Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kalau begitu, kenapa dia tidak langsung datang ke sini? Kalau dia memang hanya ingin tahu?” tuntut Emmett.

“Kalau kau pasti akan berbuat begitu,” kata Esme dengan senyum sayang yang tiba-tiba merekah. “Tapi vampir lain belum tentu melakukan hal yang sama. Keluarga kira sangat besar-bisa jadi dia takut. Tapi Charlie tidak diapa-apakan. Jadi belum tentu dia musuh.”

Hanya penasaran. Seperti James dan Victoria dulu juga penasaran, pada awalnya? Membayangkan Victoria saja sudah membuatku gemetar, walaupun satu hal yang sangat mereka yakini adalah, tamu tak diundang ini bukan Victoria. Kali ini bukan. Victoria akan tetap pada pola obsesifnya. Ini pasti vampir lain, vampir asing.

Pelan tapi pasti, aku akhirnya menyadari jumlah vampir di dunia ini ternyata lebih banyak daripada yang awalnya kukira. Seberapa sering sebenarnya manusia berpapasan dengan mereka, tapi tidak menyadarinya? Berapa banyak kematian, yang dilaporkan sebagai korban kejahatan dan kecelakaan, yang sebenarnya diakibatkan para vampir kehausan? Sesesak apa sebenarnya dunia baru ini nanti saat aku akhirnya bergabung?

Masa depan yang masih terbungkus rapat itu membuat sekujur tubuhku bergidik.

Keluarga Cullen memikirkan perkataan Esme barusan dengan ekspresi berbeda-beda. Kentara sekali Edward tidak menerima teori itu, sementara Carlisle sangat ingin menerimanya.

Alice mengerucutkan bibir, “Menurutku tidak begitu. Waktunya terlalu tepat… Tamu tak diundang itu sangat berhati-hati untuk tidak melakukan kontak. Seolah-olah dia tahu kalau dia menyentuh sesuatu, aku akan melihatnya.”

“Mungkin dia punya alasan lain untuk tidak menyentuh sesuatu.” Esme mengingatkan Alice.

“Apakah penting mengetahui siapa tamu tak diundang itu?” tanyaku. “Yang jelas, memang ada yang mencariku… apakah itu bukan alasan yang cukup kuat? Sebaiknya kita tidak menunggu sampai kelulusan.”

“Tidak, Bella,” sergah Edward cepat. “Masalahnya tidak segawat itu. Kalau kau benar-benar dalam bahaya, kami pasti akan tahu.”

“Pikirkan Charlie,” Carlisle mengingatkanku. “Pikirkan betapa sedihnya dia kalau kau tiba-tiba menghilang.”

“Aku justru memikirkan Charlie! Justru karena aku mengkhawatirkan dia! Bagaimana kalau tamu tak diundang itu kebetulan haus semalam? Selama aku berada di dekat Charlie, dia juga akan menjadi target. Kalau terjadi apa-apa padanya, itu semua salahku!”

“Itu tidak benar, Bella,” kata Esme, menepuk-nepuk kepalaku. “Dan Charlie akan baik-baik saja. Kita hanya harus lebih berhati-hati.”

“Lebih berhati-hati,” ulangku dengan nada tidak percaya.

“Semua pasti beres, Bella,” janji Alice; Edward meremas tanganku.

Dan jelaslah bagiku, saat melihat wajah-wajah rupawan mereka satu demi satu, bahwa apa pun yang kukatakan, takkan bisa mengubah pendirian mereka.

Dalam perjalanan pulang, kami lebih banyak diam. Aku frustrasi. Meski sudah menyampaikan alasan yang kedengarannya masuk akal, aku masih tetap manusia.

“Kau tidak akan sendirian sedetik pun.” Edward berjanji saat mengantarku pulang ke rumah Charlie.

“Akan selalu ada yang menjagamu. Emmett, Alice, Jasper…”

Aku mendesah. “Konyol, Mereka pasti akan bosan setengah mati. Jangan-jangan mereka sendiri yang akan membunuhku nanti, hanya supaya ada kerjaan.”

Edward memandangiku masam. “Lucu sekali, Bella.”

Suasana hati Charlie sedang bagus waktu kami sampai di rumah. Ia melihat ketegangan di antara aku dan Edward, dan salah mengartikannya. Diawasinya kesibukanku memasak makan malam dengan senyum kemenangan tersungging di wajahnya. Edward pergi sebentar, untuk melihat-lihat keadaan, asumsiku, tapi Charlie menunggu sampai Edward kembali untuk menyampaikan pesan yang ia terima.

