Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Aku serius.”

“Tidak usah. Mereka hanya berusaha mengamankan aku.”

Jacob menggeram lagi.

“Aku tahu ini tolol, tapi mereka sebenarnya berhati baik.”

“Berhati baik?”dengusnya.

“Maaf tentang hari Sabtu.” aku meminta maaf “Aku harus naik ke tempat tidur” -sofa, koreksiku dalam hati-“tapi akan kutelepon kau lagi nanti.”

“Kau yakin mereka akan mengizinkanmu? tanya Jacob sengit.

“Tidak sepenuhnya.” Aku mendesah. ”’Malam, Jake.”

“Sampai nanti.”

Tahu-tahu Alice sudah berdiri di sampingku, tangannya terulur meminta ponsel, tapi aku sudah menghubungi nomor lain. Ia melihat nomornya.

“Sepertinya dia tidak membawa ponsel,” kata Alice.

“Aku akan meninggalkan pesan.”

Telepon berdering empat kali, disusul bunyi “bip” Tidak ada salam apa-apa.

“Awas kau nanti.” kataku lambat-lambat, menekankan setiap kata. “Kau akan menghadapi masalah besar. Beruang grizzly yang marah akan terlihat jinak dibandingkan apa yang menunggumu di rumah.”

Kututup ponsel kuat-kuat dan kuletakkan di telapak tangan Alice yang sudah menunggu. “Aku sudah selesai.”

Alice nyengir. “Asyik juga main sandera-sanderaan begini.”

“Aku mau tidur sekarang.” kataku, berjalan menuju tangga.

Alice langsung membuntuti.

“Alice,” desahku. “Aku bukan mau menyelinap pergi diam-diam. Kau pasti tahu kalau aku berniat berbuat begitu, dan kau pasti akan menangkapku kalau aku berani cobacoba.”

“Aku hanya mau menunjukkan di mana barangbarangmu disimpan.” tukasnya sok lugu.

Kamar Edward di ujung lorong lantai tiga, tidak mungkin salah masuk walaupun kau tidak terlalu familier dengan rumah besar ini. Tapi waktu aku menyalakan lampunya, aku tertegun bingung. Jangan-jangan aku salah masuk kamar?

Alice terkikik.

Ini memang kamar yang sama, aku menyadari dengan cepat; perabotnya saja yang ditata ulang. Sofa dipindahkan ke dinding utara dan stereo diletakkan menempel ke rak CD yang memenuhi dinding-untuk memberi tempat bagi ranjang besar yang kini mendominasi tengah-tengah ruangan.

Dinding selatan yang terbuat dari kaca memantulkan pemandangan itu seperti cermin, membuatnya tampak dua kali lebih mengerikan.

Ranjang itu senada dengan perabot lain di kamar itu. Penutupnya berwarna emas buram, sedikit lebih terang daripada warna dinding-dindingnya; rangkanya hitam, terbuat dari besi tempa dengan pola yang rumit. Mawarmawar yang dibentuk dari besi melingkar-lingkar di tiang ranjang yang tinggi dan membentuk semacam tirai yang menjuntai di atas kepala. Piamaku terlipat rapi di kaki ranjang, tas perlengkapan mandiku di sebelahnya.

“Apa-apaan ini?” semburku,

“Kau tidak berpikir dia akan membiarkanmu tidur di sofa, kan?”

Aku bergumam tidak jelas dan menghambur masuk untuk menyambar barang-barangku dari tempat tidur.

“Aku pergi dulu supaya kau bisa memiliki sedikit privasi.” tawa Alice. “Sampai besok.”

Setelah menggosok gigi dan berganti baju, kusambar bantal bulu gemuk dari atas ranjang besar dan menyeret selimut emas itu ke sofa. Aku tahu sikapku ini konyol, tapi aku tak peduli. Menyogok dengan Porsche dan ranjang king-size di rumah yang anggota keluarganya tak pernah tidur – semua itu benar-benar sangat menjengkelkan. Kumatikan lampu-lampu dan meringkuk di sofa, bertanyatanya dalam hati apakah hatiku terlalu kesal untuk bisa tidur.

Dalam gelap dinding kaca tak lagi tampak seperti cermin hitam yang memantulkan seisi kamar. Cahaya bulan menerangi awan-awan di luar jendela. Setelah mataku bisa menyesuaikan diri, aku bisa melihat pendar cahaya bulan menerangi puncak-puncak pohon, dan memantul di seruas kecil sungai. Kupandangi cahaya keperakan itu, menunggu kelopak mataku memberat.

Terdengar ketukan pelan di pintu.

“Ya, Alice?” desisku. Aku langsung memasang sikap defensif membayangkan betapa gelinya Alice melihatku tidur di sofa.

