Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku merasa darah surut dari wajahku, “Victoria?” tanyaku, suaraku tercekat.

“Aku tidak mengenali baunya.”

“Salah seorang keluarga Volturi,” aku menduga.

“Mungkin.”

“Kapan?”

“Itulah sebabnya menurutku ini salah seorang dari mereka-karena kejadiannya belum lama, pagi-pagi sekali, waktu Charlie masih tidur. Dan siapa pun itu, dia tidak menyentuh Charlie, jadi pasti ada tujuan lain.”

“Mencariku.”

Edward tidak menyahut. Tubuhnya membeku, seperti patung.

“Kenapa kalian bisik-bisik begitu?” tanya Charlie curiga, mendadak muncul dengan membawa mangkuk popcorn yang sudah kosong.

Aku merasa mual. Ada vampir datang ke rumah mencariku saat Charlie sedang tidur. Panik melandaku, membuat kerongkonganku bagai tercekik. Aku tak mampu menjawab, hanya memandangi Charlie dengan sangat ketakutan.

Ekspresi Charlie berubah. Mendadak ia nyengir. “Kalau kalian sedang bertengkar… well, aku tidak mau mengganggu.”

Masih nyengir, Charlie meletakkan mangkuknya di bak cuci, lalu melenggang keluar ruangan.

“Ayo kira pergi.” ajak Edward dengan suara pelan yang kaku.

“Tapi Charlie!” Perasaan takut itu meremas dadaku, membuatku sulit bernapas,

Edward menimbang-nimbang sejenak, dan sejurus kemudian tangannya sudah memegang ponsel.

“Emmett,” gumam Edward di corong telepon. Ia mulai berbicara cepat sekali hingga aku tidak memahami katakatanya. Pembicaraan selesai dalam setengah menir. Lalu ia kembali menarikku ke pintu.

“Emmett dan Jasper sedang dalam perjalanan ke sini,” bisiknya saat merasakan penolakanku, “Mereka akan menyisir hutan. Charlie aman.”

Lalu kubiarkan Edward menyeretku, terlalu panik untuk bisa berpikir jernih. Charlie masih memandangku dengan cengiran puas, namun ketika ia melihat mataku yang memancarkan sorot ketakutan, tatapannya serta-merta berubah jadi bingung. Edward sudah berhasil menyeretku ke luar pintu sebelum Charlie sempat mengatakan apa-apa.

“Kita mau ke mana?” Aku masih terus berbisik-bisik, bahkan setelah kami berada di mobil.

“Kita akan bicara dengan Alice,” kata Edward, volumenya normal tapi nadanya muram.

“Menurutmu mungkin dia melihat sesuatu?”

Edward memandang lurus ke jalan dengan mata menyipit. “Mungkin.”

Mereka menunggu kami, karena sudah diperingatkan Edward melalui telepon. Rasanya seperti berjalan memasuki museum, semua berdiri diam seperti patung dalam berbagai variasi pose stres.

“Apa yang terjadi?” tuntut Edward begitu kami masuk melewati pintu. Aku syok melihatnya memelototi Alice, kedua tangan terkepal marah.

Alice berdiri dengan kedua lengan terlipat erat di dada. Hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak. “Aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak melihat apa-apa.”

“Bagaimana hisat’ desis Edward.

“Edward,” sergahku, menegurnya secara halus, Aku tidak suka ia berbicara sekasar itu pada Alice.

Carlisle menyela dengan nada menenangkan. “Ini bukan ilmu pasti, Edward.”

“Orang itu masuk ke kamarnya, Alice. Bisa saja dia ada di sana-menunggu Bella.”

“Aku pasti akan melihatnya.”

Edward melontarkan kedua tangannya dengan sikap putus asa. “Betulkah? Kau yakin?”

Suara Alice dingin waktu menjawab. “Kau sudah menyuruhku berjaga-jaga, melihat kalau-kalau keluarga Volturi sudah mengambil keputusan, melihat apakah Victoria kembali, mengawasi setiap langkah Bella. Mau menambahkan tugas lain? Apakah aku juga harus mengawasi Charlie, atau kamar Bella, atau rumahnya, atau seantero jalannya sekalian? Edward, kalau terlalu banyak yang harus kulakukan. selalu ada kemungkinan ada yang luput dari perhatian.”

“Kelihatannya memang sudah ada yang luput dari perhatian,” bentak Edward.

“Keselamatan Bella tidak pernah terancam. Tidak ada yang perlu dilihat.” .

“Kalau kau memang mengawasi Italia, kenapa kau tidak melihat mereka mengirim…”

“Kurasa pelakunya bukan orang suruhan mereka.” bantah Alice bersikeras. “Kalau suruhan mereka, aku pasti bisa melihatnya.”

