Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Rosalie mendesah, dan mulai berbisik-bisik lagi. “Ya, aku mengkhawatirkan cuaca aku tidak ingin pernikahanku dipindah ke dalam ruangan…

“Hanya tinggal beberapa blok lagi ke rumahku waktu aku mendengar mereka. Sekelompok lelaki di bawah lampu jalan yang rusak, tertawa begitu keras. Mabuk. Aku berharap kalau saja tadi meminta ayahku menemaniku pulang, tapi jaraknya sangat dekat, jadi rasanya itu konyol. Kemudian lelaki itu memanggil namaku.

“‘Rose!’ teriaknya, dan yang lain tertawa-tawa tolol.

“Aku tidak sadar para pemabuk itu berpakaian sangat bagus. Ternyata itu Royce bersama teman-temannya, putraputra keluarga kaya lainnya.

“Ini dia Rose-ku!” Royce berseru, tertawa-tawa bersama mereka, terdengar sama tololnya. “Kau terlambat. Kami kedinginan, kau membuat kami menunggu begitu lama.”

“Aku belum pernah melihatnya mabuk sebelum ini. Paling-paling hanya saat toast, satu-dua kali, di pesta. Dia pernah berkata tidak menyukai sampanye. Tapi aku tidak mengira ternyata dia menyukai minuman yang lebih keras.

“Dia punya teman baru-teman dari temannya, baru datang dari Atlanta.

“Benar kan kataku, John,’ Royce sesumbar, menyambar lenganku dan menarikku lebih dekat. ‘Benar kan dia lebih cantik daripada semua buah persik Georgia-mu itu?’

“Lelaki bernama John itu berambut gelap dan kulitnya gelap terbakar matahari. Dia memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti menaksir kuda yang hendak dibeli.

“’Sulit menilainya,’ kata lelaki itu lambat-lambat. ‘Soalnya bajunya tertutup rapat.’”

“Mereka tertawa, Royce juga, seperti yang lain.

“Tiba-tiba Royce mengoyak jaketku dari bahu-itu pemberiannya-sampai semua kancing kuningannya copot. Kancing-kancing itu berserakan di jalan.

“‘Tunjukkan bagaimana dirimu sebenarnya, Rose!’ Royce tertawa lagi kemudian merenggut topi dari rambutku hingga terlepas. Jepit-jepit menjambak rambutku dari akarnya, dan aku berteriak kesakitan. Mereka kelihatannya malah senang mendengar jerit kesakitanku ..

Rosalie tiba-tiba menatapku, seolah-olah lupa aku ada di sana. Aku yakin wajahku pasti pucat pasi seperti wajahnya.

“Kau tidak perlu mendengar kelanjutannya.” kata Rosalie pelan. “Mereka meninggalkanku di jalan, tertawatawa sambil sempoyongan pergi. Mereka kira aku sudah mati. Mereka menggoda Royce bahwa dia harus mencari calon istri baru. Royce tertawa dan berkata dia harus belajar bersabar lebih dulu.

“Aku tergeletak di jalan, menunggu kematian menjemputku.

Udara dingin, dan aku heran kenapa aku masih sempat memikirkannya, padahal sekujur tubuhku sakit, Salju mulai turun, dan aku bertanya-tanya kenapa aku tidak mati saja. Aku tidak sabar ingin segera mati, supaya kesakitan ini segera berlalu. Rasanya lama sekali…

“Saat itulah Carlisle menemukanku. Dia mencium bau darah, dan datang menyelidiki. Aku ingat samar-samar merasa kesal saat dia menanganiku, berusaha menyelamatkan nyawaku. Aku tidak pernah menyukai dr. Cullen atau istrinya dan adik lelaki istrinya-waktu itu orang mengenal Edward sebagai adik Esme. Aku sebal karena mereka jauh lebih rupawan daripada aku, terutama kaum lelakinya. Tapi karena mereka tidak berbaur dengan masyarakat, jadi aku hanya satu-dua kali bertemu mereka.

“Kukira aku sudah mati waktu Carlisle mengangkatku dari tanah dan melarikanku-karena kecepatannya sangat tinggi rasanya seolah-olah aku terbang. Aku masih ingat betapa takutnya aku karena rasa sakit itu tak berhenti juga…

“Tahu-tahu aku berada di ruangan terang benderang, dan hangat. Kesadaranku mulai hilang, dan aku bersyukur rasa sakit itu mulai mereda. Tapi tiba-tiba sesuatu yang tajam menembus tubuhku, di leher, pergelangan tangan, pergelangan kaki. Aku menjerit karena syok, mengira Carlisle membawaku ke sana untuk menyakitiku lebih lagi. Kemudian api itu mulai membakar sekujur tubuhku, dan aku tak peduli lagi pada hal-hal lain. Aku memohon-mohon padanya supaya aku dibunuh saja. Ketika Esme dan Edward pulang, kumohon pada mereka agar membunuhku juga. Carlisle duduk mendampingiku. Dia memegang tanganku dan meminta maaf berjanji rasa sakit itu akan hilang. Dia menceritakan semuanya padaku, dan kadangkadang aku mendengarkan. Dia menjelaskan siapa dirinya, akan menjadi apa aku nanti. Aku tidak percaya padanya. Dia meminta maaf setiap kali aku menjerit.

