Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Masa? Kalau begitu, kenapa kau tidak mau bercerita padaku?”

“Karena memang tidak ada yang perlu diceritakan. Kau terlalu membesar-besarkan.”

“Siapa?” desakku,

Edward mendesah. “Tanya sempat menyatakan ketertarikannya. Aku mengatakan padanya, dengan sesopan dan se-gentleman mungkin, bahwa aku tidak bisa membalas perhatiannya. Hanya itu.”

Aku menjaga agar suaraku terdengar sedatar mungkin. “Jawab pertanyaanku – Tanya itu seperti apa?”

“Sama saja seperti kami – kulit putih, mata emas,” Edward menjawab terlalu cepat.

“Dan, tentu saja, luar biasa cantik.”

Aku merasakan Edward mengangkat bahu.

“Kurasa begitu, menurut mata manusia,” kata Edward, tak acuh. “Tapi tahukah kau?”

“Apa? Suaraku sewot.

Edward menempelkan bibirnya di telingaku; napasnya yang dingin menggelitik. “Aku lebih suka wanita berambut cokelat.”

“Jadi rambutnya pirang. Pantas.”

“Pirang stroberi-sama sekali bukan tipeku.”

Aku memikirkannya sebentar, berusaha berkonsentrasi sementara bibir Edward bergerak pelan menyusuri pipiku, terus ke tenggorokan, lalu naik lagi. Ia mengulanginya hingga tiga kali sebelum aku bicara.

“Kurasa itu bisa diterima,” aku memutuskan.

“Hmmm.” bisikan Edward menerpa kulitku. “Kau sangat menggemaskan kalau sedang cemburu. Ternyata asyik juga.”

Aku merengut dalam gelap.

“Sudah malam.” kata Edward lagi, berbisik, nadanya nyaris membujuk, lebih halus daripada sutra. “Tidurlah, Bella-ku. Mimpilah yang indah-indah. Kau satu-satunya yang pernah menyentuh hatiku. Cintaku selamanya milikmu. Tidurlah, cintaku satu-satunya.”

Edward mulai menyenandungkan lagu ninaboboku, dan aku tahu tak lama lagi aku pasti akan terlena, jadi aku lantas memejamkan mata dan meringkuk lebih rapat lagi ke dadanya.

 

9. TARGET

ALICE mengantarku pulang paginya, untuk mempertahankan kedok pesta semalam suntuk. Tak lama kemudian baru Edward akan datang, secara resmi kembali dari perjalanan “hiking”-nya. Semua kepura-puraan ini mulai membuatku muak. Aku tidak akan merindukan bagian ini dari kehidupan manusiaku kelak.

Charlie mengintip lewat jendela depan begitu mendengarku membanting pintu mobil. Ia melambai kepada Alice, kemudian membukakan pintu untukku.

“Senang, tidak?” tanya Charlie.

“Tentu saja, sangat senang. Sangat… cewek.”

Aku membawa barang-barangku masuk, menjatuhkan semuanya di kaki tangga, lalu ke dapur mencari camilan.

“Ada pesan untukmu.” seru Charlie.

Di konter dapur, notes khusus untuk menulis pesan telepon disandarkan secara mencolok pada wajan.

Jacob menelepon, tulis Charlie.

Katanya dia tidak sungguh-sungguh dan dia minta maaf. Kau diminta meneleponnya. Baik-baiklah dengannya, kedengarannya dia kalut.

Aku meringis. Tidak biasanya Charlie mengedit pesanpesanku.

Masa bodoh kalau Jacob kalut. Aku tidak ingin bicara dengannya. Terakhir kali kudengar, mereka tidak mengizinkan telepon dari pihak lawan. Kalau Jacob lebih suka aku mati, mungkin sebaiknya ia membiasakan diri aku tak ada.

Selera makanku hilang. Aku berbalik dan pergi untuk menyimpan barang-barangku.

“Kau tidak akan menelepon Jacob?” tanya Charlie. Ia bersandar di dinding ruang tamu, mengawasiku mengambil barang-barang.

“Tidak.”

Aku mulai melangkah menaiki tangga.

“Itu bukan sikap yang baik, Bella,” tegur Charlie. “Memaafkan itu perintah Tuhan.”

“Urus saja urusanmu sendiri.” gerutuku pelan, saking pelannya hingga pasti tidak terdengar Charlie,

Aku tahu cucian pasti menumpuk, jadi setelah menyimpan pasta gigi dan melempar baju-baju kotorku ke keranjang cucian kotor, aku pergi ke kamar Charlie untuk melepas seprai. Kutaruh seprainya di onggokan dekat puncak tangga, lalu pergi untuk melepas sepraiku sendiri,

Aku berhenti sebentar di samping tempat tidur, menelengkan kepala ke satu sisi.

