Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

” Yeah, kurasa itulah yang dia lakukan. Waktu dia datang untuk mengambil piama, bantal, dan barang-barang untuk keperluan menyanderaku.” Kupelototi Edward sejenak. “Dia mengambil semua barang yang berserakan, baju-baju, kaus kaki, dan aku tidak tahu di mana dia menyimpannya.”

Wajah Edward tetap terlihat bingung beberapa saat lagi, tapi kemudian, mendadak, tubuhnya mengejang kaku.

“Kapan kau menyadari barang-barangmu hilang?”

“Sepulang dari pesta piama gadungan itu, Kenapa?”

“Menurutku bukan Alice yang mengambil barangbarangmu. Baik baju maupun bantal, Barang-barang yang diambil itu, apakah itu benda-benda yang sudah kaupakai… kausentuh.. dan kau tiduri?”

“Ya. Ada apa sebenarnya, Edward?”

Ekspresi Edward mengeras. “Benda-benda dengan bau tubuhmu.”

“Oh!”

Kami berpandangan lama sekali.

“Tamu tak diundang itu.” gumamku.

“Dia mengumpulkan jejak-jejak… bukti. Untuk membuktikan dia sudah menemukanmu?”

“Kenapa?” bisikku.

“Entahlah, Tapi, Bella, aku bersumpah akan mencari tahu. Pasti.”

“Aku tahu kau pasti bisa,” kataku, meletakkan kepalaku di dadanya. Saat bersandar di sana, aku bisa merasakan ponsel di sakunya bergetar.

Edward mengeluarkan ponselnya dan memandangi nomor yang tertera di layar. “Kebetulan.” gumamnya, kemudian membuka ponselnya. “Carlisle, aku… Ia terdiam dan mendengarkan, raut wajahnya penuh konsentrasi selama beberapa menit. “Akan kuperiksa. Dengar…”

Edward menjelaskan tentang barang-barangku yang hilang, tapi dari sisi yang bisa kudengar, kelihatannya Carlisle juga tidak bisa memberi masukan.

“Mungkin aku akan pergi..,” kata Edward, suaranya menghilang saat matanya melirik ke arahku. “Mungkin tidak. Jangan biarkan Emmett pergi sendirian, kau tahu bagaimana dia. Paling tidak minta Alice untuk terus berjaga-jaga. Kita bereskan persoalan ini nanti.”

Edward menutup kembali ponselnya. “Mana surat kabarmu?” tanyanya.

“Eh, entahlah. Kenapa?”

“Ada yang perlu kulihat. Apa Charlie sudah membuangnya?”

“Mungkin.”

Edward menghilang.

Setengah detik kemudian ia kembali, rambutnya lagi-lagi dihiasi butiran air hujan yang menyerupai berlian, tangannya memegang koran yang basah. Ia membentangkan koran itu di meja, matanya menyapu judul-judul beritanya dengan cepat. Ia membungkukkan badan, perhatiannya terfokus pada berita yang sedang dibacanya, satu jari menyusuri baris-baris yang paling menarik perhatiannya.

“Carlisle benar… ya… ceroboh sekali. Muda dan sinting? Atau memang ingin mati?” Edward bergumam sendiri.

Aku mencoba melongok dari balik bahunya.

Judul berita surat kabar Seattle Times itu berbunyi: “Epidemi Pembunuhan Berlanjut-Polisi Tak Punya Petunjuk Baru”.

Beritanya nyaris mirip dengan yang dikeluhkan Charlie beberapa minggu lalu-kejahatan kota besar yang mendongkrak Seattle ke puncak tangga daftar kota yang tingkat pembunuhannya paling tinggi.

“Makin gawat,” gumamku.

Kening Edward berkerut. “Benar-benar tak terkendali. Tidak mungkin ini hasil perbuatan satu vampir baru. Apa yang terjadi sebenarnya? Seolah-olah mereka belum pernah mendengar tentang keluarga Volturi. Itu mungkin saja, kurasa. Tidak ada yang pernah menjelaskan aturanaturannya pada mereka… jadi siapa yang menciptakan mereka?”

“Keluarga Volruri?” ulangku, bergidik.

“Hal seperti inilah yang secara rutin mereka tanganikaum imortal yang membuat keberadaan kami terancam diketahui. Keluarga Volturi baru saja membereskan kekacauan seperti ini beberapa tahun yang lalu di Atlanta. padahal keadaan waktu itu tidak separah sekarang. Tak lama lagi mereka pasti akan mengintervensi, sebentar lagi, kecuali kita bisa mencari cara untuk menenangkan situasi, Aku benar-benar lebih suka mereka tidak datang ke Seattle sekarang. Kalau mereka berada sedekat ini… mereka mungkin akan mengecek keadaanmu.”

Lagi-lagi aku bergidik. “Apa yang bisa kita lakukan?”

