Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku sudah memutuskan, setelah berdebat dengan diriku sendiri sebentar, bahwa aku tidak akan menjual motorku. Aku akan membawanya kembali ke La Push, ke tempat seharusnya dan, kalau aku sudah tidak membutuhkannya lagi… well, kelak, aku akan mendesak Jacob untuk mengambil keuntungan dari basil jerih payahnya. Ia bisa menjual motor itu atau memberikannya kepada seorang teman. Tidak masalah bagiku.

Malam ini sepertinya merupakan kesempatan baik untuk mengembalikan motor itu ke garasi Jacob. Dengan perasaan yang selalu muram belakangan ini, setiap hari sepertinya bisa saja jadi kesempatan terakhir, Aku tak punya waktu untuk menunda-nunda melakukan tugas apa pun, tak peduli betapa sepelenya tugas itu.

Edward hanya mengangguk ketika aku menjelaskan keinginanku, tapi kalau tak salah aku sempat melihat secercah sorot muram di matanya. Aku tahu, seperti halnya Charlie, ia juga tidak suka membayangkan aku mengendarai motor.

Kuikuti Edward kembali ke rumahnya, ke garasi tempat aku meninggalkan motorku. Setelah memasukkan trukku dan turun, aku baru sadar kemuraman kali ini mungkin tidak sepenuhnya berkaitan dengan keselamatanku.

Di sebelah motor antik kecilku, membuatnya terlihat minder, tampak kendaraan lain. Menyebut kendaraan lain ini sebagai sepeda motor rasanya kurang tepat, karena kendaraan itu sepertinya tidak masuk dalam rumpun yang sama dengan motorku yang tiba-tiba saja terlihat bobrok.

Kendaraan itu besar, mulus, berwarna perak, dan-bahkan saat sedang tidak bergerak-tampak sangat cepat.

“Apa itu?”

“Bukan apa-apa.” gumam Edward.

“Kelihatannya tidak seperti itu.”

Ekspresi Edward biasa-biasa saja; sepertinya ia bertekad untuk tidak membesar-besarkan hal itu. “Well, aku tak yakin apakah kau akan memaafkan temanmu, atau apakah dia akan memaafkanmu, dan aku bertanya-tanya apakah kau tetap ingin mengendarai motormu, Kedengarannya kau sangat menikmati naik motor. Jadi kupikir aku bisa pergi bersamamu, kalau kau mau.” Edward mengangkat bahu.

Kupandangi sepeda motor mewah itu, Di sampingnya, motorku terlihat seperti sepeda roda tiga bobrok. Gelombang kesedihan tiba-tiba melandaku saat aku menyadari mungkin mi analogi yang tepat untuk menggambarkan bagaimana aku terlihat di samping Edward.

”Aku takkan sanggup mengimbangi kecepatanmu.” bisikku.

Edward mengangkat daguku supaya bisa menatap wajahku. Dengan satu jari ia mencoba mendorong sudut mulutku ke atas.

“Aku yang akan mengimbangimu, Bella.”

“Tapi rasanya takkan menyenangkan bagimu.”

“Tentu menyenangkan, kalau kita bersama-sama.”

Aku menggigit bibir dan membayangkannya sejenak. “Edward, kalau menurutmu aku mengendarai motor terlalu cepat atau kehilangan kendali atau semacamnya, apa yang akan kaulakukan?”

Edward ragu-ragu sejenak, kentara sekali berusaha menemukan jawaban yang tepat. Aku tahu jawabannya: ia akan menemukan cara untuk menyelamatkanku sebelum aku celaka.

Kemudian Edward tersenyum. Senyumnya tulus, kecuali sorot matanya yang mendadak berubah defensif.

“Ini sesuatu yang kaulakukan bersama Jacob. Aku mengerti sekarang.”

“Masalahnya, well, Jacob tak perlu terlalu memelankan laju motornya. Aku bisa mencoba, mungkin…”

Kupandangi sepeda motor perak itu dengan sikap ragu.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan.” kata Edward, kemudian tertawa renyah. ”Aku melihat Jasper mengagumi motor ini. Mungkin sudah saatnya dia memakai cara baru untuk bepergian. Lagi pula, Alice sudah pun ya Porsche sekarang.”

“Edward, aku…”

Edward memotong perkataanku dengan ciuman cepat. “Sudah kubuang tidak usah dipikirkan. Tapi maukah kau melakukan sesuatu untukku?”

“Apa pun yang kaubutuhkan,” aku buru-buru berjanji.

Edward melepas wajahku dan mencondongkan tubuh ke bagian samping sepeda motor besarnya, mengeluarkan sesuatu yang disimpannya di sana.

