Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Atau begitulah perkiraan mereka. Yaha Uta meletakkan potongan-potongan tubuh makhluk itu untuk diteliti para tua-tua. Potongan tangan tergeletak di samping potongan lengan si makhluk yang sekeras granit. Dua bagian tubuh itu saling menyentuh saat para tua-tua menusuk-nusuknya dengan tongkat, dan potongan tangan menggapai potongan lengan, berusaha menyatu kembali.

“Dengan penuh kengerian para tua-tua membakar sisasisa potongan tubuh itu. Awan besar berbau harum mengepul, mencemari udara. Setelah tidak tersisa apa-apa lagi kecuali abu, mereka membagi-bagi abu itu ke kantongkantong kecil dan membuangnya ke berbagai tempat terpisah-sebagian ke laut, sebagian ke hutan, sebagian lagi ke gua-gua tebing. Taha Aki mengalungkan sebuah kantong di lehernya, agar dia tahu bila makhluk itu berusaha menyatukan diri kembali.”

Quil Tua berhenti sebentar dan berpaling kepada Billy.

Billy melepas kalung kulit yang melingkari lehernya. Di ujungnya tergantung kantong kecil, menghitam dimakan usia. Beberapa orang terkesiap. Bisa jadi itu salah satu kantong-kantong tersebut.

“Mereka menyebutnya Makhluk Dingin, Peminum Darah, dan mereka hidup dalam ketakutan bahwa makhluk itu tidak sendirian. Padahal hanya satu serigala pelindung yang tersisa, si muda Yaha Uta.

“Mereka tidak perlu menunggu lama. Makhluk itu memiliki pasangan, juga peminum darah, yang datang ke perkampungan Quileute untuk membalas dendam.

“Konon Wanita Dingin itu makhluk paling cantik yang pernah dilihat mata manusia. Dia bagaikan dewi fajar saat memasuki perkampungan pagi itu; sekali itu matahari bersinar, dan cahayanya berkilauan menerpa kulitnya yang putih dan membakar rambut emasnya yang tergerai hingga ke lutut. Wajahnya sangat rupawan, matanya hitam di wajahnya yang putih. Beberapa orang berlutut untuk memujanya.

“Dia menanyakan sesuatu dengan suara tinggi melengking, dalam bahasa yang tak pernah didengar manusia. Orang-orang bingung, tidak tahu bagaimana menjawabnya. Tidak ada keturunan Taha Aki di antara para saksi mata kecuali seorang anak lelaki kecil. Dia mencengkeram baju ibunya dan berteriak, mengatakan bau wanita itu menyengat hidungnya. Salah seorang tua-tua, yang saat itu sedang dalam perjalanan ke tempat pertemuan, mendengar perkataan bocah itu dan menyadari siapa yang berada di antara mereka. Dia berteriak, menyuruh orang-orang lari. Wanita itu membunuhnya pertama kali.

“Ada dua puluh saksi mata yang melihat kedatangan si Wanita Dingin. Dua selamat, hanya karena perhatian wanita itu teralih oleh darah, dan berhenti sebentar untuk memuaskan dahaganya. Mereka berlari ke Taha Aki, yang duduk di ruang rapat bersama para tua-tua lain, anak-anak lelakinya, dan istri ketiganya. .

“Yaha Uta langsung berubah menjadi serigala begitu mendengar kabar itu. Dia pergi untuk menghancurkan si peminum darah sendirian. Taha Aki, istri ketiganya, anakanak lelakinya, serta para tua-tua mengikuti di belakangnya.

“Awalnya mereka tidak bisa menemukan makhluk itu, hanya bukti serangannya. Mayat-mayat bergelimpangan, beberapa kering tanpa darah lagi, beberapa berceceran di jalan tempatnya menghilang. Kemudian mereka mendengar jeritan dan bergegas menuju tepi pantai.

“Beberapa gelintir orang suku Quileute berlari ke kapalkapal untuk menyelamatkan diri. Wanita itu mengejar seperti hiu, dan mematahkan haluan kapal dengan kekuatannya yang luar biasa. Ketika kapal tenggelam, dia menangkap orang-orang yang berusaha melarikan diri dengan berenang menjauh dan menghabisi mereka juga.

“Begitu melihat serigala besar di tepi pantai, wanita itu langsung melupakan orang-orang yang berenang menjauh.

