Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku berusaha untuk tidak melihat nama-nama yang tercantum di koran, tapi nama-nama itu tampak mencolok dibandingkan tulisan-tulisan lain, seolah-olah dicetak tebal. Lima orang yang hidupnya berakhir, yang keluargakeluarganya sedang berduka. Sulit menganggapnya sebagai pembunuhan biasa, setelah membaca nama-nama para korban. Maureen Gardiner, Geoffrey Campbell, Grace Razi, Michelle O’Connell, Ronald Albrook. Orang-orang yang mempunyai orangtua, anak, teman, hewan peliharaan, pekerjaan, harapan, cita-cita, kenangan, dan masa depan ….

“Aku tidak akan jadi seperti itu,” bisikku, setengahnya ditujukan pada diri sendiri. “Kau tidak akan jadi seperti itu. Kita akan tinggal di Antartika.”

Edward mendengus, memecahkan ketegangan. “Penguin. Bagus sekali.”

Aku tertawa lemah. dan menyingkirkan koran dari meja supaya tidak lagi melihat nama-nama para korban, benda itu membentur lantai linoleum dengan suara berdebum. Tentu saja Edward mempertimbangkan kemungkinan berburu. Ia dan keluarganya yang “vegetarian” – semua berkomitmen melindungi nyawa manusia – lebih menyukai rasa predator-predator besar untuk memenuhi kebutuhan mereka. “Alaska, kalau begitu, seperti yang sudah direncanakan. Hanya saja di tempat lain yang lebih terpencil lagi dibandingkan Juneau – yang banyak beruang grizzly-nya.”

“Itu lebih baik lagi.” ujar Edward. “Di sana juga ada beruang kutub. Ganas sekali. Dan serigala di sana juga besar-besar.”

Mulutku ternganga lebar dan napasku terkesiap dengan suara keras.

“Ada apa?” tanya Edward. Sebelum aku sempat pulih dari raut bingung di wajah Edward lenyap dan sekujur tubuhnya seolah mengeras. “Oh, Lupakan serigala kalau begitu, bila kau tidak bisa menerimanya.” Nadanya kaku, formal, bahunya tegang.

“Dia dulu sahabatku, Edward,” gumamku. Sakit rasanya mengatakan “dulu”. “Tentu saja aku tidak terima.”

“Maafkan kesembronoanku,” katanya, masih dengan sikap sangat formal. “Seharusnya aku tidak menyarankan itu.”

“Sudahlah, lupakan saja.” Kupandangi kedua tanganku yang mengepal di meja.

Kami terdiam beberapa saat, kemudian jari Edward yang dingin menyentuh bagian bawah daguku, menengadahkan wajahku. Ekspresinya jauh lebih lembut sekarang.

“Maaf. Sungguh.”

“Aku tahu. Aku tahu itu tidak sama, Seharusnya aku tidak bereaksi seperti itu . Hanya saja… well, aku memikirkan Jacob sebelum kau datang tadi.” Aku raguragu. Mata Edward yang cokelat kekuningan berubah agak gelap setiap kali aku menyebut nama Jacob. Melihat itu nada suaraku berubah memohon. “Kata Charlie, Jake sedang mengalami masa-masa sulit. Dia sedih sekarang, dan … itu salahku.”

“Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa, Bella.”

Aku menghela napas dalam-dalam. ‘Aku perlu memperbaikinya, Edward. Aku berutang budi padanya. lagi pula, itu salah satu syarat yang diajukan Charlie.”

Wajah Edward berubah sementara aku bicara, kembali mengeras, seperti patung.

“Kau tahu kau tak boleh berada di sekitar werewolf tanpa perlindungan, Bella. Dan, kami akan dianggap .melanggar kesepakatan bila memasuki tanah mereka. Memangnya kau mau terjadi perang?”

“Tentu saja tidak!”

“Kalau begitu, tak ada gunanya membicarakan masalah ini lebih jauh lagi.” Edward menjatuhkan tangannya dan berpaling, mencari topik lain untuk dibicarakan. Matanya terpaku pada sesuatu di belakangku, dan ia tersenyum, meski matanya tetap waswas.

“Aku senang Charlie memutuskan mengizinkanmu keluar – sungguh menyedihkan, kau benar-benar harus pergi ke toko buku. Aku tak percaya kau membaca Wuthering Heights lagi. Memangnya kau belum hafal luar kepala sekarang?”

“Tidak semua orang mempunyai ingatan fotografis,” tukasku pendek.

“Ingatan fotografis atau bukan, aku tidak mengerti kenapa kau menyukai buku itu. Karakter-karakternya adalah orang-orang menyebalkan yang saling menghancurkan hidup yang lain. Entah bagaimana ceritanya sampai Heathcliff dan Cathy disejajarkan dengan pasangan-pasangan seperti Romeo dan Juliet atau Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy. Itu bukan kisah cinta, tapi kisah benci.”

