Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kelompok yang lebih besar datang, dan kakek buyut kalian bersiap-siap bertarung untuk mengusir mereka. Tapi pemimpin mereka berbicara dengan Ephraim Black seolaholah dia manusia, dan berjanji tidak akan mencelakakan suku Quileute. Mata kuningnya yang aneh menjadi bukti ucapannya bahwa mereka tidak sama dengan para peminum darah lain. Jumlah serigala kalah banyak dibanding jumlah mereka; makhluk-makhluk dingin itu tidak perlu menawarkan kesepakatan karena mereka sebenarnya bisa memenangkan pertarungan. Ephraim setuju. Mereka menepati janji mereka, walaupun kehadiran mereka cenderung menarik yang lain-lain untuk datang.

“Dan jumlah mereka memaksa munculnya kawanan yang lebih besar daripada yang pernah dilihat suku ini.” lanjut Quil Tua, dan sejenak, mata hitamnya yang tersembunyi di balik lipatan-lipatan keriput, seolah tertuju padaku. “Kecuali, tentu saja, pada masa Taha Aki,” ujarnya. kemudian mendesah. “Karena itu, anak-anak lelaki suku kita lagi-lagi harus menanggung beban dan harus berkorban sebagaimana halnya ayah-ayah mereka dulu.”

Semua terdiam untuk waktu yang lama. Para keturunan hidup dari kemampuan magis dan legenda berpandangan

saru sama lain di sekeliling api unggun, kesedihan membayang di mata mereka. Semua kecuali satu.

“Beban,” dengus orang itu dengan suara rendah. “Menurutku ini justru keren” Bibir bawah Quil yang tebal sedikit mencebik.

Di seberang api unggun yang mulai meredup, Seth Clearwater – matanya membelalak karena kekaguman terhadap para pelindung suku – mengangguk setuju.

Billy terkekeh, tawanya rendah dan panjang, dan suasana magis seakan memudar seiring dengan bara api yang semakin meredup. Tiba-tiba kelompok ini kembali menjadi lingkaran teman, Jared melemparkan kerikil ke arah Quil, dan semua tertawa saat batu itu membuatnya melompat kaget. Obrolan pelan berdengung di sekeliling kami, menggoda dan santai.

Mata Leah Clearwater terap terpejam. Rasanya aku melihat sesuatu berkilau di pipinya seperti air mata, tapi waktu aku menoleh kembali sejurus kemudian, kilauan itu sudah lenyap.

Baik aku maupun Jacob tidak berbicara. Tubuhnya diam tak bergerak di sampingku, tarikan napasnya dalam dan teratur, dan kupikir dia pasti sudah hampir tertidur,

Pikiranku berkelana jauh sekali. Aku tidak memikirkan Yaha Uta atau serigala-serigala lain, atau si Wanita Dingin yang cantik jelita-mudah sekali membayangkannya. Tidak, aku memikirkan seseorang di luar lingkaran magis itu. Aku sedang berusaha membayangkan wajah wanita tak bernama yang telah menyelamatkan seluruh suku, si istri ketiga.

Hanya wanita biasa, tanpa bakat ataupun kemampuan istimewa. Secara fisik lebih lemah dan lebih lamban daripada monster apa pun dalam legenda. Tapi justru dialah yang menjadi kunci, solusi. Ia menyelamatkan suaminya, anak-anak lelakinya yang masih muda, sukunya.

Kalau saja mereka ingat siapa namanya. Ada yang mengguncang-guncang lenganku.

”Ayo, Bells,” bisik Jacob di telingaku. “Kita sudah sampai.” Aku mengerjap-ngerjapkan mata, bingung karena api separonya sudah lenyap. Aku melotot memandangi kegelapan yang tidak disangka-sangka, berusaha mengenali keadaan di sekelilingku. Butuh waktu semenit untuk menyadari bahwa aku sudah tidak lagi berada di tebing. Aku hanya bersama Jacob. Aku masih berada dalam pelukannya, tapi tidak lagi berbaring di tanah.

Bagaimana aku bisa berada di mobil Jacob?

“Oh, brengsek!” aku terkesiap kaget begitu sadar aku tertidur, “Jam berapa sekarang? Brengsek, mana telepon bodoh itu?” Kutepuk-tepuk saku baju dan celanaku, kebingungan waktu tidak mendapati benda itu di mana pun.

“Tenanglah. Tengah malam saja belum. Dan aku sudah menelepon dia untukmu. Lihat-dia sudah menunggu di sana.”