“Edward tidak senang. Aku mendengar mereka membicarakanku. Kadang-kadang aku berhenti menjerit. Tak ada gunanya berteriak-teriak.

“’Apa yang kaupikirkan, Carlisle?’ tanya Edward. ‘Rosalie Hale?’ Rosalie menirukan nada jengkel Edward dengan sempurna. “Aku tidak suka caranya menyebut namaku, seolah-olah ada yang tidak beres dengan diriku. .

“’Aku tidak tega membiarkan dia mati,’ kata Carlisle pelan. ‘Sungguh keterlaluan-terlalu menyedihkan, terlalu banyak yang disia-siakan,’

“’Aku tahu,’ sergah Edward, seperti tidak mau mendengar lagi. Aku marah mendengarnya. Waktu itu aku tidak tahu Edward benar-benar bisa melihat apa yang dilihat Carlisle.

“Terlalu banyak yang disia-siakan. Aku tidak tega meninggalkannya,” ulang Carlisle sambil berbisik.

“‘Tentu saja kau tidak tega,’ Esme sependapat,

“Manusia mati setiap saat,’ Edward mengingatkan Carlisle dengan suara keras. ‘Apa kau tidak berpikir dia agak mudah dikenali? Keluarga King pasti akan melakukan pencarian besar-besaran-meskipun tak seorang pun curiga siapa iblisnya,’ geram Edward.

“Aku senang karena sepertinya mereka tahu Royce-lah pelakunya.

“Aku tidak sadar itu menandakan prosesnya sebentar lagi akan berakhir-bahwa tubuhku semakin kuat dan itulah sebabnya aku bisa berkonsentrasi mendengarkan pembicaraan mereka. Rasa sakit itu mulai memudar dari ujung-ujung jariku.

“’Akan kita apakan dia?’ Edward bertanya dengan nada jengkel-atau begitulah setidaknya kedengarannya di telingaku.

“Carlisle mendesah. ‘Itu terserah dia, tentu saja. Mungkin dia ingin pergi sendiri.’

‘Waktu itu aku sudah mulai memercayai penjelasan Carlisle, sehingga kata-katanya membuatku ngeri. Aku tahu hidupku telah berakhir, dan aku takkan bisa kembali lagi. Aku tidak tahan membayangkan diriku sendirian…

“Rasa sakit itu akhirnya lenyap dan mereka menjelaskan lagi padaku, menjadi apa aku sekarang. Meskipun mataku merah, tapi aku makhluk paling rupawan yang pernah kulihat.” Rosalie menertawakan dirinya sesaat, “Butuh waktu sebelum aku mulai menyalahkan kecantikanku sebagai penyebab terjadinya peristiwa itu-sebelum aku melihat kecantikanku sebenarnya merupakan kutukan. Aku sempat berharap kalau saja aku… well, bukan jelek, tapi normal. Seperti Vera. Supaya aku diizinkan menikah dengan orang yang mencintaiku, dan memiliki bayi-bayi yang manis. Itulah yang benar-benar kuinginkan, selama ini. Sampai sekarang aku masih merasa itu bukan hal yang berlebihan untuk diminta.”

Ia termenung beberapa saat, dan aku bertanya-tanya apakah lagi-lagi ia lupa aku ada di sini. Tapi kemudian ia tersenyum padaku, ekspresinya tiba-tiba menyiratkan kemenangan.

“Kau tahu, rekorku nyaris sama bersihnya dengan Carlisle,” kata Rosalie. “Lebih baik daripada Esme. Seribu kali lebih bagus daripada Edward. Aku belum pernah merasakan darah manusia.” katanya bangga.

Rosalie memahami ekspresiku yang bingung mendengarnya mengatakan rekornya nyaris sama bersihnya.

“Aku membunuh lima manusia.” Rosalie memberitahuku dengan nada puas. “Kalau kau bisa menyebut mereka manusia. Tapi aku sangat berhati-hati untuk tidak mencecerkan darah mereka-karena aku tahu aku tak mungkin sanggup menahan diri kalau itu terjadi, padahal aku tidak mau ada sedikit pun bagian mereka masuk dalam diriku, kau mengerti, kan?

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.