Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Ia menepuk-nepuk kepalaku tanpa terkesan menggurui.

Aku mendesah.

“Pikirkanlah dulu sebentar lagi. Karena begitu melakukannya, kau tidak akan bisa kembali lagi. Esme cukup puas dengan kami sebagai pengganti anak… dan Alice tidak ingat kehidupannya sebagai manusia, jadi dia tidak merindukannya… tapi kau akan ingat. Banyak sekali yang harus kaukorbankan.”

Tapi lebih banyak yang akan kudapat, kataku dalam hati.

“Trims, Rosalie. Senang akhirnya aku bisa memahami … mengenalmu lebih baik lagi.”

“Maaf kalau selama ini sikapku sangat buruk.” Rosalie menyeringai. “Aku akan berusaha memperbaiki sikap mulai sekarang.”

Aku balas nyengir.

Kami memang belum berteman, tapi aku sangat yakin Rosalie tidak akan selamanya membenciku.

“Aku akan pergi sekarang, supaya kau bisa tidur.” Mata Rosalie melirik tempat tidur, dan bibirnya berkedut-kedut. “Aku tahu kau frustrasi karena Edward mengurungmu seperti ini, tapi jangan marahi dia kalau dia kembali nanti. Dia mencintaimu lebih daripada yang kauketahui. Dia takut berjauhan denganmu.” Rosalie bangkit tanpa suara dan beranjak ke pintu. “Selamat malam, Bella,” bisiknya sambil menutup pintu.

“Selamat malam, Rosalie,” bisikku, sedetik terlambat. Iama sekali baru aku bisa tidur sesudahnya.

Ketika benar-benar tertidur, aku malah bermimpi buruk.

Dalam mimpiku aku merangkak di jalanan asing dari batu yang gelap dan dingin, meninggalkan jejak darah di belakangku. Bayangan samar seorang malaikat bergaun putih panjang mengamati perjalananku dengan sorot mata tidak suka.

Esok paginya Alice mengantarku ke sekolah sementara aku ke luar kaca depan dengan sikap masam. Aku merasa kurang tidur, dan itu membuat kekesalanku karena disandera semakin menjadi-jadi.

“Nanti malam kira akan ke Olympia atau melakukan hal lain,” janji Alice. “Asyik, kan?”

“Kenapa kau tidak mengurungku saja di ruang bawah tanah,” saranku, “jadi tidak perlu bermanis-manis padaku,”

Alice mengernyitkan kening. “Dia akan mengambil lagi Porsche-nya. Aku tidak begitu berhasil. Karena seharusnya kau merasa senang.”

“Ini bukan salahmu.” gumamku. Sulit dipercaya aku benar-benar merasa bersalah. “Sampai ketemu nanti saat makan siang.”

Aku berjalan dengan langkah-langkah berat ke kelas bahasa Inggris. Tanpa Edward, hari ini dijamin tidak menyenangkan. Aku merengut terus sepanjang pelajaran pertamaku, sepenuhnya sadar sikapku ini takkan membantu memperbaiki keadaan.

Ketika lonceng berbunyi, aku berdiri dengan lesu. Mike menunggu di depan pintu, memeganginya untukku.

“Edward hiking lagi akhir minggu ini?” tanya Mike dengan nada mengajak ngobrol saat kami berjalan di bawah gerimis hujan.

“Yeah.”

“Mau melakukan sesuatu malam ini?”

Bagaimana bisa Mike masih terus berharap?

“Tidak bisa. Aku harus menghadiri pesta piama.” gerutuku.

Mike menatapku dengan pandangan aneh sambil mereka-reka suasana hatiku.

“Siapa yang…”

Pertanyaan Mike terputus raungan mesin yang menggelegar dari belakang kami, dari arah lapangan parkir, Semua orang di trotoar menoleh untuk melihat, memandang dengan sikap tak percaya saat sepeda motor hitam yang suara mesinnya berisik berhenti dengan rem berdecit keras di pinggir trotoar, mesinnya masih meraungraung.

Jacob melambai-lambaikan tangan ke arahku dengan sikap mendesak.

“Lari, Bella!” teriaknya, mengatasi raungan suara mesin. Aku membeku sedetik sebelum akhirnya mengerti. Cepat

cepat aku menoleh kepada Mike. Aku tahu aku hanya punya waktu beberapa detik.

Sejauh apa Alice akan bertindak untuk menahanku di depan umum?

“Aku mendadak sakit, jadi harus pulang, oke?” kataku pada Mike, suaraku mendadak penuh semangat.

“Baiklah.” gerutu Mike.

Kukecup pipi Mike sekilas, “Trims, Mike. Aku berutang budi padamu!” seruku sambil cepat-cepat lari menjauh.

