Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Sebenarnya, itu amat, sangat baik.”

Edward menghela napas dalam-dalam. “Apa kau tidak capek? Seharusnya aku membiarkanmu tidur.”

“Tidak, aku tidak capek, Aku tidak keberatan kalau kau ingin memberiku kesan yang keliru lagi.”

“Mungkin itu bukan ide bagus. Bukan kau satu-satunya yang bisa terbawa suasana.”

“Ah, siapa bilang,” gerutuku

Edward terkekeh. “Kau kan tidak tahu, Bella. Parahnya lagi, kau begitu bersemangat meruntuhkan pengendalian diriku.”

“Aku tidak mau meminta maaf untuk hal itu.” “Bolehkah aku meminta maaf?’ “Untuk apa?” “Kau marah padaku, ingat?” “Oh, itu.” “Maafkan aku. Aku memang salah. Lebih mudah

berpikir jernih kalau kau aman di sini bersamaku.” Lengannya merangkulku lebih erat. “Aku jadi sedikit sinting bila harus meninggalkanmu. Kurasa aku tidak akan pergi jauh-jauh lagi. Tidak sebanding dengan pengorbanannya.”

Aku tersenyum. “Memangnya kau tidak berhasil menangkap singa gunung””

“Berhasil. Tapi tetap saja, itu tidak sebanding dengan kegelisahan yang kurasakan. Maafkan aku karena meminta Alice menyanderamu. Itu bukan ide bagus.”

“Memang.” aku sependapat.

“Aku tidak akan melakukannya lagi.”

“Oke.” sahutku enteng. Aku sudah memaafkan Edward.

“Tapi ada enaknya juga kok pesta semalam suntuk…”

Aku meringkuk lebih dekat padanya, menempelkan

bibirku ke lekukan di tulang selangkanya “Kau bisa menyanderaku kapan saja kau mau.”

“Mmm.” Edward mendesah. “Siapa tahu aku akan menerima tawaranmu itu.”

“Jadi sekarang giliranku?”

“Giliranmu?” suara Edward terdengar bingung.

“Meminta maaf”

“Kau mau meminta maaf untuk apa?” “Memangnya kau tidak marah padaku?” tanyaku

bingung.

“Tidak.”

Kedengarannya Edward sungguh-sungguh.

Aku merasa alisku bertaut, “Memangnya kau belum

bertemu Alice waktu kau sampai di rumah tadi?”

“Sudah-kenapa?”

“Kau akan mengambil lagi Porsche-nya?”

“Tentu saja tidak. Itu kan hadiah.”

Kalau saja aku bisa melihat ekspresi Edward. Nadanya

mengisyaratkan seolah-olah aku menghinanya.

“Memangnya kau tidak ingin tahu apa yang kulakukan?” tanyaku, mulai bingung melihat sikap Edward yang seolah tidak peduli.

Aku merasa ia mengangkat bahu. “Aku selalu tertarik pada semua yang kaulakukan, tapi kau tak perlu

memberitahuku apa-apa. kecuali kau memang ingin.”

“Tapi aku pergi ke La Push.”

“Aku tahu.”

“Dan aku bolos sekolah.”

“Aku juga.”

Aku memandang ke arah suaranya, menelusuri garis,garis wajahnya dengan jari-jariku, berusaha memahami suasana hatinya. “Dari mana asalnya semua toleransi ini?” tuntutku.

Edward mendesah.

“Kuputuskan bahwa kau benar. Masalahku sebenarnya lebih berupa… prasangka terhadap werewolf daripada yang lain. Aku akan berusaha bersikap lebih bijaksana dan memercayai penilaianmu. Kalau menurutmu aman, aku akan percaya padamu.”

“Wow.”

“Dan… yang paling penting… aku tidak akan membiarkan masalah ini merusak hubungan kita.”

Aku membaringkan kepalaku di dadanya dan memejamkan mata, senang sekali.

“Jadi,” kata Edward dengan nada biasa-biasa saja. “Ada rencana untuk kembali ke La Push dalam waktu dekat?”

Aku tidak menjawab. Pertanyaan Edward membawa ingatanku kembali ke kata-kata Jacob, dan kerongkonganku mendadak tercekat.

Edward salah membaca sikap diamku serta tubuhku yang tiba-tiba menegang.

“Supaya aku bisa membuat rencana juga,” Edward buruburu menjelaskan. “Aku tidak mau kau merasa harus buruburu kembali hanya karena aku menunggumu di sini.”

“Tidak,” kataku, suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri. “Aku tidak punya rencana untuk kembali ke sana.”

“Oh. Kau tidak perlu melakukannya untukku.”

“Kurasa aku tidak diterima lagi di sana,” bisikku.

