Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Angela memutar bola matanya padaku. “Sampai ketemu di sekolah.” kataku tertawa gugup. Angela mendesah. “Sampai nanti.” Aku gelisah dalam perjalanan ke trukku, tapi jalanan

kosong. Sepanjang perjalanan sebentar-sebentar mataku melirik ke semua spion, tapi tidak ada tanda-tanda mobil perak membuntutiku.

Mobilnya juga tidak ada di depan rumahku, meski itu tak berarti banyak.

“Bella?” seru Charlie begitu aku membuka pintu depan.

“Hai, Dad.”

Aku menemukan Charlie di ruang duduk, di depan TV. “Bagaimana harimu?”

“Menyenangkan.” jawabku. Lebih baik kuceritakan saja semua-karena Charlie pasti juga akan mendengarnya dari Billy. lagi pula, ini akan membuatnya senang. “Mereka tidak membutuhkanku di toko, jadi aku pergi ke La Push.”

Wajah Charlie tidak terlalu kaget. Ternyata Billy sudah bicara dengannya.

“Bagaimana kabar Jacob?” tanya Charlie, berlagak acuh tak acuh.

“Baik.” jawabku, sama tak acuhnya.

“Jadi ke rumah Weber?”

“Yep. Semua amplopnya sudah selesai diberi alamat.”

“Bagus.” Charlie menyunggingkan senyum lebar. Tumben ia memerhatikanku, padahal di layar televisi sedang ditayangkan pertandingan olahraga. “Aku senang kau nongkrong dengan teman-temanmu hari ini.”

“Aku juga.”

Aku melangkah gontai ke dapur, mencari kesibukan. Sayang Charlie sudah membereskan bekas makan siangnya. Aku berdiri di sana beberapa menit, memandangi sepetak terang cahaya matahari yang menerangi lantai. Tapi aku tahu tak bisa rnenunda-nundanya lebih lama lagi.

“Aku mau belajar,” kataku muram sambil beranjak menaiki tangga.

“Sampai nanti.” Charlie balas berseru.

Kalau aku masih hidup, batinku.

Kututup pintu kamar dengan hati-hati sebelum berbalik menghadap ke dalam kamar.

Tentu saja Edward ada di sana. Ia berdiri di depan dinding yang berhadapan denganku, dalam bayang-bayang di sebelah jendela yang terbuka. Wajahnya keras dan posturnya tegang. Ditatapnya aku dengan garang tanpa suara.

Aku mengkeret, menunggu semburan kata-kata pedasnya, tapi tidak ada yang keluar. Ia terus menatapku garang, mungkin terlalu marah untuk bisa bicara.

“Hai.” sapaku akhirnya.

Wajah Edward bagai batu yang dipahat. Aku menghitung sampai seratus dalam hati, tapi tidak ada perubahan.

“Eh… nah, aku masih hidup,” aku memulai.

Geraman pelan terdengar dari dalam dadanya, tapi ekspresinya tak berubah.

“Tak kurang suatu apa pun,” aku bersikeras sambil mengangkat bahu.

Edward bergerak. Matanya terpejam, dan ia mencubit pangkal hidungnya dengan tangan kanannya.

“Bella,” bisiknya. “Tahukah kau aku nyaris nekat menyeberangi perbatasan hari ini? Melanggar kesepakatan untuk mencarimu? Tahukah kau apa artinya itu?”

Aku terkesiap dan Edward membuka mata. Mata itu dingin dan keras seperti malam.

“Kau tidak boleh!” sergahku terlalu keras. Aku berusaha menyetel volume suaraku supaya Charlie tidak mendengar, tapi aku juga ingin meneriakkan kata-kata itu. “Edward, mereka akan menggunakan alasan apa saja untuk bertarung. Mereka menyukai itu. Pokoknya jangan pernah melanggar aturan!”

“Mungkin bukan mereka saja yang senang bertarung.”

“Jangan macam-macam.” bentakku. “Kalian yang membuat kesepakatan itu-jadi kalian harus menaatinya.”

“Kalau dia sampai mencelakakanmu…”

“Cukup!” potongku. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Jacob tidak berbahaya.”

“Bella,” Edward memutar bola matanya. “Kau bukan orang yang tepat untuk menilai apa yang berbahaya dan apa yang tidak.”

“Pokoknya aku tidak perlu khawatir soal Jake. Dan kau juga tidak perlu.”

Edward menggertakkan giginya. Kedua tangannya mengepal membentuk tinju di sisi tubuhnya. Ia masih berdiri di depan dinding, dan aku tidak suka ada jarak yang memisahkan kami.

