Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Kulirik Edward. Wajahnya sangat tenang, tapi aku yakin sekarang bukan saat yang tepat.

“Tidak sekarang.”

“Dia tidak suka padaku, kan? Sekali ini suara Jacob lebih terdengar malu ketimbang getir.

“Bukan itu masalahnya. Ada… well, ada masalah lain yang sedikit lebih mengkhawatirkan daripada werewolf remaja yang bandel…” Aku berusaha memperdengarkan nada bergurau, tapi ternyata tak berhasil mengelabui Jacob.

”Ada apa?” tuntutnya.

“Ehm.” Aku tak yakin apakah sebaiknya memberitahu dia.

Edward mengulurkan tangan padaku, meminta untuk bicara pada Jacob. Kupandangi wajahnya dengan saksama. Sepertinya Edward cukup tenang.

“Bella?” tanya Jacob.

Edward mendesah, tangannya terulur semakin dekat.

“Apa kau keberatan bicara dengan Edward?” tanyaku, was-was. “Dia ingin bicara denganmu.” Jacob terdiam lama sekali.

“Oke.” Jacob akhirnya setuju, “Ini pasti menarik.”

Kuserahkan gagang telepon kepada Edward; mudahmudahan ia membaca sorot peringatan di mataku.

“Halo, Jacob,” sapa Edward, sopan sekali.

Sunyi. Aku menggigit bibir, berusaha menebak bagaimana Jacob menanggapi sapaan Edward.

“Ada yang datang ke sini… baunya tidak kukenal.” Edward menjelaskan. “Apakah kawananmu menemukan sesuatu yang baru?”

Diam lagi, sementara Edward mengangguk-angguk, tidak terkejut.

“Jadi begini, Jacob. Aku tidak akan melepaskan pengawasanku terhadap Bella sampai masalah ini beres. Harap jangan tersinggung.”

Jacob memotong kata-kata Edward, dan aku bisa mendengar dengung suaranya dari corong telepon, Apa pun yang ia katakan, kedengarannya lebih bersungguh-sungguh daripada sebelumnya. Aku tidak bisa mendengar kata-kata Jacob.

“Mungkin kau benar…,” Edward mulai berbicara, tapi Jacob mendebatnya lagi. Setidaknya, kedengarannya mereka tidak marah.

“Usul yang menarik. Kami sangat bersedia melakukan negosiasi ulang. Jika Sam setuju.”

Suara Jacob kini lebih pelan. Aku mulai menggigit-gigit ibu jariku saat berusaha membaca ekspresi Edward.

“Terima kasih.” sahut Edward.

Lalu Jacob mengatakan sesuatu yang membuat ekspresi kaget melintas di wajah Edward.

“Sebenarnya, aku berencana pergi sendiri.” kata Edward, menjawab pertanyaan yang tidak disangka-sangka itu, “Supaya yang lainnya bisa menjaga Bella.”

Suara Jacob naik satu oktaf dan kedengarannya ia berusaha meyakinkan Edward.

“Aku akan berusaha mempertimbangkannya secara objektif,” Edward berjanji. “Seobjektif yang mampu kulakukan.”

Kali ini diamnya lebih pendek.

“Idemu tidak buruk, Kapan? …Tidak, tidak apa-apa. Sebenarnya aku sendiri juga ingin mengikuti jejaknya. Sepuluh menit… tentu.” kata Edward. Ia menyodorkan telepon padaku. “Bella?”

Pelan-pelan aku menerimanya, bingung.

“Apa yang kalian bicarakan tadi?” aku bertanya pada Jacob, suaraku jengkel. Aku tahu ini kekanak-kanakan, tapi aku merasa tersisih.

“Gencatan senjata, kurasa. Hei, kau bisa membantuku.” Jacob menyarankan. “Cobalah meyakinkan si pengisap darah bahwa tempat teraman untukmu-terutama saat dia tidak ada-adalah di reservasi. Kami mampu mengatasi masalah apa pun.”

“Jadi itukah yang tadi kauusulkan padanya?”

“Ya. Masuk akal, kan? Mungkin sebaiknya Charlie berada di sini juga. Sesering mungkin.”

“Minta Billy membujuknya.” aku setuju. Aku tidak suka membayangkan Charlie berada dalam jangkauan sasaran tembak yang sepertinya selalu terarah padaku. “Apa lagi?”

“Hanya mengatur ulang beberapa perbatasan, supaya kami bisa menangkap siapa pun yang berada terlalu dekat dengan Forks. Aku tidak yakin apakah Sam mau melakukannya, tapi sampai dia bisa diyakinkan, aku akan terus berjaga-jaga.”

“Apa maksudmu ‘berjaga-jaga’?”

“Maksudku, kalau kau melihat serigala berlari-lari di sekitar rumahmu, jangan ditembak.”

“Tentu saja tidak. Tapi tidak seharusnya kau melakukan… hal-hal riskan.”