“Siapa lagi yang akan membiarkan Charlie hidup?” Aku bergidik.

“Entahlah,” jawab Alice.

“Membantu sekali.”

“Hentikan, Edward,” bisikku.

Edward berpaling padaku, wajahnya masih terlihat garang, rahangnya terkatup rapat. Ia menatapku galak selama setengah detik, kemudian, tiba-tiba, mengembuskan napas. Matanya membelalak dan rahangnya mengendur.

“Kau benar, Bella. Maafkan aku.” Dipandanginya Alice.

“Maafkan aku, Alice. Seharusnya aku tidak melampiaskannya padamu. Ini sungguh keterlaluan.”

“Aku mengerti.” Alice meyakinkan Edward. “Aku juga bingung memikirkannya.”

Edward menarik napas dalam-dalam. “Oke, mari kita telaah dengan pikiran logis. Apa saja kemungkinannya?”

Seketika itu juga ketegangan yang dirasakan semua orang tampak mencair. Alice rileks dan bersandar ke punggung sofa. Carlisle berjalan pelan-pelan menghampiri Alice, matanya menerawang jauh. Esme duduk di sofa di depan Alice, melipat kakinya ke kursi. Hanya Rosalie yang tetap tak bergerak, berdiri memunggungi kami, memandang ke dinding kaca.

Edward mendudukkan aku di sofa dan aku duduk di sebelah Esme, yang mengubah posisi dan merangkul bahuku. Edward menggenggam sebelah tanganku erat-erat dengan kedua tangan.

“Victoria?” tanya Carlisle.

Edward menggeleng. “Bukan, Aku tidak mengenali baunya. Mungkin salah seorang anak buah Volturi, yang belum pernah kutemui.”

Alice menggeleng. “Aro belum menyuruh siapa pun mencari Bella. Aku pasti akan melihatnya. Aku sedang menunggu hal itu.”

Edward tersentak. “Kau mengawasi datangnya perintah resmi.”

“Jadi menurutmu ada yang bertindak sendiri? Kenapa?”

“Ide Cains,” duga Edward, wajahnya kembali menegang.

“Atau Jane .. ,” kata Alice. “Mereka sama-sama memiliki kemampuan untuk mengirimkan vampir yang tidak dikenal.”

Edward memberengut. “Dan sama-sama punya motivasi”

“Tapi itu tidak masuk akal,” tukas Esme. “Siapa pun itu, kalau dia bermaksud menunggu Bella, Alice pasti akan melihatnya. Dia tidak bermaksud mencelakakan Bella. Atau Charlie, dalam hal ini.”

Aku mengkeret mendengar nama ayahku disebut.

“Tenanglah, Bella,” bisik Esme, mengelus-elus rambutku.

“Tapi apa tujuannya, kalau begitu?” Carlisle merenung.

“Mengecek apakah aku masih manusia?” aku menduga.

“Mungkin,” Carlisle membenarkan.

Rosalie mengembuskan napas, cukup keras untuk terdengar olehku. Ia sudah mencair dari kebekuannya, dan wajahnya kini berpaling ke dapur dengan sikap penuh harap. Edward, di lain pihak, terlihat kecewa.

Emmett menerjang masuk melalui pintu dapur, Jasper tepat di belakangnya.

“Sudah pergi, berjam-jam yang lalu.” Emmett mengumumkan, kecewa. “Jejaknya mengarah ke Timur, kemudian selatan, dan menghilang ke jalan kecil. Ada mobil yang menunggu di sana.”

“Sial,” gerutu Edward. “Padahal kalau dia pergi ke barat… well, akhirnya anjing-anjing itu akan berguna.”

Aku meringis, dan Esme mengusap bahuku.

Jasper menatap Carlisle. “Kami tidak mengenalinya. Tapi ini.” Jasper mengulurkan sesuatu yang berwarna hijau dan kisut. Carlisle menerimanya dan mendekatkan benda itu ke wajahnya. Kulihat, saat benda itu berpindah tangan, ternyata itu ranting pakis yang patah. “Mungkin kau mengenali baunya.”

“Tidak.” jawab Carlisle. “Tidak kenal. Bukan seseorang yang pernah bertemu denganku.”

“Mungkin kita semua salah duga. Mungkin ini hanya kebetulan… ,” Esme mulai menyampaikan pemikirannya, tapi terhenti saat melihat semua mata memandangnya dengan sorot tak percaya. “Maksudku, bukan kebetulan ada orang asing memilih datang ke rumah Bella secara acak. Maksudku, mungkin saja orang itu hanya ingin tahu. Bau kita menempel kuat di tubuh Bella. Mungkinkah dia penasaran apa yang menarik kita ke sana?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.