Secepat kilat dia berenang lagi ke pantai, saking cepatnya hingga gerakannya tampak kabur, tubuhnya menetesneteskan air, berdiri anggun di depan Yaha Uta. Wanita itu menudingnya dengan telunjuknya yang putih dan mengajukan pertanyaan yang lagi-lagi tidak bisa dimengerti. Yaha Uta menunggu.

“Pertarungan berlangsung sengit. Wanita itu tidak sekuat pasangannya. Tapi Yaha Uta sendirian-tidak ada yang bisa membantunya mengalihkan kemarahan makhluk itu.

“Waktu Yaha Uta kalah, Taha Aki menjerit tidak terima. Terpincang-pincang, ia berjalan maju dan berubah menjadi serigala tua bermoncong putih. Serigala itu sudah tua, tapi ini Taha Aki si Manusia Roh, dan amarah membuatnya kuat, Pertarungan dimulai lagi.

“Istri ketiga Taha Aki baru saja melihat putranya tewas di depan mata kepalanya sendiri. Sekarang suaminya bertarung, dan dia tidak punya harapan suaminya bisa menang. Dia mendengar setiap kata yang diceritakan si saksi di hadapan dewan desa. Dia juga mendengar cerita tentang kemenangan pertama Yaha Uta, dan tahu bahwa Yaha Uta selamat karena saudara lelakinya mengalihkan perhatian makhluk itu darinya.

“Si istri ketiga menyambar pisau dari sabuk salah seorang putra yang berdiri di sampingnya. Mereka semua masih muda, belum dewasa, dan si istri tahu mereka pasti mati bila ayah mereka gagal.

“Si istri ketiga menghambur ke arah si Wanita Dingin dengan pisau terangkat tinggi-tinggi. Si Wanita Dingin tersenyum, perhatiannya nyaris tidak teralihkan dari pertarungannya dengan si serigala tua. Dia tidak takut pada manusia wanita yang lemah atau pisau yang bahkan tidak akan menggores kulitnya, dan dia sudah bersiap-siap melayangkan pukulan kematian ke arah Taha Aki.

“Kemudian si istri ketiga melakukan sesuatu yang tidak disangka-sangka sama sekali oleh si Wanita Dingin. Dia berlutut di kaki si peminum darah dan menusukkan pisau itu ke jantungnya sendiri.

“Darah muncrat dari sela-sela jari si istri ketiga dan mengenai si Wanita Dingin. Si peminum darah tak mampu menahan godaan darah segar yang mengalir dari tubuh istri ketiga. Secara instingtif dia berpaling ke wanita yang sekarat itu, sesaat terhanyut dahaganya sendiri.

“Gigi Taha Aki langsung menjepit lehernya.

“Itu bukan akhir pertarungan, tapi Taha Aki sekarang tidak sendirian. Menyaksikan ibu mereka sekarat, dua anak lelaki yang masih muda merasakan kemarahan yang meluap-luap hingga mereka menerjang maju sebagai serigala roh, meskipun mereka belum dewasa. Bersama ayah mereka, mereka menghabisi makhluk itu.

“Taha Aki tidak pernah bergabung kembali dengan sukunya. Dia tidak pernah berubah menjadi manusia lagi. Dia berbaring selama satu hari di samping jenazah istri ketiganya, menggeram setiap kali ada yang berusaha menyentuh jenazah istrinya, kemudian Taha Aki pergi ke hutan dan tidak pernah kembali.

“Sejak saat itu, masalah dengan makhluk-makhluk dingin jarang terjadi. Para putra Taha Aki menjaga suku sampai anak-anak lelaki mereka cukup tua untuk menggantikan. Tidak pernah ada lebih dari tiga serigala pada saat bersamaan. Itu sudah cukup. Sesekali peminum darah melewati wilayah ini, tapi mereka terkejut karena tidak mengira sama sekali akan berhadapan dengan serigala-serigala. Kadang-kadang ada serigala yang tewas, tapi tidak pernah sampai habis total seperti waktu pertama kali. Mereka sudah belajar bagaimana bertarung dengan para makhluk dingin, dan mereka mewariskan pengetahuan itu turun-temurun, dari pikiran serigala ke pikiran serigala lain, dari roh ke roh, dari ayah ke anak lelaki.

“Waktu berlalu, dan keturunan Taha Aki tidak lagi menjadi serigala saat mereka mencapai usia dewasa. Hanya sesekali, bila ada makhluk dingin di sekitar mereka, barulah serigala-serigala itu muncul lagi. Makhluk-makhluk dingin selalu datang sendiri atau berpasangan, dan kelompok mereka tetap kecil,

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.