Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku bergidik. “Tidak.”

“Kau ingin masuk kelas atau tidak hari ini? Ujian akhir tinggal beberapa hari lagi; tidak mungkin ada materi baru.”

“Kurasa aku bisa bolos satu hari. Kita mau melakukan apa?”

”Aku ingin bicara dengan Jasper.”

Jasper, lagi. Aneh. Di keluarga Cullen, Jasper selalu agak berada di pinggir, ia adalah bagian dari segalanya tapi tak pernah menjadi pusat segalanya. Aku punya asumsi sendiri ia hanya ada untuk Alice. Firasatku mengatakan, meski rela mengikuti Alice ke mana pun, namun gaya hidup ini bukanlah pilihan pertamanya. Fakta bahwa ia kurang berkomitmen pada gaya hidup ini ketimbang yang lain-lain mungkin menjadi alasan ia lebih sulit mengikutinya.

Bagaimanapun, aku tidak pernah melihat Edward merasa tergantung kepada Jasper. Aku jadi penasaran lagi, apa yang dimaksud Edward mengenai keahlian Jasper. Aku tidak tahu banyak tentang riwayat hidup Jasper, hanya bahwa ia berasal dari suatu tempat di selatan sebelum Alice menemukannya. Entah mengapa, Edward selalu mengelak bila ditanya tentang saudara lelaki terbarunya itu, Dan aku selalu merasa terintimidasi oleh vampir jangkung pirang mirip bintang film pendiam itu untuk menanyakannya secara langsung.

Sesampainya di rumah kami menemukan Carlisle, Esme, dan Jasper sedang tekun menyimak siaran berita, walaupun suaranya kecil sekali hingga aku tak bisa mendengar. Alice duduk di anak tangga paling bawah, bertopang dagu dengan ekspresi muram. Saat kami datang, Emmett melenggang keluar dari pintu dapur, terlihat sangat santai. Ia memang tak pernah memusingkan apa pun.

“Hai, Edward. Membolos, Bella?” Ia nyengir padaku.

“Kami sama-sama bolos,” Edward mengingatkannya. Emmett terbahak.

“Memang, tapi ini kan pertama kalinya Bella menjalani masa-masa SMA. Bisa saja dia kehilangan sesuatu.”

Edward memutar bola matanya, tapi tak menggubris saudara kesayangannya itu. Ia melemparkan koran ke arah Carlisle.

“Sudah baca bahwa polisi sekarang mempertimbangkan kemungkinan pelakunya pembunuh berantai?” tanyanya.

Carlisle mendesah. “Ada dua spesialis memperdebatkan kemungkinan itu di CNN sepanjang pagi ini.”

“Kita tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut.”

“Kita pergi saja sekarang,” seru Emmett, mendadak antusias. ”Aku bosan setengah mati.”

Suara desisan bergema di tangga dari lantai atas,

“Pesimis betul dia,” gerutu Emmett pada dirinya sendiri.

Edward sependapat, “Kita memang harus pergi suatu saat nanti.”

Rosalie muncul di puncak tangga dan turun pelan-pelan. Wajahnya mulus, tanpa ekspresi,

Carlisle menggeleng-gelengkan kepala. ”Aku khawatir. Kira tidak pernah melibatkan diri dengan hal semacam ini sebelumnya. Ini bukan urusan kita. Kita bukan keluarga Volturi.”

”Aku tidak mau keluarga Volturi sampai harus datang ke sini.” kata Edward. “Jika itu terjadi, kita tak punya banyak waktu untuk bereaksi.”

“Belum lagi manusia-manusia tak berdosa di Seattle sana,” imbuh Esme. “Tidak benar membiarkan mereka mati seperti ini.”

“Memang.” desah Carlisle.

“Oh.” sergah Edward tajam, memalingkan kepala sedikit untuk menatap Jasper. “Itu tidak terpikir olehku.

Jadi begitu. Kau benar, pasti itu. Well, semua jadi berubah kalau begitu.”

Bukan hanya aku yang memandangi Edward dengan sikap bingung, tapi mungkin hanya aku satu-satunya yang tidak terlihat sedikit jengkel.

“Kurasa ada baiknya kaujelaskan pada yang lain-lain,” saran Edward kepada Jasper. “Apa tujuannya?” Edward mulai berjalan mondar-mandir, memandangi lantai, hanyut dalam pikirannya sendiri.

Aku tidak melihatnya berdiri, tapi tiba-tiba Alice sudah ada di sampingku. “Apa yang diocehkan Edward?” tanyanya pada Jasper. “Apa yang sedang kaupikirkan?”

