Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Di luar sekolah?” tanya Charlie, menggugah perhatianku lagi.

“Aku tidak pernah bertemu siapa-siapa di luar sekolah, Dad. Aku dihukum, ingat? Dan Angela juga punya pacar. Dia selalu bersama Ben. Kalau aku benar-benar bebas.” aku menambahkan dengan sikap skeptis, “mungkin kami bisa kencan ganda.”

“Oke, Tapi…” Charlie ragu,ragu sejenak, “Kau dan Jake dulu kan akrab sekali, tapi sekarang ”

Aku langsung memotong perkataannya. “Bisa langsung ke pokok masalah, Dad? Apa persyaratan Dad – sebenarnya?”

“Menurutku, tidak seharusnya kau melupakan semua temanmu hanya karena kau sudah punya pacar, Bella.” kata Charlie tegas. “Itu tidak baik, dan kurasa hidupmu akan lebih seimbang kalau kau juga berhubungan dengan orang-orang lain. Yang terjadi bulan September waktu itu…”

Aku terkesiap.

“Well.” sergah Charlie dengan, sikap defensif. “Kalau kau punya kehidupan lain di luar Edward Cullen, mungkin kejadiannya tidak akan seperti waktu itu.”

“Jadinya akan persis seperti waktu itu.”

“Mungkin, tapi mungkin juga tidak.”

“Intinya?” aku mengingatkan Charlie.

“Gunakan kebebasan barumu untuk menemui temantemanmu yang lain juga. Bersikaplah seimbang.”

Aku mengangguk lambat-lambat. “Keseimbangan memang perlu. Apa aku juga diwajibkan memenuhi kuota waktu tertentu?”

Charlie mengernyitkan wajah, tapi menggeleng. “Tidak usah yang rumit-rumit, Yang penting jangan lupakan teman-temanmu ….”

Itu dilema yang sedang kuhadapi. Teman-temanku. Orang-orang yang demi keselamatan mereka sendiri, takkan bisa kutemui lagi setelah lulus nanti.

Jadi apa yang sebaiknya kulakukan? Menghabiskan waktu bersama mereka selagi bisa? Atau memulai perpisahan sejak sekarang secara berangsur-angsur? Gentar juga aku membayangkan pilihan kedua.

“…terutama Jacob.” imbuh Charlie sebelum aku sempat berpikir lebih jauh lagi.

Itu dilema yang lebih besar lagi. Butuh beberapa saat sebelum menemukan kata-kata yang tepat. “Jacob mungkin akan … sulit.”

“Keluarga Black sudah seperti keluarga kira sendiri, Bella.” kata Charlie, nadanya kembali tegas dan kebapakan. “Dan selama ini Jacob sudah menjadi teman yang sangat, sangat baik bagimu.”

“Aku tahu itu.”

“Memangnya kau tidak kangen sama sekali padanya?” tanya Charlie, frustrasi.

Tenggorokanku mendadak bagai tersumbat; aku harus menelan dua kali sebelum menjawab. “Ya, aku kangen padanya.” aku mengakui, tetap menunduk. “Aku kangen sekali padanya.”

“Jadi, apa sulitnya?”

Aku tak bisa menjelaskan alasannya. Tak seharusnya orang-orang normal – manusia biasa seperti aku dan Charlie

– mengetahui tentang dunia rahasia yang penuh mitos dan monster yang diam-diam ada di sekitar kami. Aku kenal benar dunia itu – dan akibatnya aku terlibat masalah yang tidak kecil. Aku tak ingin Charlie terlibat dalam masalah yang sama.

“Dengan Jacob ada sedikit… konflik.” kataku lambatlambat. “Konflik soal persahabatan itu sendiri, maksudku. Persahabatan tampaknya tidak cukup bagi Jake.” Aku menyodorkan alasan berdasarkan detail-detail yang meskipun benar tapi tidak signifikan, nyaris tidak krusial dibandingkan fakta bahwa kawanan werewolf. Jacob sangat membenci keluarga vampir Edward – dan dengan demikian membenciku juga, karena aku benar-benar ingin bergabung dengan keluarga itu. Itu bukan masalah yang bisa dibereskan hanya dengan mengirim pesan, apalagi Jacob tidak mau menerima teleponku. Tapi rencanaku untuk bertemu langsung si werewolf ternyata tidak disetujui para vampir.

“Apa Edward tidak bisa bersaing secara sehat?” suara Charlie terdengar sarkasris sekarang,

Kulayangkan pandangan sengit padanya. “Tidak ada persaingan kok.”

“Kau melukai perasaan Jake, menghindarinya seperti ini, Dia lebih suka menjadi teman daripada tidak menjadi apaapa.”

