Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Kami tidak mencapai kesepakatan apa-apa soal werewolf, tapi aku tidak merasa bersalah saat menelepon Jake – di kesempatan sempit ketika Edward harus mengembalikan Volvonya ke rumah sebelum menyelinap masuk lewat jendela kamarku – untuk memberitahu aku akan datang lagi Sabtu nanti. Itu bukan sembunyi-sembunyi. Edward tahu bagaimana perasaanku. Dan kalau ia menyabotase trukku lagi, akan kusuruh Jacob menjemputku. Forks kan wilayah netral, sama seperti Swiss-sama seperti aku.

Jadi waktu aku selesai bekerja hari Kamis dan ternyata Alice yang menungguku di Volvo, bukan Edward, awalnya aku tidak curiga. Pintu mobil terbuka, dan musik yang tidak kukenal menggetarkan rangka mobil saat terdengar derum suara bass.

“Hai, Alice,” teriakku, berusaha mengatasi raungan suara musik sambil naik ke mobil. “Mana kakakmu?”

Alice menyanyi mengikuti lagu, suaranya satu oktaf lebih tinggi daripada melodinya, menyatu dalam harmonisasi yang rumit. Ia mengangguk padaku, mengabaikan pertanyaanku karena masih berkonsentrasi pada musiknya.

Kututup pintu dan telingaku dengan tangan. Alice nyengir, lalu mengecilkan volume sampai tinggal musik latarnya saja. Kemudian ia mengunci pintu dan menginjak pedal gas pada saat bersamaan.

“Ada apa?” tanyaku, mulai merasa tidak enak. “Mana Edward?”

Alice mengangkat bahu. “Mereka berangkat lebih awal.”

“Oh.” Aku berusaha mengendalikan kekecewaanku yang tak masuk akal. Kalau Edward berangkat lebih awal, berarti ia akan kembali lebih cepat, aku mengingatkan diri sendiri.

“Berhubung semua cowok pergi, jadi kita akan pesta semalam suntuk!” teriak Alice, suaranya melengking tinggi.

“Pesta semalam suntuk?” ulangku, kecurigaanku akhirnya terbukti.

“Memangnya kau tidak senang?” kaoknya.

Kutatap mata Alice yang berbinar-binar itu selama sedetik.

“Kau menculikku, ya?”

Alice tertawa dan mengangguk. “Sampai hari Sabtu. Esme sudah mendapat izin dari Charlie; kau akan menginap di rumahku dua malam, dan aku akan mengantarmu ke dan dari sekolah besok.”

Aku membuang muka ke arah jendela, menggertakkan gigi dengan gemas.

“Maaf,” kata Alice, meski tidak terdengar sedikit pun nada menyesal dalam suaranya. “Dia menyogokku.”

“Dengan apa?” desisku dari sela-sela rahang.

“Dengan Porsche. Persis seperti yang kucuri di Italia dulu.” Alice mendesah bahagia. “Aku tidak seharusnya mengendarainya di sekitar Forks, tapi kalau kau mau, bisa kita lihat butuh waktu berapa lama untuk sampai di LA dari sini-berani taruhan, aku pasti bisa membawamu kembali ke sini tengah malam nanti.”

Aku menghela napas dalam-dalam. “Sepertinya tak perlu.” desahku, berusaha untuk tidak bergidik.

Kami meliuk-liuk, ngebut seperti biasa, menyusuri jalan masuk yang panjang. Alice menghentikan mobilnya di dekat garasi, dan aku cepat-cepat menoleh memandangi mobil-mobil yang diparkir di sana. Jip besar Emmett ada di sana, sedangkan Porsche kuning kenari diparkir di antara jip itu dan sedan convertible merah Rosalie.

Alice melompat turun dengan anggun, dan membelai belai bodi sogokannya. “Cantik, kan?”

“Cantiknya berlebihan.” gerutuku, tak percaya. “Dia memberimu mobil itu hanya untuk menyanderaku selama dua hari?”

Alice mengernyit.

Sedetik kemudian mendadak aku mengerti dan terkesiap ngeri. “Ini untuk setiap kali dia pergi, kan?”

Alice mengangguk.

Kubanting pintu mobil dan berjalan dengan langkahlangkah kesal menuju rumah. Alice menari-nari di sebelahku, tetap tidak merasa bersalah.

“Alice, apa menurutmu ini tidak sedikit sok mengatur? Agak sedikit sakit, mungkin?”

“Tidak juga.” Alice mendengus. “Sepertinya kau tidak menyadari betapa berbahayanya werewolf yang masih muda itu. Terutama kalau aku tidak bisa melihat mereka. Edward tidak bisa mengetahui apakah kau aman. Tidak seharusnya kau sesembrono itu.”