“Kita harus mengetahui lebih banyak sebelum bisa memutuskan, Mungkin kalau kita bisa bicara dengan anakanak muda ini, menjelaskan peraturan-peraturannya, keadaan bisa kembali tenang,” Kening Edward berkerut, seolah pesimis itu bakal berhasil. “Akan kita tunggu sampai Alice mengetahui apa yang terjadi .. Jangan sampai kita ikut campur sebelum betul-betul perlu. Bagaimanapun, itu bukan tanggung jawab kira. Untunglah kita punya Jasper,” imbuh Edward, seolah pada dirinya sendiri. “Saat menghadapi vampir muda, dia bisa sangat membantu.”

“Jasper? Kenapa?”

Edward tersenyum misterius. “Bisa dibilang Jasper itu ahlinya vampir muda.”

“Apa maksudmu, ahlinya?”

“Kau harus tanya sendiri padanya-ceritanya rumit”

“Benar-benar kacau.” gerutuku.

“Rasanya memang seperti itu, ya? Seolah-olah masalah datang bertubi-tubi dari segala penjuru.” Edward mendesah. “Apa menurutmu kehidupanmu akan lebih mudah kalau kau tidak jatuh cinta padaku?”

“Mungkin. Bukan kehidupan yang menyenangkan, rapi.”

“Bagiku,” Edward mengoreksi pelan. “Dan sekarang,” sambungnya dengan senyum kecut, “kurasa kau pasti ingin meminta sesuatu dariku?”

Kupandangi Edward dengan tatapan kosong. “Minta apa?”

“Atau mungkin tidak” Edward nyengir. “Kalau tidak salah, sepertinya kau tadi berjanji akan minta izinku untuk menghadiri semacam acara kumpul-kumpul dengan para werewolf malam ini.”

“Menguping lagi, ya?”

Edward nyengir. “Hanya sedikit, di bagian akhir.”

“Well, sebenarnya aku tidak berniat minta izin darimu. Kupikir kau sudah cukup banyak pikiran.”

Edward meletakkan tangannya di bawah daguku, memeganginya sehingga ia bisa membaca mataku. “Kau ingin pergi?”

“Itu bukan hal besar. Tidak perlu dikhawatirkan.”

“Kau tidak perlu meminta izinku, Bella. Aku bukan ayahmu-syukurlah. Tapi mungkin seharusnya kau bertanya pada Charlie.”

“Tapi kau tahu Charlie pasti akan mengizinkan.”

“Aku memang lebih bisa melihat jawaban yang mungkin dia lontarkan daripada kebanyakan orang, itu benar.”

Aku hanya menatap Edward, berusaha memahami jalan pikirannya, dan mencoba menepis kerinduan untuk pergi ke La Push dari pikiranku agar aku tidak. digoyahkan keinginan-keinginanku sendiri, Rasanya bodoh kepingin nongkrong dengan segerombolan cowok-serigala besar padahal saat ini begitu banyak hal mengerikan dan tidak bisa dijelaskan sedang terjadi. Tentu saja, justru karena itulah aku ingin pergi. Aku ingin melepaskan diri sejenak dari ancaman kematian, meskipun hanya untuk beberapa jam… menjadi Bella yang kekanak-kanakan dan ceroboh, yang bisa menertawakan semua masalah dengan Jacob, meski hanya sesaat. Tapi itu bukan masalah.

“Bella,” kata Edward. “Sudah kubilang, aku akan berusaha bersikap lebih bijaksana dan memercayai penilaianmu. Aku tidak main-main. Kalau kau memercayai para werewolf itu, aku pun tidak akan khawatir soal mereka.”

“Wow,” ucapku, sama seperti semalam.

“Dan Jacob benar-mengenai satu hal setidaknyasekawanan werewolf seharusnya bisa melindungi, bahkan dirimu, untuk satu malam.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja. Tapi…”

Aku bersiap-siap mendengar kabar buruk.

“Kuharap kau tidak. keberatan kuminta berhari-hari? Membolehkan aku mengantarmu sampai ke perbatasan, pertama. Dan kedua, membawa ponsel, supaya aku tahu kapan harus menjemputmu?”

“Kedengarannya… sangat masuk akal.”

“Bagus sekali.”

Edward tersenyum padaku, dan aku tidak melihat setitik pun kecemasan di matanya yang bagaikan permata itu.

Tepat seperti yang sudah diduga, Charlie sama sekali tidak keberatan aku pergi ke La Push untuk pesta api unggun. Jacob berseru-seru kegirangan waktu aku meneleponnya untuk mengabarkan berita itu, dan sepertinya ia cukup bersemangat hingga mau menerima syarat-syarat pengamanan yang diajukan Edward. Ia berjanji akan menemui kami di garis perbatasan tepat pukul enam.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.