Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kenapa Quil mengalami imprint saja lantas jadi skandal?” tanyaku setelah tidak tampak tanda-tanda Jacob bakal meneruskan kata-katanya. “Apakah karena dia yang terakhir bergabung?”

“Itu tidak ada hubungannya dengan ini.”

“Kalau begitu, apa masalahnya?”

“Lagi-lagi soal legenda. Aku jadi bertanya-tanya, kapan kita akan berhenti terkejut karena semua legenda itu ternyata benar?” Jacob mengomel sendiri.

“Kau akan menceritakannya padaku tidak? Atau aku harus menebak?”

“Mana mungkin kau bisa menebaknya. Begini, kau kan tahu sudah lama sekali Quil tidak bergaul lagi dengan kami, sampai baru-baru ini. Jadi dia sudah lama tidak main ke rumah Emily

“Jadi Quil meng-imprint Emily juga?” aku terkesiap.

“Bukan! Sudah kubilang, kau takkan bisa menebaknya. Dua keponakan Emily kebetulan sedang berkunjung… dan Quil bertemu Claire.”

Jacob tidak melanjutkan kata-katanya. Aku memikirkannya sesaat,

“Emily tidak ingin keponakannya berhubungan dengan werewolf? Itu kan agak munafik,” tukasku.

Tapi aku bisa memahami kenapa Emily merasa seperti itu, Terbayang olehku bekas luka panjang yang merusak wajahnya, memanjang hingga ke lengan kanan. Hanya sekali Sam tidak bisa menguasai diri, dan saat itu ia berdiri terlalu dekat dengan Emily. Hanya sekali itu… aku melihat sendiri kepedihan di mata Sam setiap kali melihat hasil perbuatannya terhadap Emily. Aku bisa mengerti kenapa Emily ingin melindungi keponakannya dari hal itu.

“Bisakah kau berhenti menebak-nebak? Tebakanmu melenceng jauh. Emily bukan keberatan karena hal itu, tapi hanya, well, karena ini sedikit terlalu cepat.”

“Apa maksudmu dengan terlalu cepat?”

Jacob menilaiku dengan mata menyipit. “Usahakan untuk tidak menghakimi, oke?”

Hati-hati aku mengangguk.

“Claire berumur dua tahun,” kata Jacob.

Hujan mulai turun. Aku mengerjap-ngerjapkan mata dengan ganas saat titik-titik hujan membasahi wajahku.

Jacob menunggu sambil berdiam diri. Ia tidak memakai jaket, seperti biasa: hujan meninggalkan bercak-bercak gelap di T-shirt hitamnya, dan menetes-netes di rambut gondrongnya. Ia menatap wajahku tanpa ekspresi.

“Quil… berjodoh… dengan anak berumur dua tahun?” tanyaku akhirnya.

“Itu biasa terjadi,” Jacob mengangkat bahu. Ia membungkuk untuk memungut sebutir batu lagi dan melemparnya jauh-jauh ke teluk. “Atau konon begitulah ceritanya.”

“Tapi dia masih bayi.” protesku.

Jacob memandangiku dengan sikap geli yang getir. “Quil tidak akan bertambah tua.” ia mengingatkanku, nadanya sedikit masam. “Dia hanya perlu bersabar selama beberapa dekade”

“Aku.. tidak tahu harus bilang apa.”

Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengkritik, meski sejujurnya, aku merasa ngeri. Sampai sekarang, tak satu hal pun yang berkaitan dengan werewolf yang membuatku merasa terganggu semenjak aku tahu mereka tidak melakukan pembunuhan seperti kecurigaanku.

“Kau menghakimi.” tuduh Jacob. “Kentara sekali dari wajahmu.”

“Maaf,” gumamku. “Tapi kedengarannya mengerikan sekali.”

“Sama sekali tidak seperti itu; kau salah duga,” Jacob membela temannya, mendadak berapi-api. “Aku melihat sendiri bagaimana, lewat matanya. Sama sekali tidak ada hal romantis dalam hal itu, tidak bagi Quil, tidak sekarang.” Jacob menghela napas dalam-dalam, frustrasi. “Sulit menggambarkannya. Bukan seperti cinta pada pandangan pertama, sungguh. Tapi lebih menyerupai… gerakan gravitasi. Ketika kau melihat jodohmu, tiba-tiba bukan bumi lagi yang menahanmu tetap berpijak. Tapi dia. Dan tak ada yang lebih berarti daripada dia. Dan kau rela melakukan apa pun untuknya, menjadi apa saja untuknya…

Kau menjadi apa pun yang dia perlukan, entah itu pelindung, kekasih, teman, ataupun kakak.

