Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Ibuku mendapat tugas mengurus rumah-termasuk aku dan dua adik lelakiku-agar bersih dan teratur. Jelas kelihatan akulah prioritas utama sekaligus anak kesayangan ibuku. Waktu itu aku tak sepenuhnya mengerti, tapi samarsamar sebenarnya aku selalu menyadari kedua orangtuaku tidak puas dengan apa yang mereka miliki, walaupun itu jauh lebih banyak daripada yang dimiliki kebanyakan orang. Mereka ingin lebih. Mereka memiliki aspirasi sosialsocial climbers, begitulah istilahnya, Kecantikanku bagai anugerah bagi mereka. Mereka melihat jauh lebih banyak potensi di dalamnya daripada aku.

“Mereka belum puas, tapi aku sudah. Aku senang menjadi diriku sendiri, menjadi Rosalie Hale. Senang karena mata setiap lelaki memandangiku ke mana pun aku pergi, sejak aku berumur dua belas tahun. Gembira karena teman-teman perempuanku mendesah iri setiap kali menyentuh rambutku. Bahagia karena ibuku bangga padaku dan ayahku senang membelikan aku gaun-gaun indah.

“Aku tahu apa yang kuinginkan dalam hidup ini, dan kelihatannya tidak ada yang menghalangiku mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku ingin dicintai, dipuja. Aku ingin pernikahanku dipestakan besar-besaran, dihiasi banyak bunga, dan semua orang di kota akan menyaksikan aku berjalan di lorong gereja dalam gandengan ayahku dan menganggapku mempelai tercantik yang pernah mereka lihat, Kekaguman sudah seperti udara bagiku, Bella. Aku memang tolol dan dangkal, tapi aku bahagia.” Rosalie tersenyum, geli mendengar penilaiannya sendiri.

“Pengaruh kedua orangtuaku begitu kuat hingga aku juga menginginkan materi dalam hidup ini. Aku ingin punya rumah besar dengan perabot elegan dan pelayan untuk membersihkannya, menginginkan dapur modern lengkap dengan juru masaknya. Seperti kataku tadi, dangkal. Muda dan sangat dangkal. Dan aku tidak melihat alasan mengapa aku tidak bisa mendapatkan semua itu.

“Ada juga beberapa hal lain yang kuinginkan yang lebih berarti. Ini salah satunya. Sahabat karibku seorang gadis bernama Vera. Dia menikah muda saat usianya baru tujuh belas. Dia menikah dengan pemuda yang tidak akan pernah direstui orangtuaku-seorang tukang kayu. Setahun kemudian Vera melahirkan anak laki-laki, bocah tampan dengan lesung pipi dan rambut hitam keriting. Untuk pertama kalinya seumur hidupku aku benar-benar iri pada orang lain.”

Rosalie menatapku dengan sorot mata yang tidak bisa diterka. “Saat itu zamannya berbeda. Aku seumur denganmu sekarang, tapi aku sudah siap untuk semua itu. Aku mendambakan punya bayi sendiri. Aku ingin punya rumah sendiri, juga suami yang akan menciumku sepulang kerja-persis seperti Vera. Tapi tentu saja rumah yang ada dalam bayanganku berbeda dengan rumahnya…”

Sulit bagiku membayangkan dunia yang dulu dikenal Rosalie. Ceritanya terdengar lebih mirip dongeng daripada riwayat hidup. Aku sedikit syok saat menyadari dunianya nyaris mirip dunia yang dijalani Edward ketika ia masih menjadi manusia, dunia tempat ia tumbuh besar. Aku sempat bertanya-tanya sendiri-saat Rosalie terdiam sejenakapakah duniaku juga membingungkan bagi Edward seperti dunia Rosalie membingungkanku?

Rosalie mendesah, dan waktu berbicara lagi suaranya berbeda, kesenduannya lenyap.

“Di Rochester, hanya ada satu keluarga bangsawan-dan ironisnya, nama mereka King. Royce King adalah pemilik bank tempat ayahku bekerja. Dia juga memiliki hampir semua usaha lain yang sangat menguntungkan di kota itu. Di sanalah anak lelakinya, Royce King Kedua” -bibir Rosalie mencibir saat mengucapkannya, nama itu meluncur keluar dari sela-sela gigi-“melihatku untuk pertama kalinya. Karena akan mengambil alih kepemimpinan di bank itu, dia mulai mengawasi berbagai jabatan berbeda. Dua hari kemudian ibuku berlagak lupa membawakan makan siang untuk ayahku. Aku ingat betapa bingungnya aku waktu ibuku bersikeras agar aku mengenakan gaun organza putihku dan mengikalkan rambut hanya untuk pergi ke bank sebentar.” Rosalie tertawa tanpa emosi.

