Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Kata-kata itu melesat keluar dari mulut Jacob bagaikan lecutan cambuk. “Banyak. Masih banyak hal lain yang bisa kaulakukan. Lebih baik kau mati saja. Aku lebih suka kalau kau mati.”

Aku tersentak seperti ditampar. Sakitnya melebihi bila ia benar-benar menamparku.

Kemudian, saat kepedihan itu menyeruak di dalam hariku, amarahku sendiri meledak menjadi kobaran api,

“Mungkin kau akan beruntung,” tukasku muram, tibatiba bangkit berdiri. “Mungkin aku akan ditabrak truk dalam perjalanan pulang nanti.”

Kusambar motorku dan kudorong menembus hujan. Jacob tak bergerak waktu aku melewatinya. Begitu sampai di jalan yang kecil dan berlumpur, aku menaikinya dan mengengkol pedalnya dengan kasar hingga mesinnya meraung menyala. Roda belakang menyemburkan lumpur ke arah garasi, dan aku berharap mudah-mudahan lumpur itu mengenai Jacob.

Tubuhku benar-benar basah kuyup saat aku melaju melintasi jalan raya yang licin menuju rumah keluarga Cullen. Angin bagai membekukan hujan di kulitku, dan belum sampai setengah jalan, gigiku sudah bergemeletuk kedinginan.

Sepeda motor benar-benar tidak praktis digunakan di Washington. Akan kujual benda tolol ini pada kesempatan pertama nanti.

Kudorong motor itu memasuki garasi rumah keluarga Cullen yang luas dan tidak kaget melihat Alice menungguku, bertengger di kap mesin Porsche-nya. Tangannya mengelus-elus catnya yang kuning mengilap.

“Aku bahkan belum sempat mengendarainya.” Alice mendesah.

“Maaf,” semburku dari sela-sela gigiku yang gemeletuk.

“Kelihatannya kau perlu mandi air panas.” kata Alice, nadanya sambil lalu, sambil melompat turun dengan lincah.

“Yep.”

Alice mengerucutkan bibir, mengamati ekspresiku dengan hati-hati. “Kau mau membicarakannya?”

“Tidak.”

Alice mengangguk, tapi matanya dipenuhi rasa ingin tahu.

“Mau pergi ke Olympia nanti malam?”

“Tidak juga. Aku belum boleh pulang?”

Alice meringis.

“Sudahlah, tidak apa-apa, Alice.” karaku. “Aku akan tetap di sini supaya tidak menyusahkanmu.”

“Trims.” Alice mengembuskan napas lega.

Aku tidur lebih cepat malam itu, meringkuk lagi di sofa. Hari masih gelap waktu aku terbangun. Aku merasa linglung, tapi aku tahu hari masih belum pagi. Dengan mata terpejam aku meregangkan otot-otot, dan berguling ke samping. Sedetik kemudian baru aku sadar gerakan itu seharusnya membuatku terjatuh ke lantai. Dan rasanya aku terlalu nyaman.

Aku berguling telentang, berusaha melihat. Malam lebih gelap daripada kemarin-awan-awan terlalu tebal hingga cahaya bulan tak mampu menembusnya,

“Maaf’,’ Bisikannya begitu lembut hingga suaranya merupakan bagian dari kegelapan. “Aku tidak bermaksud membangunkanmu.”

Aku mengejang, menunggu amarah itu datang-baik amarahku maupun amarahnya-tapi suasana begitu tenang dan damai dalam kegelapan kamarnya. Aku nyaris bisa merasakan manisnya reuni ini menggelantung di udara, keharuman yang berbeda dari aroma napasnya; kekosongan ketika kami berpisah meninggalkan jejak kepahitan tersendiri, sesuatu yang tidak kusadari sampai kepahitan itu lenyap.

Tidak ada friksi di antara kami, Keheningan itu begitu damai-tidak seperti ketenangan yang terjadi sebelum badai, tapi seperti malam jernih yang tak tersentuh bahkan oleh mimpi akan terjadinya badai.

Dan aku tak peduli bahwa seharusnya aku marah kepada Edward. Aku tidak peduli seharusnya aku marah kepada semua orang. Aku malah mengulurkan tangan, menemukan tangannya dalam gelap, dan menarik tubuhku lebih dekat lagi padanya. Kedua lengan Edward melingkari tubuhku, mendekapku di dadanya. Bibirku mencari-cari, menjelajahi daerah sekitar kerongkongannya, ke dagunya, sampai aku akhirnya menemukan bibirnya.

Edward menciumku lembut sesaat, kemudian terkekeh. “Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima amukan yang mengalahkan keganasan beruang, tapi malah ini yang kudapat? Seharusnya aku lebih sering membuatmu marah.”

