Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Asyik sekali.” komentarku ketika Jacob mengeluarkan soda hangat dari kantong belanjaan. “Aku kangen sekali tempat ini.”

Jacob tersenyum, memandang berkeliling ke atap plastik yang dipaku di aras kepala kami. “Yeah, aku bisa memahaminya. Segala kemewahan Taj Mahal, tanpa harus repot-repot pergi ke India.”

“Bersulang untuk Taj Mahal kecilnya Washington,” aku bersulang, mengangkat kalengku.

Jacob menempelkan kalengnya ke kalengku.

“Ingat tidak Valentine waktu itu? Kukira itu terakhir kalinya kau datang ke sini-terakhir kalinya ketika keadaan masih… normal, maksudku.”

Aku tertawa. “Tentu saja aku masih ingat. Aku menukar kesempatan menjadi budak seumur hidup demi mendapat sekotak cokelat berbentuk hati. Itu bukan sesuatu yang mudah dilupakan begitu saja.”

Jacob tertawa bersamaku. “Benar. Hmmm, budak seumur hidup. Aku harus memikirkan sesuatu yang bagus.” Lalu ia mendesah. “Rasanya itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Era yang lain. Yang lebih membahagiakan.”

Aku tidak sependapat dengannya. Sekarang era yang membahagiakan bagiku. Tapi aku kaget ketika menyadari betapa banyak yang kurindukan dari masa-masa kelamku. Mataku memandangi bagian terbuka di tengah hutan yang muram. Hujan kembali menderas, tapi di dalam garasi kecil itu hangat, karena aku duduk di sebelah Jacob. Ia sama hangatnya dengan pemanas ruangan.

Jari-jarinya menyapu tanganku. “Keadaan sudah benarbenar berubah.”

“Yeah,” jawabku, kemudian aku mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk ban belakang motorku. “Charlie dulu suka padaku. Semoga saja Billy tidak mengatakan apa-apa mengenai hari ini…” Aku menggigit bibir.

“Tidak akan. Dia tidak gampang panik seperti Charlie. Hei, aku belum pernah secara resmi meminta maaf padamu atas ulah tololku membawa motor ke rumahmu waktu itu. Aku sangat menyesal membuatmu dimarahi habis-habisan oleh Charlie. Kalau saja aku tidak berbuat begitu.”

Aku memutar bola mata. “Aku juga.”

“Aku benar-benar menyesal.”

Jacob menatapku penuh harap, rambut hitamnya yang basah dan kusut mencuat ke segala arah di sekeliling wajahnya yang memohon.

“Oh, baiklah! Kau dimaafkan.”

“Trims, Bells!”

Kami nyengir beberapa saat, tapi sejurus kemudian wajah Jacob berubah muram.

“Kau tahu hari itu, waktu aku membawa motor ke rumahmu… sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu,” kata Jacob lambat-lambat. “Tapi juga… tidak ingin menanyakannya.”

Aku bergeming-reaksi khas bila aku tertekan, Kebiasaan yang kudapat dari Edward.

“Apakah kau keras kepala karena marah padaku, atau kau benar-benar serius?” bisiknya.

“Tentang apa?” aku, balas berbisik, walaupun yakin aku tahu maksudnya.

Jacob menatapku garang. “Kau tahu. Waktu kaubilang itu bukan urusanku… apakah-apakah dia menggigitmu?” Jacob mengernyit saat mengucapkan kata terakhir.

“Jake…” Kerongkonganku rasanya tersumbat. Aku tak sanggup menyelesaikan perkaraanku.

Jacob memejamkan mata dan menghela napas dalamdalam. “Kau serius?”

Tubuh Jacob sedikit gemetar, Matanya tetap terpejam.

“Ya,” bisikku.

Jacob menghela napas, lambat dan dalam. “Sudah kuduga.”

Aku menatap wajahnya, menunggunya membuka mata.

“Tahukah kau apa artinya ini?” runtut Jacob tiba-tiba. “Kau pasti memahaminya, kan? Apa yang akan terjadi bila mereka melanggar kesepakatan?”

“Kami akan pergi lebih dulu.” kataku, suaraku nyaris tak terdengar.