Jasper tampak risi menjadi pusat perhatian. Ragu-ragu, setelah mengamati wajah semua yang mengelilinginya – karena semua merubung untuk mendengarkan perkataannya – matanya kemudian tertuju padaku.

“Kau bingung,” katanya padaku, suaranya yang dalam sangat tenang.

Tidak ada nada bertanya dalam asumsinya. Jasper tahu apa yang kurasakan, apa yang dirasakan semua orang.

“Kira semua bingung,” gerutu Emmett.

“Kau punya waktu yang cukup untuk bersikap sabar,” kata Jasper pada Emmet. “Bella juga harus memahami hal ini. Dia sudah menjadi bagian dari kita sekarang.”

Kata-kata Jasper membuatku terkejut. Meski jarang sekali berurusan dengan Jasper, apalagi sejak ulang tahunku tempo hari waktu ia mencoba membunuhku, aku tidak mengira ia berpikir begitu mengenalku.

“Berapa banyak yang kauketahui tentang aku, Bella?” tanya Jasper.

Emmett mendesah sok dramatis, lalu mengempaskan diri ke sofa untuk menunggu dengan sikap tidak sabar yang dilebih-lebihkan.

“Tidak banyak,” aku mengakui.

Jasper menatap Edward, yang mendongak dan membalas tatapannya.

“Tidak,” Edward menjawab pikirannya. “Aku yakin kau bisa mengerti kenapa aku belum menceritakan hal itu padanya. Tapi kurasa dia perlu mendengarnya sekarang.”

Jasper mengangguk dengan sikap khidmat, kemudian mulai menggulung lengan sweter warna gading yang dipakainya.

Aku mengawasinya, ingin tahu dan bingung, berusaha memahami apa yang ia lakukan. Jasper memegang pergelangan tangannya di bawah kap lampu meja di sebelahnya, dekat bola lampu, dan jarinya menyusuri bekas luka berbentuk bulan sabit di kulitnya yang pucat.

Butuh waktu semenit untuk menyadari mengapa bentuk itu tampak tak asing di mataku.

“Oh,” desahku begitu tersadar, “Jasper, bekas lukamu mirip sekali dengan bekas lukaku.”

Aku mengulurkan tangan, bulan sabit keperakan itu terlihat lebih jelas di kulitku yang berwarna krem ketimbang di kulit Jasper yang sewarna pualam.

Jasper tersenyum samar. “Aku punya banyak bekas luka seperti bekas lukamu, Bella.”

Wajah Jasper tak terbaca saat ia menyingkapkan lengan sweter tipisnya lebih ke aras lagi. Awalnya mataku tidak mengenali tekstur tebal yang melapisi permukaan kulitnya. Mengingat warnanya yang putih di atas dasar putih, bentuk bulan sabit melengkung silang-menyilang dalam pola seperti bulu itu hanya bisa dilihat karena bantuan sinar terang lampu di sebelahnya. Tekstur itu jadi agak timbul seperti relief, dengan bayang-bayang pendek mengelilingi garisgaris luarnya. Kemudian aku terkesiap karena pola itu ternyata dibentuk bulan sabit seperti yang ada di pergelangan tangannya seperti yang ada di tanganku.

Kupandangi lagi bekas lukaku yang kecil dan sendirian – dan ingat bagaimana aku mendapatkannya. Kupandangi bentuk gigi James yang terukir selamanya di kulitku.

Kemudian aku terkesiap, mendongak menatap Jasper. “Jasper, apa yang terjadi padamu?”

 

13. VAMPIR BARU

“SAMA seperti yang terjadi pada tanganmu.” jawab Jasper tenang. “Dikalikan seribu.” Ia tertawa, tawanya sedikit sedih, Diusapnya lengannya. “Racun kami adalah satu-satunya yang meninggalkan bekas pada kami.”

“Kenapa?” Aku terkesiap ngeri, merasa lancang tapi tak sanggup mengalihkan pandangan dari kulitnya yang carutmarut.

“Aku tidak memiliki… latar belakang yang sama seperti saudara-saudara angkatku di sini. Awal-mulaku sama sekali berbeda.” Suaranya berubah keras saat ia selesai bicara.

Aku ternganga memandanginya, tercengang.

“Sebelum aku menceritakan riwayatku padamu,” kata Jasper, “kau harus paham di dunia kami juga ada tempattempat, Bella, di mana umur mereka yang tidak bisa menua di ukur dalam hitungan minggu, bukan abad.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.