Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Kupandangi ia sesaat, “Kita nongkrong dulu saja di rumahmu,” aku menyarankan. Kelihatannya Jacob tidak bisa melakukan lebih dari itu. “Nanti saja naik motornya.”

“Tentu, tentu,” sahutnya, lagi-lagi menguap.

Rumah Jacob kosong, dan itu terasa aneh. Sadarlah aku bahwa Billy nyaris menjadi aksesori permanen di sana.

“Mana ayahmu?.

“Di rumah keluarga Clearwater. Sekarang dia sering ke sana setelah Harry meninggal. Sue sering kesepian.”

Jacob duduk di sofa tua yang tidak lebih besar daripada loveseat dan mengenyakkan tubuhnya ke satu sisi, memberi ruang untukku.

“Oh. Baguslah. Kasihan Sue.”

“Yeah… dia menghadapi banyak masalah…” Jacob raguragu sejenak. “Dengan anak-anaknya.”

“Tentu, pastilah berat bagi Seth dan Leah, kehilangan ayah mereka..”

“He-eh,” Jacob setuju, hanyut dalam pikirannya. Ia mengambil remote dan menyalakan TV, sepertinya tanpa berpikir. lagi-lagi ia menguap.

“Ada apa denganmu, Jake. Kau seperti zombie.”

“Aku hanya tidur kira-kira dua jam semalam dan empat jam malam sebelumnya,” cerita Jacob. Ia meregangkan kedua lengan panjangnya lambat-lambat, dan aku bisa mendengar sendi-sendinya berderak. Disampirkannya lengan kirinya di sepanjang punggung sofa di belakangku, dan duduk merosot untuk menyandarkan kepalanya di dinding. “Aku kecapekan.”

“Memangnya kenapa kau tidak tidur?” tanyaku.

Jacob mengernyitkan wajah. “Sam bersikap sulit. Dia tidak percaya pada teman-temanmu, para pengisap darah itu. Padahal aku sudah berpatroli semalaman selama dua minggu dan belum ada yang menyentuhku, tapi dia masih saja tidak percaya. Jadi untuk sementara aku sendirian.”

“Berpatroli semalaman,” Apa itu karena kau berusaha menjagaku? Jake, itu salah! Kau perlu tidur. Aku tidak akan kenapa-kenapa.”

“Sudahlah, tidak apa-apa,” Mata Jacob mendadak tampak lebih waspada. “Hei, kau sudah tahu siapa yang masuk ke kamarmu waktu itu? Apakah ada berita baru.”

Aku tak memedulikan pertanyaan kedua. ‘”Tidak, kami belum menemukan apa-apa tentang, eh, tamu kami.”

“Kalau begitu aku akan tetap berjaga-jaga,” kata Jacob, matanya terpejam.

“Jake..” aku mulai merengek.

“Hei, setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan, aku kan sudah menawarkan diri melayanimu, ingat. Aku budakmu seumur hidup.”

“Aku tidak mau punya budak!”

Mata Jacob tetap terpejam. “Memangnya apa yang kauinginkan, Bella?”

“Aku menginginkan temanku Jacob, dan bukan Jacob yang separo mati, menyakiti diri sendiri dengan konyol.”

Jacob memotong kata-kataku. “Begini saja, aku berharap bisa melacak keberadaan vampir yang boleh kubunuh, oke.”

Aku diam saja. Jacob menatapku, melirik untuk melihat reaksiku.

“Bercanda, Bella.”

Mataku memandang lurus ke pesawat televisi.

“Jadi, ada rencana khusus minggu depan. Kau akan lulus, kan. Wow. Hebat.” Nadanya berubah datar, dan wajahnya, yang sudah nampak letih, terlihat semakin kuyu saat matanya terpejam lagi, kali ini bukan karena kelelahan, tapi karena penyangkalan. Sadarlah aku bahwa momen kelulusanku masih menjadi sesuatu yang menyakitkan baginya, walaupun niatku itu sekarang terhalang.

“Tidak ada rencana istimewa,” jawabku hati-hati, berharap Jacob mendengar nada yakin dalam suaraku tanpa aku perlu menjelaskannya lebih lanjut. Aku sedang tidak ingin membicarakannya. Pertama, karena Jacob sepertinya sedang tidak siap membicarakan hal-hal sulit. Kedua, aku tahu ia pasti tahu aku cemas. “Well, tapi ada pesta kelulusan yang harus kuhadiri. Pesta kelulusanku sendiri.” Aku mengeluarkan suara jijik. “Alice paling suka pesta, jadi dia mengundang seisi kota ke rumahnya malam harinya. Pasti menyebalkan.”

Mata Jacob langsung terbuka selagi aku bicara, dan senyum lega membuat wajahnya tidak tampak letih lagi. “aku tidak diundang. Aku tersinggung nih,” godanya.

“Anggap saja kau ku undang. Itu kan pestaku, jadi seharusnya aku boleh mengundang siapa pun yang kuinginkan.”

