Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Aku sengaja menyisakan Royce untuk yang terakhir. Harapanku, dia akan mendengar tentang kematian temantemannya dan mengerti, tahu apa yang bakal dihadapinya. Aku berharap rasa takut akan membuat akhir hidupnya semakin mengerikan. Kurasa itu berhasil. Royce bersembunyi di dalam ruangan tak berjendela, di balik pintu setebal pintu ruang brankas di bank, dijaga pengawal bersenjata, waktu aku mendatanginya. Uups-tujuh pembunuhan.” Rosalie mengoreksi. “Aku lupa pengawalpengawalnya. Hanya butuh sedetik untuk menghabisi mereka.

“Aku melakukannya dengan sangat teatrikal. Agak kekanak-kanakan sebenarnya. Aku mengenakan gaun pengantin yang kucuri khusus untuk kesempatan itu. Royce menjerit waktu melihatku. Dia menjerit-jerit terus malam itu. Sengaja menyisakannya sebagai korban terakhir adalah ide bagus-lebih mudah bagiku untuk mengendalikan diri, sengaja memperlambat…

Tiba-tiba Rosalie berhenti bercerita, dan melirikku.”Maafkan aku.” katanya dengan nada menyesal. “Aku membuatmu ketakutan, ya?”

“Aku tidak apa-apa kok.” dustaku.

“Aku terlalu larut dalam ceritaku.”

“Tak apa-apa.”

“Aku heran Edward tidak bercerita banyak padamu mengenainya.”

“Dia tidak suka membeberkan cerita orang – Edward merasa itu artinya mengkhianati kepercayaan mereka, karena dia mendengar jauh lebih banyak daripada hanya bagian-bagian yang mereka ingin dia dengar.”

Rosalie tersenyum dan menggeleng. “Mungkin seharusnya aku lebih respek padanya. Dia benar-benar baik, bukan?”

“Menurutku begitu.”

“Aku tahu itu benar.” Lalu Rosalie mendesah. “Selama ini aku bersikap kurang adil padamu, Bella. Pernahkah Edward memberitahumu sebabnya? Atau itu terlalu rahasia?”

“Kata Edward, karena aku manusia. Katanya, kau tidak suka ada orang luar yang tahu.”

Tawa merdu Rosalie memotong perkataanku. “Sekarang aku benar-benar merasa bersalah. Ternyata Edward jauh, jauh lebih baik daripada yang layak kuterima.” Rosalie terkesan lebih hangat bila tertawa, seperti sedikit mengendurkan sikap sok wibawanya yang sebelumnya tak pernah absen kalau ada aku. “Dia itu pembohong besar” Lagi-lagi Rosalie tertawa.

“Jadi, dia bohong?” tanyaku, mendadak waswas.

“Well, mungkin istilah itu berlebihan. Dia hanya tidak menceritakan keseluruhan kisahnya. Yang dia ceritakan memang benar, bahkan sekarang lebih benar daripada sebelumnya. Tapi waktu itu…” Rosalie menghentikan katakatanya, tertawa gugup. “Memalukan. Begini, awalnya lebih tepat dikatakan aku cemburu karena dia menginginkanmu dan bukan aku.”

Perasaan takut melanda sekujur rubuhku saat mendengar kata-katanya. Duduk di bawah cahaya bulan keperakan, Rosalie lebih cantik daripada apa pun yang bisa kubayangkan. Aku tak mungkin mampu bersaing dengannya.

“Tapi kau mencintai Emmett… ,” gumamku.

Rosalie menggerakkan kepalanya maju-mundur, geli. “Aku tidak menginginkan Edward seperti itu, Bella. Tidak pernah-aku menyayanginya sebagai saudara, tapi Edward membuatku jengkel sejak pertama kali aku mendengarnya bicara. Tapi kau harus mengerti… aku begitu terbiasa dengan orang menginginkanku. Sementara Edward sedikit pun tidak tertarik. Itu membuatku frustrasi, bahkan tersinggung awalnya. Tapi karena dia tidak pernah menginginkan orang lain, itu tidak terlalu menggangguku lagi. Bahkan waktu kami pertama kali bertemu dengan klan Tanya di Denali-semua wanita itu!-Edward tidak pernah menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Kemudian dia bertemu denganmu.” Rosalie menatapku bingung. Aku hanya separuh memerhatikan. Pikiranku melayang ke Edward dan Tanya dan semua wanita itu, dan bibirku terkatup membentuk garis lurus.

“Bukannya kau tidak cantik, Bella,” sergah Rosalie, salah mengartikan ekspresiku. “Itu hanya berarti dia menganggapmu lebih menarik daripada aku. Karena aku peduli pada hal-hal lahiriah, itu membuatku tersinggung.”