“Ternyata kau benar-benar tak suka novel-novel klasik,” balasku.

“Mungkin karena aku tidak terkesan dengan yang antikantik.” Edward tersenyum, puas karena berhasil mengalihkan pikiranku. “Jujur saja, kenapa kau sampai membacanya berulang kali?” Kini matanya hidup oleh rasa tertarik yang nyata, berusaha – lagi-lagi – menguraikan belitan pikiranku yang kusut. Ia mengulurkan tangan ke seberang meja untuk merengkuh wajahku. “Apa yang membuatmu tertarik?”

Keingintahuannya yang tulus membuatku tak berdaya. “Entahlah,” jawabku, dengan panik berusaha memfokuskan pikiran sementara tatapannya tanpa sengaja mengacau-balaukan pikiranku. “Mungkin karena ada unsur yang tidak bisa dihindari di dalamnya. Betapa tak ada satu hal pun bisa memisahkan mereka – tidak keegoisan Cathy, atau kekejaman Heathcliff, atau bahkan kematian, pada akhirnya…”

Wajah Edward tampak merenung saat mempertimbangkan kata-kataku. “Aku tetap berpendapat ceritanya bisa lebih bagus seandainya salah seorang saja di antara mereka memiliki kelebihan.”

“Menurutku justru itulah intinya,” sergahku tidak setuju.

“Cinta mereka adalah satu,satunya kelebihan yang mereka miliki.”

“Kuharap kau lebih punya akal sehat – tidak jatuh cinta pada orang yang begitu … kejam.”

“Sekarang sudah agak terlambat bagiku untuk khawatir kepada siapa aku jatuh cinta,” tukasku. “Tapi walau tanpa peringatan sekalipun, sepertinya aku baik-baik saja.”

Edward tertawa tenang. “Aku senang kau berpendapat begitu.”

“Well, mudah-mudahan kau cukup pintar untuk tidak dekat-dekat dengan orang yang begitu egois. Catherine-lah yang menjadi sumber segala masalah, bukan Heathcliff.”

“Aku akan waspada,” janjinya.

Aku mendesah. Edward benar-benar pandai mengalihkan pikiran.

Kuletakkan tanganku di atas tangannya yang memegang wajahku. “Aku harus menemui Jacob.”

Mata Edward terpejam. “Tidak.”

“Tidak berbahaya sama sekali,” kataku, memohonmohon lagi. “Dulu aku sering menghabiskan waktu seharian di La Push bersama mereka semua, dan tidak pernah terjadi apa-apa.” Tapi aku terpeleset; suaraku bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir, karena saat itu aku sadar itu bohong. Tidak benar tidak pernah terjadi apaapa. Sepotong kenangan berkelebat dalam ingatanku – seekor serigala abu-abu besar merunduk, siap menerkam, menyeringai memamerkan gigi-giginya yang menyerupai belati padaku – dan telapak tanganku berkeringat saat terkenang lagi kepanikanku waktu itu.

Edward mendengar detak jantungku yang mendadak cepat dan mengangguk, seolah-olah aku mengakui kebohonganku dengan suara lantang. “Werewolf tidak stabil. Kadang-kadang orang-orang di dekat mereka terluka. Bahkan terkadang ada yang sampai meninggal.”

Aku ingin membantah, tapi bayangan lain membuatku urung menyanggah. Dalam benakku aku melihat wajah Emily Young yang tadinya cantik, tapi sekarang hancur akibat tiga bekas luka berwarna gelap yang melintang dari sudut mata kanan hingga ke sisi kiri mulur, membuat wajahnya seperti merengut miring selama-lamanya.

Edward menunggu, ekspresinya muram namun penuh kemenangan, sampai aku bisa menemukan suaraku lagi.

“Kau tidak kenal mereka,” bisikku.

“Aku kenal mereka lebih baik daripada yang kaukira, Bella. Aku ada di sini saat peristiwa itu terakhir kali terjadi.”

“Terakhir kali?”

“Kami mulai bersinggungan dengan para werewolf kirakira tujuh puluh tahun yang lalu… Waktu itu kami baru mulai menetap di Hoquiam. Itu sebelum Alice dan Jasper bergabung. Jumlah kami lebih banyak daripada mereka, tapi itu tidak akan menghentikan pecahnya pertempuran seandainya bukan karena Carlisle. Dia berhasil meyakinkan Ephraim Black bahwa hidup berdampingan itu mungkin, dan akhirnya kami melakukan gencatan senjata.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.