“Jacob menelepon lagi.” kata Charlie begitu Edward datang.

Kubiarkan wajahku datar tanpa ekspresi saat meletakkan piring di hadapannya.

“Benarkah?”

Charlie mengernyit. “Jangan picik begitu, Bella. Kedengarannya dia merana sekali.”

“Jacob membayar Dad jadi humasnya, atau Dad membantunya secara sukarela?”

Charlie menggerutu panjang-pendek tidak jelas padaku sampai makanan tiba dan membungkam omelannya.

Meski tidak menyadarinya, teguran Charlie tadi tepat mengenal sasaran.

Hidupku memang bagaikan permainan ular tangga sekarang ini-apakah aku akan dapat ular saat dadu berikutnya dilemparkan? Bagaimana kalau benar-benar terjadi sesuatu pada diriku nanti? Rasanya aku lebih dari sekadar picik jika aku membiarkan Jacob merasa bersalah atas apa yang dia katakan tadi.

Tapi aku tidak mau bicara dengannya saat Charlie ada, karena aku harus sangat berhati-hati agar tidak salah omong. Memikirkan ini membuatku iri pada hubungan Jacob dan Billy. Betapa mudahnya hidup kalau tak ada yang perlu kaurahasiakan dari orang yang tinggal serumah denganmu.

Kuputuskan untuk menunggu sampai esok pagi, Besar kemungkinan aku tidak akan mati malam ini, jadi tak ada salahnya membuat Jacob merasa bersalah hingga dua belas jam lagi. Bahkan mungkin itu bagus Untuk memberinya pelajaran.

Setelah Edward berpamitan malam ini, aku bertanyatanya dalam hati siapa gerangan yang akan bertugas di tengah hujan deras malam ini, menjaga Charlie dan aku, Aku merasa tak enak hati pada Alice atau siapa pun orangnya, meski tak urung merasa tenang juga. Harus kuakui itu melegakan, tahu aku tidak sendirian. Dan Edward kembali secepat kilat.

Lagi,lagi Edward meninabobokan aku sampai tertidur dan-menyadari bahwa dia ada meskipun aku sedang tidurtidurku nyenyak sekali, bebas dari mimpi buruk.

Esok paginya, Charlie sudah berangkat memancing bersama Deputi Mark sebelum aku bangun. Kuputuskan untuk memanfaatkan waktu kosong tanpa pengawasan ini untuk berbuat baik.

“Aku akan membebaskan Jacob dari perasaan bersalahnya.” aku mewanti-wanti Edward begitu selesai sarapan.

“Sudah kuduga kau pasti akan memaafkan dia.” Edward menanggapi sambil tersenyum enteng. “Kau memang tidak berbakat mendendam.”

Aku memutar bola mata, tapi senang mendengarnya. Kelihatannya Edward benar-benar sudah tidak mempermasalahkan pergaulanku dengan werewolf.

Aku tidak melihat jam sampai setelah menghubungi nomor telepon rumah Jacob. Ternyata masih agak terlalu pagi untuk menelepon, dan aku sempat khawatir akan membangunkan Billy dan Jake, tapi teleponku langsung diangkat pada deringan kedua, jadi dia pasti tidak sedang jauh-jauh dari pesawat telepon.

“Halo?” sebuah suara muram menyahut.

“Jacob.”

“Bella!” pekiknya. “Oh, Bella, aku benar-benar minta maaf!” Kata-kata itu berhamburan susul-menyusul dari mulut Jacob, begitu terburu-buru ingin mengungkapkan semuanya. “Sumpah, aku tidak bermaksud berkata begitu. Aku memang bodoh. Aku marah – tapi itu bukan alasan, Itu hal paling bodoh yang pernah kuucapkan seumur hidup dan aku minta maaf. jangan marah padaku, please? Please. Seumur hidup jadi budakmu pun aku mau – asal kau mau memaafkanku.”

“Aku tidak marah, Kau sudah dimaafkan.”

“Terima kasih.” Jacob mengembuskan napas keraskeras. ”Aku tak percaya aku bisa sebodoh itu.”

“Jangan khawatir soal itu-aku sudah terbiasa.”

Jacob tertawa, lega bukan main. “Datanglah ke sini.” pintanya. “Aku ingin membayar kelakuan burukku kemarin.”

Aku mengerutkan kening. “Bagaimana caranya?”

“Apa saja yang kau mau. Terjun dari tebing.” Jacob mengusulkan, tertawa lagi.

“Oh, itu baru ide brilian.”

”Aku akan menjagamu.” janji Jacob. “Apa pun yang ingin kaulakukan.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.