Aku menghela napas dalam-dalam, dan melangkah melintasi ruangan. Edward tak bergerak sedikit pun waktu aku merangkulnya dengan dua tangan. Di sebelah kehangatan terakhir matahari sore yang menerobos masuk lewat jendela, kulitnya terasa sangat dingin. Ia seperti es, membeku kaku seperti itu.

“Maaf aku membuatmu gelisah.” bisikku.

Edward mendesah, dan sedikit rileks. Kedua lengannya memeluk pinggangku.

“Gelisah tidak menggambarkan keadaan sebenarnya.” gumamnya. “Hari ini rasanya panjang sekali.”

“Kau seharusnya tidak perlu tahu soal itu.” aku mengingatkan Edward. “Kupikir kau berburu lebih lama.”

Aku mendongak menatap wajah Edward, matanya yang defensif; dalam keadaan tertekan aku tidak memerhatikan sebelumnya, tapi ternyata matanya berwarna gelap. Lingkaran di bawah matanya berwarna ungu tua. Aku mengerutkan kening tidak suka.

“Waktu Alice melihatmu lenyap, aku langsung kembali.” Edward menjelaskan.

“Seharusnya kau tidak perlu berbuat begitu. Sekarang kau harus pergi lagi,” Kerutan di keningku semakin dalam.

“Aku bisa menunggu.”

“Konyol. Maksudku, aku tahu Alice tidak bisa melihatku saat aku bersama Jacob, tapi kau kan seharusnya tahu…”

“Tapi aku tidak tahu.” potong Edward. “Dan kau tidak bisa mengharapkanku membiarkanmu…”

“Oh, ya, bisa saja.” selaku. “Memang itulah yang kuharapkan…”

“Itu tidak akan terjadi lagi.”

“Benar sekali! Karena kau tidak boleh bereaksi berlebihan lagi lain kali.”

“Karena tidak akan ada lain kali.”

“Aku mengerti kapan kau harus pergi, walaupun aku tidak suka…”

“Itu lain. Aku tidak mempertaruhkan nyawaku.”

“Demikian juga aku.”

“Werewolf sama dengan risiko.”

“Aku tidak setuju.”

“Aku tidak mau bernegosiasi soal ini, Bella.”

“Aku juga tidak.”

Kedua tangan Edward kembali mengepal. Aku bisa merasakannya di punggungku.

Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa dipikir. “Apakah ini benar-benar berkaitan dengan keselamaranku?”

“Apa maksudmu?” tuntutnya.

“Kau bukannya…”

Teori Angela kedengarannya lebih konyol daripada sebelumnya. Sulit sekali menuntaskan pikiranku. “Maksudku, kau bersikap begini bukan karena cemburu, kan?”

Edward mengangkat sebelah alis. “Apakah aku cemburu?”

“Serius dong.”

“Itu mudah – karena memang tidak ada yang lucu dalam masalah ini.”

Aku mengerutkan kening dengan sikap curiga. “Atau… mungkin ini soal lain? Omong kosong soal vampir dan werewolf yang jadi musuh bebuyutan? Atau ini hanya perselisihan yang dipicu hormon testosteron…”

Sorot mata Edward berapi-api. “Ini hanya tentang kau. Yang kupedulikan hanya soal keamananmu.”

Mustahil meragukan api yang berkobar di matanya.

“Oke.” desahku. “Aku percaya. Tapi aku ingin kau tahu sesuatu – kalau urusannya sudah menyangkut masalah musuh bebuyutan, aku tidak mau ikut-ikut, Aku ini negara netral. Aku Swiss. Aku menolak dipengaruhi perselisihan soal wilayah kekuasaan antar makhluk mistis. Jacob sudah seperti keluarga sendiri. Sementara kau… well, tidak bisa dibilang sebagai kekasih hidupku, karena aku berharap bisa mencintaimu lebih lama daripada itu. Kekasih eksistensiku. Aku tak peduli siapa yang werewolf, dan siapa yang vampir… Kalau Angela ternyata penyihir, dia juga bisa ikut bergabung.”

Edward memandangiku dengan mata menyipit, tak berbicara sepatah kata pun.

“Swiss,” ulangku, menandaskan.

Edward mengerutkan kening, kemudian mendesah. “Bella…” ia hendak mengatakan sesuatu, lalu mengurungkannya. Hidungnya mengernyit jijik.

“Apa lagi sekarang?”

“Well. jangan tersinggung, tapi baumu seperti anjing.” kata Edward.

Kemudian ia tersenyum miring, jadi aku tahu pertengkaran selesai. Untuk sementara.

Edward harus pergi lagi untuk mengganti perburuannya yang gagal, jadi Jumat malam nanti ia akan berangkat bersama Jasper, Emmett, dan Carlisle ke kawasan hutan lindung di California utara yang populasi singa gunungnya membengkak.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.