Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Waktu tidak membuatku kebal terhadap kesempurnaan wajahnya, dan aku yakin tidak akan pernah menganggap sepele aspek apa pun yang ada dalam dirinya. Mataku menyusuri garis-garis wajahnya yang putih: rahang perseginya yang kokoh, lekuk bibir penuhnya yang lembut – bibir itu sekarang menekuk membentuk senyuman, garis hidungnya yang lurus, tulang pipinya yang tajam mencuat, dahinya yang mulus seperti marmer-agak tersembunyi di balik rambut tembaga yang gelap akibat hujan ….

Aku sengaja menyisakan matanya untuk kulihat terakhir, tahu saat aku menatapnya nanti, besar kemungkinan pikiranku akan melantur sejenak. Mata itu lebar, hangat seperti emas cair, dan dibingkai bulu mata hitam tebal. Menatap matanya selalu membuatku merasa luar biasa – seolah-olah tulangku berubah jadi spons. Kepalaku juga sedikit ringan, tapi bisa jadi itu karena aku lupa menarik napas. lagi.

Cowok mana pun di dunia ini pasti rela menukar jiwa mereka untuk mendapatkan wajah setampan itu. Tentu saja, bisa jadi memang itulah harga yang harus dibayar: jiwa manusia.

Tidak. Aku tidak memercayai hal itu. Bahkan memikirkannya saja sudah membuatku merasa bersalah, dan merasa senang – seperti yang sering kali kurasakan – karena akulah satu-satunya manusia yang pikirannya tak bisa dibaca Edward.

Kuraih tangannya, dan mendesah ketika jari-jarinya yang dingin menggenggam tanganku. Sentuhannya membawa kelegaan yang sangat aneh – seolah-olah tadi aku merasa kesakitan dan perasaan sakit itu mendadak lenyap.

“Hai,” Aku tersenyum kecil mendengar sapaanku yang antiklimaks.

Edward mengangkat tangan kami yang saling bertaut dan membelai pipiku dengan punggung tangannya. “Bagaimana soremu?”

“Lamban.”

“Begitu juga aku.”

Edward menarik pergelangan tanganku ke wajahnya, tangan kami masih bertaut. Matanya terpejam sementara hidungnya menjalari kulit tanganku, dan ia, tersenyum lembut tanpa membuka mata. Menikmati hidangan tapi menolak anggurnya, begitu Edward pernah mengistilahkan.

Aku tahu bau darahku – jauh lebih manis baginya dibandingkan darah manusia lain, benar-benar seperti anggur disandingkan dengan air bagi pencandu alkohol – membuatnya tersiksa dahaga luar biasa. Tapi sepertinya ia tidak menjauhinya lagi sesering dulu. Samar-samar aku hanya bisa membayangkan betapa luar biasa usaha Edward menahan diri di balik tindakan yang sederhana ini.

Lalu aku mendengar langkah-langkah Charlie mendekat, mengentak-entak seolah ingin menunjukkan perasaan tidak sukanya pada tamu kami. Mata Edward langsung terbuka dan ia membiarkan tangan kami jatuh, tapi tetap saling bertaut.

“Selamat malam, Charlie,” Edward selalu bersikap sangat sopan, walaupun Charlie tak pantas mendapat perlakuan sebaik itu.

Charlie menjawab dengan geraman, lalu berdiri di sana sambil bersedekap. Belakangan ia benar-benar ekstrem menjalankan peran sebagai orangtua yang mengawasi gerak-gerik anaknya.

“Aku membawa beberapa formulir pendaftaran lagi,” kara Edward sambil mengacungkan amplop manila yang tampak menggembung. Di kelingkingnya melingkar sebaris prangko.

Aku mengerang. Memangnya masih ada kampus yang membuka pendaftaran dan ia belum memaksaku mendaftar ke sana? Dan bagaimana ia bisa menemukan kampuskampus yang masih membuka pendaftaran? Padahal sekarang sudah sangat terlambat.

Edward tersenyum seolah-olah bisa membaca pikiranku, pasti karena ekspresiku menyiratkan keheranan. “Ada beberapa kampus yang masih membuka pendaftaran. Beberapa lagi bersedia memberi pengecualian.”

Aku hanya bisa membayangkan motivasi di balik pengecualian semacam itu. Serta jumlah uang yang terlibat.

Edward tertawa melihat ekspresiku.

“Bagaimana, setuju?” tanyanya, menyeretku ke meja dapur.

