Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku berusaha keras menenangkan diri, “Menimbang semua yang terjadi saat ini, rasanya tidak pantas kita menggelar pesta.”

“Yang sedang terjadi sekarang ini adalah kelulusan, jadi justru sangar pantas jika kita menyelenggarakan pesta sekarang.”

“Alice!”

Alice mendesah, dan mencoba bersikap serius. “Ada beberapa hal yang perlu kita bereskan sekarang, dan itu butuh waktu. Mumpung tidak ada yang bisa kita kerjakan saat ini. Lebih baik kita rayakan saja hal yang bagus-bagus. Kau hanya lulus SMA sekali seumur hidup – ini yang pertama kali. Kau tidak bisa menjadi manusia lagi, Bella. Ini kesempatan sekali seumur hidup.”

Edward, yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan perdebatan kecil kami, melayangkan pandangan mengingatkan kepada Alice. Alice menjulurkan lidah kepadanya. Ia benar – suaranya yang lembut tak mungkin terdengar orang di tengah-tengah celotehan ribut anak-anak di kafeteria ini. Tapi kalaupun ada yang mendengar, tak ada yang mengerti maksudnya.

“Memangnya apa yang perlu dibereskan?” tanyaku, menolak digiring ke topik lain.

Edward menjawab pelan, “Jasper menganggap kita butuh bantuan. Keluarga Tanya satu-satunya pilihan yang kita punya. Carlisle sedang berusaha melacak keberadaan beberapa teman lamanya, sementara Jasper mencari Peter dan Charlotte. Dia sedang menimbang-nimbang untuk menemui Maria… tapi sebenarnya kami tak ingin melibatkan orang-orang Selatan.”

Alice bergidik pelan.

“Harusnya tidak sulit meyakinkan mereka untuk membantu,” lanjut Edward. “Tidak ada yang ingin didatangi tamu dari Italia.”

“Tapi teman-teman ini – mereka bukan… vegetarian, kan?” protesku, menggunakan istilah yang dipakai keluarga Cullen untuk menjuluki diri mereka sendiri.

“Bukan.” jawab Edward, tiba-tiba tanpa ekspresi.

“Di sini? Di Forks?”

“Mereka teman-teman kita,” Alice meyakinkanku. “Semua pasti beres. Jangan khawatir. Apalagi, Jasper kan harus mengajari kami beberapa pelajaran tentang cara menghabisi vampir baru…”

Mata Edward berubah cerah mendengarnya, dan senyum kecil terkuak di bibirnya. Tiba-tiba perutku bagai dipenuhi pecahan-pecahan es kecil yang tajam.

“Kapan kalian akan pergi?” tanyaku, suaraku bergaung. Aku tak tahan memikirkannya – bahwa mungkin ada di antara mereka yang tidak kembali. Bagaimana kalau yang jadi korban itu Emmett, yang begitu pemberani dan sembrono hingga tidak pernah mau berhati-hati sedikit pun!’ Atau Esme, begitu manis dan keibuan, yang tak kubayangkan bisa bertarung? Atau Alice, begitu mungil dan tampak sangat rapuh? Atau… tapi aku bahkan tak bisa memikirkan namanya, meskipun hanya mempertimbangkan kemungkinannya.

“Satu minggu,” ujar Edward dengan sikap biasa -biasa saja, “Waktunya cukup untuk kita.”

Serasa ada serpihan-serpihan es menusuk-nusuk perutku. Aku mendadak mual.

“Kelihatannya kau pucat sekali, Bella.” Alice berkomentar.

Edward memeluk bahuku dan menarikku erat-erat ke sisinya. “Semua pasti beres, Bella. Percayalah padaku.”

Tentu, pikirku. Percaya padanya. Kan bukan dia yang bingung memikirkan apakah orang yang menjadi inti eksistensinya bisa kembali atau tidak.

Dan mendadak aku mendapat ilham. Mungkin aku tidak perlu duduk menunggu mereka. Satu minggu lebih dari cukup.

“Kalian butuh bantuan.” ujarku pelan,

“Benar,” Alice menelengkan kepala ke satu sisi sementara ia mencerna perubahan nada suaraku.

Aku hanya memandanginya saat menjawab. Suaraku hanya sedikit lebih keras daripada bisikan. “Aku bisa membantu.”

Tubuh Edward mendadak kaku, lengannya memelukku kelewat erat, Ia mengembuskan napas, dan suaranya berupa desisan.

Namun Alice-lah, masih terap tenang, yang menjawab. “Itu malah tidak akan membantu.”

