Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Seperti biasa, belum apa-apa Edward sudah menarik diri. Aku merasakan wajahku menekuk cemberut, Edward tertawa melihat ekspresiku sementara ia melepaskan diri dari belitan lengan dan kakiku. Ia bersandar di konter, bersebelahan denganku, dan memeluk bahuku.

“Aku tahu menurutmu aku memiliki pengendalian diri yang kuar dan tak tergoyahkan, tapi sebenarnya tidak”

“Seandainya saja begitu,” aku mendesah,

Dan ia ikut-ikutan mendesah.

“Sepulang sekolah besok,” kata Edward, mengganti topik, “aku akan pergi berburu dengan Carlisle, Esme, dan Rosalie. Hanya beberapa jam – kami takkan pergi jauhjauh, Alice, Jasper, dan Emmett pasti bisa menjagamu.”

“Ugh,” gerutuku. Besok hari pertama ujian akhir, jadi hanya setengah hari. Besok aku ujian Kalkulus dan Sejarah

– keduanya tantangan bagiku – jadi hampir seharian besok aku akan sendirian, tak melakukan apa-apa kecuali merasa khawatir. “Aku tidak suka dijaga.”

“Kan hanya untuk sementara,” janji Edward.

“Jasper pasti bosan setengah mati. Dan Emmett pasti akan mengejekku.”

“Mereka pasti akan bersikap sangat baik.”

“Hah, yang benar saja.” gerutuku.

Kemudian, mendadak aku sadar aku punya pilihan lain selain dijaga. “Kau tahu aku sudah lama tidak ke La Push, semenjak acara api unggun waktu itu.”

Kuamati wajah Edward dengan saksama, melihat kalaukalau ada perubahan ekspresi. Mata Edward sedikit mengeras.

“Aku cukup aman di sana,” kuingatkan dia.

Edward berpikir sebentar, “Mungkin kau benar;” Wajahnya tenang, namun sedikit terlalu datar. Hampir saja aku bertanya apakah ia lebih suka aku tetap di sini, tapi kemudian terbayang olehku ejekan-ejekan yang sudah pasti akan dilontarkan Emmett padaku. “Memangnya kau sudah haus lagi?” tanyaku, mengulurkan tangan dan mengusapusap bayangan samar di bawah matanya. Iris matanya masih emas tua.

“Tidak juga,” Edward sepertinya enggan menjawab, dan itu membuatku kaget. Aku menunggu penjelasan darinya.

“Kami ingin tetap sekuat mungkin,” Edward menjelaskan. “Mungkin kami akan berburu lagi dalam perjalanan nanti, mencari buruan besar.”

“Itu akan membuatmu lebih kuar?”

Edward mengamari wajahku, seolah mencari sesuatu, tapi tidak ada apa-apa di sana kecuali keingintahuan.

“Ya.” jawab Edward akhirnya. “Darah manusia adalah yang paling kuar, meski hanya sedikit. Jasper sempat berpikir untuk melakukan pengecualian sekali ini saja – walaupun dia tidak menyukai ide itu, namun demi alasan kepraktisan – tapi dia tidak mau menyarankannya. Dia tahu apa yang akan dikatakan Carlisle nanti.”

“Apakah itu bisa membantu?” tanyaku pelan.

“Tak ada bedanya. Kami takkan mengubah jati diri kami.” Aku mengerutkan kening. Kalau ada yang bisa membantu, meskipun kemungkinannya kecil… kemudian aku bergidik, sadar bahwa aku rela seseorang yang tidak kukenal mati demi melindungi Edward. Aku ngeri pada diriku sendiri, tapi tak sepenuhnya sanggup menyangkalnya.

Edward mengganti topik lagi. “Itulah sebabnya mereka sangat kuat, tentu saja. Para vampir baru itu penuh darah manusia – darah mereka sendiri, bereaksi terhadap perubahan. Darah itu bertahan dalam jaringan tubuh mereka dan menguatkan mereka. Tubuh mereka menghabiskannya pelan-pelan, seperti pernah dikatakan Jasper, kekuatan itu mulai memudar setelah kira-kira satu tahun.”

“Seberapa kuat aku nantinya?”

Edward nyengir. “Lebih kuat daripada aku.”

“Lebih kuat daripada Emmett?”

Seringaiannya semakin lebar, “Ya. Coba tantang dia adu panco nanti. Dia akan belajar banyak dari pengalaman itu.”

Aku tertawa. Kedengarannya konyol sekali.

