Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Alice mengerutkan kening padaku.

“Bella,” ucapnya. “Kau tahu sekarang hari apa?”

“Senin?”

Alice memutar bola mata. “Ya. Sekarang hari Senin… tanggal empat.” Ia menyambar sikuku, memutar tubuhku setengah lingkaran, dan menuding poster kuning besar yang ditempel di pintu gimnasium. Di sana, dalam huruf-huruf hitam terang, tertulis tanggal kelulusan. Tepat satu minggu dari hari ini.

“Sekarang tanggal empat? Bulan Juni? Kau yakin?”

Tak seorang pun menjawab. Alice hanya menggeleng sedih, pura-pura kecewa, dan alis Edward terangkat.

“Tidak mungkin! Bagaimana itu bisa terjadi?” Dalam hati aku menghitung mundur, tapi tidak mengerti bagaimana hari-hari bisa berlalu secepat itu.

Aku merasa seakan-akan ada yang menendang kakiku dan jatuh tersungkur. Berminggu-minggu aku stres dan khawatir… dan entah bagaimana di tengah segala obsesiku memikirkan waktu, waktuku malah lenyap begitu saja. Kesempatanku membereskan semuanya, menyusun rencana, habis sudah. Aku kehabisan waktu.

Dan aku belum siap.

Aku tak tahu bagaimana melakukannya. Bagaimana mengucapkan selamat berpisah kepada Charlie dan Renee… kepada Jacob… kepada kondisiku sebagai manusia.

Aku tahu persis apa yang kuinginkan, tapi tiba-tiba saja aku takut menggapainya.

Teorinya, aku sangat ingin, bahkan bersemangat menukar ketidakabadian dengan keabadian. Bagaimanapun, itu kunci agar bisa bersama Edward selamanya. Apalagi ada fakta aku diburu berbagai pihak, baik yang dikenal maupun tidak. Aku lebih suka tidak duduk berpangku tangan, tidak berdaya dan menggiurkan, menunggu salah seorang dari mereka berhasil menangkapku.

Teorinya, semua itu masuk akal,

Prakteknya… yang kutahu hanyalah menjadi manusia. Masa depan di luar sana ibarat sumur dalam dan gelap yang takkan kuketahui dasarnya sampai aku melompat ke dalamnya.

Pengetahuan sederhana seperti tanggal hari ini, misalnya yang kentara sekali oleh alam bawah sadarku berusaha kuabaikan – membuat tenggat waktu yang begitu kutunggutunggu terasa bagaikan tanggal untuk menghadapi regu tembak.

Samar-samar aku menyadari Edward membukakan pintu mobil untukku, Alice berceloteh di kursi belakang, juga suara hujan menderu menerpa kaca depan. Edward sepertinya menyadari hanya tubuhku yang ada di sana; ia tidak berusaha menggugahku dari lamunan. Atau mungkin ia sudah berusaha, tapi aku tidak menggubrisnya.

Sesampainya di rumahku, Edward membimbingku ke sofa dan mendudukkanku di sampingnya. Aku memandang ke luar jendela, ke kabut kelabu cair, dan berusaha menemukan lagi ketetapan hariku yang lenyap entah ke mana. Kenapa sekarang aku justru panik? Aku sudah tahu tenggat waktunya sebentar lagi tiba. Kenapa aku harus ketakutan jika saat itu benar-benar tiba?

Entah berapa lama Edward membiarkanku menerawang ke luar Jendela sambil berdiam diri. Tapi setelah hujan lenyap ditelan malam, akhirnya ia tak tahan lagi.

Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangannya yang dingin, dan menatapku lekat-lekat dengan mata emasnya.

“Maukah kau memberitahuku apa yang sedang kaupikirkan? Sebelum aku jadi gila?”

Apa yang bisa kukatakan padanya? Bahwa aku pengecut? Aku mencari-cari kata yang tepat.

“Bibirmu pucat. Bicaralah, Bella.”

Aku mengembuskan napas besar-besar. Sudah berapa lama aku menahan napas?

“Tanggal itu membuatku kaget,” bisikku. “Itu saja.”

Edward menunggu, wajahnya sarat kekhawatiran dan tampak skeptis.

Aku mencoba menjelaskan. “Aku tidak yakin harus melakukan apa… harus mengatakan apa kepada Charlie… apa yang harus dikatakan bagaimana…

Suaraku menghilang.

“Jadi bukan masalah pesta?”

Aku mengerutkan kening. “Bukan. Tapi terima kasih karena mengingarkanku.”

Hujan terdengar semakin keras saat Edward menilik wajahku. .

“Kau belum siap,” bisiknya.

“Sudah,” aku langsung berbohong, reaksi yang sangat spontan. Kentara sekali Edward tidak percaya, jadi au menarik napas dalam-dalam, dan mengatakan hal sebenarnya. “Aku harus siap.”

