Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Ia pasti berusaha mengambil hati ayahku. Tak mungkin nyawaku terancam segerombolan manusia paling berbahaya sekalipun saat aku bersama Alice atau Edward. Pikiran itu benar-benar menggelikan.

Upayanya berhasil, Charlie menatap Edward sedetik, kemudian mengangkat bahu. “Baiklah.” Ia menghambur ke ruang tamu, agak terburu-buru sekarang – mungkin karena tak ingin ketinggalan awal pertandingan.

Aku menunggu sampai TV menyala, supaya Charlie tak bisa mendengar suaraku.

“Apa…” aku mulai bertanya.

“Tunggu sebentar,” tukas Edward tanpa mengangkat wajah dari koran. Matanya tetap tertuju ke koran sementara tangannya menyorongkan formulir pendaftaran pertama ke seberang meja. “Kurasa kau bisa mendaur ulang esaiesaimu untuk yang satu ini. Pertanyaan-pertanyaannya sama.”

Charlie pasti masih mendengar. Aku mendesah dan mulai mengisi informasi yang itu-itu lagi: nama, alamat, nomor jaminan sosial… Beberapa menit kemudian aku mendongak, tapi Edward sekarang malah tercenung memandang jendela. Ketika menunduk lagi menghadapi kertas, untuk pertama kali aku melihat nama universitasnya.

Aku mendengus dan menyingkirkan kertas-kertas itu.

“Bella?”

“Yang benar saja, Edward. Dartmouth?”

Edward memungut formulir yang kusingkirkan itu dan meletakkannya kembali pelan-pelan di hadapanku. “Kupikir kau pasti akan menyukai New Hampshire,” katanya. “Ada kuliah malam yang cukup lengkap untukku, dan di dekatnya ada hutan yang cukup dekat untuk hiking. Banyak hewan liarnya.”

Ia menyunggingkan senyum miring yang ia tahu pasti bakal meluluhkan hatiku.

Aku menarik napas dalam-dalam melalui hidung.

“Kau bisa mengembalikan uangku, kalau itu membuatmu senang,” janji Edward. “Kalau mau, aku juga bisa mengenakan bunga.”

“Aku pasti tak bisa masuk tanpa sogokan dalam jumlah besar. Atau itu bagian dari pinjamanmu? Gedung perpustakaan baru bernama Cullen? Ugh. Kenapa kira mesti mendiskusikan hal ini lagi?”

“Bisa tolong isi saja formulirnya, Bella. Tidak ada salahnya kan mendaftar.”

Daguku mengeras. “Tahukah kau? Kupikir sebaiknya tidak usah saja.”

Tanganku terulur hendak meraih kertas-kertas itu, berniat meremasnya untuk kemudian kulempar ke keranjang sampah, tapi kertas-kertas itu sudah lenyap. Kupandangi meja yang kosong itu sesaat, kemudian Edward. Kelihatannya ia tadi tidak bergerak sama sekali, tapi formulirnya sekarang mungkin sudah tersimpan rapi dalam jaketnya.

“Apa-apaan kau?” runtutku,

“Aku bisa membuat tanda tanganmu lebih baik daripada kau sendiri. Kau juga sudah membuat esainya.”

“Kau benar-benar keterlaluan,” Aku berbisik, berjagajaga siapa tahu Charlie tidak benar-benar asyik nonton pertandingan. “Aku toh tidak perlu mendaftar ke tempat lain. Aku sudah diterima di Alaska. Uangku nyaris cukup untuk menutup biaya kuliah semester pertama. Itu kan alibi yang bagus sekali. Tidak perlu membuang-buang uang, tak peduli uang siapa itu.”

Ekspresi sedih membuat wajah Edward tegang. “Bella…”

“Sudahlah. Aku setuju bahwa aku perlu melakukan semua ini demi Charlie, tapi kita sama-sama tahu kondisiku tidak memungkinkan untuk kuliah musim gugur nanti. Tidak mungkin bagiku berdekatan dengan manusia.”

Pengetahuanku mengenai tahun-tahun pertama sebagai vampir baru masih belum jelas. Edward tak pernah menjelaskan secara mendetail – itu bukan topik favoritnya – tapi aku tahu itu pasti berat. Pengendalian diri ternyata hanya bisa didapat dengan latihan . Tak mungkin aku mengikuti kuliah kecuali kuliah jarak jauh.

“Kupikir waktunya masih belum diputuskan,” Edward mengingatkan dengan lembut. “Kau bisa menikmati satudua semester masa kuliah. Ada banyak pengalaman manusia yang belum pernah kaurasakan.”

“Sesudahnya kan bisa.”

“Sesudahnya berarti bukan lagi pengalaman manusia. Tidak ada kesempatan kedua, Bella.”

