Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Seandainya ada cara supaya aku bisa menjadi manusia untukmu – tak peduli apa pun risikonya, aku rela menanggungnya.”

Aku duduk diam tak bergerak, menyerap semua itu.

Edward merasa dirinya egois.

Aku merasa senyumku pelan-pelan merekah.

“Jadi… bukan karena kau takut kau tidak akan menyukaiku sebesar sekarang setelah aku berubah nanti – kalau tubuhku tak lagi lunak dan hangat dan bauku tak lagi sama? Kau benar-benar mau mempertahankanku, tak peduli bagaimanapun jadinya aku nanti?”

Edward mengembuskan napas keras-keras, “Kau khawatir aku tidak akan menyukaimu?” tuntutnya. Kemudian, belum sempat aku menjawab, tawanya sudah meledak. “Bella, untuk ukuran orang yang sangat intuitif kau bisa begitu konyol!”

Aku tahu Edward pasti menganggapku konyol, rapi aku lega. Kalau ia benar-benar menginginkanku, aku pasti sanggup melewati sisanya… entah bagaimana caranya. Egois tiba-tiba terasa bagaikan kata yang indah.

“Kukira kau tidak sadar betapa lebih mudahnya itu bagiku, Bella,” kata Edward, masih terdengar secercah nada humor dalam suaranya, “kalau aku tidak perlu berkonsentrasi setiap saat agar tidak membunuhmu. Jelas, aku pasti akan kehilangan beberapa hal. Salah satunya ini…”

Ia menatap mataku sambil membelai pipiku, dan aku merasakan darah mengalir cepat dan membuat kulitku merah padam. Edward tertawa lembut.

“Dan mendengar detak jantungmu,” sambungnya, lebih serius tapi tetap tersenyum kecil, “Itu suara paling signifikan di duniaku. Aku sudah sangat terbiasa mendengarnya sekarang, aku bahkan bisa mendengarnya dari jarak beberapa kilometer. Tapi hal-hal itu tidak berarti. Ini,” ujarnya, merengkuh wajahku dengan kedua tangan. “Kau. Itulah yang kupertahankan. Kau tetap Bella-ku, hanya sedikit lebih kuat.”

Aku mendesah dan membiarkan mataku terpejam karena senang, meletakkan wajahku di tangannya.

“Sekarang, maukah kau menjawab pertanyaanku? Sejujurnya, tanpa menghiraukan perasaanku?” tanya Edward.

“Tentu saja,” jawabku langsung, mataku terbuka lebar karena kaget. Apa yang ingin ia ketahui?

Edward berbicara lambat-lambat. “Kau tidak mau menjadi istriku.”

Jantungku berhenti berdetak, dan sejurus kemudian berpacu cepat. Keringat dingin merembes di tengkuk dan kedua tanganku berubah menjadi es.

Edward menunggu, mengawasi, dan mendengarkan reaksiku.

“Itu bukan pertanyaan,” bisikku akhirnya.

Edward menunduk, bulu matanya memantulkan bayangan panjang di tulang pipinya. Ia menurunkan tangannya dari wajahku dan meraih tangan kiriku yang membeku. Ia memainkan jari-jariku sambil bicara.

“Aku khawatir kenapa kau merasa seperti itu.”

Aku mencoba menelan ludah. “Itu juga bukan pertanyaan,” bisikku.

“Please, Bella?”

“Sejujurnya?” tanyaku, hanya bisa menggerakkan mulutku tanpa suara.

“Tentu saja. Aku bisa menerimanya, apa pun itu.”

Aku menghela napas dalam-dalam, “Kau pasti akan menertawakanku.”

Edward menatapku, syok. “Menertawakan? Sulit membayangkannya.”

“Lihat saja nanti.” gumamku, lalu mendesah. Wajahku berubah dari putih ke merah padam karena perasaan malu yang tiba-tiba muncul. “Oke, baiklah! Aku yakin kedengarannya akan seperti lelucon besar bagimu, tapi ini benar! Ini sangat… sangat… sangat memalukan? Aku mengakui, dan menyembunyikan wajahku di dadanya lagi.

Sejenak tidak ada yang mengatakan apa-apa.

“Aku tidak mengerti.”

Aku mendongak dan menatapnya garang, perasaan malu membuatku menyampaikan maksudku dengan pedas dan sengit.

“Aku bukan gadis seperti itu, Edward. Yang langsung menikah begitu lulus SMA, seperti gadis kota kecil kampungan yang hamil di luar nikah! Tahukah kau bagaimana pikiran orang nanti? Sadarkah kau abad berapa sekarang? Tak ada orang yang menikah pada umur delapan belas sekarang! Bukan orang-orang yang cerdas, bertanggung jawab, dan matang! Aku tidak mau menjadi seperti itu! Aku tidak seperti itu…” Kata-kataku menghilang, kehilangan kegarangannya.