Jacob meraungkan mesinnya, nyengir. Aku melompat naik ke sadel belakang, memeluk pinggangnya erat-erat.

Pandanganku tertumbuk pada Alice. Ia membeku di pinggir kafeteria, matanya berkilat-kilat marah, bibirnya menyeringai, menampakkan giginya.

Kulayangkan pandangan memohon kepadanya.

Detik berikutnya kami sudah ngebut begitu cepat hingga perutku terasa mual.

“Pegangan.” teriak Jacob.

Aku menyembunyikan wajah di punggungnya sementara ia memacu motornya di jalan raya. Aku tahu ia akan memperlambat laju motornya begitu kami sampai di perbatasan Quileute nanti. Aku hanya perlu bertahan sampai saat itu.

Dalam hati aku berdoa sekuat tenaga semoga Alice tidak mengikuti, dan semoga Charlie tidak kebetulan melihatku…

Jelas kami telah sampai di zona aman. Kecepatan motor langsung berkurang, dan Jacob meluruskan tubuh serta tertawa sambil bersorak-sorai. Kubuka mataku.

“Kita berhasil!” teriaknya. “Tidak buruk untuk usaha kabur dari penjara, kan?”

“Ide bagus, Jake.”

“Aku ingat penjelasanmu waktu itu, bahwa si lintah paranormal itu tidak bisa meramalkan apa yang akan kulakukan. Aku senang hal ini tidak terpikir olehmu-sebab kalau itu terpikir olehmu, dia tidak akan membiarkanmu pergi ke sekolah.”

“Itulah sebabnya aku tidak mempertimbangkannya.”

Jacob tertawa menang. “Apa yang ingin kaulakukan hari ini?”

“Apa saja!” aku ikut tertawa. Senang rasanya bisa bebas.

 

8. AMARAH

KAMI pergi ke pantai lagi, berkeliaran tanpa tujuan. Jacob masih bangga karena berhasil membawaku kabur dari pengawasan.

“Apa menurutmu mereka akan datang mencarimu?” tanya Jacob, nadanya penuh harap,

“Tidak.” Aku yakin sekali. “Tapi mereka akan marah sekali padaku malam ini.”

Jacob memungut sebutir batu dan melemparnya ke ombak.

“Tidak usah kembali kalau begitu,” lagi-lagi ia mengusulkan.

“Charlie pasti akan senang sekali.” tukasku sarkastis.

“Berani taruhan, dia pasti tidak keberatan.”

Aku tidak menyahut, Jacob mungkin benar, dan itu membuatku mengertakkan gigi. Sikap Charlie yang terangterangan lebih menyukai teman-teman Quileute-ku benarbenar tidak adil. Dalam hati aku penasaran apakah Charlie akan tetap berpendapat sama seandainya ia tahu pilihannya adalah antara vampir dan werewolf.

“Nah, apa skandal terbaru kalian?” tanyaku ringan.

Jacob mendadak berhenti berjalan, dan menunduk memandangiku dengan sorot syok.

“Kenapa? Aku tadi hanya bercanda.”

“Oh.” Jacob membuang muka.

Kutunggu Jacob melangkah lagi, tapi sepertinya ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Jadi memang ada skandal, ya?” tanyaku.

Jacob terkekeh sekali. “Aku lupa tidak semua orang bisa mengetahui segala sesuatu dalam pikiranku. Bahwa hanya aku yang bisa mengetahui pikiranku saat ini.”

Kami menyusuri pantai yang berbatu sambil terdiam beberapa menit.

“Jadi apa?” tanyaku akhirnya. “Yang diketahui semua orang dalam pikiranmu?”

Sejenak Jacob ragu-ragu, seolah tak yakin bagaimana caranya menjelaskan padaku. Ialu ia mendesah dan berkata, “Quil mengalami imprint. Jadi sekarang sudah tiga orang. Kami-kami yang tersisa mulai waswas. Mungkin fenomena itu lebih jamak daripada cerita-cerita orang…” Kening Jacob berkerut, ia berpaling menatapku. Ia memandang mataku tanpa bicara, alisnya bertaut penuh konsentrasi.

“Apa yang kaupandangi?” tanyaku, merasa risi.

Jacob mendesah. “Tidak apa-apa.”

Jacob mulai melangkah lagi. Dan seolah tanpa berpikir, tangannya terulur dan menggandeng tanganku. Kami berjalan menyusuri bebatuan sambil berdiam diri.

Sempat terlintas dalam benakku bagaimana kami kelihatannya saat ini, berjalan bergandengan tangan di tepi pantai-seperti sepasang kekasih, jelas-dan bertanya-tanya dalam hati, apakah sebaiknya aku menolaknya. Tapi memang selalu seperti ini bersama Jacob… tak ada alasan meributkannya sekarang.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.