Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Teng-teng-teng-teng, teng-teng-teng.” gumamku pelan. Sebenarnya aku bermaksud menyenandungkan mars pernikahan, tapi kedengarannya malah seperti nyanyian kematian.

Waktu terus berjalan terlalu cepat.

Malam itu berlalu tanpa diganggu mimpi, tiba-tiba hari sudah pagi dan had kelulusan membayang di depan mata. Ada setumpuk pelajaran yang harus kupelajari untuk ujian akhir, dan aku tahu aku bahkan tidak akan bisa menguasai setengahnya dalam beberapa hari yang tersisa.

Waktu aku turun untuk sarapan, Charlie sudah berangkat. Ia meninggalkan korannya di meja, dan itu membuatku teringat harus membeli sesuatu. Mudahmudahan saja iklan penjualan tiket konser masih ada; aku butuh nomor teleponnya untuk membeli tiket-tiket bodoh itu. Sepertinya sudah bukan hadiah istimewa lagi, karena tidak ada unsur kejutannya. Tentu saja, berusaha memberi kejutan untuk Alice bukanlah ide cemerlang.

Aku bermaksud langsung menuju bagian hiburan, tapi judul berita utama yang dicetak hitam tebal menarik perharianku. Hatiku bagai dicengkeram kengerian saat membungkuk dan membaca lebih saksama berita di halaman depan.

SEATTLE DITEROR PEMBANTAIAN

Belum sampai saru dekade berlalu sejak Seattle jadi medan perburuan bagi pembunuh berantai paling keji sepanjang sejarah Amerika Serikat. Gary Ridgway, yang dijuluki Pembunuh Green River, dijatuhi hukuman karena membunuh 48 wanita.

Dan kini, Seattle harus menghadapi kemungkinan menjadi tempat berdiam monster yang bahkan lebih kejam lagi.

Polisi tidak menyimpulkan serangkaian pembunuhan dan peristiwa orang hilang yang begitu sering terjadi akhir-akhir ini sebagai perbuatan pembunuh berantai. Paling tidak belum. Polisi enggan meyakini pembantaian sesadis ini merupakan hasil perbuatan satu orang. Itu berarti si pembunuh – bila, memang benar, pelakunya hanya satu orang – bertanggung jawab atas 39 pembunuhan dan kasus orang hilang yang saling berhubungan hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Sebagai perbandingan, 48 kasus pembunuhan yang dilakukan Ridgway dilakukan dalam kurun waktu 21 tahun. jika pembunuhan-pembunuhan ini bisa dikaitkan ke satu orang, ini akan jadi kasus pembantaian terbesar yang dilakukan seorang pembunuh berantai sepanjang sejarah Amerika.

Polisi cenderung lebih meyakini teori bahwa pembantaian ini dilakukan sekelompok orang. Teori ini didasari pada banyaknya korban, serta fakta bahwa tampaknya tidak ada pola khusus dalam pemilihan korban.

Dari Jack The Ripper hingga Ted Bundy, target pembunuhan berantai biasanya dihubungkan dengan kesamaan usia, gender, ras, atau kombinasi ketiganya. Sementara korban-korban kejahatan ini bervariasi, mulai dari pelajar cemerlang berusia 15 tahun Amanda Reed, hingga pensiunan tukang pos Omar Jenks berusia 67 tahun. Jumlah korbannya juga nyaris seimbang dalam hal jenis kelamin, yaitu 18 wanita dan 21 pria. Ras para korban pun bermacam-macam: Kaukasia, Afrika-Amerika, Hispanik, dan Asia.

Pilihan tampaknya dilakukan secara acak. Motifnya seolaholah membunuh tanpa alasan lain selain ingin membunuh jadi mengapa mesti mempertimbangkan ini sebagai kasus pembunuhan berantai?

Cukup banyak kesamaan dalam modus operandi untuk mencoret kemungkinan kejahatan-kejahatan tersebut tidak saling berhubungan. Setiap korban ditemukan dalam keadaan hangus terbakar hingga dibutuhkan catatan gigi untuk proses identifikasi. Ada indikasi digunakannya semacam zat akseleran, seperti bensin atau alkohol, untuk membakar mayat-mayat korban; namun sisa akseleran tak pernah ditemukan. Semua mayat korban dibuang begitu saja tanpa upaya menyembunyikannya.

Yang lebih mengerikan lagi, sebagian besar mayat menunjukkan bukti telah terjadinya kekerasan brutal – tulangtulang remuk, seperti diremukkan tekanan yang sangat kuat – yang oleh petugas forensik diyakini terjadi sebelum korban meninggal, walaupun kesimpulan tersebut sulit dipastikan kebenarannya, mengingat kondisi korban.