Ia kembali sambil membawa benda berwarna hitam tak berbentuk, dan benda lain berwarna merah yang mudah dikenali.

“Please?” pinta Edward, memamerkan senyum miring yang selalu mampu mengenyahkan penolakanku.

Kuambil helm merah itu, menimang-nimangnya. “Aku pasti kelihatan konyol.”

“Tidak, justru akan terlihat pintar. Cukup pintar untuk tidak mencelakakan diri sendiri.” Disampirkannya benda hitam itu, apa pun itu, ke lengannya, kemudian merengkuh wajahku dengan tangannya. “Aku tak bisa hidup tanpa wajah yang berada dalam genggamanku ini. Tolong jaga dirimu baik-baik.”

“Oke, baik. Yang satu itu apa?” tanyaku curiga.

Edward tertawa dan menunjukkan sejenis jaket berlapis busa yang tebal. “Ini jaket khusus untuk naik motor. Kudengar terpaan angin di jalan sangar keras, walaupun aku belum pernah merasakannya sendiri.”

Edward mengulurkan jaket itu padaku. Sambil menghela napas dalam-dalam, kusibakkan rambutku ke belakang dan kujejalkan kepalaku ke dalam helm. Lalu aku menyurukkan kedua tangan ke lengan jaket. Edward mengancingkannya untukku, sudut-sudut mulutnya terangkat membentuk senyum, lalu mundur selangkah.

Aku merasa sangat gendut. “Jujur saja, aku jelek sekali, ya?”

Edward mundur selangkah lagi dan mengerucutkan bibir.

“Sejelek itu?” gerutuku.

“Tidak, tidak, Bella. Sebenarnya…” Edward sepertinya berusaha keras mencari kata yang tepat. “Kau terlihat… seksi”

Aku tertawa keras-keras. “Yang benar saja.”

“Seksi sekali, sungguh.”

“Kau bicara begitu hanya supaya aku mau memakainya,” tukasku. “Tapi tidak apa-apa. Kau benar, begini memang lebih bijaksana.”

Edward memelukku dan menarikku ke dalam pelukannya. “Kau benar-benar konyol. Kurasa itu bagian dari pesonamu. Walaupun, harus kuakui, ada ruginya juga memakai helm ini.”

Kemudian Edward melepas helm itu agar bisa menciumku.

Saat Edward mengantarku ke La Push tak lama kemudian, aku tersadar situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini anehnya terasa familier. Buruh waktu beberapa saat untuk menentukan sumber perasaan deja vu ini.

“Tahukah kau ini mengingarkanku pada apa?” tanyaku.

“Rasanya seperti waktu aku masih kecil dan Renee mengantarku pada Charlie selama musim panas. Aku merasa seperti anak-anak yang berumur tujuh tahun.”

Edward tertawa.

Aku tidak terang-terangan mengatakannya, tapi perbedaan terbesar antara dua situasi ini adalah bahwa hubungan Renee dan Charlie lebih baik daripada Edward dan Jacob.

Kira-kira setengah perjalanan menuju La Push, kami mengitari tikungan jalan dan mendapati Jacob bersandar di Volkswagen merah yang direparasi sendiri olehnya. Ekspresi netral Jacob mencair membentuk senyum waktu aku melambai dari kursi depan.

Edward memarkir Volvo-nya hampir tiga puluh meter jauhnya.

“Telepon aku kapan pun kau siap pulang.” pesannya. “Dan aku akan menjemputmu di sini.”

“Aku tidak akan pulang terlalu malam,” janjiku.

Edward mengeluarkan motor dan perlengkapan baruku dari bagasi mobilnya-aku kagum semua itu bisa muat di dalamnya. Tapi mungkin tidak terlalu sulit kalau kau cukup kuat untuk mengangkat mobil van, apalagi hanya sepeda motor kecil begini.

Jacob mengawasi, tak bergerak sedikit pun untuk mendekat, senyumnya lenyap dan sorot mata gelapnya tidak bisa dibaca.

Kukepit helm itu di bawah ketiak dan kulemparkan jaket itu ke atas jok motor.

“Bisa?” tanya Edward.

“Tenang saja.” aku meyakinkannya.

Edward mendesah dan membungkuk ke arahku. Aku menengadahkan wajah untuk memberinya ciuman kecil perpisahan, tapi Edward membuatku kaget, ia mendekapku erat-erat ke dadanya dan menciumku dengan sangat antusias seperti yang dilakukannya di garasi tadi-dalam sekejap, aku sudah megap-megap kehabisan napas.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.