Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kau mengidap kelainan jiwa obsesif-kompulsif ya?” tanyanya begitu aku selesai.

Hah. Mungkin. Tapi paling tidak kali ini alasanku tepat. “Di sini kami agak sensitif dengan darah. Aku yakin kau bisa memahami hal itu.”

“Oh.” Jacob mengernyitkan hidungnya lagi.

“Kenapa tidak membuat keadaan menjadi semudah mungkin baginya? Apa yang dia lakukan sekarang sudah cukup berat.”

“Tentu, tentu. Kenapa tidak?”

Kutarik sumbat bak, dan membiarkan air kotor terisap masuk ke saluran pembuangan.

“Boleh aku tanya sesuatu, Bella?”

Aku mendesah.

“Bagaimana rasanya-punya sahabat werewolf?”

Pertanyaan itu membuatku kaget. Aku tertawa keraskeras.

“Menakutkan tidak bagimu?” desak Jacob sebelum aku bisa menjawab.

“Tidak. Kalau werewolf-nya sedang bersikap baik, rasanya menyenangkan sekali,” kataku.

Jacob nyengir lebar, giginya cemerlang berlatar belakang kulitnya yang cokelat kemerahan. “Trims, Bella.” katanya, kemudian menyambar tanganku dan memelukku erat sekali sampai nyaris meremukkan tulang-tulangku.

Belum sempat aku bereaksi, ia sudah melepas pelukannya dan mundur menjauh.

“Ugh,” omelnya, hidungnya mengernyit. “Rambutmu lebih bau daripada kamarmu.”

“Maaf” gumamku. Mendadak aku sadar apa yang ditertawakan Edward tadi, setelah bernapas begitu dekat di rambutku.

“Satu dari sekian banyak risiko bergaul dengan vampir,” tukas Jacob, mengangkat bahu. “Baumu jadi tidak keruan. Risiko kecil tapi, kalau dibandingkan risiko-risiko lain.”

Kupelototi dia. “Aku hanya berbau tidak enak bagimu, Jake.”

Jake menyeringai. “Sampai keremu lagi, Bells.”

“Kau sudah mau pulang?”

“Dia menungguku pergi. Aku bisa mendengarnya di luar.”

“Oh.”

“Aku akan keluar lewat pintu belakang.” kata Jacob, kemudian berhenti. “Tunggu sebentar-hei, menurutmu bisa tidak kau datang ke La Push nanti malam? Ada pesta api unggun. Emily akan datang, dan kau juga bisa berkenalan dengan Kim… Dan aku tahu Quit ingin bertemu denganmu juga. Dia agak kesal karena kau tahu lebih dulu daripada dia.”

Aku nyengir membayangkannya. Bisa kubayangkan bagaimana jengkelnya Quit mengetahui hal itu-teman perempuan manusia Jacob bergaul dengan werewolf sementara ia malah belum tahu apa-apa. Kemudian aku mendesah. “Yeah, Jake, aku tidak bisa memastikan. Begini, keadaan agak tegang sekarang ini…”

“Ayolah, mungkinkah ada yang bisa menerobos pertahanan semua-kami berenam?”

Ada jeda aneh setelah Jacob terbata-bata di akhir pertanyaan. Aku bertanya-tanya dalam hari, apakah ia kesulitan mengucapkan kata werewolf dengan suara keras, seperti aku sering mengalami kesulitan mengucapkan kata vampir.

Mara hitamnya yang besar tanpa malu-malu dipenuhi sorot memohon.

“Akan kutanyakan.” kataku ragu.

Jacob mengeluarkan suara yang kedengarannya seperti geraman pelan. “Jadi dia sekarang sipirmu juga? Tahu tidak, minggu lalu aku melihat berita tentang gaya pacaran remaja yang terlalu menguasai dan senang menyiksa-”

“Oke!” kupotong kata-katanya, kemudian kudorong lengannya. “Saatnya bagi werewolf untuk pulang!”

Jacob nyengir. “Bye, Bells. Pastikan kau minta izin padanya.”

Ia sudah kabur lewat pintu belakang sebelum aku bisa menemukan sesuatu untuk dilempar. Aku mengomel panjang lebar di ruangan yang kosong.

Beberapa detik setelah Jacob pergi, Edward berjalan lambat-lambat memasuki dapur, butiran-butiran air hujan berkilau bagaikan berlian di rambutnya yang berwarna perunggu. Sorot matanya kecut.

“Apakah kalian berkelahi?” tanyanya.

“Edward!” seruku, menubruknya.

“Halo.” Ia tertawa dan memelukku. “Kau berusaha mengalihkan perhatianku, ya? Caramu berhasil.”

“Tidak, aku tidak berkelahi dengan Jacob. Tidak terlalu. Kenapa?”