Kemiripan lain yang mengarah pada kemungkinan bahwa hal ini merupakan pembunuhan berantai: tidak ada bukti sedikit pun yang tertinggal di tubuh korban, kecuali mayat korban sendiri. Tidak ada sidik jari, tidak ada jejak ban ataupun rambut asing yang tertinggal. Juga tidak ada yang pernah melihat pelaku yang dicurigai dalam berbagai peristiwa orang hilang itu.

Kemudian peristiwa lenyapnya para korban itu sendiri sama sekali tidak dilakukan sembunyi-sembunyi. Tak seorang korban pun bisa dianggap sebagai sasaran empuk. Tidak ada yang lari dari rumah atau menggelandang di jalanan, yang mudah hilang dan jarang dilaporkan sebagai orang hilang. Para korban lenyap dari rumah mereka, dari apartemen lantai empat, dan klub kebugaran, dari resepsi pernikahan. Mungkin yang paling mencengangkan: petinju amatir berusia 30 tahun, Robert Walsh, datang ke bioskop bersama teman kencannya; beberapa menit setelah film diputar, wanita tersebut sadar korban sudah tak ada lagi di kursinya. Jenazahnya ditemukan tiga jam kemudian setelah regu pemadam kebakaran dipanggil ke lokasi terbakarnya tempat pembuangan sampah, 32 kilometer dari bioskop,

Pola lain yang ditemukan dalam pembantaian itu: semua korban hilang pada malam hari.

Dan pola apakah yang paling menakutkan? Kecepatan. Enam di antaranya dilakukan pada bulan pertama, 11 pada bulan kedua. Dua puluh dua terjadi dalam kurun waktu 10 hari terakhir. Dan polisi belum juga menemukan pihak yang bertanggung jawab sejak jenazah hangus pertama ditemukan.

Bukti-bukti yang ada saling bertentangan, bagian-bagiannya mengerikan. Geng baru yang kejam atau pembunuh berantai yang terlalu aktif? Atau hal lain yang belum terpikirkan polisi?

Hanya saru kesimpulan yang tak terbantahkan lagi: sesuatu yang mengerikan mengintai Seattle.

Aku sampai harus membaca kalimat terakhir tiga kali, dan sadarlah aku itu karena tanganku gemetar.

“Bella?”

Walaupun sedang berkonsentrasi, suara Edward, meski tenang dan sudah bisa diduga kehadirannya, tetap saja membuatku terkesiap dan membalikkan badan dengan cepat.

Edward bersandar di ambang pintu, alisnya bertaut, Kemudian tiba-tiba saja ia sudah berada di sisiku, meraih tanganku.

“Aku membuatmu kaget, ya? Maaf Padahal aku tadi sudah mengeruk pintu…”

“Tidak, tidak.” aku buru-buru menjawab, “Kau sudah melihat ini?” Kutunjuk koran itu.

Kening Edward berkerut.

“Aku belum membaca berita hari ini. Tapi aku tahu keadaannya makin parah. Kami harus melakukan sesuatu secepatnya.”

Aku tidak suka mendengarnya. Aku tidak suka mereka mengambil risiko, dan apa pun atau siapa pun yang ada di Seattle benar-benar mulai membuatku ngeri. Tapi membayangkan keluarga Volturi datang juga sama mengerikannya.

“Apa kata Alice?”

“Itulah masalahnya,” Kerutan di kening Edward mengeras, “Dia tidak bisa melihat apa-apa.. walaupun kami sudah berkali-kali menetapkan pikiran untuk mengeceknya. Dia mulai merasa tidak percaya diri. Dia merasa terlalu banyak hal luput dari perhatiannya belakangan ini, takut kalau-kalau ada yang tidak beres. Bahwa mungkin kemampuan visinya mulai hilang.”

Mataku membelalak. “Bisakah itu terjadi:?”

“Siapa tahu? Tidak ada yang pernah meneliti… tapi aku benar-benar meragukannya. Hal-hal ini cenderung semakin intensif seiring berjalannya waktu. Lihat saja Aro dan Jane.”

“Kalau begitu apa masalahnya?”

“Ramalan yang digenapi dengan sendirinya, kurasa. Karena kita menunggu-nunggu Alice melihat sesuatu supaya kita bisa pergi tapi dia tidak melihat apa-apa karena kira tidak benar-benar pergi sampai dia melihat sesuatu. Jadi dia tidak melihat kita di sana. Mungkin kita harus melakukannya begitu saja.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.