Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Kemudian tampak gerakan di tengah kegelapan, tepat di sebelahku. Edward menyelinap masuk melalui jendela kamarku yang terbuka, tangannya lebih dingin daripada hujan.

”Apakah Jacob ada di luar sana?” tanyaku, tubuhku gemetar saat Edward meraihku ke dalam pelukannya.

“Ya… di suatu tempat. Dan Esme sedang dalam perjalanan pulang.”

Aku mendesah. “Cuaca sangat dingin dan basah. Ini konyol.” Lagi-lagi aku gemetaran.

Edward terkekeh. “Yang merasa dingin hanya kau, Bella.”

Dalam mimpiku malam itu, hawa juga dingin, mungkin karena aku tidur dalam pelukan Edward. Tapi dalam mimpiku, aku berada di luar di tengah badai, angin melecut rambutku ke wajah dan membutakan mataku. Aku berdiri di pantai First Beach yang melengkung bagai bulan sabit dan berbatu-batu, berusaha memahami bentuk-bentuk yang bergerak cepat, yang hanya bisa kulihat samar-samar dalam gelap di pinggir pantai. Awalnya tidak ada apa-apa kecuali sekelebat warna putih dan hitam, saling melesat menghampiri dan menari menjauh. Kemudian, seolah-olah bulan mendadak muncul dari balik awan-awan, aku bisa melihat semuanya.

Rosalie, dengan rambut menjuntai basah dan keemasan hingga ke belakang lututnya, menerjang ke arah serigala raksasa-moncongnya berkelebat keperakan-yang seketika itu juga kukenali sebagai Billy Black.

Aku berlari kencang, tapi sungguh membuat frustrasi, ternyata aku hanya bisa berlari sangat pelan, seperti dalam gerak lambat. Aku berusaha berteriak pada mereka, meminta mereka berhenti, tapi suaraku diterbangkan angin, dan aku tak sanggup bersuara. Aku melambai-lambaikan kedua lengan, berharap bisa menarik perhatian mereka. Sesuatu berkelebat di tanganku, dan untuk pertama kali baru aku menyadari tangan kananku memegang sesuatu.

Aku memegang pisau panjang dan tajam, kuno dan berwarna perak, bilahnya ternoda darah kering yang telah menghitam.

Aku mengernyit ngeri melihat pisau itu, dan mataku mendadak terbuka, melihat kegelapan yang tenang di kamarku. Hal pertama yang kusadari adalah aku tidak sendirian, dan aku berpaling untuk membenamkan wajahku ke dada Edward, tahu wangi kulitnya pasti akan mengusir mimpi buruk itu jauh-jauh, lebih efektif daripada hal lain.

“Aku membuatmu terbangun, ya?” bisik Edward. Terdengar suara kertas, seperti gemersik halaman, disusul kemudian dengan suara berdebum pelan, seolah-olah ada benda ringan membentur lantai kayu.

“Tidak.” gumamku, mendesah senang saat lengan Edward memelukku erat. Aku tadi bermimpi buruk.”

“Mau menceritakannya padaku?”

Aku menggeleng. “Terlalu capek. Mungkin besok pagi, kalau ingat.”

Aku merasakan tawa tanpa suara mengguncang tubuh Edward.

“Besok pagi.” Edward setuju.

“Kau sedang membaca apa?” gumamku, belum sepenuhnya terbangun.

“Wuthering Heights,” jawab Edward.

Aku mengerutkan kening walaupun masih mengantuk. “Katamu kau tidak suka buku itu.”

“Kau meninggalkannya di sini.” bisik Edward. suara lembutnya membuaiku kembali ke ketidaksadaran. “Lagi pula… semakin sering aku menghabiskan waktu denganmu, semakin banyak emosi manusia yang sepertinya bisa kupahami. Ternyata aku bisa bersimpati pada Heathcliff dalam hal-hal yang sebelumnya kupikir pasti mustahil.”

“Mmm.” desahku.

Ia mengatakan sesuatu yang lain, suaranya pelan, tapi aku sudah kembali pulas.

Esok paginya cuaca kelabu putih dan tenang. Edward menanyakan mimpiku, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Yang kuingat hanyalah bahwa aku kedinginan, dan bahwa aku senang ia ada di sana waktu aku bangun. Edward menciumku, cukup lama untuk membuatku detak nadiku berpacu, kemudian pulang untuk berganti baju dan mengambil mobilnya.

