Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Edward tertawa pelan, menertawakan sesuatu, kemudian melepasku.

“Selamat tinggal,” ucapnya. “Aku suka sekali jaketmu.”

Saat berbalik memunggunginya, aku sempat melihat kilatan di matanya yang tak seharusnya kulihat. Khawatir, mungkin. Sesaat aku sempat mengira itu kepanikan. Tapi mungkin aku melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, seperti biasa.

Bisa kurasakan mata Edward mengawasi punggungku saat aku mendorong sepeda motorku ke garis perbatasan vampir-werewolf untuk menemui Jacob.

“Apa-apaan ini?” Jacob berseru kepadaku, nadanya kecut, memerhatikan motorku dengan ekspresi membingungkan.

“Menurutku sebaiknya motor ini kukembalikan ke tempat seharusnya.” kataku.

Jacob memikirkan perkataanku sejenak, kemudian senyum lebarnya merekah, membelah wajahnya.

Aku tahu di titik mana tepatnya wilayah kekuasaan werewolf karena Jacob mendorong tubuhnya menjauhi mobil dan berlari dengan melompat-lompat cepat ke arahku. Dalam tiga langkah saja ia sudah sampai ke tempatku. Ia mengambil motor itu dariku, menyeimbangkannya pada sandaran, dan menyambar tubuhku, mengangkat dan memelukku erat-erat.

Aku mendengar mesin Volvo menggeram, dan berjuang susah payah melepaskan diri.

“Hentikan, Jake!” aku terengah-engah kehabisan napas. Jacob tertawa dan menurunkanku, Aku berbalik untuk melambai, tapi mobil perak itu sudah lenyap di balik tikungan jalan.

“Bagus.” komentarku, sengaja membiarkan nada jengkel menyusup dalam suaraku.

Mata Jacob membelalak, berpura-pura lugu. “Apa?”

“Sikapnya sangat baik mengenai hal ini; jangan memaksakan keberuntunganmu.”

Lagi-lagi Jacob tertawa, lebih keras daripada sebelumnya

– ia menganggap perkaraanku lucu sekali, Aku berusaha mengira-ngira apa yang lucu sementara Jacob berjalan mengitarimobil Rabbit untuk membukakan pintu bagiku.

“Bella,” kata Jacob akhirnya – masih terkekeh-kekeh – sambil menutup pintu setelah aku masuk, “kau tidak bisa memaksakan apa yang tidak kaumiliki.”

 

11. LEGENDA

“Kau mau makan hot dog itu tidak?” Paul bertanya kepada Jacob, matanya terpaku pada makanan terakhir yang masih tersisa dari begitu banyaknya hidangan yang telah dihabiskan para werewolf.

Jacob bersandar di lututku dan memainkan hot dog yang ditusukkan ke gantungan baju logam yang diluruskan; api di ujung api unggun menjilat-jilat kulit sosis yang gosong. Ia mengembuskan napas dan menepuk-nepuk perutnya. Entah bagaimana perutnya masih datar, meskipun sudah tak bisa kuhitung lagi berapa banyak hot dog yang dimakannya setelah yang kesepuluh,

“Kurasa begitu.” jawab Jacob lambat-lambat. “Perutku penuh sekali hingga rasanya kepingin muntah, tapi kalau kupaksa, sepertinya masih bisa, Tapi aku tidak akan menikmatinya sama sekali.” Jacob mengembuskan napas lagi dengan sedih.

Walaupun Paul sudah makan setidaknya sebanyak yang dimakan Jacob, ia memelototi Jacob dan mengepalkan kedua tinju.

“Waduh,” Jacob tertawa. “Bercanda, Paul. Ini.” Dilemparnya tusukan buatan sendiri itu ke seberang lingkaran. Kupikir hot dog-nya bakal jatuh mencium pasir, tapi dengan cekatan Paul menangkap ujungnya tanpa kesulitan.

Bergaul dengan orang-orang yang luar biasa cekatan setiap saat, lama-lama bakal membuatku minder.

“Trims, man,” seru Paul, sudah melupakan kemarahan singkatnya tadi.

Api berderak, semakin mendekat ke pasir. Bunga api meledak, tiba-tiba menyemburkan seberkas warna jingga terang di langit yang hitam. Lucu, aku tidak sadar matahari telah terbenam. Untuk pertama kalinya aku ingin tahu sudah selarut apa sekarang. Aku benar-benar lupa waktu.

Ternyata lebih mudah nongkrong dengan teman-teman Quileute-ku daripada yang kuduga.