“Tengah malam?” ulangku dengan sikap bodoh, masih linglung. Aku memandang kegelapan, dan jantungku berdebar begitu mataku mengenali sosok Volvo, hampir tiga puluh meter jauhnya. Tanganku meraih handel pintu.

“Ini,” kata Jacob, meletakkan sesuatu di telapak tanganku yang lain. Ponselku.

“Kau menelepon Edward untukku?’

Mataku sudah bisa menyesuaikan diri dengan kegelapan hingga bisa melihat senyum Jacob yang cemerlang.

“Kupikir, kalau aku baik-baik dengannya, aku bisa lebih sering bertemu denganmu.”

“Trims, Jake,” ujarku, terharu. “Sungguh, terima kasih. Dan terima kasih sudah mengundangku malam ini. Acara tadi…” Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan katakata. “Wow. Lain daripada yang lain.”

“Padahal kau bahkan tidak sempat bangun untuk melihatku menelan sapi bulat-bulat.” Jacob tertawa. “Tidak, aku senang kau menyukainya. Rasanya… menyenangkan. Karena ada kau di sana

Tampak gerakan-gerakan dalam gelap di kejauhan – sesuatu yang pucat bergerak-gerak di antara pepohonan hitam. Berjalan mondar-mandir?

“Yeah, dia sudah tidak sabar lagi, ya?” ujar Jacob, melihat perhatianku tertuju ke sana. “Pergilah. Tapi cepatlah kembali lagi,oke?”

“Tentu, Jake,” janjiku, membuka pintu mobil secelah, Hawa dingin menyerbu masuk, menerjang kakiku dan membuatku gemetaran.

“Tidur yang nyenyak, Bells. Jangan khawatirkan apa-apa aku akan menjagamu malam ini.”

Aku terdiam, satu kaki menginjak ranah. “Tidak usah, Jake. Istirahat sajalah, aku baik-baik saja.”

“Tentu, tentu,” sahut Jacob, tapi nadanya lebih terkesan meremehkan daripada setuju.

“Malam, Jake. Trims.”

“Malam, Bella.” bisiknya sementara aku bergegas memasuki kegelapan.

Edward menyambutku di garis perbatasan.

“Bella,” sambutnya, kentara sekali terdengar lega; lengannya memelukku erat-erat.

“Hai, Maaf aku lama sekali, Aku ketiduran dan-”

“Aku tahu. Jacob sudah menjelaskan,” Ia mulai melangkah menuju mobil dan aku berjalan tersaruk-saruk di sampingnya. “Kau capek? Aku bisa menggendongmu.”

“Tidak usah.”

“Ayo, kuantar kau pulang, supaya kau bisa tidur. Kau senang di sana?”

“Yeah – benar-benar luar biasa, Edward. Kalau saja kau bisa datang. Aku bahkan tidak bisa menjelaskannya. Ayah Jake menceritakan pada kami legenda-legenda kuno dan rasanya begitu… begitu magis.”

“Kau harus menceritakannya padaku. Tapi kau harus tidur dulu.”

”Aku tidak akan bisa menceritakannya dengan benar..,” sergahku, kemudian menguap lebar-lebar,

Edward terkekeh. Ia membukakan pintu untukku, mengangkat dan mendudukkanku di dalam mobil, lalu memasangkan sabuk pengaman.

Nyala lampu terang-benderang menerpa kami. Aku melambaikan tangan ke arah lampu mobil Jacob, tapi tidak tahu apakah ia bisa melihatnya.

Malam itu – setelah berhasil melewati Charlie, yang tidak mengomeliku seperti dugaanku sebelumnya karena Jacob ternyata sudah meneleponnya juga – aku bukannya langsung ambruk ke tempat tidur, tapi malah mencondongkan tubuh di ambang jendela yang terbuka, menunggu Edward kembali. Malam ini dingin sekali, nyaris seperti musim dingin. Aku tidak menyadarinya sama sekali saat berada di tebing yang berangin; kupikir, pasti itu bukan karena duduk dekat api unggun, tapi karena duduk di sebelah Jacob.

Tetes-tetes air hujan sedingin es menerpa wajahku saat hujan mulai turun.

Keadaan terlalu gelap untuk melihat hal lain selain segitiga-segitiga hitam pohon cemara yang meliuk dan menggeletar akibat tiupan angin. Tapi aku terap membuka mataku lebar-lebar, mencari bentuk-bentuk lain di tengah badai. Siluet pucat, bergerak bagaikan hantu menembus kegelapan yang hitam pekat atau mungkin bayangan samar serigala besar… Tapi mataku terlalu lemah.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.