“Memangnya kau melindas kucing penduduk di La Push?” tanya Edward ringan. Aku tahu ia tak ingin memaksaku bercerita, tapi aku bisa mendengar nada ingin tahu di balik kata-katanya.

“Tidak” Aku menghela napas dalam-dalam, kemudian menjelaskan dengan bergumam cepat. “Kurasa Jacob pasti sudah tahu… jadi aku tidak mengira dia akan terkejut.”

Edward menunggu sementara aku ragu-ragu. “Dia tidak mengira… bahwa akan secepat itu.” “Ah,” ucap Edward pelan. “Katanya dia lebih suka melihatku mati.” Suaraku

bergetar saat mengucapkan kata terakhir, Sesaat Edward diam tak bergerak, berusaha mengendalikan entah reaksi apa yang ia tidak ingin aku melihatnya. Lalu ia memelukku erat-erat dengan lembut ke dadanya.

“Aku ikut sedih.” “Kusangka kau akan senang mendengarnya.” bisikku. “Masa aku senang bila itu menyakiti hatimu?” bisik

Edward ke rambutku. “Kurasa tidak, Bella.” Aku mengembuskan napas dan tubuhku merileks, kutempelkan tubuhku dengan tepat ke tubuhnya. Tapi Edward bergeming, tegang.

“Ada apa?” tanyaku.

“Tidak ada apa-apa.”

“Kau bisa menceritakannya padaku.”

Edward terdiam sejenak. “Mungkin itu akan membuatmu marah.”

“Aku tetap ingin tahu.”

Edward mendesah. “Aku bisa benar-benar membunuhnya karena berkata begitu padamu. Aku ingin sekali.”

Aku tertawa setengah hati. “Untung kau pandai menguasai diri.”

“Bisa saja aku lepas kendali.” Nadanya melamun.

“Kalau kau mau lepas kendali, ada tempat yang lebih baik untuk melakukannya.” Aku merengkuh wajahnya, berusaha mengangkat tubuhku untuk menciumnya. Lengan Edward memelukku lebih erat, menahanku.

Ia mendesah. “Haruskah selalu aku yang menjadi pihak yang bertanggung jawab di sini?”

Aku nyengir dalam gelap. “Tidak. Biarkan aku menjadi pihak yang bertanggung jawab selama beberapa menit.. atau beberapa jam.”

“Selamat malam, Bella

“Tunggu-ada hal lain yang ingin kutanyakan padamu.”

“Apa itu?”

“Semalam aku ngobrol dengan Rosalie…”

Lagi-lagi tubuh Edward mengejang. “Ya. Dia sedang memikirkan hal itu waktu aku datang tadi. Dia membuatmu mempertimbangkan banyak hal, ya?”

Suaranya cemas, dan aku sadar Edward mengira aku ingin berbicara tentang alasan-alasan yang diberikan Rosalie padaku agar terap menjadi manusia. Tapi aku tertarik pada hal lain yang lebih mendesak.

“Dia bercerita sedikit… tentang saat keluarga kalian tinggal di Denali.”

Aku diam sebentar; permulaan ini rupanya membuat Edward terkejut. “Ya?”

“Dia bercerita tentang sekelompok vampir perempuan… dan kau.”

Edward tidak menyahut, walaupun aku sudah menunggu cukup lama.

“Jangan khawatir.” kataku, setelah keheningan itu semakin tak tertahankan, “Kata Rosalie kau tidak… menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Tapi aku hanya penasaran apakah ada salah seorang di antara mereka yang tertarik. Menunjukkan ketertarikan padamu, maksudku.”

Lagi-lagi Edward diam.

“Siapa?” tanyaku, berusaha agar suaraku tetap terdengar biasa-biasa saja, meski tidak begitu berhasil. “Atau mungkin ada lebih dari satu?”

Tidak ada jawaban. Kalau saja aku bisa melihat wajahnya, sehingga bisa mencoba menebak apa arti diamnya Edward.

“Alice pasti mau memberitahu.” kataku. “Akan kutanya sekarang juga.”

Edward semakin mempererat pelukannya; aku bahkan tidak bisa bergeser satu senti pun.

“Sudah malam.” kata Edward. Ada nada lain dalam suaranya yang baru kali ini terdengar. Sedikit gugup, mungkin agak malu. “Selain itu, kalau tidak salah Alice tadi pergi…”

“Gawat.” tebakku. “Pasti gawat sekali, kan?” Aku mulai panik, jantungku berdebar semakin cepat saat membayangkan rival abadi cantik jelita yang tidak pernah kusadari kehadirannya selama ini.

“Tenanglah, Bella,” kata Edward, mengecup ujung hidungku. “Sikapmu konyol.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.