“Kenapa tidak?” bantahku; bisa kudengar nada putus asa dalam suaraku. “Delapan kan lebih baik daripada tujuh. Waktunya lebih dari cukup.”

“Tidak cukup waktu untuk membuatmu bisa membantu kami, Bella,” Alice membantah dengan nada dingin. “Ingatkah kau bagaimana Jasper menggambarkan vampirvampir muda itu? Kau tidak bakal bisa bertempur. Kau tidak akan bisa mengontrol instingmu, dan itu hanya akan membuatmu menjadi sasaran empuk. Dan bisa-bisa Edward celaka saat berusaha melindungimu.” Ia bersedekap, puas dengan logikanya yang tak terbantahkan.

Dan aku tahu Alice benar. Aku duduk merosot di kursiku, harapanku yang tiba-tiba muncul seketika lenyap. Di sampingku, Edward kembali rileks.

Ia berbisik di telingaku, “Yang penting bukan karena kau takut.”

“Oh.” ucap Alice, ekspresi kosong mendadak melintasi wajahnya. Sejurus kemudian ekspresinya berubah kecut. “Aku paling tidak suka kalau ada yang batal di saat-saat terakhir. Berarti jumlah tamunya berkurang jadi 65…”

“Enam puluh lima!’ Sekali lagi aku membelalakkan mata. Aku bahkan tidak punya teman sebanyak itu, Memangnya aku kenal sebegitu banyak orang?

“Siapa yang batal?” tanya Edward, tidak menggubrisku.

“Renee.”

“Apa?” aku terkesiap kaget.

“Sebenarnya dia berniat memberimu kejutan saat kelulusan nanti, tapi mendadak ada masalah. Kau akan mendapat pesan darinya di rumah nanti.”

Sesaat kubiarkan diriku menikmati perasaan lega. Apa pun masalah yang dihadapi ibuku sekarang, aku benarbenar bersyukur. Kalau saja ia datang ke Forks sekarang aku tak ingin memikirkannya. Bisa-bisa kepalaku meledak.

Lampu pesan di pesawat telepon berkedip-kedip sesampainya aku di rumah. Kelegaanku kembali membuncah saat mendengar penjelasan ibuku mengenai kecelakaan yang dialami Phil di lapangan bola – saat mendemonstasikan gerakan meluncur, ia bertabrakan dengan pemain lain dan tulang pahanya parah, Phil benarbenar bergantung pada ibuku sekarang, jadi tidak mungkin ia bisa meninggalkannya. Ibuku masih terus meminta-minta maaf saat pesannya terputus.

“Well, berarti berkurang satu,” desahku.

“Berkurang satu apa?” tanya Edward.

“Berkurang satu orang yang tidak perlu kukhawatirkan bakal terbunuh minggu ini.”

Edward memutar bola matanya.

“Kenapa kau dan Alice tidak menganggap serius masalah ini?” tuntutku. “Ini serius, tahu.”

Edward tersenyum. “Kepercayaan diri.”

“Hebat,” gerutuku. Kuraih telepon dan kuhubungi Renee.

Aku tahu ini bakal jadi obrolan panjang, tapi aku juga tahu aku tidak perlu banyak bicara.

Aku hanya mendengarkan, dan meyakinkan ibuku setiap kali bisa menyela ocehannya: aku tidak kecewa, aku tidak marah, aku tidak sakit hati. Seharusnya ia berkonsentrasi membantu Phil supaya cepat sembuh. Aku menitipkan salam “semoga cepat sembuh” kepada Phil, dan berjanji akan meneleponnya dengan cerita lengkap tentang acara kelulusan Forks High yang kampungan ini. Akhirnya, aku terpaksa menggunakan alasan bahwa aku sangat perlu belajar untuk menghadapi ujian akhir agar bisa menyudahi telepon.

Kesabaran Edward sungguh luar biasa. Ia menunggu dengan sopan sementara aku meladeni ocehan ibuku, hanya memainkan rambutku dan tersenyum setiap kali aku mendongak. Mungkin konyol memerhatikan hal semacam itu padahal ada hal-hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan, tapi senyum Edward tetap sanggup membuat napasku tertahan. Ia sangat tampan hingga terkadang sulit memikirkan hal lain, sulit berkonsentrasi pada masalah Phil atau permintaan maaf Renee atau pasukan vampir keji. Aku hanya manusia biasa.

Begitu menutup telepon, aku berjinjit menciumnya. Edward memeluk pinggangku dengan kedua tangannya dan mengangkatku ke atas konter dapur, supaya aku tak perlu berjinjit. Kurangkul lehernya dan melebur di dadanya yang dingin.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.