Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku tidak tahu harus berkara apa.

Jacob nyengir, “Apakah keadaanku yang setengah telanjang ini membuatmu risi?”

“Tidak.”

Jacob tertawa lagi, dan aku memunggunginya untuk berkonsentrasi pada piring-piring yang sedang kucuci. Mudah-mudahan ia menyadari wajahku merah padam karena malu oleh kebodohanku sendiri, bukan karena pertanyaannya barusan.

“Well, sebaiknya aku langsung saja mulai.” Jacob mendesah.

“Aku tidak mau memberinya alasan untuk mengatakan bahwa aku tidak melakukan bagianku dengan benar.”

“Jacob, kau tak perlu…”

Jacob mengangkat tangan, menghentikan perkataanku. “Aku melakukannya atas dasar sukarela. Sekarang, di mana bau si tamu tak diundang itu paling kuat tercium?”

“Di kamarku, mungkin.”

Mara Jacob menyipit. Ia tidak menyukai kenyataan itu, sama seperti Edward.

“Tunggu sebentar.”

Dengan tekun aku menyikat piring yang kupegang. Satusatunya suara yang terdengar hanyalah bunyi sikat plastik menggesek-gesek permukaan keramik, Aku memasang telinga, berusaha mendengarkan suara dari atas, derit lantai papan, bunyi pintu ditutup. Tapi tidak terdengar apa-apa. Sadarlah aku bahwa aku sudah menyikat piring yang sama lebih lama daripada seharusnya, jadi aku berusaha memusatkan perhatian pada apa yang sedang kukerjakan.

“Fiuuh!” seru Jacob, beberapa sentimeter di belakangku, lagi-lagi membuatku melompat kaget.

“Aduh, Jake, jangan mengagetkanku terus!”

“Maaf. Ayo…” Jacob meraih lap dan mengeringkan tumpahan air. “Aku akan ‘menebus’ dosa-dosaku. Kau mencuci, aku yang membilas dan mengeringkan.”

“Baiklah.” Kusodorkan piring itu padanya,

“Well, baunya cukup kuat, Omong-omong, kamarmu

bau sekali.”

“Nanti aku beli pengharum ruangan.”

Jacob tertawa.

Selama beberapa menit berikutnya, aku mencuci dan

Jacob mengeringkan sambil berdiam diri.

“Boleh aku tanya sesuatu?”

Aku mengulurkan piring lagi padanya. “Tergantung pada

apa yang ingin kauketahui” “Bukan maksudku ikut campur atau bagaimana-aku

benar-benar ingin tahu.” Jacob berusaha meyakinkanku.

“Baik. Silakan, tanya saja.”

Jacob terdiam sebentar, “Bagaimana rasanya-punya

pacar vampir?” Aku memutar bola mataku. “Asyik sekali.”

“Aku serius. Apakah itu tidak pernah membuatmu merasa terganggu-tidak pernah membuatmu ngeri?”

“Tidak pernah.”

Jacob terdiam saat mengambil mangkuk dari tanganku. Kulirik wajahnya-kening Jacob berkerut, bibir bawahnya mencebik.

“Ada lagi?” tanyaku.

Jacob mengernyitkan hidungnya lagi. “Well, aku hanya

ingin tahu … apakah … ehh, kau berciuman dengannya?”

Aku tertawa. “Ya.”

Jacob bergidik. “Ugh.”

“Orang kan beda-beda.” gumamku.

“Memangnya kau tidak takut pada taringnya?”

Kutinju lengan Jacob, tubuhnya terciprat air cucian

piring. “Tutup mulutmu, Jacob! Kau tahu dia tidak punya taring!”

“Cukup mirip dengan taring!” gerutu Jacob.

Aku menggertakkan gigi dan dengan gemas menyikat pisau dapur.

“Boleh aku bertanya lagi?” tanya Jacob lirih waktu aku menyerahkan pisau itu padanya. “Hanya ingin tahu.”

“Baiklah,” bentakku.

Jacob membolak-balik pisau di tangannya di bawah kucuran air. Saat berbicara, suaranya hanya berupa bisikan. “Katamu kemarin beberapa minggu lagi…. Kapan, persisnya…?” Ia tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya.

“Kelulusan,” aku balas berbisik, menatap wajahnya waswas. Apakah ini akan membuatnya mengamuk lagi?

“Cepat sekali,” desah Jacob, matanya terpejam. Kedengarannya bukan pertanyaan. Melainkan ratapan. Otot-otot lengan Jacob mengeras dan bahunya mengejang.

“ADUH!” teriak Jacob; suasana di dapur begitu sunyi sampai-sampai aku melompat kaget mendengar teriakannya.

Tangan kanan Jacob menggenggam erat mata pisau-ia membuka genggaman dan pisau itu jatuh berdenting di konter, Di telapak tangannya tampak segaris luka panjang dan dalam. Darah mengalir ke jari-jarinya dan menetes ke lantai,

“Brengsek! Aduh!” maki Jacob.