Aku mendesah, “Kau harus bijaksana menentukan waktunya, Edward. Terlalu berbahaya untuk bermainmain.”

“Belum ada bahaya apa-apa,” ia berkeras.

Kupeloroti dia. Belum ada bahaya? Oh, tentu saja. Yang ada hanya vampir sadis yang berusaha membalaskan dendam kematian pasangannya dengan membunuhku, lebih disukai bila menggunakan metode yang lamban dan menyiksa. Siapa yang mengkhawatirkan Victoria? Dan, oh ya, keluarga Volturi – keluarga vampir bangsawan dengan segerombolan kecil prajurit vampir – yang ngotot menginginkan jantungku berhenti berdetak, bagaimanapun caranya, secepatnya, karena manusia tak seharusnya tahu mereka ada. Yang benar saja. Tidak ada alasan sama sekali untuk panik?

Meskipun Alice terus memantau keadaan – Edward mengandalkan visi Alice yang luar biasa akurat rentang masa depan untuk memberi kami peringatan dini – sungguh gila untuk mengambil risiko.

Lagi pula aku sudah memenangkan argumen ini. Tanggal transformasiku untuk sementara ditetapkan tak lama setelah lulus SMA, yang berarti tinggal beberapa minggu lagi.

Perutku mendadak mulas saat menyadari betapa sedikit waktu yang tersisa. Tentu saja perubahan ini perlu – dan ini kunci menuju hal-hal yang kuinginkan lebih dari segalanya di dunia ini digabung menjadi satu – tapi aku sangat prihatin memikirkan Charlie yang duduk di ruangan lain, menikmati pertandingan di TV; seperti malam-malam lain. Juga ibuku, Renee, nun jauh di Florida yang cerah, yang masih memohon-mohon agar aku mau melewatkan musim panas di pantai bersama dia dan suami barunya. Dan Jacob, yang, tidak seperti kedua orangtuaku, tahu apa yang sesungguhnya terjadi bila nanti aku menghilang dengan alasan pergi kuliah di kota lain yang sangat jauh. Bahkan seandainya orangtuaku tidak curiga untuk waktu yang lama, bahkan seandainya aku bisa menunda kepulangan dengan alasan biaya perjalanan yang mahal atau kesibukan belajar atau karena sakit. Jacob tahu hal sebenarnya.

Sejenak, kesedihan karena Jacob bakal menganggapku menjijikkan mengalahkan kesedihanku yang lain.

“Bella,” gumam Edward, wajahnya menekuk saat membaca kesedihan di wajahku. “Tidak perlu buru-buru. Aku takkan membiarkan siapa pun menyakitimu. Ambil waktu sebanyak yang kaubutuhkan.”

“Aku ingin cepat-cepat,” bisikku, tersenyum lemah, mencoba bergurau. “Aku juga kepingin jadi monster.”

Rahang Edward terkatup rapat; ia berbicara dari sela-sela giginya. “Kau tidak mengerti yang kaukatakan.” Dengan kasar ia melempar koran lembap itu ke meja di antara kami. Jarinya menuding kasar judul berita di halaman depan:

ANGKA KEMATIAN MENINGKAT POLISI MENGKHAWATIRKAN AKTIVITAS GENG

“Memang apa hubungannya?”

“Monster bukanlah lelucon, Bella.”

Kutatap judul berita itu lagi, kemudian beralih ke ekspresi wajahnya yang keras. “Jadi … jadi ini perbuatan vampir? bisikku.

Edward tersenyum sinis. Suaranya rendah dan dingin. “Kau akan terkejut, Bella, kalau tahu betapa seringnya kaumku menjadi penyebab berbagai peristiwa mengerikan di surat kabar manusiamu. Mudah saja mengenalinya, kalau kau tahu apa yang dicari. Informasi yang ada di sini mengindikasikan ada vampir yang baru lahir berkeliaran di Seattle. Haus darah, liar, tak terkendali. Sama seperti kami semua dulu.”

Aku menunduk memandangi koran itu lagi, menghindari matanya.

“Sudah beberapa minggu ini kami terus memonitor situasi. Semua tanda-tandanya ada – hilang tanpa jejak, selalu pada malam hari, mayat-mayat yang dibuang begitu saja, tak adanya bukti lain… Ya, jelas seorang vampir yang masih sangat baru. Dan sepertinya tidak ada yang bertanggung jawab terhadap si neo-phyte… Edward menghela napas dalam-dalam. “Well, itu bukan persoalan kami. Kami bahkan tidak akan memerhatikan situasi ini seandainya kejadiannya di tempat lain yang jauh dari sini. Seperti sudah kukatakan tadi, ini terjadi setiap saat. Keberadaan monster pasti akan menimbulkan konsekuensi mengerikan.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.