“Ini aku,” jawab Rosalie lembut, membuka pintu secelah supaya aku bisa melihat cahaya perak bulan menyentuh wajahnya yang sempurna. “Boleh aku masuk”

 

7. AKHIR YANG MENYEDIHKAN

ROSALIE ragu-ragu sejenak di ambang pintu, wajahnya yang memesona tampak ragu.

“Tentu saja.” sahutku, suaraku satu oktaf lebih tinggi karena kaget. “Silakan masuk.”

Aku duduk tegak-tegak, bergeser ke ujung sofa untuk memberinya tempat. Perutku terpilin gugup saat satusatunya anggota keluarga Cullen yang tidak menyukaiku itu bergerak tanpa suara, lalu duduk di tempat yang kosong. Aku berusaha memikirkan alasan mengapa Rosalie ingin menemuiku, tapi pikiranku hampa.

“Kau tidak keberatan bicara sebentar denganku?” tanya Rosalie. “Aku tidak membangunkanmu atau apa, kan? Matanya melirik tempat tidur yang telanjang tanpa penutup, lalu kembali ke sofaku.

“Tidak, aku belum tidur, Tentu kita bisa bicara.” Entah apakah ia bisa mendengar nada waswas dalam suaraku sama jelasnya seperti aku bisa mendengarnya.

Rosalie tertawa renyah, dan kedengarannya seperti denting serenceng lonceng. “Dia sangat jarang meninggalkanmu sendirian.” katanya. “Jadi kupikir sebaiknya kumaanfaatkan saja kesempatan langka ini.”

Apa yang ingin disampaikan Rosalie yang tidak bisa ia katakan di depan Edward? Tanganku meremas-remas gelisah pinggiran selimut.

“Kuharap kau tidak menganggapku ikut campur.” kata Rosalie, suaranya lembut dan nyaris bernada memohon. Ia melipat kedua tangannya di pangkuan dan menunduk memandanginya saat bicara, “Aku yakin aku sudah cukup sering melukai perasaanmu pada masa lalu, jadi aku tidak ingin melakukannya lagi.”

“Jangan khawatir soal itu, Rosalie. Perasaanku baik-baik saja. Ada apa?’

Lagi-lagi Rosalie tertawa, kedengarannya malu. “Aku akan mencoba menjelaskan kepadamu, kenapa menurutku sebaiknya kau tetap menjadi manusia-kenapa aku akan memilih tetap menjadi manusia kalau aku jadi kau.”

“Oh.”

Rosalie tersenyum mendengar seruanku yang bernada syok, kemudian mendesah.

“Pernahkah Edward bercerita padamu, apa yang menyebabkan ini terjadi?” tanya Rosalie, melambaikan tangan ke tubuh abadinya yang menawan.

Aku mengangguk lambat-lambat, tiba-tiba sendu. “Kata Edward, hampir sama seperti yang terjadi padaku di Port Angeles waktu itu, hanya saja tidak ada orang yang menyelamatkanmu.” Aku bergidik mengenang peristiwa itu.

“Benarkah hanya itu yang dia ceritakan padamu?” tanya Rosalie.

“Ya.” jawabku, suaraku terdengar bingung. “Memangnya masih ada lagi?’

Rosalie mendongak menatapku dan tersenyum; ekspresinya keras dan pahit – namun tetap memesona.

“Ya,” jawabnya. “Masih ada lagi.”

Aku menunggu sementara Rosalie memandang ke luar jendela. Tampaknya ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Maukah kau mendengar ceritaku, Bella? Akhir kisahnya menyedihkan – tapi mana ada kisah kami yang berakhir bahagia? Kalau kisah kami berakhir bahagia, kami semua pasti sudah berada di dalam kubur sekarang.”

Aku mengangguk, meski takut mendengar keresahan dalam suaranya.

“Aku hidup di dunia yang sama sekali berbeda dari duniamu, Bella. Dunia manusiaku dulu jauh lebih sederhana, Saat itu tahun 1933. Umurku delapan belas, dan aku cantik. Hidupku sempurna.”

Rosalie memandang ke luar jendela, ke awan-awan yang keperakan, ekspresinya menerawang.

“Orangtuaku berasal dari kalangan menengah. Ayahku memiliki pekerjaan yang mapan di sebuah bank, sesuatu yang kusadari sekarang sangat dibanggakan ayahku-beliau melihat kemakmurannya sebagai buah dari bakat dan kerja keras, daripada mengakui ada juga faktor keberuntungan di sana. Ketika itu aku menganggap semua itu biasa saja; di rumahku, era Depresi Besar hanya dianggap kabar burung yang mengganggu. Tentu saja aku melihat orang-orang miskin yang tidak seberuntung aku. Penjelasan ayahku meninggalkan kesan seolah-olah kemiskinan itu akibat kemalasan mereka sendiri.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.