Wajah Edward tak terbaca saat ia mencoba mencerna jawabanku.

“Hanya itu?” tanyanya akhirnya.

Aku mengerjapkan mata. “Apa itu belum cukup?”

“Jadi bukan karena kau.. lebih bersemangat memperoleh keabadian daripada hanya mendapatkan aku?”

Kemudian, walaupun tadinya aku mengira Edward akan tertawa, mendadak justru akulah yang tertawa histeris.

“Edward!” Aku megap-megap kehabisan napas di selasela tawaku. “Ya ampun… padahal aku… mengira… kau… jauh… lebih cerdas daripada aku!”

Edward meraihku dalam pelukannya, dan aku bisa merasakan ia tertawa bersamaku.

“Edward,” kataku, berusaha berbicara lebih jelas, “tidak ada gunanya hidup selamanya tanpa kau. Aku tidak mau hidup satu hari pun tanpa kau.”

“Well, lega mendengarnya,” kata Edward.

“Meski begitu… tetap saja itu tidak mengubah apa-apa.”

“Tapi senang rasanya bisa memahaminya. Dan aku bisa memahami sudut pandangmu, Bella, sungguh. Tapi aku benar-benar sangat senang kalau kau mau mencoba mempertimbangkan sudut pandangku.”

Aku sudah kembali tenang, jadi aku pun mengangguk dan berusaha keras menghapus kerutan di keningku.

Mata emas cair Edward menatapku lekat-lekat, membuatku merasa seperti dihipnotis.

“Begini, Bella, sejak dulu aku sudah menjadi laki-laki itu. Dalam duniaku, aku sudah dewasa, Aku tidak mencari cinta – tidak, saat itu aku terlalu bersemangat menjadi prajurit hingga tidak peduli pada cinta, aku tidak memikirkan yang lain selain betapa mulianya terjun ke medan perang seperti yang selalu mereka dengungdengungkan terhadap para calon tentara yang mendaftar – tapi seandainya aku menemukan…” Edward terdiam sejenak, menelengkan kepala ke satu sisi. “Aku tadi hendak mengatakan seandainya aku menemukan seseorang, tapi itu tidak tepat. Seandainya aku menemukanmu, tidak ada keraguan dalam pikiranku bagaimana aku memulainya. Aku laki-laki itu, yang – begitu mengetahui kaulah orang yang kucari – akan langsung berlutut dan melamarmu. Aku pasti menginginkanmu untuk selama-lamanya, bahkan saat kata itu tidak memiliki arti yang sama.”

Edward menyunggingkan senyum miringnya padaku.

Kutatap dia dengan mata membelalak lebar.

“Tarik napas, Bella,” ia mengingatkanku sambil tersenyum.

Aku menarik napas.

“Bisakah kau melihat dari sisiku, Bella, walaupun sedikit saja?”

Dan sejenak aku bisa. Aku melihat diriku dalam balutan gaun panjang dan blus renda-renda berleher tinggi, dengan rambut disanggul tinggi-tinggi. Aku melihat Edward tampak tampan dalam setelan jas warna terang, memegang buket bunga-bunga liar, duduk berdampingan denganku di ayunan teras.

Aku menggeleng dan menelan ludah. Aku baru saja melihat kilas balik seperti dalam novel Anne of Green Gables.

“Masalahnya, Edward,” kataku dengan suara gemetar, menghindari pertanyaannya, ”dalam pikiranku, pernikahan dan selamanya tidak selalu berkaitan. Dan berhubung saat ini kita hidup di duniaku, mungkin sebaiknya kira ikuti saja zaman ini, kalau kau mengerti maksudku.”

“Tapi di lain pihak.” tukas Edward, “sebentar lagi kau akan meninggalkan konsep waktu untuk selama-lamanya. Jadi kenapa kebiasaan fana sebuah kebudayaan lokal harus sangat memengaruhi keputusanmu?”

Aku mengerucutkan bibir, “Kau harus beradaptasi dengan kebudayaan setempat, Edward.”

Edward menertawakanku. “Kau tidak perlu mengatakan ya atau tidak hari ini, Bella. Tapi ada baiknya kita memahami dua sudut pandang yang berbeda, bukankah begitu menurutmu?”

“Jadi syaratmu…?”

“Masih berlaku. Aku bisa memahami sudut pandangmu, Bella, tapi kalau kau mau aku sendiri yang mengubahmu….”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.