Segera saja kepalaku pusing dan perutku berontak. Aku berpegangan erat-erat ke konter dengan satu tangan, menarik napas dalam-dalam lewat mulut, dan memaksa diri untuk tenang supaya bisa menolongnya.

“Oh, tidak, Jacob! Oh, brengsek! Ini, belitkan di tanganmu!”

Aku menyodorkan lap piring itu padanya, meraih tangannya. Jacob menepis tanganku.

“Tidak apa-apa, Bella, jangan khawatir.”

Seisi ruangan mulai tampak berpendar-pendar dan kabur di sisi-sisinya.

Aku kembali menarik napas dalam-dalam. “Jangan khawatir?! Tanganmu teriris pisau!”

Jacob tak menggubris lap yang kusodorkan padanya. Ia meletakkan tangannya di bawah keran dan membiarkan air mengalir membersihkan lukanya. Air yang mengucur berubah warna menjadi merah. Kepalaku berputar.

“Bella.” kata Jacob.

Aku memalingkan muka, tak mau melihat lukanya, dan mendongak menatap wajah Jacob. Kening Jacob berkerut, tapi ekspresinya tenang.

“Apa?”

“Kau kelihatan seperti mau pingsan, dan bibirmu kaugigiti. Hentikan. Rileks. Tarik napas panjang. Aku tidak apa-apa.”

Aku menghirup udara melalui mulut dan berhenti menggigit bibit bawahku. “Jangan sok kuat.”

Jacob memutar bola matanya.

“Ayo. Kuantar kau ke UGD,” Aku yakin sekali masih mampu menyetir. Dinding-dinding tidak tampak bergoyang-goyang lagi, setidaknya.

“Tidak perlu,” Jake mematikan air dan mengambil lap dari tanganku. Ia melilitkan lap itu dengan longgar ke telapak tangan.

“Tunggu.” protesku. “Coba kulihat.” Tanganku semakin erat mencengkeram konter, berjaga-jaga agar tidak jatuh kalau nanti luka itu membuatku pusing lagi.

“Memangnya kau punya gelar dokter tapi tidak pernah memberitahuku, ya?”

“Pokoknya beri aku kesempatan untuk memutuskan apakah aku perlu mengamuk atau tidak untuk membawamu ke rumah sakit.”

Jacob mengernyitkan wajah dengan sikap pura-pura ngeri.

“Please, jangan mengamuk!”

“Kalau aku tidak boleh melihat tanganmu, dijamin aku pasti mengamuk.”

Jacob menghela napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan suara keras, “Baiklah.”

Dibukanya belitan lap itu dan, waktu aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya, Jacob meletakkan tangannya di tanganku.

Dibutuhkan waktu beberapa derik. Aku bahkan sampai membalikkan tangannya, walaupun aku yakin telapak tangannya tadi terluka. Kubalikkan lagi tangan itu, akhirnya menyadari yang tersisa dari lukanya hanyalah goresan berwarna pink tua.

“Tapi… tadi kau berdarah… banyak sekali.”

Jacob menarik tangannya, matanya menatap mataku, tenang dan kalem.

“Lukaku sembuh dengan cepat.” “Betul sekali.” sahutku tanpa suara.

Padahal aku tadi melihat luka yang panjang itu dengan jelas, melihat darah yang mengalir ke bak cuci. Bau darah yang seperti karat bercampur garam bahkan nyaris membuatku pingsan. Luka seperti itu seharusnya dijahit. Seharusnya dibutuhkan waktu berhari-hari agar luka itu mengering, dan baru berminggu-minggu kemudian menjadi segores bekas luka warna pink mengilat seperti yang kini menghiasi kulit Jacob.

Mulut Jacob berkerut, membentuk senyum separo, lalu menepukkan tinjunya ke dada. “Werewolf, ingat?”

Matanya menatapku lama sekali.

“Benar,” ujarku akhirnya.

Jacob tertawa melihat ekspresiku. “Aku kan sudah pernah menceritakannya padamu. Kau juga pernah melihat bekas luka Paul.”

Aku menggeleng untuk menjernihkan pikiran, “Tapi sedikit lain kalau melihat urutan kejadiannya dengan mata kepala sendiri.”

Aku berlutut dan mengeluarkan botol berisi cairan pemutih dari rak di bawah bak cuci. Kemudian aku menuangkan sedikit ke lap dan mulai menggosok-gosok lantai. Bau cairan pemutih yang membakar melenyapkan sisa-sisa pusing dari kepalaku.

“Biar aku saja yang membersihkan.” kata Jacob.

“Tidak usah. Tolong masukkan saja lap ini ke mesin cuci.” Setelah aku yakin lantai tidak berbau apa-apa lagi kecuali bau cairan pemutih, aku bangkit dan membilas bak cuci sebelah kanan dengan cairan pemutih, Kemudian aku pergi ke ruang cuci di sebelah pantry, dan menuangkan satu tutup botol penuh cairan pemutih ke mesin cuci sebelum menyalakannya. Jacob mengamati kesibukanku dengan ekspresi tidak setuju tergambar di wajahnya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.