“Trims,” tukas Jacob sarkastis, matanya kembali terpejam.

“Kuharap kau benar-benar mau datang,” kataku tanpa berharap. “Pasti asyik. Bagiku, maksudku.”

“Tentu, tentu.” gumam Jacob. “Itu pasti sangat… bijaksana.” Suaranya lenyap.

Beberapa detik kemudian, ia sudah mendengkur.

Kasihan Jacob. Kuamati wajahnya yang sedang bermimpi. dan menyukai apa yang kulihat. Saat tidur, setiap jejak keras kepala dan kepahitan lenyap dari wajahnya dan tiba-tiba saja ia kembali menjadi pemuda yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatku sebelum semua omong kosong tentang werewolf ini mengganggu kehidupan kami. Ia tampak jauh lebih muda. Ia terlihat seperti Jacob-ku. Aku meringkuk di sofa, menungguinya tidur, berharap ia bisa tidur sebentar untuk menggantikan kurang tidurnya. aku memindah-mindah saluran TV; tapi tak banyak yang bisa ditonton. Akhirnya aku memilih menonton acara masak-memasak, walaupun saat menonton aku tahu tidak akan pernah serepot itu waktu memasakkan makan malam untuk Charlie.

Jacob terus saja mendengkur, dengkurannya semakin keras. Kukeraskan volume TV.

Anehnya, aku merasa rileks, dan hampir mengantuk juga. Rumah ini rasanya lebih aman ketimbang rumahku sendiri, mungkin karena tidak ada yang pernah datang mencariku di sini. Aku bergelung di ujung sofa dan terpikir olehku untuk ikut tidur. Mungkin aku sudah ketiduran kalau saja dengkuran Jacob tidak sekeras itu. Jadi, bukannya tidur, aku malah membiarkan pikiranku berkelana ke mana-mana.

Ujian akhir sudah selesai, dan sebagian besar mudah. Kalkulus, satu-satunya pengecualian, sudah lewat, lulus atau gagal. Pendidikan SMA-ku sudah berakhir. Tapi aku tidak benar-benar tahu bagaimana perasaanku tentang hal itu. Aku tidak bisa memandangnya secara objektif; karena itu berkaitan dengan berakhirnya kehidupanku sebagai manusia.

Aku bertanya-tanya sendiri berapa lama Edward berencana memakai alasan “bukan karena kau takut” ini. Aku harus bersikap tegas suatu saat nanti.

Kalau berpikir praktis, aku tahu sungguh masuk akal meminta Carlisle mengubahku segera setelah aku lulus. Forks Jadi nyaris sama berbahayanya dengan zona perang. Bukan, Forks itulah zona perangnya. Belum lagi… itu bisa jadi alasan yang tepat sekali untuk tidak menghadiri pesta kelulusanku sendiri. Aku tersenyum-senyum saat memikirkan alasan paling remeh dari semua alasan mengapa aku harus berubah. Bodoh… namun tetap menarik.

Tapi Edward benar – aku belum benar-benar siap.

Dan aku tidak ingin bersikap praktis. Aku ingin Edwardlah yang mengubahku. Memang bukan keinginan rasional. Aku yakin bahwa – kira-kira dua detik setelah aku digigit dan bisa itu mulai membakar urat-urat nadiku – aku benar-benar takkan peduli siapa yang melakukannya. Jadi seharusnya itu tidak menjadi masalah. Sulit menjelaskannya, bahkan pada diriku sendiri, kenapa itu penting. Pokoknya aku ingin dialah yang melakukan pilihan itu – ingin memilikiku sehingga tidak sekadar membiarkan aku diubah. rapi dia sendirilah yang melakukan perubahan itu. Kekanak-kanakan memang, tapi aku senang membayangkan bibirnyalah yang menjadi hal terakhir yang kurasakan. Bahkan yang lebih memalukan lagi, ada hal yang takkan pernah utarakan secara terus terang, aku ingin bisanyalah yang racuni sistemku. Itu akan benar-benar membuatku jadi miliknya seutuhnya.

Tapi aku tahu Edward akan ngotot mempertahankan syarat menikah yang diajukannya waktu itu – karena ia jelas ingin menunda mengubahku dan sejauh ini, taktiknya berbasil. Aku mencoba membayangkan memberi tahu kedua orang tuaku bahwa aku akan menikah musim panas ini. Memberi tahu Angela, Ben. dan Mike. Aku tidak sanggup. Aku tidak bisa membayangkan haus bilang apa. Lebih mudah memberi tahu mereka bahwa aku akan menjadi vampir. Dan aku yakin paling tidak ibuku,seandainya aku berniat menceritakan hal sebenarnya hingga sedetail – detailnya – bakal lebih mati-matian menentang rencanaku menikah muda daripada menjadi vampir. Aku meringis membayangkan ekspresi ngeri Renee.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.