Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Aku mulai tak sanggup lagi menanggungnya.

“Depresiku semakin parah, dan aku menjauh dari Peter dan Charlotte. Walaupun beradab, mereka tidak merasakan keengganan yang mulai kurasakan. Mereka hanya menginginkan kedamaian dari perang. Sementara aku lelah merasakan keharusan membunuh – membunuh siapa saja, bahkan manusia biasa sekalipun,

“Meski begitu, aku harus terus membunuh. Apa lagi pilihan yang kumiliki? Aku berusaha mengurangi frekuensinya, tapi akibatnya aku sangat kehausan hingga akhirnya harus menyerah. Setelah seabad merasakan kepuasan instan, aku mendapati bahwa mendisiplinkan diri itu… menantang. Aku masih belum bisa menyempurnakannya.”

Jasper terhanyut dalam kisahnya, begitu juga aku. Jadi aku kaget bukan main waktu ekspresi muram Jasper mendadak berubah menjadi senyum penuh damai.

“Aku sedang di Philadelphia. Muncul badai besar, dan aku keluar pada siang hari – sesuatu yang belum sepenuhnya bisa kujalani dengan nyaman. Aku tahu berdiri di tengah hujan akan menarik perhatian, maka aku pun merunduk dan memasuki restoran kecil yang separuh kosong. Warna mataku cukup gelap, jadi tidak ada yang akan memerhatikan, walaupun itu berarti aku sedang dahaga, dan itu sedikit membuatku khawatir.

“Dia ada di sana – menungguku, tentu saja,” Jasper terkekeh. “Dia melompat dari bangku tinggi di konter begitu aku masuk dan langsung menghampiriku.

“Aku syok. Aku tak yakin apakah wanita itu bermaksud menyerangku. Itu satu-satunya interpretasi dari sikapnya, akibat dari masa laluku yang suram. Tapi wanita itu tersenyum. Dan berbagai emosi yang terpancar dari dalam dirinya sama sekali tidak seperti yang pernah kurasakan sebelumnya.

“’Kau membuatku menunggu lama sekali,’ katanya.”

Aku tidak sadar Alice datang dan berdiri di belakangku lagi.

“Dan kau menundukkan kepala, seperti lazimnya lelaki Selatan baik-baik, dan menjawab, ‘Maafkan saya, Ma’am,’” Alice tertawa mengenangnya.

Jasper menunduk dan tersenyum padanya. “Kau mengulurkan tangan, dan aku menyambutnya tanpa perlu berpikir. Untuk pertama kali dalam kurun waktu hampir seabad, aku merasa ada harapan.”

Jasper meraih tangan Alice sambil bicara,

Alice nyengir. “Aku hanya lega. Kupikir kau tidak akan pernah muncul.”

Mereka saling tersenyum lama sekali, kemudian Jasper menoleh lagi padaku, ekspresi lembut masih menggayuti wajahnya.

“Alice menceritakan apa yang ia lihat tentang Carlisle dan keluarganya. Aku nyaris tak percaya ada vampir yang bisa hidup seperti itu. Tapi Alice membuatku optimis. Maka kami pun pergi mencari mereka.”

“Membuat mereka ketakutan setengah mati juga,” imbuh Edward, memutar bola matanya kepada Jasper sebelum berpaling kepadaku untuk menjelaskan. “Emmett dan aku sedang berburu. Jasper muncul, tubuhnya dipenuhi bekas luka akibat peperangan, membawa makhluk kecil aneh ini” – disikutnya Alice dengan bercanda – “yang menyapa mereka semua dengan nama masing-masing, tahu segala sesuatu mengenai mereka, dan ingin tahu dia bisa menempati kamar yang mana.”

Alice dan Jasper tertawa berbarengan dalam harmonisasi suara yang kompak, sopran dan bass.

“Dan sesampainya aku di rumah, semua barangbarangku sudah di garasi,” sambung Edward.

Alice mengangkat bahu. “Kamarmu kan yang memiliki pemandangan paling indah.”

Mereka semua tertawa berbarengan.

“Bagus sekali ceritanya,” kataku.

Tiga pasang mata menatapku, mempertanyakan kewarasanku.

“Maksudku bagian terakhir,” aku membela diri, “Akhir yang membahagiakan dengan hadirnya Alice.”

“Alice memang membawa perubahan.” Jasper setuju. “Iklim seperti inilah yang kusenangi”

Namun selingan tadi tak dapat mengurangi ketegangan yang telanjur tercipta.