Lalu aku mendesah dan melompat dari konter, karena aku benar-benar tak bisa menundanya lebih lama lagi. Aku harus belajar sungguh-sungguh. Untunglah aku dibantu Edward, dan Edward sangat pandai mengajar – apalagi ia tahu banyak hal. Kurasa masalah terbesarku hanya memfokuskan diri pada ujian-ujian nanti. Kalau tidak hatihati bisa-bisa aku menulis esai Sejarah tentang perang vampir di daerah Selatan.

Aku menyempatkan diri menelepon Jacob, dan Edward tampak biasa-biasa saja seperti waktu aku menelepon Renee tadi. Ia memainkan rambutku lagi.

Walaupun saat ini siang bolong, teleponku membangunkan Jacob, dan awalnya ia sempat jengkel. Ia langsung girang waktu aku bertanya apakah aku bisa datang ke rumahnya besok. Sekolah Quileute sudah mulai liburan musim panas, jadi Jacob menyuruhku datang sepagi mungkin. Aku senang ada pilihan lain selain dijaga seperti bayi. Rasanya masih ada sedikit harga diri bila menghabiskan waktu bersama Jacob.

Sebagian harga diri itu lenyap waktu Edward lagi-lagi bersikeras mengantarku ke perbatasan seperti anak-anak yang diantar petugas perwalian.

“Bagaimana ujianmu tadi?” tanya Edward dalam perjalanan, berbasa-basi sedikit.

“Sejarah sih gampang, tapi entah kalau Kalkulus. Sepertinya masuk akal, jadi itu mungkin berarti aku gagal.”

Edward tertawa, ”Aku yakin kau pasti lulus. Atau, kalau kau benar-benar khawatir, aku bisa menyuap Mr. Vamer supaya memberimu nilai A.”

“Eh, trims, rapi tidak usah, terima kasih.”

Lagi-lagi Edward tertawa, tapi mendadak berhenti waktu kami berbelok di tikungan terakhir dan melihat mobil merah menunggu. Keningnya berkerut penuh konsentrasi, kemudian, saat memarkir mobilnya, ia mendesah.

“Ada apa?” tanyaku, tanganku memegang pintu.

Edward menggeleng. “Tidak apa-apa.” Matanya menyipit saat memandang ke luar kaca depan, ke mobil itu. Aku pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya.

“Kau tidak sedang mendengarkan pikiran Jacob, kan?” tuduhku.

“Tidak mudah mengabaikan orang kalau dia berteriak.”

“Oh,” Aku berpikir sebentar, “Apa yang dia teriakkan?” bisikku.

“Aku yakin benar dia akan mengatakannya sendiri padamu nanti,” jawab Edward masam.

Sebenarnya aku berniat mendesaknya lebih jauh, tapi kemudian Jacob membunyikan klakson – dua kali dengan nada tidak sabar.

“Itu sangat tidak sopan,” geram Edward.

“Begitulah Jacob,” desahku, kemudian bergegas turun sebelum Jacob melakukan sesuatu yang bakal membuat amarah Edward meledak.

Aku melambaikan tangan kepada Edward sebelum menaiki Rabbit dan, dari kejauhan, kelihatannya ia benarbenar kesal gara-gara masalah klakson itu… atau apa pun yang dipikirkan Jacob. Tapi pandanganku lemah dan sering kali keliru menilai sesuatu.

Aku ingin Edward mendatangiku. Aku ingin mereka berdua turun dari mobil masing-masing, berjabat tangan, dan berteman – menjadi Edward dan Jacob, bukan vampir dan werewolf. Rasanya seperti memegang dua magnet keras kepala itu di tanganku lagi, dan aku mendekatkan keduanya, berusaha memaksakan kekuatan alami mereka agar berubah…

Aku mendesah, lalu naik ke mobil Jacob.

“Hai, Bells,” Nada Jake riang, tapi suaranya seperti diseret. Kuamati wajahnya waktu ia mulai menjalankan mobil, mengemudikannya sedikit lebih cepat daripada yang biasa kulakukan, tapi lebih lambat daripada Edward, dalam perjalanan kembali ke La Push.

Jacob terlihat berbeda, bahkan mungkin sakit, Kelopak matanya turun dan wajahnya letih. Rambut shaggy-nya mencuat ke mana-mana; di beberapa tempat malah hampir sampai ke dagu.

“Kau baik-baik saja, Jake?”

“Hanya capek,” akhirnya ia bisa menjawab setelah sebelumnya menguap lebar-lebar. Lalu ia bertanya, “Apa yang ingin kaulakukan hari ini?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.