Jacob mendengus. “Jangan bodoh, Aku bisa menjaga diri.”

Aku mendesah.

“Aku juga berusaha meyakinkan dia untuk membiarkanmu datang berkunjung. Dia tidak suka pada kami, jadi jangan termakan ocehannya tentang keselamatan. Dia sama tahunya dengan aku, bahwa kau pasti aman di sini.”

“Akan kuingat baik-baik.”

“Sampai ketemu sebentar lagi.” kata Jacob.

“Kau akan ke sini?”

“Yeah. Aku akan mengendus bau si tamu tak diundang supaya kami bisa melacaknya kalau dia kembali nanti.”

“Jake, aku benar-benar tidak suka membayangkan kau melacak…”

“Oh please, Bella,” selanya. Jacob tertawa, kemudian menutup telepon.

 

10. BAU

SUNGGUH kekanak-kanakan. Kenapa Edward harus pergi sebelum Jacob datang? Bukankah kami sudah melupakan halhal kekanakan seperti ini?

“Bukan berarti aku memiliki antagonisme pribadi terhadapnya, Bella, tapi itu lebih mudah bagi kami berdua.” Edward berkata di ambang pintu. “Aku tidak akan berada jauh dari sini. Kau akan aman.”

“Bukan itu yang kukhawatirkan.”

Edward tersenyum, kemudian secercah ekspresi licik terpancar dari matanya. Ia menarikku ke dekatnya, mengubur wajahnya di rambutku. Bisa kurasakan embusan napasnya yang dingin membasahi helai-helai rambutku saat ia mengembuskan napas; bulu kuduk di tengkukku langsung meremang.

“Aku akan segera kembali,” ucapnya, kemudian tertawa keras-keras, seolah-olah baru saja melontarkan lelucon yang lucu sekali.

“Apanya yang lucu?”

Tapi Edward hanya nyengir, lalu melesat ke arah pepohonan tanpa menjawab.

Menggerutu sendiri, aku beranjak untuk membersihkan dapur. Sebelum sempat mengisi bak cuci sampai penuh, bel pintu sudah berbunyi, Sulit membiasakan diri dengan kenyataan bahwa Jacob justru bisa datang jauh lebih cepat tanpa naik mobil. Sebal juga rasanya, bagaimana semua orang sepertinya bisa bergerak jauh lebih cepat daripada aku…

“Masuklah, Jake!” teriakku.

Aku sedang berkonsentrasi pada tumpukan piring dalam air bersabun hingga lupa kalau belakangan ini Jacob bisa berjalan tanpa suara. Maka aku pun terlonjak kaget waktu suaranya tiba-tiba terdengar di belakangku.

“Kenapa kau membiarkan pintumu tidak dikunci seperti itu? Oh, maaf.”

Aku terciprat air cucian piring ketika kehadiran Jacob membuatku terlonjak kaget.

“Aku tidak mencemaskan orang yang bisa dihalangi dengan pintu terkunci,” tukasku sambil menyeka bagian depan bajuku dengan lap.

“Memang benar,” Jacob sependapat.

Aku berpaling untuk memandanginya, menatapnya dengan pandangan kritis. “Memangnya kau benar-benar tidak bisa mengenakan baju, ya, Jacob?” tanyaku. Lagi-lagi Jacob bertelanjang dada, tidak memakai apa-apa kecuali jins usang yang dipotong pendek, Diam-diam aku curiga apakah Jacob memang sengaja ingin memamerkan otot-otot barunya yang kekar. Harus kuakui, otot-ototnya memang mengesankan-tapi menurutku Jacob bukan tukang pamer. “Aku tahu kau tidak pernah kedinginan lagi, tapi tetap saja.”

Jacob melarikan jemarinya di rambutnya yang basah; rambut itu menjuntai ke matanya.

“Begini lebih mudah.” ia menjelaskan.

“Apanya yang lebih mudah?”

Jacob tersenyum sinis, “Membawa-bawa celana pendek saja sudah cukup merepotkan, apalagi baju dan celana lengkap. Memangnya aku keledai pengangkut?”

Keningku berkerut. “Kau ini bicara apa sih, Jacob?”

Ekspresi Jacob menyiratkan kemenangan, seolah-olah aku luput memerhatikan sesuatu yang sudah sangat jelas. “Bajuku tidak ikut menghilang dan muncul lagi setiap kali aku berubah bentuk-jadi aku harus membawanya sambil berlari. Maaf kalau aku tidak ingin membawa beban terlalu banyak.”

Wajahku merah padam. “Itu sama sekali tidak terpikir olehku.” gumamku.

Jacob tertawa dan menunjuk tali kulit hitam setipis benang rajut yang dililitkan tiga kali di tungkai kirinya, menyerupai gelang. Barulah aku sadar ia juga bertelanjang kaki. “Itu kupakai bukan untuk bergaya-tidak enak rasanya membawa-bawa jins di mulur.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.