Charlie mendengus dan menguntit di belakang, walaupun tentu saja ia tak bisa memprotes aktivitas malam ini. Setiap hari ia merongrongku untuk segera mengambil keputusan hendak kuliah di mana.

Aku cepat-cepat membereskan meja sementara Edward menyiapkan setumpuk formulir yang kelihatannya menyeramkan. Ketika aku memindahkan Wuthering Heights ke konter dapur, Edward mengangkat sebelah alis. Aku tahu apa yang ia pikirkan, tapi Charlie sudah menyela sebelum Edward bisa berkomentar.

“Omong-omong soal pendaftaran kuliah, Edward,” kata Charlie, nadanya bahkan terdengar lebih masam lagi – selama ini ia berusaha menghindar bicara langsung kepada Edward, dan saat harus melakukannya, hal itu semakin memperburuk suasana hatinya yang memang sudah jelek. “Bella dan aku baru saja membicarakan masalah tahun depan. Kau sudah memutuskan mau kuliah di mana?”

Edward menengadah dan tersenyum kepada Charlie, nadanya bersahabat, “Belum. Aku sudah diterima di beberapa universitas, tapi aku masih menimbangnimbang…”

“Kau sudah diterima di mana saja?” desak Charlie.

“Syracuse… Harvard… Dartmouth… dan hari ini aku mendapat kepastian diterima di University of Alaska Southeast.”

Edward agak memiringkan wajahnya supaya bisa mengedipkan mata padaku. Aku menahan tawa.

“Harvard? Dartmouth?” gumam Charlie, tak mampu menyembunyikan kekagumannya. “Well, itu sangat… hebat sekali. Yeah, tapi University of Alaska… kau tentu tak mungkin mempertimbangkan untuk kuliah di sana kalau bisa kuliah di kampus-kampus Ivy League, kan? Maksudku, ayahmu pasti ingin kau kuliah di sana…”

“Carlisle selalu setuju apa pun pilihanku,” kata Edward pada Charlie kalem.

“Hmph.”

“Tahu tidak, Edward?” seruku ceria, sok lugu.

“Apa, Bella?”

Aku menuding amplop tebal di konter, “Aku juga baru mendapat kepastian diterima di University of Alaska.”

“Selamat!” Edward nyengir. “Kebetulan sekali.”

Mata Charlie menyipit sementara ia bergantian memelototi kami. “Terserahlah,” gerutunya sejurus kemudian, “Aku mau nonton pertandingan dulu, Bella. Setengah sepuluh.”

Itu pesan yang selalu ia lontarkan sebelum meninggalkan aku bersama Edward.

“Eh, Dad? Masih ingat kan pembicaraan kita tadi mengenai kebebasanku .. .?”

Charlie mendesah. “Benar, Oke, sepuluh tiga puluh. Kau masih punya jam malam pada malam sekolah.”

“Bella sudah tidak dihukum lagi?” tanya Edward. Walaupun aku tahu ia tidak benar-benar terkejut, namun aku tak bisa mendeteksi nada pura-pura dalam suaranya yang mendadak girang.

“Dengan syarat tertentu,” koreksi Charlie dengan gigi terkatup rapat. “Apa hubungannya denganmu?”

Aku mengerutkan kening pada ayahku, tapi ia tidak melihat.

“Senang saja mengetahuinya,” kata Edward. “Alice sudah tak sabar ingin ditemani shopping, dan aku yakin Bella pasti sudah kepingin sekali melihat lampu-lampu kota.” Edward tersenyum padaku.

Tapi Charlie meraung, “Tidak!” dan wajahnya berubah ungu.

“Dad! Memangnya kenapa?”

Charlie berusaha keras menggerakkan rahangnya yang terkatup rapat. “Aku tidak mau kau pergi ke Seattle sekarang-sekarang ini.”

“Hah?”

“Aku kan sudah cerita tentang berita di koran itu – ada geng yang membunuh banyak orang di Seattle, jadi aku tidak mau kau pergi ke sana, oke?”

Kuputar bola mataku, “Dad, lebih besar kemungkinan aku disambar petir daripada jadi korban pembunuhan massal di Seattle-”

“Tidak, tenanglah, Charlie,” sela Edward, memotong perkataanku. “Maksudku bukan ke Seattle. Yang kumaksud sebenarnya Portland. Aku tidak akan mengajak Bella ke Seattle. Tentu saja tidak.”

Kutatap Edward dengan sikap tidak percaya, tapi ia mengambil koran Charlie dan langsung membaca berita di halaman depan dengan tekun.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.