“Tapi kau tadi mengatakan ‘pada awalnya’, Sekarang… kau sudah tidak merasa seperti itu lagi, kan? Maksudku, kita sama-sama tahu kau makhluk tercantik di planet ini.”

Aku tertawa karena harus mengatakan hal itu-padahal itu sudah sangat jelas. Sungguh aneh Rosalie masih butuh diyakinkan mengenainya.

Rosalie ikut tertawa. “Trims, Bella. Dan tidak, itu tidak terlalu menggangguku lagi. Sejak dulu Edward memang agak aneh.” Ia tertawa lagi.

“Tapi kau tetap tidak menyukaiku.” aku berbisik.

Senyum Rosalie lenyap. “Maafkan aku.”

Kami terduduk diam sesaat, dan Rosalie terkesan tidak ingin melanjutkan pembicaraan.

“Boleh aku tahu kenapa? Apakah aku melakukan sesuatu … ?” Apakah Rosalie marah karena aku menyebabkan keluarganya – Emmett-nya – berada dalam bahaya? Berkalikali. Dulu James, dan sekarang Victoria…

“Tidak, kau tidak melakukan apa-apa,” gumamnya. “Belum.”

Kutatap dia, tercengang.

“Tidak mengertikah kau, Bella?” Suara Rosalie tiba-tiba terdengar lebih berapi-api daripada sebelumnya, bahkan saat ia menceritakan kisah hidupnya yang tidak bahagia tadi, “Kau sudah memiliki segalanya. Masa depanmu terbentang luas di hadapanmu-semua yang kuinginkan. Tapi kau malah ingin membuangnya begitu saja. Tidak tahukah kau, aku rela menukar segalanya asal bisa menjadi dirimu? Kau punya pilihan, sementara aku tidak, tapi kau mengambil pilihan yang salah!”

Aku tersentak melihat ekspresinya yang menyala-nyala. Aku sadar mulurku ternganga, jadi aku lantas menutupnya rapat-rapat.

Rosalie menatapku lama sekali dan, lambat laun, bara api di matanya meredup. Sekonyong-konyong ia merasa malu.

“Padahal tadi aku yakin sekali bisa melakukannya dengan tenang.” Rosalie menggeleng, tampak sedikit bingung karena luapan emosinya barusan. “Tapi sekarang lebih sulit daripada dulu, waktu aku masih menyanjungnyanjung keindahan fisik.”

Rosalie memandangi bulan sambil berdiam diri. Baru beberapa saat kemudian aku berani menyela pikirannya.

“Apakah kau akan lebih menyukaiku kalau aku tetap menjadi manusia?”

Rosalie menoleh padaku, bibirnya berkedut-kedut, hendak merekah membentuk senyuman. “Mungkin.”

“Tapi kau juga mendapatkan akhir yang membahagiakan,” aku mengingatkan Rosalie. “Kau memiliki Emmett.”

“Aku mendapat setengah.” Rosalie nyengir. “Kau tahu aku menyelamatkan Emmett dari serangan beruang, dan membawanya pulang ke Carlisle. Tapi tahukah kau kenapa aku mencegah beruang itu memakannya?”

Aku menggeleng.

“Dengan rambut gelapnya yang ikal… lesung pipi yang muncul bahkan saat dia meringis kesakitan… wajah lugu aneh yang kelihatannya tidak cocok dimiliki laki-laki dewasa… dia mengingatkanku pada si kecil Henry, anak Vera. Aku tidak ingin dia mati-keinginanku begitu besar, hingga walaupun aku membenci kehidupan ini, aku cukup egois untuk meminta Carlisle mengubahnya untukku.

“Aku lebih beruntung daripada yang pantas kudapatkan. Emmett adalah segalanya yang kuminta kalau aku cukup tahu hendak meminta apa. Orang seperti dialah yang dibutuhkan seseorang seperti aku. Dan, anehnya, dia juga membutuhkan aku. Bagian itu berjalan lebih baik daripada yang bisa kuharapkan. Tapi kami takkan bisa punya anak. Jadi aku tidak akan pernah duduk-duduk di beranda, bersama Emmett yang rambutnya beruban di sisiku, dikelilingi cucu-cucu kami.”

Senyum Rosalie kini tampak ramah. “Untukmu kedengarannya aneh ya? Dalam beberapa hal, kau jauh lebih matang daripada aku saat berumur delapan belas tahun. Tapi dalam beberapa hal lain.. ada banyak hal yang mungkin tak pernah kaupikirkan secara serius. Kau terlalu muda untuk tahu apa yang kauinginkan sepuluh, lima belas tahun lagi-dan terlalu muda untuk menyia-nyiakan semua itu tanpa memikirkannya masak-masak. Jangan tergesagesa mengambil keputusan mengenai hal-hal permanen, Bella.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.