“Aku tidak menyadari Royce memerhatikanku. Semua orang memerhatikanku. Tapi malam itu, mawar-mawar pertama mulai datang. Setiap malam selama kami pacaran, dia mengirimkan mawar untukku. Kamarku selalu dipenuhi mawar. Saking banyaknya, setiap kali meninggalkan rumah tubuhku harum seperti mawar.

“Royce juga tampan. Rambutnya bahkan lebih pirang daripada aku, dan matanya biru pucat. Menurutnya, mataku bagaikan bunga violet, dan kemudian bunga-bunga violet itu pun mulai berdatangan bersamaan dengan kiriman mawar.

“Orangtuaku setuju-itu penggambaran yang paling sederhana. Karena ini adalah segalanya yang mereka impikan. Dan Royce tampaknya memiliki semua yang kuimpikan. Pangeran dari negeri dongeng, datang untuk menjadikanku putri. Semua yang kuinginkan, namun tetap di luar dugaan. Kami bertunangan saat aku baru mengenalnya kurang dari dua bulan.

“Kami jarang menghabiskan waktu berdua. Royce mengatakan dia punya banyak tanggung jawab pekerjaan, dan, bila ada kesempatan bersama-sama, dia senang memamerkan aku pada orang-orang lain, menggandeng lenganku. Aku senang diperlakukan seperti itu. Banyak sekali pesta-pesta, dansa-dansi, dan gaun-gaun cantik. Kalau kau anggota keluarga King, semua pintu terbuka lebar untukmu, semua karpet merah dibentangkan untuk menyambutmu.

“Pertunangan kami tidak lama. Berbagai rencana sudah disusun untuk menyelenggarakan pesta pernikahan yang paling mewah. Itu akan jadi perayaan yang kudambakan selama ini. Aku sangat bahagia. Kalau pergi mengunjungi rumah Vera, aku tak lagi merasa iri. Kubayangkan anakanakku yang berambut pirang bermain-main di halaman rumah keluarga King yang luas, dan aku merasa kasihan kepada Vera.”

Tiba-tiba Rosalie menghentikan kisahnya, mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Aku tersadar dari keasyikanku mendengarkan ceritanya, dan sadar kisahnya nyaris sampai di bagian menyeramkan. Tidak ada akhir yang membahagiakan, begitu kata Rosalie tadi. Aku bertanyatanya dalam hati, inikah sebabnya Rosalie menyimpan lebih banyak kepahitan dalam dirinya dibandingkan anggota keluarga yang lain-karena ia nyaris mendapatkan semua yang ia inginkan saat kehidupannya sebagai manusia direnggut.

“Aku pergi ke rumah Vera malam itu.” Rosalie berbisik. Wajahnya halus bagaikan pualam, dan sama kerasnya. “Henry kecilnya benar-benar menggemaskan, suka tersenyum memamerkan lesung pipinya-dia baru belajar duduk sendiri. Vera mengantarku ke depan pintu waktu aku mau pulang, menggendong bayinya, bersama suami yang merangkul pinggangnya. Si suami mengecup pipi Vera waktu dia kira aku tidak melihat. Itu membuatku gundah. Kalau Royce menciumku, sepertinya berbeda-entah mengapa, sepertinya tidak semanis itu… tapi kusingkirkan pikiran itu jauh-jauh. Royce pangeranku. Suatu hari nanti, aku akan menjadi ratunya.”

Meski sulit memastikannya dalam cahaya bulan, namun tampaknya wajah Rosalie yang seputih tulang berubah semakin pucat. .

“Jalan-jalan mulai gelap, lampu-lampu sudah menyala. Aku tidak sadar hari ternyata sudah larut malam.” Rosalie terus berbisik, nyaris tak terdengar. “Hawa juga dingin. Sangat dingin untuk akhir bulan April. Pernikahan tinggal seminggu lagi, dan aku mengkhawatirkan cuaca sambil bergegas pulang-aku bisa mengingatnya sejelas itu. Aku ingat setiap detail tentang malam itu. Aku mempertahankan kenangan itu sekuat tenaga… pada awalnya. Aku tidak memikirkan yang lain. Karenanya aku ingat ini, ketika banyak kenangan indah lain justru telah hilang sepenuhnya…”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.