“Satu pasukan,” bisik Alice. “Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Yang lain kembali menyimak pembicaraan kami, mata mereka terpaku di wajah Jasper.

“Kupikir aku pasti salah menerjemahkan pertandapertanda yang ada. Karena, apa motifnya? Untuk apa seseorang membentuk pasukan di Seattle? Tidak ada sejarah perselisihan di sana, tidak ada balas dendam. Tidak masuk akal bila melihatnya dari sudut pandang untuk menguasai saru wilayah juga; karena memang tidak ada yang mengklaim wilayah itu, Kaum nomaden hanya melewatinya, jadi tidak ada pihak yang perlu dilawan. Tidak perlu membela diri terhadap apa pun.

“Tapi aku pernah melihat hal seperti ini sebelumnya, dan tidak ada penjelasan lain. Ada sepasukan vampir baru di Seattle. Kurang dari dua puluh, menurut perkiraanku. Sulitnya, mereka benar-benar tidak dilatih. Siapa pun yang menjadikan mereka, membiarkan mereka berkeliaran begitu saja. Ini hanya akan bertambah parah, dan tidak lama lagi, keluarga Volturi pasti akan turun tangan. Sebenarnya, aku justru heran mereka membiarkan masalah ini berlarut-larut begitu lama.”

“Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Carlisle.

“Kalau ingin menghindari keterlibatan keluarga Volturi, kira harus mengenyahkan vampir-vampir baru itu, dan kita harus melakukannya sesegera mungkin,” Wajah Jasper tampak keras. Setelah mengetahui riwayat hidupnya, aku bisa menduga evaluasi ini pasti sangat merisaukan pikirannya. “Aku bisa mengajari kalian caranya. Tidak mudah melakukannya di kota. Vampir-vampir muda ini tidak peduli apabila keberadaan mereka diketahui orang, tapi kita harus tetap berhati-hati. Itu membatasi gerak-gerik kita dalam beberapa hal, sementara mereka tidak. Mungkin kita bisa merayu mereka untuk keluar dari kota.”

“Mungkin itu tidak perlu.” Suara Edward muram, “Tidak terpikirkah oleh kalian bahwa satu-satunya ancaman yang mungkin ada dalam wilayah ini, yang membuat seseorang merasa perlu membentuk pasukan adalah kita sendiri?’

Mata Jasper menyipit; mata Carlisle membelalak, syok.

“Keluarga Tanya juga dekat,” kata Esme lambat-lambat, tidak bisa menerima perkataan Edward.

“Para vampir baru itu tidak mengacau di Anchorage, Esme. Menurutku, kita perlu mempertimbangkan pemikiran bahwa kitalah target mereka.”

“Mereka tidak mengincar kita,” Alice bersikeras, kemudian terdiam sejenak. “Atau… mereka tidak tahu kalau mereka mengincar kita. Belum.”

“Ada apa?” tanya Edward, ingin tahu sekaligus tegang. “Apa yang kauingat?”

“Kilasan-kilasan gambar.” jawab Alice. “Aku tidak bisa melihat dengan jelas kalau berusaha melihat apa yang sedang terjadi, sama sekali tidak konkret. Tapi aku sering mendapat potongan-potongan gambar yang aneh. Tidak cukup lengkap untuk bisa dicerna. Seolah-olah ada orang yang berubah pikiran, beralih dari satu tindakan ke tindakan lain begitu cepat sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas…”

“Bimbang?” tanya Jasper tak percaya.

“Entahlah…”

“Bukan bimbang.” geram Edward. “Tapi tahu. Seseorang yang tahu kau tidak bisa melihat apa-apa sampai suatu keputusan diambil. Seseorang yang bersembunyi dari kita. Bermain-main dengan celah dalam visimu.”

“Siapa yang tahu tentang hal itu?” bisik Alice.

Mata Edward sekeras es. “Aro mengenalmu sebaik kau mengenal dirimu sendiri.”

“Tapi aku pasti bisa melihatnya kalau mereka memutuskan untuk datang…”

“Kecuali mereka tidak ingin tangan mereka kotor.”

“Balas budi,” Rosalie memberi masukan, untuk pertama kalinya angkat bicara. “Seseorang di Selatan… seseorang yang sudah melanggar aturan, Seseorang yang seharusnya dihancurkan tapi diberi kesempatan kedua – asalkan mereka bersedia menangani persoalan kecil ini… Itu bisa menjelaskan respons keluarga Volturi yang terkesan lambat.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.