Oh, jadi sekarang aku yang menghindari dia?

“Aku sangat yakin Jake tidak mau, menjadi teman sama sekali.” Kata-kata itu membakar mulutku. “Omong-omong, dari mana Dad mendapat pikiran seperti itu?”

Sekarang Charlie tampak malu. “Yah, dari omong~omong dengan Billy hari ini tadi…”

“Dad dan Billy bergosip seperti perempuan tua.” keluhku, menusukkan garpu dengan ganas ke gumpalan spagetiku.

“Billy khawatir memikirkan Jacob.” kata Charlie. “Jake sedang mengalami masa sulit sekarang…. Dia depresi.”

Aku meringis, namun tetap mengarahkan mataku ke piring.

“Dan dulu kau selalu terlihat sangar bahagia sehabis bertemu Jake.” Charlie mengembuskan napas.

“Aku bahagia sekarang.” geramku garang dari sela-sela gigi. Kontrasnya pernyataanku dengan nada suaraku memecah ketegangan. Tawa Charlie meledak dan aku ikutikutan tertawa.

“Oke, oke.” aku setuju. “Seimbang.”

“Dan Jacob.” desak Charlie.

“Akan kucoba.”

“Bagus. Temukan keseimbangan itu, Bella. Dan, oh, ya, kau dapat surat.” kara Charlie, berlagak lupa. “Kutaruh di dekat kompor.”

Aku bergeming, pikiranku kusut memikirkan Jacob. Paling-paling kiriman brosur promosi dan semacamnya; kemarin aku baru mendapat kiriman paket dari ibuku, jadi tidak ada kiriman lain yang kutunggu.

Charlie mendorong kursinya menjauhi meja, lalu berdiri dan meregangkan otot-ototnya. Ia membawa piringnya ke bak cuci, tapi sebelum menyalakan keran untuk membilasnya, berhenti sebentar untuk melemparkan amplop tebal itu ke arahku. Amplop itu meluncur melintasi meja makan dan membentur sikuku.

“Eh, trims.” gumamku, bingung melihat sikap Charlie yang begitu gigih ingin agar aku segera membuka surat ini. Baru kemudian kulihat alamat pengirimnya – University of Alaska Southeast. “Cepat juga. Padahal kupikir batas waktunya sudah lewat.”

Charlie terkekeh.

Aku membalik amplop lalu mendongak dan menatap Charlie dengan garang. “Kok sudah dibuka?”

“Aku penasaran.”

“Aku syok, Sherrif. Itu kejahatan serius.”

“Oh, baca sajalah.”

Kukeluarkan surat itu dari amplop beserta jadwal kuliah yang terlipat.

“Selamat.” kara Charlie sebelum aku sempat membaca isinya. “Surat penerimaanmu yang pertama.”

“Trims, Dad.”

“Kira harus membicarakan masalah uang kuliah. Aku punya sedikit tabungan…”

“Hei, hei, tidak usah, Aku tidak mau menyentuh uang pensiunmu, Dad. Aku kan sudah punya dana kuliah.” Yang masih tersisa dari dana kuliah – dan jumlah awalnya memang tidak seberapa.

Kening Charlie berkerut. “Beberapa universitas menetapkan uang masuk yang lumayan mahal, Bells. Aku ingin membantu. Kau tidak perlu pergi jauh-jauh ke Alaska hanya karena di sana biayanya lebih murah.”

Bukan karena lebih murah, sama sekali bukan. Tapi karena jaraknya sangat jauh, dan karena Juneau memiliki jumlah hari mendung rata-rata 321 hari dalam setahun. Yang pertama adalah persyaratanku, yang kedua persyaratan Edward.

“Uangku cukup kok. lagi pula banyak bantuan keuangan yang tersedia. Jadi mudah saja mendapat pinjaman.” Mudah-mudahan gertakanku mempan. Soalnya aku belum benar-benar mencari tahu mengenai hal itu.

“Jadi…” Charlie memulai, tapi kemudian mengerucutkan bibir dan membuang muka.

“Jadi apa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya…” Keningnya berkerut. “Aku hanya ingin tahu … apa rencana Edward untuk tahun depan?”

“Oh.”

“Well?”

Tiga ketukan cepat di pintu menyelamatkanku. Charlie memutar bola matanya dan aku melompat berdiri.

“Tunggu sebentar!” seruku sementara Charlie menggumamkan sesuatu yang kedengarannya seperti, “Pergi sana”. Aku tidak menggubrisnya dan berlari membukakan pintu bagi Edward.

Kurenggut pintu hingga terbuka – dengan sangat bersemangat – dan kulihat ia berdiri di sana, mukjizat pribadiku.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.