“Quil akan menjadi kakak terhebat, terbaik yang bisa dimiliki seorang anak. Tidak ada balita di seantero planet ini yang akan dijaga dengan lebih hati-hati ketimbang gadis kecil itu nantinya. Dan kemudian, kalau dia sudah lebih besar dan membutuhkan teman, Quil akan lebih pengertian, lebih bisa dipercaya, dan lebih bisa diandalkan daripada orang lain yang dia kenal. Dan akhirnya, setelah dia dewasa, mereka akan sebahagia Emily dan Sam. Secercah nada pahit yang aneh membuat suara Jacob terdengar lebih tajam saat ia menyebut nama Sam.

“Apakah Claire tidak punya pilihan dalam hal ini?”

“Tentu saja. Tapi kenapa Claire tidak mau memilihnya, pada akhirnya? Quil akan jadi pasangan yang sempurna baginya. Seakan Quil diciptakan khusus untuknya.”

Kami berjalan sambil berdiam diri sesaat, sampai aku berhenti untuk melempar batu ke laut, Tapi batu itu jatuh di pantai, hanya beberapa meter dari laut, Jacob menertawakanku.

“Tidak semua orang sekuat kau,” gumamku.

Jacob mendesah.

“Menurutmu, kapan itu akan terjadi padamu?” tanyaku pelan.

Jawaban Jacob datar dan langsung. “Tidak akan pernah.”

“Itu bukan sesuatu yang bisa kaukendalikan, kan?”

Jacob terdiam beberapa menit. Tanpa sadar, kami berjalan semakin lambat, nyaris tak bergerak sama sekali.

“Seharusnya memang tidak.” Jacob mengakui. “Tapi kau harus melihatnya – gadis yang akan menjadi jodohmu.”

“Dan kaupikir karena belum melihatnya, maka dia tidak ada?” tanyaku skeptis. “Jacob, kau kan belum banyak melihat dunia luar – kurang daripada aku, bahkan.”

“Memang belum.” Jacob membenarkan dengan suara pelan. Ditatapnya wajahku dengan pandangan yang ribariba menusuk. “Tapi aku tidak akan pernah melihat orang lain, Bella. Aku hanya melihatmu. Bahkan saat aku memejamkan mata dan berusaha melihat hal lain. Tanya saja Quil atau Embry. Itu membuat mereka semua gila.”

Aku menjatuhkan pandanganku ke batu-batu.

Kami tidak melangkah lagi. Satu-satunya suara hanya debur ombak yang memukul tepi pantai, Aku tak bisa mendengar suara hujan karena kalah oleh raungan ombak.

“Mungkin sebaiknya aku pulang.” bisikku.

“Jangan!” protes Jacob, terkejut karena harus berakhir begini.

Aku mendongak dan menatapnya lagi, dan mata Jacob kini tampak waswas.

“Kau punya waktu seharian, kan? Si pengisap darah kan belum pulang.”

Kupelototi dia.

“Jangan tersinggung,” ia buru-buru berkata.

“Ya, aku punya waktu seharian. Tapi, Jake…”

Jacob mengangkat kedua tangannya. “Maaf” ia meminta maaf. “Aku tidak akan bersikap seperti itu lagi. Aku hanya akan menjadi Jacob.”

Aku mendesah. “Tapi kalau itu yang kaupikirkan…”

“Jangan khawatirkan aku,” sergah Jacob, tersenyum dengan keriangan dibuat-buat, terlalu ceria. “Aku tahu apa yang kulakukan. Bilang saja kalau aku membuatmu resah.”

“Entahlah…”

“Ayolah, Bella. Mari kembali ke rumah dan mengambil motor kita. Kau harus mengendarai motormu secara teratur supaya motornya tidak cepat rusak.”

“Sepertinya aku tidak boleh naik motor.”

“Siapa yang melarang? Charlie atau si pengisap-atau dia?”

“Dua-duanya.”

Jacob memamerkan cengiran khasnya, dan tiba-tiba saja ia kembali menjadi Jacob yang paling kurindukan, ceria dan hangat.

Aku tak kuasa untuk tidak balas nyengir.

“Aku tidak akan bilang siapa-siapa.” janjinya.

“Kecuali teman-temanmu.”

Jacob menggeleng dengan sikap bersungguh-sungguh dan mengangkat tangan kanannya. “Aku janji tidak akan memikirkannya.”

Aku tertawa. “Kalau aku cedera, itu karena tersandung.”

“Terserah apa katamu.”

Kami mengendarai motor kami di jalan-jalan kecil yang mengelilingi La Push sampai hujan membuatnya jadi terlalu berlumpur dan Jacob bersikeras mengatakan ia akan pingsan kalau tidak segera makan. Billy menyapaku dengan nada biasa-biasa saja waktu kami sampai di rumah, seolaholah kemunculanku yang tiba-tiba tidak berarti apa-apa kecuali bahwa aku ingin menghabiskan waktu dengan temanku. Sehabis makan sandwich buatan Jacob, kami pergi ke garasi dan aku membantunya mencuci motor. Sudah berbulan-bulan aku tidak menginjakkan kaki lagi ke sini-sejak Edward kembali-tapi rasanya biasa saja. Hanya menghabiskan siang bersama di garasi.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.