Aku cepat-cepat berpakaian, tak punya banyak pilihan.

Siapa pun yang mengacak-acak keranjang pakaian kotor berhasil merusak koleksi bajuku. Seandainya tidak mengerikan, situasi ini pasti sangat menjengkelkan.

Aku baru hendak turun untuk sarapan waktu mataku tertumbuk pada novel Wuthering Heights-ku yang sudah lusuh, tergeletak dalam posisi terbuka di lantai tempat Edward menjatuhkannya semalam, jilidnya yang sudah rusak tidak pernah mau menutup sendiri, sehingga bagian yang terakhir kali dibacanya tetap terbuka, seperti yang selalu terjadi setiap kali aku habis membaca buku itu.

Ingin tahu, aku memungut buku itu, berusaha mengingat perkataan Edward semalam. Kalau tidak salah ia bersimpati pada Heathcliff, aneh sekali. Itu pasti tidak benar; aku pasti hanya memimpikan bagian itu.

Mataku tertumbuk pada dua kata di halaman yang terbuka itu, dan aku menundukkan untuk membaca paragraf itu lebih saksama. Itu bagian di mana Heathcliff berbicara, dan aku sangat mengenal kalimat itu,

Dan bisa kulihat perbedaan di antara perasaan kami, seandainya ia berada dalam posisiku,walaupun aku sangat membencinya dengan kebencian yang mengubah hidupku menjadi empedu, aku tidak akan pernah mencelakakannya. kau mungkin tidak percaya itu, terserah kau! Aku tidak akan melenyapkan lelaki itu dari lingkungan si wanita selama si wanita masih menginginkannya. Begitu si wanita tidak menghendakinya lagi, aku akan mengoyak jantungnya dan meminum darahnya! Tapi hingga saat itu datang, kalau kau tidak percaya padaku, berati kau tidak kenal aku, hingga saat itu, lebih baik aku mati daripada menyentuh rambutnya sehelaipun.

Dua kata yang menarik perhatianku adalah “meminum darahnya”.

Aku bergidik.

Ya, jelas aku pasti hanya bermimpi mendengar Edward memberi komentar positif tentang Heathcliff. Dan halaman ini mungkin bukan halaman yang dibacanya semalam. Bisa saja buku ini terbuka di halaman ini secara tidak sengaja waktu terjatuh semalam.

 

12. WAKTU

“AKU meramalkan…,” Alice berkata dengan nada mengerikan.

Edward menyikut rusuk Alice, yang dengan tangkas berhasil dielakkannya.

“Baiklah,” gerutu Alice. “Edward memaksaku melakukannya. Tapi aku memang meramalkan bahwa kau akan bersikap lebih sulit kalau aku mengagetkanmu.”

Saat itu kami sedang berjalan ke mobil usai sekolah, dan aku benar-benar tidak mengerti apa yang diocehkan Alice.

“Bisa mengatakannya dalam bahasa Inggris?” pintaku.

“Jangan rewel seperti bayi menyikapi ini, Tidak boleh marah-marah.”

“Sekarang aku benar-benar takut.”

“Jadi kau – maksudku kita – akan menyelenggarakan pesta kelulusan. Bukan hal besar. Tidak perlu takut, Tapi aku sudah melihat kau bakal mengamuk kalau aku menjadikannya pesta kejutan” – Alice menari-nari menghindar saat Edward mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambutnya-” tapi kata Edward, aku harus memberitahumu dulu. Pestanya kecil-kecilan kok. Janji.”

Aku mengembuskan napas berat. “Memang ada gunanya membantah?”

“Sama sekali tidak.”

“Oke, Alice. Aku akan datang. Dan aku pasti akan membenci setiap menitnya. Janji.”

“Nah, begitu dong! Omong-omong, aku sangat menyukai

hadiahku. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot.”

“Alice, aku tidak memberimu hadiah apa-apa!”

“Oh, aku tahu kok. Tapi kau akan memberiku hadiah.”

Aku memutar otak panik, berusaha mengingat-ingat aku

pernah memutuskan memberi hadiah kelulusan apa untuk Alice, yang mungkin dilihatnya.

“Luar biasa.” gumam Edward. “Bagaimana bisa orang sekecil kau jadi sangat menjengkelkan?”

Alice tertawa, “Itu bakat namanya.”

“Tidak bisa ya, menunggu beberapa minggu sebelum menceritakan padaku soal ini?” tanyaku masam. “Sekarang aku akan stres lebih lama.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.