“Kau tidak harus melakukan apa-apa.”

Bisa kurasakan kepanikan muncul dalam tatapanku saat aku menyebut alasan-alasannya tanpa suara. “Victoria, Jane, Caius, siapa pun dia, masuk ke kamarku,..!”

“Itu justru alasan untuk menunggu.”

“Itu tidak masuk akal, Edward!”

Edward menempelkan tangannya lebih erat lagi di wajahku dan sengaja berbicara lambat-lambat.

“Bella. Tak seorang pun dari kami punya pilihan. Kau sudah tahu akibatnya… bagi Rosalie terutama. Kami berjuang dengan susah payah, berusaha berdamai dengan diri sendiri untuk sesuatu yang tak bisa kami kendalikan.

Aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu. Kau harus punya pilihan.”

“Aku sudah menetapkan pilihan.”

“Kau tidak boleh mengambil keputusan hanya karena ada pedang diacungkan di atas kepalamu. Kami akan membereskan masalah itu, dan aku akan menjagamu.” Edward bersumpah. “Kalau kita sudah bisa mengatasinya, dan tidak ada yang memaksamu mengambil keputusan, barulah kau bisa memutuskan untuk bergabung denganku, kalau kau masih menginginkannya. Tapi tidak saat kau takut. Kau tidak boleh melakukannya dengan terpaksa.”

“Carlisle sudah berjanji,” gumamku, berlawanan dengan kebiasaan. “Setelah kelulusan.”

“Tidak sampai kau siap,” tukas Edward mantap. “Dan jelas tidak saat kau merasa terancam.”

Aku tidak menyahut. Aku malas berdebat; rasanya aku tak bisa menemukan komitmenku saat itu.

“Sudahlah,” Edward mengecup keningku. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Aku tertawa lemah. “Tidak ada kecuali kiamat yang sebentar lagi datang”

“Percayalah padaku.”

“Aku percaya.”

Edward masih mengawasi wajahku, menungguku rileks.

“Boleh kutanyakan sesuatu?” tanyaku.

“Apa saja.”

Aku ragu-ragu, menggigit bibir, kemudian mengajukan pertanyaan lain yang selama ini kukhawatirkan.

“Memangnya aku akan memberi hadiah apa untuk kelulusan Alice?”

Edward terkekeh. “Kelihatannya kau akan membelikan tiket konser untuk kami berdua…”

“Ya, benar!” Aku lega sekali, nyaris tersenyum. “Konser di Tacoma. Aku melihat iklannya di koran minggu lalu, dan kupikir kalian pasti suka kalau kuberi hadiah tiket konser, karena katamu CD-nya bagus.”

“Ide yang bagus sekali. Terima kasih.”

“Mudah-mudahan saja tiketnya belum habis terjual.”

“Yang penting niatnya. Soal itu aku pasti tahu.”

Aku mendesah.

“Ada hal lain yang ingin kautanyakan.” kata Edward. Keningku berkerut, “Kau hebat.”

“Aku banyak berlatih membaca wajahmu. Tanyakan padaku.”

Aku memejamkan mata dan mencondongkan tubuh kepadanya, menyembunyikan wajahku di dadanya. “Kau tidak mau aku menjadi vampir.”

“Memang tidak,” kata Edward lirih, kemudian menunggu. “Itu bukan pertanyaan.” desaknya beberapa saat kemudian.

“Well… aku khawatir tentang… kenapa kau merasa seperti itu.”

“Khawatir?” Edward mengulangi kata itu dengan kaget.

“Maukah kau menjelaskan kepadaku kenapa? Sejujurnya, tanpa menghiraukan perasaanku?”

Edward ragu-ragu sejenak. “Kalau aku menjawab pertanyaanmu, maukah kau menjelaskan pertanyaanmu?”

Aku mengangguk, wajahku masih tersembunyi di dadanya.

Edward menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Kau bisa melakukan jauh lebih baik daripada ini, Bella. Aku tahu kau percaya aku punya jiwa, tapi aku tidak sepenuhnya yakin akan hal itu, jadi mempertaruhkan jiwamu…” Edward menggeleng lambat-lambat, “Bagiku, mengizinkan hal ini – membiarkanmu menjadi seperti aku hanya supaya aku takkan pernah kehilanganmu – adalah tindakan paling egois yang bisa kubayangkan. Aku sangat menginginkannya, lebih daripada apa pun, untuk diriku sendiri. Tapi untukmu, aku menginginkan lebih dari itu. Menuruti kemauanmu – rasanya seperti melakukan kejahatan. Itu hal paling egois yang pernah kulakukan, bahkan bila aku hidup selamanya.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.