu bukan karena alasan yang sama dengan kenapa kau menginginkanku,” sergahku.

“Kalau begitu, jelaskan kenapa persisnya kau menginginkanku.”

Aku berpikir dengan saksama. “Aku merasa kehilangan kalau kau tidak ada. Kalau kau bahagia,” aku menjelaskan hati-hati. “itu membuatku bahagia. Tapi itu juga berlaku bagi Charlie, Jacob. Kau keluargaku. Aku sayang padamu, tapi aku tidak mencintaimu.”

Jacob mengangguk, tidak merasa terganggu sama sekali. “Tapi kau terap menginginkanku di dekatmu.”

“Ya,” Aku mendesah. Penjelasanku tidak membuat Jacob surut langkah.

“Kalau begitu aku akan tetap di dekatmu.”

“Kau memang senang menyiksa diri sendiri.” gerutuku.

“Yep,” Jacob membelai-belai pipi kananku dengan ujung Jemarinya. Kutepis tangannya jauh-jauh.

“Menurutmu, bisa tidak kau bersikap sedikit lebih baik, paling tidak?” tanyaku, kesal.

“Tidak, tidak bisa. Putuskan sendiri, Bella. Kau bisa memilikku apa adanya, termasuk sikapku yang menjengkelkan atau tidak sama sekali.”

Kupandangi dia, frustrasi. “Itu kejam.”

“Kau juga kejam.”

Perkataannya itu membuat langkahku terhenti, dan tanpa sengaja aku mundur selangkah. Jacob benar. Kalau aku tidak kejam, sekaligus serakah, aku akan mengatakan padanya aku tidak mau berteman dengannya dan menyuruhnya pergi jauh-jauh. Bukan tindakan yang tepat berusaha mempertahankan temanku padahal itu justru akan melukai hatinya. Entah apa yang kulakukan di sini, tapi tiba-tiba saja aku yakin itu bukan tindakan yang tepat.

“Kau benar,” bisikku.

Jacob tertawa. “Aku memaafkanmu kok. Tapi usahakan agar kau tidak terlalu marah padaku. Karena baru-baru ini aku memutuskan aku tidak akan menyerah. Sesuatu yang sulit didapat itu justru sangat menarik untuk ditaklukkan.”

“Jacob.” Kutatap matanya yang gelap, berusaha membuatnya menganggapku serius. “Aku mencintainya, Jacob. Dia seluruh hidupku.”

“Kau juga cinta padaku,” Jacob mengingatkan aku. Ia mengangkat tangan waktu aku membuka mulut hendak memprotes. “Tidak seperti kau mencintainya, aku tahu. Tapi dia juga bukan seluruh hidupmu. Tidak lagi. Mungkin dulu begitu, tapi dia pergi. Dan sekarang dia harus menghadapi konsekuensi dari pilihan itu – aku.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.