Waktu Jacob dan aku mengantar sepeda motorku ke garasi-dan ia dengan muram mengakui helm itu ide bagus yang seharusnya terpikir olehnya-aku mulai khawatir memikirkan reaksi yang akan kuterima saat muncul di acara api unggun itu, Dalam hari aku bertanya-tanya apakah para werewolf akan menganggapku pengkhianat sekarang. Apakah mereka akan marah pada Jacob karena mengajakku? Apakah aku akan merusak suasana pesta?

Tapi ketika Jacob menarikku keluar dari hutan ke temp at pertemuan di puncak tebing-tempat api unggun sudah menyala lebih terang daripada matahari yang tertutup awan-suasana begitu santai dan ceria.

“Hai, cewek vampir!” Embry menyapaku dengan suara keras. Quil melompat untuk tos dan mencium pipiku. Emily meremas tanganku waktu kami duduk di tanah berbatu yang dingin di sampingnya dan Sam.

Selain beberapa keluhan bernada menyindir-kebanyakan dilontarkan Paul-tentang membuat bau pengisap darah tercium karena aku duduk searah dengan arah angin, aku diperlakukan sebagai bagian dari kelompok ini.

Ternyata yang hadir bukan hanya anak-anak, Ada Billy, yang kursi radanya ditempatkan di posisi kepala lingkaran. Di sebelahnya, di kursi lipat, tampak sangat rapuh, duduk kakek Quil yang sudah tua dan berambut putih, Quil Tua. Sue Clearwater, janda teman Charlie, Harry, duduk di kursi di sebelah sang kakek: kedua anaknya, Leah dan Seth, juga ada di sana, duduk di ranah seperti kami-kami yang lain. Ini membuatku terkejut, tapi sekarang mereka bertiga jelas sudah mengetahui rahasia ini. Menilik cara Billy dan Quil Tua berbicara kepada Sue, kedengarannya Sue menggantikan tempat Harry di dewan. Apakah itu lantas membuat anak-anaknya otomatis menjadi anggota kelompok paling rahasia di La Push?

Dalam hati aku bertanya-tanya, sulitkah bagi Leah duduk berseberangan dengan Sam dan Emily? Wajah cantiknya tak menunjukkan emosi apa pun, tapi ia tidak peruah mengalihkan pandangan dari lidah api. Menatap garis-garis wajah Leah yang sempurna, aku tidak bisa tidak membandingkannya dengan wajah Emily yang hancur, Apa pendapat Leah tentang bekas luka Emily, setelah sekarang ia tahu hal sebenarnya di batik bekas-bekas luka itu?

Si kecil Seth Clearwater sekarang tidak kecil lagi. Dengan seringaian lebarnya yang ceria serta perawakannya yang jangkung dan sangar, ia sangat mengingatkanku pada Jacob dulu. Kemiripan itu membuatku tersenyum, kemudian mendesah. Apakah Seth juga akan mengalami nasib yang sama, hidupnya berubah drastis sebagaimana halnya cowok-cowok lain itu? Apakah karena masa depan itu maka ia dan keluarganya diizinkan berada di sini?

Seluruh anggota kawanan ada di sana: Sam dengan Emily-nya, Paul, Embry, dan Jared. dengan Kim, gadis yang diimprint-nya.

Kesan pertamaku terhadap Kim adalah bahwa ia gadis yang baik, sedikit pemalu, dan agak biasa. Wajahnya lebar, dengan tulang pipi menonjol dan mata yang kelewat kecil untuk mengimbanginya. Hidung dan mulutnya terlalu lebar untuk standar kecantikan tradisional, Rambut hitam lurusnya tipis dan lemas ditiup angin yang rasanya tak pernah mau berhenti bertiup di puncak tebing seperti ini.

Itu kesan pertamaku. Tapi setelah beberapa jam memerhatikan Jared memandangi Kim, aku tak lagi menganggap gadis itu biasa-biasa saja.

Cara Jared menatapnya! Seperti orang buta melihat matahari untuk pertama kalinya. Seperti kolekror menemukan lukisan Da Vinci yang belum ditemukan, seperti ibu menatap wajah anak yang baru dilahirkannya.

Sorot mata Jared yang penuh kekaguman membuatku melihat hal-hal baru mengenai Kim-bagaimana kulitnya tampak bagaikan sutra cokelat kemerahan dalam nyala api, bagaimana bentuk bibirnya merupakan kurva ganda yang sempurna, bagaimana gigi putihnya tampak sangat indah mengintip di sela bibir itu, betapa panjang bulu matanya, menyapu pipinya saat ia memandang ke bawah.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.