Mata Jacob mendadak terbuka, bola matanya yang hitam sarat amarah dan sakit hati. “Tidak ada batasan geografis dalam kesepakatan itu, Bella. Leluhur kami menyepakati perjanjian damai itu karena keluarga Cullen bersumpah mereka berbeda, bahwa mereka tidak berbahaya bagi manusia. Mereka berjanji tidak akan pernah membunuh atau mengubah siapa pun lagi. Kalau mereka melanggar janji mereka sendiri, kesepakatan itu tidak berarti, dan mereka tak ada bedanya dengan vampir-vampir lain. Kalau sudah begitu, bila kami menemukan mereka…”

“Tapi, Jake, bukankah kau sendiri juga sudah melanggar kesepakatan itu?” sergahku, mencari-cari pegangan yang masih tersisa. “Bukankah ada bagian dalam kesepakatan itu yang melarangmu memberitahu orang tentang vampir? Padahal kau sudah memberitahu aku. Berarti kesepakatan itu sudah dilanggar, kan?”

Jacob tidak suka diingatkan tentang hal itu; kepedihan di matanya berubah menjadi sorot tidak suka. “Yeah, aku sudah melanggar kesepakatan – jauh sebelum aku memercayainya. Dan aku yakin mereka pasti sudah diberitahu tentang hal itu.” Jacob memandangi dahiku masam, tak mampu menatap sorot mataku yang malu. “Tapi bukan berarti mereka jadi mendapat kelonggaran atau semacamnya. Kalau tidak tahu, tentu bukan masalah. Mereka hanya punya satu pilihan kalau tidak menyukai apa yang telah kulakukan. Pilihan yang sama yang kami miliki jika mereka melanggar perjanjian: menyerang. Memulai peperangan.”

Jacob membuatnya terdengar seperti sesuatu yang tidak bisa dihindari. Aku bergidik.

“Jake, kan tidak harus seperti itu.”

Jacob mengertakkan giginya. “Memang harus seperti itu.”

Kesunyian yang menyusul setelah pernyataannya tadi, bergaung begitu keras,

“Apakah kau takkan pernah memaafkanku, Jacob?” bisikku.

Begitu mengucapkan kata-kata itu, aku langsung berharap tak pernah mengatakannya. Aku tak ingin mendengar jawabannya.

“Kau tidak akan menjadi Bella lagi.” Jacob menjawab pertanyaanku. “Temanku tidak akan ada lagi. Tak ada seorang pun yang bisa kumaafkan.”

“Berarti jawabannya tidak,” bisikku. Kami bertatapan lama sekali. “Kalau begitu ini perpisahan, Jake?”

Jake _mengerjap-ngerjapkan matanya dengan cepat, ekspresi garangnya berubah menjadi terkejut. “Kenapa? Kita toh masih punya waktu beberapa tahun. Apakah kita tidak bisa berteman sampai tiba waktunya nanti?”

“Beberapa tahun? Tidak, Jake, bukan beberapa tahun.” Aku menggeleng dan tertawa garing. “Lebih tepatnya beberapa minggu.”

Aku sama sekali tidak mengira reaksi Jacob akan begitu hebat.

Jake tiba-tiba berdiri, dan terdengar bunyi kaleng soda meledak di tangannya. Sodanya berhamburan ke manamana, membasahi tubuhku, seperti air disemprotkan dari slang.

“Jake!” Aku sudah hendak memprotes, tapi langsung bungkam begitu menyadari sekujur tubuh Jake bergetar karena amarah. Ia memelototiku dengan garang, suara geraman menyeruak dari dadanya.

Aku terpaku di tempat, terlalu syok untuk ingat bagaimana caranya bergerak.

Getaran itu mengguncang-guncang tubuhnya, semakin lama semakin cepat, sampai Jake terlihat seperti bergetar hebat. Sosoknya mengabur…

Kemudian Jacob mengertakkan gigi kuat-kuat, dan geraman itu berhenti. Ia memejamkan mata rapat-rapat untuk berkonsentrasi; getaran itu melambat hingga akhirnya tinggal tangannya yang bergoyang-goyang.

“Beberapa minggu.” kata Jacob, nadanya monoton dan datar.

Aku tak mampu menyahut; tubuhku masih membeku. Jacob membuka mata. Sorot matanya lebih dari sekadar marah.

“Dia akan mengubahmu menjadi pengisap darah kotor hanya dalam hitungan minggu!” desis Jacob dari sela-sela giginya.

Terlalu terperangah untuk merasa tersinggung oleh katakatanya barusan, aku hanya mampu mengangguk tanpa suara.

Wajah Jacob berubah hijau di balik kulitnya yang cokelat kemerahan.

“Tentu saja, Jake,” bisikku setelah terdiam selama semenit yang terasa sangat lama. “Dia tujuh betas tahun, Jacob. Sedangkan aku semakin hari semakin mendekati sembilan belas. Lagi pula, apa gunanya menunggu? Hanya dia yang kuinginkan. Apa lagi yang bisa kulakukan?”

Pertanyaan terakhir itu kumaksudkan sebagai pertanyaan retoris.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.