Mana bantalku? Aku berjalan berkeliling, menyapukan pandangan ke seisi kamar. Tidak ada bantal. Aneh, kamarku terkesan sangat rapi. Bukankah kemarin ada kaus abu-abu disampirkan di tiang ranjang bagian bawah? Dan berani sumpah, seingatku ada kaus kaki kotor di sandaran kursi goyang, juga blus merah yang kujajal dua hari lalu, tapi tidak jadi kupakai karena kuanggap terlalu resmi untuk dipakai ke sekolah, tersampir di lengan kursi goyang… Dengan cepat aku berbalik lagi. Keranjang cucianku tidak kosong, tapi isinya juga tidak menggunung, seperti perkiraanku tadi.

Apakah Charlie mencuci pakaianku? Tidak biasanya ia berbuat begitu.

“Dad, kemarin Dad mencuci, ya?” teriakku dari ambang pintu.

“Ehm, tidak.” Charlie balas berteriak, terdengar bersalah. “Kau mau aku mencuci?”

“Tidak, aku saja. Kemarin Dad masuk ke kamarku untuk mencari sesuatu?”

“Tidak. Kenapa?”

“Mmm… blusku ada yang hilang.”

“Aku tidak masuk ke sana.”

Kemudian aku ingat Alice datang ke sini untuk mengambil piamaku. Aku tidak sadar ia juga meminjam bantalku-mungkin karena selama di sana aku menolak tidur di tempat tidur. Kelihatannya ia sekalian berbenah, mumpung sedang di sini. Aku jadi malu karena kamarku begitu berantakan.

Tapi blus merah itu sebenarnya belum kotor, jadi aku beranjak ke keranjang cucian untuk mengambilnya lagi.

Aku mengira akan menemukan blus itu di tumpukan paling atas, tapi ternyata tidak ada. Aku tahu mungkin aku mulai paranoid, tapi sepertinya ada barang lain yang hilang, atau mungkin lebih dari satu barang. Soalnya pakaian kotor yang ada di sini sedikit sekali.

Kurenggut seprai dari tempat tidur lalu bergegas menuju ruang cuci, menyambar pakaian kotor Charlie dalam perjalanan ke sana. Mesin cuci juga kosong. Aku juga mengecek mesin pengering, separuh berharap bakal menemukan pakaian yang sudah dicuci di sana, setelah Alice mencucinya. Nihil. Aku mengerutkan kening, bingung.

“Sudah ketemu yang dicari?’ teriak Charlie.

“Belum.”

Aku kembali ke lantai atas untuk mencari di kolong tempat tidur. Tidak ada apa-apa kecuali sandal kamar. Aku mulai mengaduk-aduk laci lemari. Mungkin aku lupa telah menyimpan blus merah itu.

Aku menyerah ketika bel pintu berbunyi. Itu pasti Edward.

“Pintu,” seru Charlie dari sofa waktu aku melesat melewatinya.

“Jangan sewot begitu, Dad.”

Kubuka pintu depan dengan senyum lebar tersungging di wajah.

Mata emas Edward membelalak lebar, cuping hidungnya kembang-kempis, mulutnya menyeringai, menampakkan giginya.

“Edward?” Suaraku tajam karena syok begitu membaca ekspresinya. “Apa-?”

Edward meletakkan telunjuknya ke bibirku. “Beri aku waktu dua detik.” bisiknya. “Jangan bergerak.”

Aku berdiri terpaku di ambang pintu dan Edward… menghilang. Ia bergerak begitu cepat hingga Charlie takkan mungkin melihatnya lewat.

Belum sempat pulih dari kekagetanku untuk menghitung sampai dua, Edward sudah kembali. Ia memeluk pinggangku dan menarikku dengan gesit ke dapur. Matanya menyapu cepat seisi ruangan, dan ia merapatkan tubuhku ke tubuhnya seolah-olah melindungiku dari sesuatu. Aku melirik Charlie yang duduk di sofa, tapi ayahku sengaja mengabaikan kami.

“Barusan ada yang datang ke sini.” bisik Edward di telingaku setelah menarikku ke ujung dapur. Nadanya tegang; sulit mendengarnya di tengah berisiknya suara mesin cuci.

“Berani sumpah, tidak ada werewolf…” kataku.

“Bukan mereka,” Edward buru-buru menyela, menggelengkan kepala. “Salah seorang dari kami.”

Dari nadanya kentara sekali yang ia maksud bukanlah salah seorang anggota keluarganya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.