“Aku hanya penasaran kenapa kau menusuknya. Bukan berarti aku keberatan.” Dengan dagunya, Edward menuding pisau di konter,

“Astaga! Kukira aku sudah membersihkan semuanya.” Aku melepaskan diri darinya dan berlari untuk meletakkan pisau di bak cuci sebelum mengucurinya dengan cairan pemutih,

“Aku tidak menusuknya.” jelasku sambil terus bekerja. “Dia lupa sedang memegang pisau.”

Edward terkekeh. “Ternyata tidak seseru yang kubayangkan.”

“Jangan begitu

Edward mengeluarkan amplop besar dari saku jaketnya dan melemparnya ke konter, “Ada surat untukmu.”

“Kabar baik?”

“Aku pikir begitu.”

Mataku menyipit curiga mendengar nadanya. Aku beranjak untuk memeriksa.

Edward melipat amplop besar itu menjadi dua. Aku melicinkannya, terkejut saat merasakan kertasnya yang tebal dan mahal, lalu membaca alamat pengirimnya.

“Dartmouth? Apa ini leluconmu?”

“Aku yakin ini surat pernyataan diterima. Bentuknya mirip sekali dengan punyaku.”

“Ya ampun, Edward-apa yang kaulakukan?”

“Aku mengirimkan aplikasimu, itu saja.”

“Mungkin aku memang bukan calon yang tepat untuk Dartmouth, tapi aku tidak sebodoh itu hingga percaya hal ini.”

“Sepertinya Dartmouth menganggapmu calon yang tepat.”

Aku menghela napas dalam-dalam dan menghitung pelan-pelan sampai sepuluh. “Baik hati benar mereka.” ujarku akhirnya. “Namun, diterima atau tidak, terap ada masalah uang kuliah. Aku tidak sanggup membayarnya, dan aku tidak mau kau menghambur-hamburkan uang yang jumlahnya cukup untuk membeli mobil sport lagi hanya supaya aku bisa pura-pura masuk Dartmouth tahun depan.”

“Aku tidak butuh mobil sport lagi. Dan kau tidak perlu berpura-pura,” ujar Edward. “Setahun kuliah kan bukan masalah besar. Mungkin kau bahkan akan menyukainya. Pikirkan baik-baik, Bella. Bayangkan betapa senangnya Charlie dan Renee nanti…”

Suara Edward yang selembut beledu melukiskan gambaran itu di kepalaku sebelum aku sempat mencegahnya. Sudah pasti Charlie akan bangga bukan kepalang-tidak ada seorang warga Forks pun yang bakal luput mendengar, cerita bangga Charlie. Dan Renee pasti histeris saking girangnya mendengar keberhasilankuwalaupun dia pasti akan bersumpah sama sekali tidak terkejut….

Aku berusaha menepis bayangan itu dari kepalaku. “Edward. Membayangkan menjalani hidup sampai kelulusan saja aku sudah tidak sanggup, apalagi sampai musim panas atau musim gugur yang akan datang.”

Lengan Edward memelukku lagi. “Tidak ada yang akan mencelakakanmu. Kau masih punya banyak waktu.”

Aku mendesah. “Aku akan mengirimkan seluruh isi rekeningku ke Alaska besok, Hanya itu alibi yang kubutuhkan. Jaraknya cukup jauh hingga Charlie paling cepat baru akan mengharapkan kepulanganku saat Natal nanti. Dan aku yakin pasti bisa memikirkan alasan untuk tidak datang saat itu. Kau tahu.” godaku setengah hati, “hidup menyimpan rahasia dan selalu membohongi orang rasanya sedikit menyusahkan.”

Ekspresi Edward mengeras. “Semakin lama akan semakin mudah. Beberapa dekade mendatang, semua orang yang kaukenal akan mati. Jadi masalahmu beres.”

Aku tersentak.

“Maaf, ucapanku tadi kasar.”

Aku menunduk, menatap amplop putih besar itu tanpa benar-benar melihatnya. “Tapi benar.”

“Kalau aku berhasil menyelesaikan masalah ini, apa pun yang kira hadapi ini, maukah kau mempertimbangkan untuk menunggu?”

“Tidak.”

“Selalu saja keras kepala.”

“Yep.”

Mesin cuci berguncang keras dan mesinnya terbatukbatuk lalu mati.

“Dasar barang rongsokan,” gerutuku sambil melepaskan diri dari pelukan Edward. Kupindahkan lap piring kecil yang membuat mesin cuciku yang kosong-melompong itu mogok, lalu kunyalakan lagi.

“Aku jadi ingat,” kataku. “Bisakah kautanyakan pada Alice di mana dia menyimpan barang-barangku yang diambilnya waktu membersihkan kamarku? Sudah kucari ke mana-mana, tapi tidak ketemu.”

Edward menatapku bingung. “Alice membersihkan kamarmu?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.