“Beri aku satu menit untuk bersiap-siap.” godaku, menciumnya lagi.

“Akan kutunggu selama yang kau mau.” bisik Edward di bibirku. jari-jarinya menyusup ke dalam rambutku.

Napasku mulai memburu. “Mungkin besok pagi.”

“Terserah kau saja.”

“Selamat datang kembali.” kataku saat bibir dingin Edward menempel di bawah daguku. “Aku senang kau sudah pulang.”

“Wah, menyenangkan sekali.”

“Mmm.” aku sependapat, mempererat lenganku di lehernya.

Tangan Edward melingkari sikuku, bergerak lambat menuruni lengan, melintasi rusuk dan terus ke pinggang, menyusuri pinggul dan turun ke kaki, memeluk lutut. Ia berhenti di sana, tangannya melingkari tungkaiku.

Aku berhenti bernapas. Biasanya ia tidak mengizinkan ini terjadi. Walaupun tangannya dingin, mendadak aku merasa hangat. Bibirnya bergerak di lekukan di pangkal tenggorokanku.

“Bukan bermaksud membangkitkan amarah lebih cepat.” bisik Edward, “tapi apa kau keberatan memberitahuku apa yang tidak kausukai dari tempat tidur ini?”

Sebelum aku sempat menjawab, bahkan sebelum aku sempat berkonsentrasi untuk mencerna kata-katanya, Edward berguling ke samping. Ia merengkuh wajahku dengan kedua tangan, menelengkannya sedemikian rupa agar bibirnya bisa menjangkau leherku. Desah napasku terlalu keras-agak memalukan sebenarnya, tapi aku tidak sempat lagi merasa malu.

“Tempat tidur?’ tanya Edward lagi. “Menurutku tempat tidurnya bagus.”

“Sebenarnya ini tidak perlu.” akhirnya aku bisa menjawab. Edward kembali menarik wajahku ke wajahnya, dan bibirku menempel di bibirnya. Aku bisa merasakan tubuhnya yang sedingin marmer menempel di tubuhku. Jantungku bertalu-talu begitu keras hingga aku sulit mendengar tawa pelannya.

“Itu masih bisa diperdebatkan.” Edward tidak sependapat, “Ini pasti sulit dilakukan di sofa.”

Sedingin es, lidahnya menjelajahi lekuk bibirku dengan lembut.

Kepalaku berputar cepat-napasku memburu, pendekpendek.

“Memangnya kau berubah pikiran?” tanyaku dengan napas terengah-engah. Mungkin ia sudah berpikir ulang tentang semua aturan yang ditetapkannya sendiri. Mungkin ada makna signifikan lain di balik tempat tidur ini daripada yang kuduga pada awalnya. Jantungku memukul-mukul dadaku hingga nyaris membuatku kesakitan sementara aku menunggu jawabannya.

Edward mendesah, berguling telentang hingga kami kembali berbaring berdampingan.

“Jangan konyol, Bella,” tukasnya, kentara sekali ada nada menegur dalam suaranya-jelas, ia mengerti maksudku. “Aku hanya berusaha menggambarkan keuntungan memiliki tempat tidur yang sepertinya tidak kausukai. Jangan terbawa suasana.”

“Terlambat.” gerutuku. “Dan aku suka tempat tidurnya.” aku menambahkan.

“Bagus.” Aku bisa mendengar secercah senyum dalam suaranya saat ia mengecup keningku. “Aku juga suka.”

“Tapi aku tetap menganggapnya tidak perlu.” sambungku.

“Kalau kita tidak mau terbawa suasana, lalu apa gunanya?”

Lagi-lagi Edward mendesah. “Untuk keseratus kalinya, Bella-itu terlalu berbahaya.”

“Aku suka yang berbahaya-bahaya,” tukasku.

“Aku tahu.” Nadanya terdengar sedikit pahit, dan aku sadar Edward pasti sudah melihat sepeda motor di garasi.

“Akan kuberitahu apa yang berbahaya.” sergahku buruburu, sebelum Edward sempat beralih ke topik diskusi baru. “Suatu saat nanti, aku akan ‘terbakar’ secara spontan-dan kau tidak bisa menyalahkan orang lain kecuali dirimu sendiri.”

Edward bergerak untuk mendorongku jauh-jauh.

“Apa-apaan sih kau?” protesku, tetap menggelayutinya.

“Melindungimu dari kemungkinan terbakar. Kalau ini terlalu berlebihan untukmu.”

“Aku bisa mengatasinya,” tukasku.

Edward membiarkan aku menyusup kembali dalam pelukannya.

“Maaf kalau aku memberimu kesan yang salah.” kata Edward. “Aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Itu bukan perbuatan yang baik.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.