Suaraku berubah sinis. “Ya, karena pesta vampir semalam suntuk merupakan puncak perilaku yang sadar keamanan.”

Alice tertawa. “Aku akan memberimu layanan pedikur, lengkap dengan perawatan lainnya.” janjinya.

Sebenarnya ini tidak terlalu buruk, kecuali fakta aku disandera di luar kemauanku. Esme membawa makanan Italia – pokoknya serba lezat, jauh-jauh dari Port Angeles dan Alice sudah siap dengan film-film favoritku. Bahkan Rosalie pun ikut, berdiam diri di latar belakang. Alice benar-benar ngotot ingin melakukan pedikur, dan aku bertanya-tanya apakah ia membuat daftar – mungkin sesuatu yang disusunnya dari hasil menonton sinetronsinetron kacangan.

“Sampai jam berapa kau mau begadang?” tanya Alice setelah kuku-kuku jariku berkilau merah darah. Antusiasmenya tetap berkobar meski suasana hatiku jelek.

“Aku tidak mau begadang. Besok kita harus sekolah.” Alice mencebik.

“Omong-omong, aku harus tidur di mana?” Kuukur panjang sofa dengan mataku. Ukurannya agak pendek. “Memangnya kau tidak bisa mengawasiku di rumahku saja?”

“Pesta semalam suntuk apa itu?’ Alice menggeleng putus asa. “Kau tidur di kamar Edward.”

Aku mendesah. Sofa kulit hitamnya memang lebih panjang daripada yang ini. Bahkan karpet emas di kamarnya mungkin cukup tebal sehingga tidur di lantai pun tidak masalah.

“Boleh aku pulang ke rumahku untuk mengambil barangbarangku, paling tidak?”

Alice nyengir. “Sudah dibereskan.”

“Boleh kupakai teleponmu?”

“Charlie tahu kau di mana.”

“Aku bukan mau menelepon Charlie,” Aku mengerutkan kening. “Ada beberapa rencana yang harus kubatalkan.”

“Oh.” Alice menimbang-nimbang. “Soal itu aku kurang yakin.”

“Alice!” erangku keras-keras, “Ayolah!”

“Oke, oke.” ujarnya, melesat keluar kamar, Setengah detik kemudian ia kembali, ponsel di tangan. “Dia tidak secara spesifik melarang ini…,” gumamnya pada diri sendiri sambil menyerahkan ponsel.

Aku menghubungi nomor Jacob, mudah-mudahan ia tidak sedang berkeliaran dengan teman-temannya malam ini. Aku beruntung – Jacob sendiri yang menjawab.

“Halo?”

“Hai, Jake, ini aku.” Sedetik Alice menatapku dengan sorot tanpa ekspresi, sebelum berbalik dan duduk di antara Rosalie dan Esme di sofa.

“Hai, Bella,” kata Jacob, mendadak waswas. “Ada apa?”

“Kabar buruk. Ternyata aku tidak bisa datang ke rumahmu Sabtu nanti.”

Jacob terdiam sebentar. “Dasar pengisap darah tolol.” gerutunya akhirnya. “Kupikir dia pergi. Memangnya kau tidak bisa punya kehidupan lain kalau dia tidak ada? Atau jangan-jangan dia menguncimu di peti mati?”

Aku tertawa.

“Menurutku itu tidak lucu.”

“Aku tertawa karena tebakanmu hampir tepat,” kataku.

“Tapi dia akan pulang hari Sabtu, jadi itu tidak masalah.”

“Dia mencari mangsa di Forks, kalau begitu?” sindir Jacob sengit.

“Tidak.” Aku tidak membiarkan diriku jengkel karena kata-kata Jacob. Soalnya aku sendiri juga nyaris sama marahnya dengan Jacob. “Dia berangkat lebih awal.”

“Oh. Well, hei, datanglah sekarang kalau begitu.” sergah Jacob, mendadak antusias. “Sekarang belum terlalu malam. Atau aku bisa datang ke rumah Charlie.”

“Kalau saja bisa. Aku bukan di rumah Charlie,” kataku jengkel. “Bisa dibilang aku disandera.”

Jacob terdiam saat otaknya mencerna perkataanku, kemudian menggeram. “Kami akan datang menjemputmu.” janjinya datar, otomatis langsung menggunakan kata ganti orang jamak.

Perasaan dingin menjalari tulang belakangku, tapi aku menanggapinya dengan nada ringan dan menggoda. “Sungguh menggoda. Aku memang disiksa di sini-Alice mengecat kuku kakiku.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.